Peperangan terjadi di dunianya, Raja Iblis lantas turun ke bumi untuk menjemput batu yang dapat memulihkan kekuatannya yang hilang.
Di awal misi, Ken Reymond bertemu dengan gadis yang memiliki sumber kekuatan. Ternyata dalam tubuh gadis itu tertanam batu yang selama ini dicari olehnya.
Harusnya dia bisa kembali dengan cepat jika membunuh gadis itu, namun dia terlanjur cinta. Hingga dia terperangkap di bumi.
Apakah dia bisa kembali ke dunianya? Lantas bagaimana dengan kisah cinta mereka?
Cerita cinta anatara manusia dan juga raja iblis. Ikuti kisahnya, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesaric, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Bertemu
Jarum jam sudah menunjuk ke angka dua belas. Namun Ken belum juga kembali. Hatinya gundah menunggu kedatangan pria tersebut.
Dia takut jika sampai kehilangan Ken. "Takutnya dia balik ke dunianya," keluh Yui resah. Dia tidak bisa tidur jika belum memastikan kedatangan Ken. Dia tidak tenang.
Berulang kali dia pontang-panting turun dan naik dari gedung apartemen itu. Meski di luar begitu menusuk, dia tidak peduli. Entah mengapa Yui merasa khawatir.
Apalagi Ken tidak memberitahu apa tujuannya pergi dengan pakaian itu. Sungguh Yui cemas jika terjadi apa-apa terhadap pria tersebut.
Untuk menenangkan pikirannya tersebut, Yui berjalan keluar komplek sekaligus mencari angin. Hembusan angin malam ini sungguh menenangkan hatinya yang panas. Dia berdiri sambil menghangatkan tubuhnya dengan rajutan tebal yang dikenakan. Lantas dia mendongak menatap bulan yang bulat sempurna. Dia mendengus lalu meratapi malam yang gulita.
"Rumah Ken dimana yah?" tanyanya sambil menunjuk bintang yang bertebaran. "Yang sana, atau yang sana?" duganya sambil tersenyum. "Kalau dia pulang, aku bakal terbang kemanapun Ken pergi," tambahnya lagi dengan obsesi menggerogoti.
Ketika dia sibuk melantur, tiba-tiba sebuah pisau yang tipis melintas dari sisi kiri tempat dia berdiri. Sangat tajam dan cepat, sampai pipinya yang dingin tergores mengeluarkan darah. Meski hanya segaris, namun cairan berwarna merah itu segar merembes dari bekas sayatan halus tersebut.
Lantas Yui menoleh ke belakang. Mengejar asal pisau tipis itu berasal.
"******!" Suara lantang itu hebat menggema di telinga Yui. Begitu kasar. Yui begitu syok mendengar suara wanita yang tidak dia kenal, bahkan tidak pernah dia temui.
"Kamu siapa?" tanya Yui sambil menghapus darah di pipinya.
"Beraninya manusia hina sepertimu bertanya kepadaku!"
Wanita bermata biru itu berlari kencang dengan tangan terulur tajam hendak menghunuskan jemarinya.
"Apasih, ga jelas!" balas Yui menjegilkan matanya. Dengan cepatnya dia menghindari serangan tersebut. Seorang juara taekwondo seperti tentu tangkas untuk melindungi diri. "Jangan mancing, yah!" Yui merasa amat terganggu.
"Kau! Kau jal*ng yang sudah merayu Tuanku! Menjijikkan, mati saja kau!" Wanita itu membabi buta menyerang Yui tanpa ampun. Gerakannya yang cepat begitu menguasai panggung. Dia dengan rahang yang mengeras terus menyerbu Yui tanpa celah.
Yui sedang gundah hatinya. Melihat wanita menjengkelkan ini, gadis yang murah emosi itu langsung terhibur.
"Ada samsak tinju dadakan," celetuk Yui menyeringai. Langsung dia mengepalkan tangannya berancang-ancang untuk menyerang balik. Dia dengan amarah membludak meluapkan kekesalannya. "Udah lama juga ga jambak jambakan sama nenek sihir," tambah Yui.
Keduanya saling beradu. Tampak tidak ada yang mengalami kekalahan. Bahkan sengit perkelahian tersebut terlihat seri. Berbeda dengan wanita berambut pirang itu, Yui begitu menikmati perkelahian.
"Apa kau sedang mempermainkan ku?" Dia semakin panas.
Yui terkekeh melihat wanita tersebut sudah terpancing. "Segitu doang?" tambah Yui. Tidak sabar menunggu puncak keributan tersebut, Yui dengan cepat membangkitkan magis dalam dirinya, kemudian menyerang wanita itu dengan penuh nafsu. "Makan nih!" sorak Yui tersenyum puas.
Pupil matanya berubah sekejap menjadi merah, lalu berganti hitam setelahnya. Meski hanya sebentar, wanita itu ternyata menyadari hal tersebut. Dia tersentak lalu tak sengaja terkena serangan dari Yui.
"Ini latihan tiga hari buat bisa kontrol magis," jelas Yui. Baru beberapa hari yang lalu dia berhasil mengendalikan sihir dalam tubuhnya. Selama Ken meninggalkan dirinya tersegel di dalam kamar, ternyata Yui memanfaatkan waktu tersebut untuk mempelajari tentang magis dan juga sihir.
"Kau ... siapa kau sebenarnya?" Wanita itu terbelalak tidak mengira akan terkena serangan dari manusia. "Kenapa kau memiliki magis yang kuat?" Dia memijat bahunya yang baru saja dipukul oleh Yui. Dia tertunduk karena magis milik Yui berhasil mendorong tubuhnya.
"Loh? Aku yang harusnya nanya gitu ke kamu. Gimana, sih? Aneh banget jadi cewe," umpat Yui tidak senang. Dengen mulutnya yang lincah dia mulai menjatuhkan mental wanita itu.
"Sialan! Kau harus tahu dengan siapa berhadapan! Tidak tahu diri!" hina wanita itu sarkas.
Yui terdiam, dia tersadar melihat tingkah yang tidak asing ini. Sepertinya dia sudah terbiasa mendengar bahasa yang baku ini. "Jangan bilang kamu satu asal sama Ken," duga Yui lalu melangkah mendekati wanita yang tengah menahan sakit itu.
"Tutup mulut kotormu!" Wanita itu tiba-tiba murka dan kembali menyerang Yui. Dia mencengkram dagu Yui dengan napas terengah-engah. Dia terlihat marah, seolah tidak suka mendengar Yui menyebutkan nama Ken.
"Sa-Sakit," rintih Yui mencoba melepas tangan wanita bertubuh proporsional."Lepasin, ga?!"
Namun wanita itu tidak juga melepaskan cengkeramannya. Justru semakin dipererat hingga Yui tidak dapat bergerak sama sekali. Parahnya, dia berusaha mengangkat tubuh Yui dengan paksa.
"Auh!" rengek Yui. Air matanya dengan sendirinya keluar walau hanya menggenang matanya saja.
"Lamia!"
Suara itu sontak memerintah wanita tersebut. Dia langsung melepas cengkramannya lalu menunduk secepat kilat. Dia terlihat bergetar, matanya tidak berani menoleh ke atas. Seperti pesuruh dengan majikan.
"Ken!" sahut Yui dengan senyum bahagia. Ternyata pria itu tidak benar-benar meninggalkan dirinya. Sudah sia-sia Yui merenung dan menunggu Ken untuk kembali.
Yui dengan senyum tak luput langsung menghampiri Ken. Dengan gembira Yui menatap manik Ken dengan hikmat, hingga beberapa saat keduanya bersirobok satu sama lain.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken cemas. Dia langsung menyentuh dagu bekas cengkraman Lamia, kepercayaannya ketika di Kastil Easle.
"Hormat kepada, Yang Mulia," sapa Lamia dengan penuh penghormatan. Dia belum juga menangkat kepala meski Ken sudah berada tepat di depannya.
"Berdiri!" perintah Ken dengan nada yang dingin.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Kedatangan ku mungkin tidak dinanti, namun aku cemas terhadap, Yang Mulia. Aku turun ke bumi untuk menjemput," jelasnya secara rinci. Dia begitu jinak di depan Ken, berbeda saat masih berdua dengan Yui, dia wanita liar yang mengerikan.
"Tidak masalah. Lain kali kau tidak perlu turun kemari," jawab Ken berbesar hati. "Siapa yang menjaga kastil?" tanya Ken kemudian.
Wanita itu sekarang mengangkat kepalanya. "Cevar, Yang Mulia," balasnya.
Tidak ingin berdebat dengan Lamia, lantas Ken hanya diam dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Meski sebenernya dia teramat murka karena wanita itu turun ke bumi dan menyebabkan beberapa masalah.
"Dimana kau selama ini?" tanya Ken.
Lamia terlihat bingung. Dia kemudian menunjukkan ponselnya kepada Ken. "Bersama Simon," katanya seraya menunjukkan gambar rumah mewah milik Simon.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Sontak Ken terkejut. Sudah lama dia mencari keberadaan Simon, namun sampai kini tidak jua dia menemukan. Tidak diduga ternyata wanita ini dengan mudahnya mendapatkan Simon sebelum dirinya.
"Dia juga mencari, Yang Mulia."