"Perjodohan?? Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Pah..."
Naomi menolak keras perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Tidak bisa menolak, ini wajib hukum nya Nao...."
Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan adik dari sang mantan pacar yang sampai saat ini masih di cintai nya...
Apakah nanti rumah tangga nya akan semulus jalan tol? atau seperti jalan jalan yang penuh dengan lubang dan juga kerikil tajam?
Simak kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Nicholas
Vino menoleh ke belakang, dan yang ada di belakangnya adalah Marissa tentu saja ucapan dari Mariska itu membuat telinganya sedikit panas
Pastinya Vino sudah tahu apa maksud dari ucapan Marisa itu. Marissa tentu saja mengingunkan supaya Vino melupakan Naomi dan melupakan semua rencana untuk kembali lagi dengan Naomi.
"Sebaiknya kamu pulang, minta antar sopir Papa saja."
Tidak ingin diganggu oleh siapapun, Vino juga tidak berkeinginan untuk mengantarkan Marisa pulang. Ia juga hari ini tidak ingin pulang ke rumah lebih cepat, entahlah harus ke mana dulu yang penting ia bisa meluapkan kesedihannya hari ini.
Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan untuk Vino bagaimana tidak, ia harus menyaksikan kekasih yang sangat dicintainya itu menikah dengan pria lain tentu saja Vino ingin menolak, memberontak dan berteriak dan mengatakan kepada Nicholas kalau Naomi itu adalah mantan pacarnya dan baik Naomi maupun dirinya sama-sama saling mencintai,.tetapi sayangnya Mama Reni sudah memberikan kode supaya Vino diam dan tidak menghancurkan acara pernikahan ini.
"Tidak mungkin, apalagi melihat kamu sekarang terpuruk seperti ini, aku akan di sini menemanimu."
Entahlah ucapan apa ya dikatakan oleh Marisa apakah perempuan itu benar-benar sungguh-sungguh akan menemani Vino dan menghibur Vino? atau malahan ingin mengejek Vino saja.
"Aku tidak butuh ditemani."
Dan aku hanya butuh Naomi
"Terserah kamu, butuh ditemani atau tidak yang jelas aku di sini, aku sebagai istrimu. Bagaimana jika orang lain tahu hubungan kita yang tidak sehat ini apakah kamu mau kalau aku membongkar semuanya?"
Tentu saja kedua orang tua Vino tidak tahu yang sebenarnya jika Vino dan Marissa saat ini tidak baik-baik saja, bahkan Vino sendiri sudah berencana untuk menceraikan Marissa, tentu saja Marisa tahu karena semalam Vino sudah mengatakan kepada Marisa kalau setelah anak itu lahir ia akan menceraikan Marissa.
"Jangan pernah coba mengatakan itu kepada orang tuaku, ini adalah urusan rumah tangga kita, bukan urusan orang lain!"
Jelas saja Vino tidak ingin kedua orang tanya tahu, bukan karena ia takut tetapi pastinya nanti Papa dan Mamanya akan berpikir yang tidak tidak dengan dirinya terlebih lagi untuk sekarang.
"Bersikap baiklah padaku dan jangan tinggalkan aku, maka aku tidak akan mengatakan itu, terlebih lagi jaga sikapmu dengan Naomi. Naomi sekarang bukan lagi kekasihmu tetapi dia adalah adik ipar kamu, dan kamu harus tahu batasan, dan antara kamu dengan Naomi sudah tidak berhubungan apa-apa."
Apa yang diucapkan oleh Marissa itu adalah benar karena saat ini statusnya bukan hanya sebagai mantan kekasih tetapi sebagai kakak ipar Naomi dan pastinya ia sudah tahu kalau nantinya Nicholas dan Naomi akan tinggal bersama di kediaman Wijaya dan pastinya ia juga sedikit senang karena setiap hari bertemu dengan Naomi.
Vino tidak menjawab lagi apa yang diucapkan oleh Marissa. Ia lebih memilih untuk duduk di taman, di depan hotel dan pastinya sambari mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisapnya.
Sedangkan di dalam sana Vino dan Nicholas yang sudah sah sebagai suami istri, saatnya mereka berdua untuk menandatangani buku nikah dan juga menyempatkan cincin pernikahannya di jari manis masing-masing.
Keduanya sama-sama tersenyum tetapi jangan ditanyakan lagi apakah mereka sama-sama saling mencintai tentu saja jawabannya tidak, mereka hanya berpura-pura bahagia saja di di depan kedua orang tua dan juga tamu undangan, padahal sejatinya hati mereka sakit, entahlah rumah tangga apa yang akan dibangunnya nanti sementara di dalam hati mereka masing-masing masih menyimpan sebuah nama yang entah nama itu akan hilang atau tidak.
"Setelah ini langsung pulang ke rumah ya Nao, semua barang-barang kamu sudah diambil oleh sopir."
Naomi mengangguk, ia tidak bisa menolak lagi dan ia pastinya sudah tahu jika setelah menikah dengan Nicholas ia akan tinggal di kediaman Wijaya pastinya, meskipun sebenarnya Naomi ingin menolak tetapi ia tidak enak bahkan kemarin sebelum pernikahan Mama Reni juga sudah mengatakan kepada Naomi kalau meminta untuk dirinya dan Nicholas tinggal di kediaman Wijaya.
Terlebih lagi Nicholas yang sudah bertahun-tahun berada di luar negeri pastinya Mamah Reni ingin lebih dekat lagi dengan putranya itu.
"Atau kalian mau nginep di hotel ini atau ingin berbulan madu ke mana, biar Papa yang teleponkan asisten pribadi Papah untuk segera menyiapkan pesawatnya."
Naomi dan Nicholas saling pandang, kemudian mereka berdua sama-sama menggeleng tentu saja tidak ada di dalam kamus mereka untuk berbulan madu, malam pertama saja mereka sudah merencanakan untuk tidak melakukan sesuatu yang sifatnya wajib dilakukan oleh pasangan suami istri.
"Tidak perlu Pah, kita langsung pulang saja lagi pula besok aku dan Naomi juga ada ujian semester."
Alasannya tepat, kebetulan sekali besok ada ujian semester yang tidak mungkin untuk kedua anak manusia itu membolos kuliah dan pastinya itu dijadikan alasan untuk tidak pergi berbulan madu padahal sebenarnya Nicholas dan Naomi sendiri tidak menginginkannya.
"Oh ya Papa lupa."
Padahal Papa Abraham tidak lupa, ia hanya berpura-pura saja lupa siapa tahu Nicholas dan Naomi memang ingin pergi ke bulan madu karena beliau juga merasa kalau keduanya sama-sama menyembunyikan sesuatu dan masih belum menerima sepenuhnya pernikahan ini.
"Ya sudah kalau begitu kalau kalian sudah selesai menyapa tamu undangan istirahat saja dulu sepertinya tidak baik jika kalian langsung meninggalkan tempat ini, tamunya masih banyak di sana."
Naomi dan juga Nicholas mengangguk, mereka memang mengedarkan pandangan matanya ke segala arah dan tentu saja masih ada keluarga dan juga rekan kerja dari Papahnya yang masih berada di tempat ini.
Meskipun pernikahan Nicholas dan Naomi tidak diselenggarakan secara besar-besaran seperti pernikahan Vino dahulu tetapi tidak sedikit para tamu undangan yang diundang oleh Papa Abraham dan juga Papah Harun tentu saja mereka bukan dari keluarga yang biasa tetapi dari golongan orang-orang penting yang setiap hari berkecimpung dengan Papa Abraham dan juga Papah Harun.
"Kalau sakit mendingan dilepas saja sandalnya."
Ucap Nicholas kepada Naomi, ia tahu jika dari tadi Naomi meringis karena menahan sesuatu yang sakit di bagian bawahnya tentunya Nicholas juga paham jika Naomi tidak biasa untuk memakai sandal hak tinggi itu.
"Iya Nik, sakit sekali."
Nicholas lalu meraih tangan Naomi, kemudian meminta istrinya itu duduk lalu ia berjongkok untuk membuka sandal yang dipakai oleh Naomi.
"Eh mau ngapain? tidak usah biar aku saja."
Setelah Naomi melihat gerak-gerik Nicholas, ia tahu jika Nicholas ingin membukakan sendalnya, Naomi yang tidak enak langsung saja menahan tangan Nicholas.
"Tidak apa-apa, kamu duduk saja yang tenang ini pastinya sakit dan menyiksa kamu."
Tidak bisa menghentikan tangan Nicholas, Naomi terpaksa hanya diam, ia menahan kakinya yang memang lecet terkena sandal.
Nicholas mengambil tisu kemudian membersihkan luka di kaki Naomi, meskipun lukanya tidak parah tetapi keringat yang keluar dari kaki harus di lap supaya tidak akan menimbulkan lecet lagi.