Single , cantik, dan kaya raya menjadikan Divara sebagai wanita yang banyak di kejar oleh lawan jenis.
Namun sayangnya di antara mereka hanya memanfaatkan harta dan tak jarang banyak yang menorehkan luka ,bukan hanya sekali tapi berkali kali.
Hal tersebut membuat Divara benci dan trauma dengan semua pria, sehingga dia berimajinasi untuk membuat robot manusia sempurna berjenis kelamin laki laki yang akan dia jadikan pendamping.
Bagaimana tanggapan orang di sekitar Divara melihat tindakan wanita yang di luar akal logika itu?? Saksikan kisah nya di sini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T. L. Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan kesiangan
"Tetapi kami akan menunggu sampai dua minggu saja...jika tidak ada perubahan maka terpaksa kami semua akan mengundurkan diri..." jawab seorang dari kerumunan itu.
"Baiklah...aku akan berusaha keras agar segera mendapat jalan... dan mungkin memang harus menempuh jalan alternatif walau aku tidak mengerti tentang dunia supranatural..."
"Aku akan membantu...."
Tiba tiba terdengar suara seseorang menyela ucapan Divara.
Semua mata berpusat kepada asal suara. Pemilik suara itu berjalan mendekat ke arah Divara dan Rafael.
" Mau apa kamu ke sini? tolong jangan menambah masalah lagi...." tegas Divara dengan sorot mata penuh kebencian kepada pemilik suara tersebut yang rupanya adalah Abraham.
"Tenang...tenang...aku tidak akan menambah masalah...aku hanya ingin membantumu...membantu kalian semua"
ucap Abraham dengan pandangan ke arah Divara dan para pegawainya.
"Katakan Tuan, bantuan apa yang akan Tuan berikan..?" rupanya mereka telah termakan tawaran Abraham.
"Keluargaku pernah mendapat kiriman guna guna dengan penyakit yang aneh, dan kami mencoba berobat ke seorang paranormal...dan akhirnya kami sembuh dan selamat" ujar Abraham yang berhasil membuat para pegawai antusias tanpa menunggu persetujuan dari Divara.
"Cepat katakan dimana tempatnya Tuan? bawa kami semua ke sana..kami dan rekan rekan yang tidak bisa hadir di sini ingin sembuh dan kembali pulih..urusan biaya akan di tanggung oleh bos kita.. benar kan nona Divara?" seorang pegawai melempar pertanyaan kepada Divara.
"Betul..tapi dia.." ucapan Divara terpotong oleh sahutan pegawai lain.
"Sudahlah non, kali ini kami mohon anda berdamai dulu dengan ego anda..keselamatan kami lebih penting non...ada ratusan nyawa terancam karena penyakit ini...kami akan selalu di kucilkan dan tidak bisa bekerja jika tidak kunjung sembuh..lalu bagaimana nasib keluarga kami?"
Divara menghembuskan nafas kasar dan menatap Abraham dengan penuh amarah. Dia yakin ini hanya cara liciknya saja untuk mengambil kesempatan.
Abraham tersenyum ke arah para pegawai lalu mengucapkan beberapa kalimat dengan sangat ramah,
" Hari ini juga aku akan antar kalian ke sana... tapi tidak mungkin aku akan mengajak kalian secara bersamaan...mungkin hanya beberapa orang saja untuk di tangani, sisanya bisa kembali lagi besok mungkin.."
Mereka saling adu pandang lagi untuk mencari kesepakatan, lalu tak berselang lama mereka menyetujui ucapan Abraham, dan memilih lima orang yang akan ikut Abraham lebih dulu.
Meski sudah berusaha menolong, namun usaha pria itu belum bisa membuahkan hasil. Divara masih bersikap acuh padanya.
"Aku harap tidak ada udang di balik batu, dan kamu benar benar akan membantu" ucap Divara dengan tatapan mata tajam.
Berusaha mengeluarkan jurus tipu daya, Abraham menundukkan kepala.
"Aku tahu aku salah, dan mungkin akan selalu salah di mata kamu walau aku berusaha berbuat baik.." ucap pria itu dengan pandangan tetap ke bawah.
Divara menghembuskan nafas kasar dengan memasang wajah masam dan membuang muka dengan kasar. Telinganya di buat panas oleh ucapan pegawainya yang sangat lirih namun masih tercapai olehnya,
"Bos kita memang aneh ya, ada pria yang baik dan mengejarnya tapi malah milih robot...jadinya kita deh korbannya.."
Mak jleb...menusuk dada, kenapa Rafael yang selalu jadi tersangka?
Kerumunan itu seketika bubar setelah Abraham mampu memberi solusi.
Ketika pria itu sudah mulai melangkahkan kaki bersama lima orang pegawai Divara, wanita itu memanggilnya,
"Tunggu....."
Semua berhenti dan menoleh ke arah Divara.
"Ada apa lagi nona?"