Damar terpaksa menerima perjodohan dengan Aluna karena kekasihnya menolak untuk menikah dengannya. Kemudian, Damar harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa mantan kekasihnya adalah calon ibu tiri dari Aluna. Akankah Damar mempertahankan pernikahannya dengan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DA part 27
" Kayaknya hubungan kamu sama Damar udah lebih banyak kemajuan nih. Aku seneng lihatnya, Damar juga kayaknya lebih bahagia sekarang " ucap Indira disela-sela kesibukannya menjelaskan banyak hal kepada Aluna.
" Masa sih Mba ? " tanya Aluna dengan senyum malu.
" Heem... Berarti temen mainnya Dirga lagi otw nih " goda Indira membuat wajah Aluna semakin merona.
" Kalian udah gitu kan ? " selidik Indira.
" Gitu apa Mba ? " tanya Aluna balik.
" Ya, gitu, belah duren... " jawab Indira sambil terkekeh.
Aluna tersenyum malu sambil menggaruk rambutnya, ia merasa salah tingkah.
" Syukur deh, berarti kalian sekarang smudah bener-bener jadi suami istri " ucap Indira sambil menepuk pundak Aluna.
Tak berselang lama, Galang masuk ke dalam ruang kerja Indira.
" Sayang... Nih Dirga udah rewel, kayaknya ngantuk " ucap Galang.
" Ah, anak Mama udah ngantuk ya ? Yuk sini kita bobo dulu " ucap Indira lalu mengambil alih Dirga dari Galang.
" Luna, aku kelonin Dirga dulu ya di ruang sebelah. Kalau ada yang mau ditanyain, kamu bisa tanya Pak Candra atau kamu ke ruang sebelah aja " ucap Indira lalu keluar dari ruangan kerjanya bersama baby Dirga dan Galang.
" Ngelonin anak sama bapaknya kayaknya " ucap Aluna terkekeh sendiri saat mereka meninggalkan ruangan kerja.
Aluna lantas teringat saat ia menghabiskan malam pertamanya bersama Damar. Malam panjang yang panas saat mereka melakukan penyatuan untuk pertama kali. Malam ketika ia memberikan miliknya yang paling berharga untuk Damar. Hingga akhirnya mereka benar-benar menyandang gelar sebagai suami istri.
Aluna tersenyum sendiri mengingat betapa panasnya kegiatan yang mereka lakukan, meskipun sakit pada awalnya namun segera tergantikan dengan kenikmatan yang mereka ciptakan.
Ish... Kenapa aku jadi mikirin begituan sih ?
Aluna menggidikkan bahunya, lalu fokus kembali mempelajari apa yang tadi diarahkan oleh Indira. Hingga kemudian ponselnya berdering dan menampilkan nama sang ayah pada layar ponselnya. Aluna mengerutkan dahinya kemudian mengangkatnya.
" Iya, Pa... "
" Luna ? Alvin sudah ke kantor ? " tanya sang ayah.
" Lho, bukannya tadi mau nemuin Papa ya ke lokasi ? "
" Iya, tadi kami memang ketemu. Karena Papa ada meeting penting, tadi Papa minta Karina dianter pulang sama Alvin. Ini Papa hubungi Karina tapi gak aktif, telpon Alvin juga gak diangkat terus. Makanya Papa telpon kamu, mungkin kamu tahu... "
Deg...
Jantung Aluna berdetak tak karuan, mengetahui jika sang suami tengah berduaan dengan mantan kekasihnya.
" Luna... Luna... ? " panggil Papa Halim.
" Eh, i... Iya Pa ? "
" Tolong kamu hubungi Damar, tanya apa Karina diantar sampai rumah atau naik taksi "
" Iya, Pa... Nanti Luna telpon Mas Damar " jawab Aluna kemudian memutus panggilan.
Perasaan Aluna tak menentu, meskipun Damar sudah menyatakan tidak memiliki perasaan lagi kepada Karina, tetapi siapa yang bisa menjamin jika rasa itu sudah hilang sepenuhnya. Apalagi Damar dan Karina berhubungan sudah lama, tentunya akan banyak kenangan diantara mereka.
Aluna mulai menghubungi Damar, namun Damar tidak menjawab panggilannya. Aluna kembali melakukan panggilan, namun kali ini justru panggilannya ditolak dan saat ia menghubunginya lagi nomernya menjadi tidak dapat dihubungi.
" Kamu lagi apa Mas ? " gumam Aluna sambil menatap layar ponselnya.
Sementara itu, Damar tengah menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah taman.
" Kamu bisa pulang naik taksi dari sini, Karin ! Aku harus ke kantor " seru Damar mengusir Karina.
" Kamu gak bisa anterin aku pulang ? Bukannya tadi Mas Halim bilang supaya kamu anterin aku pulang ? Arah kantor kamu sama rumah kan searah " Karina bersikukuh meminta Damar untuk mengantarnya pulang.
" Aku gak bisa, bukan... Aku gak bersedia, sekarang kamu turun ! Aku banyak pekerjaan di kantor " usir Damar lagi.
" Aku gak mau ! Aku maunya kamu anterin aku pulang. Kalau kamu gak mau anter aku ke rumah, kamu bisa anter aku ke apartemenku " sahut Karina tanpa ingin meninggalkan mobil Damar.
" Karin, aku minta kamu keluar sekarang ! Jangan sampai aku memaksa kamu untuk keluar dengan kasar " ancam Damar.
" Kamu gak akan berani, aku tahu kamu masih punya rasa sama aku. Kamu cuma marah, kesal, kecewa sama aku. Oke, aku minta maaf ! Aku nyesel ninggalin kamu. Aku mau kita balik lagi kayak dulu " ucap Karina sambil meraih tangan Damar.
Bahkan Karina dengan berani memeluk Damar.
Damar menepisnya dengan kasar, pada saat itu ponselnya berbunyi namun ia tidak mengangkatnya karena sibuk melepaskan pelukan Karina. Hingga kemudian Damar mendorong Karina menjauh dari tubuhnya.
" Jangan sentuh aku lagi Karin ! Hanya istriku yang berhak menyentuhku ! " sentak Damar kemudian segera keluar dari dalam mobil.
Berlama-lama bersama dengan Karina bisa-bisa membuat Damar hilang kesabaran, padahal ia tak ingin bersikap kasar kepada wanita meskipun wanita itu yang membuatnya terluka.
Ponsel Damar kembali berbunyi, Damar mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Ia melihat nama sang istri disana, namun belum sempat ia menjawabnya panggilan tersebut sudah mati. Ponselnya kembali berbunyi dan nama sang istri kembali tertera di layar ponselnya, Damar mengangkat panggilan itu namun Karina segera merebut ponselnya dan membanting ponsel milik Damar hingga terjatuh dan mati.
" Kamu... ! " Damar menunjuk Karina dengan penuh amarah.
" Aku disini dan kamu malah sibuk dengan wanita manja itu ! " sahut Karina.
" Wanita manja itu, anak dari suami kamu. Dan dia juga istriku. Wanita yang aku cintai, sedangkan kamu hanyalah wanita yang tidak berarti lagi dalam hidupku ! " tegas Damar lalu mengambil ponselnya dan segera masuk ke dalam mobilnya.
" Jangan pernah mengganggu hidupku, atau kau akan menyesalinya seumur hidup ! " ancam Damar lalu menutup kaca jendela mobil.
Karina menggedor kaca mobil Damar, namun Damar tak memedulikannya. Ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan Karina disana.
" Awas saja, aku bersumpah akan membuatmu kembali padaku !! " sesumbar Karina sambil mengepalkan tangannya.
Damar mengendarai mobilnya menuju restoran milik Indira. Ia tidak ingin membuat Aluna khawatir dan berpikir yang tidak-tidak. Meskipun Aluna tidak tahu jika ia baru saja bersama dengan Karina tetapi Damar akan memberitahu semuanya kepada Aluna karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi dengan sang istri.
Damar kini telah berada di depan restoran, ia segera masuk dan menuju ruang kerja Aluna. Damar membuka pintu dan melihat Aluna sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Damarpun segera menghampiri Aluna.
" Sayang... Maaf, tadi ponselku jatuh waktu angkat panggilan kamu " ucap Damar memberi tahu.
Aluna hanya melirik Damar kemudian fokus kembali menatap layar monitor laptopnya.
" Kenapa bisa jatuh ? Terlalu sibuk nganterin mantan sampai gak bisa angkat telpon atau ngerasa keganggu karena ditelponin terus ? " sinis Aluna.
" Bukan gitu, sayang... Tapi darimana kamu tahu kalau aku anter Karina ? " tanya Damar heran.
" Kenapa ? Mas heran gimana aku bisa tahu ? " tanya Aluna.
" Apa Mas lupa kalau mantan pacar Mas itu sekarang sudah jadi mertuanya Mas ? " tanya Aluna lagi.
Rasa marah, sedih, kecewa, dan cemburu. Semua bercampur menjadi satu hingga kemudian tanpa diberi aba-aba, air mata luruh dari pelupuk mata Aluna.