NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Aku berjalan di barisan paling belakang, hanya berdua dengan suamiku. Kami benar-benar menikmati suasana hutan lindung yang masih sangat asri dan alami. Udara segar pegunungan sesekali berembus, menyelisik di antara rindangnya pepohonan. Jalur setapak yang kami lalui sebenarnya sudah tertata sangat bagus, dilapisi ubin tegel yang menghiasi sepanjang jalan. Namun, teksturnya yang agak lembap karena lumut tipis membuatku harus ekstra berhati-hati dalam melangkah.

​Jalal masih setia menggenggam erat jemariku. Sementara itu, tangan kanannya sibuk memegang ponsel yang terpasang pada sebuah tripod penyangga kecil, sengaja merekam video perjalanan dan kebersamaan kami berdua. Merasa situasi di sekitar kami cukup sepi karena rombongan lain sudah melesat jauh di depan, aku dengan bahagia mulai bergelayut manja pada lengan kokohnya, bahkan sesekali mengecup lembut pipi kirinya.

​"Hah... ternyata lumayan jauh juga ya, Sayang," ucap Jalal pelan, mulai mengatur napasnya yang agak memburu.

​"Iya, Pak. Makanya harus punya ekstra tenaga kalau mau berkunjung ke sini... Untuk orang tua seusia Bapak, memang sebenarnya tidak terlalu disarankan sih datang ke tempat beginian," ucapku sengaja menyindir dengan nada sinis yang menggoda.

​Jalal seketika menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arahku dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. "Loh, jadi maksudmu saya sudah tidak pantas lagi main ke tempat alam seperti ini, hm?" tanyanya pura-pura tersinggung.

​Aku tertawa renyah melihat ekspresi wajahnya yang menggemaskan itu. Aku menarik lengannya agar kembali berjalan, lalu berkata, "Sudah, Pak, daripada mengambek begitu, mending Bapak lihat ke arah depan sana. Itu ada tangga yang tingginya setinggi cinta Bapak sama saya... Kira-kira Bapak mampu tidak ya, melewati jalur itu?" ucapku sembari memuncungkan ujung bibir, menunjuk ke arah deretan anak tangga curam di depan kami.

​Tempat itu sering dijuluki masyarakat setempat sebagai "Tangga 1000", padahal jika dihitung aslinya jumlah anak tangganya tidak sampai seribu undakan.

​Pria matang di sampingku itu mendongak menatap puncak tangga. Dia tampak terkejut sesaat, sebelum akhirnya tertawa pasrah menyadari tantangan di depannya. Beberapa pengunjung lain yang kebetulan berpapasan jalan dengan kami sesekali melirik ke arah kami dengan pandangan kagum dan penasaran. Sementara itu, rombongan si kembar serta Rudi yang bertugas menggendong Jayan pastinya sudah sampai lebih dulu di area atas, mungkin mereka sekarang sudah sibuk menyalakan bara api untuk acara bakar-bakar.

​Tiba-tiba, Jalal membalikkan tubuhnya menghadapku. Tanpa aba-aba, dia langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat.

​"Eh, Pak! Kok malah memeluk begini? Malu, dilihat orang-orang yang lewat nanti," bisikku pelan sembari mencoba melirik kanan-kiri, merasa jengah karena kami sedang berada di fasilitas umum.

​"Tidak apa-apa, Yas... Biarkan saja. Saya mau isi tenaga dulu sekarang, supaya kuat menanjak ke atas sana bareng-bareng kamu," bisik Jalal lirih tepat di telingaku.

​Aku terdiam. Saat menyandarkan kepala di dada bidangnya, aku bisa merasakan matanya sedang terpejam rapat dan detak jantungnya berdegup cukup kencang. Rupanya efek kelelahan berjalan jauh tadi mulai benar-benar dia rasakan, namun dia gengsi untuk mengeluh secara gamblang.

​Rasa hangat menjalar di hatiku. Aku pun membalas pelukannya dengan tak kalah erat, lalu tangan kananku bergerak lembut mengusap-usap punggung suamiku, memberikan efek ketenangan dan dorongan semangat untuknya. Merasakan usapan lembutku, Jalal tersenyum tipis di dalam dekapan kami. Sebelum akhirnya melepaskan pelukan, dia menyempatkan diri untuk mengecup pucuk kepalaku dengan penuh perasaan sayang.

••••••••••••

Aku menggenggam erat tangan kekarnya, membantunya menapak satu per satu undakan anak tangga yang cukup melelahkan. Hingga akhirnya, dengan perlahan kami sampai di puncak.

​"Huh... sampai juga, Sayang! Rasanya saya mau pingsan saja," ucap Jalal terengah-engah, wajahnya tampak memerah karena kelelahan.

​Aku tersenyum tulus, mencoba menguatkannya. Kami menengok ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan rombongan kami di antara kerumunan pengunjung yang berbaur. Tak butuh waktu lama, aku melihat Jayan sedang digendong oleh Siska, pacar Andra. Bocah kecil itu tampak tertawa lepas karena godaan para gadis yang mengerumuninya.

​"Pak, lihat deh anakmu itu," tunjukku pada Jalal.

​Jalal terkejut, lalu tertawa kecil. "Abang-abang... dasar dia," ucapnya menggeleng-gelengkan kepala. Kami pun segera melangkah mendekati mereka. Di dekat sana, terlihat Rudi dan para pria muda lainnya sedang sibuk membakar ayam, mengipasinya dengan penuh semangat. Aroma sedap dari bumbu yang terpanggang mulai menguar, memanjakan indra penciuman.

​Setelah semuanya matang, porsinya ternyata lumayan banyak. Kami bahkan mengajak beberapa pengunjung lain untuk makan bersama, dan mereka tampak sangat senang. Setelah puas menyantap hidangan, aku sebenarnya ingin mandi, namun rasa dingin yang menggigit membuatku enggan membasahi diri. Terlihat hanya anak-anak muda, Rudi, dan Jayan yang sedang asyik bermain air. Aku dan Jalal akhirnya memilih duduk beristirahat di sebuah pendopo kayu, memutuskan untuk tidak ikut berbasah-basahan.

​"Sayang!" panggil suamiku pelan.

​Aku menoleh, mendapati pria itu sedang menatapku dengan tatapan yang teramat lembut tanpa kedip. "Kenapa, Pak?" tanyaku dengan suara rendah.

​"Kenapa kamu cantik sekali hari ini?" tanyanya balik dengan suara serak yang memikat.

​Aku tersenyum tulus. "Terima kasih karena selalu bilang aku cantik terus, Pak. Tapi Bapak sendiri, kenapa ganteng sekali? Gantengnya kebangetan, padahal Bapak sudah tua," jawabku diiringi kekehan kecil.

​Jalal menatapku dalam. "Pulang nanti, ingin rasanya saya terus mengurungmu di kamar dan mengkekep tubuhmu sepanjang waktu, Yas," ungkapnya dengan nada bicara yang begitu jujur dan intens.

​Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum geli. "Memang betul ya, teori kalau laki-laki mengalami puber kedua itu benar adanya," ucapku pelan.

​Jalal hanya tertawa lucu, lalu perlahan merebahkan kepalanya di atas pangkuanku, menjadikan kakiku sebagai bantal. Kami benar-benar mengabaikan tatapan pengunjung lain yang mungkin merasa salting atau risih dengan tingkah kami yang terkesan sangat mesra di tempat umum.

​'Bodo amatlah,' batinku santai. 'Yang penting momen ini tidak merugikan mereka sama sekali.'

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!