Spin of Senandung Lara.
Baca Senandung Lara lebih dahulu agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.
Dendam pada Friska membuat Raka melampiaskan pada Nira yang tak lain adalah adik dari Friska.
Raka memperkosa Nira hingga mengandung dan membuat Nira terpaksa menikah dengan Raka, pria yang tidak Ia cintai.
Akankah pernikahan mereka bahagia jika niat Raka hanya balas dendam, lalu bagaimana dengan kekasih Nira yang tak lain adalah Vans sahabat Raka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Nada baru saja sampai dirumahnya. Ia melihat rumahnya sangat sepi. Ibunya sudah tidur sementara Zian sang kakak pun tidak dirumah. Selalu seperti itu, Zian menghabiskan harinya hanya untuk bermain tidak pernah membantunya mencari uang.
Nada pergi mandi, Ia sudah memakai piyama pendek untuk tidur, sebelum tidur Nada menyempatkan diri untuk masak mie instan, mengisi perutnya yang kosong.
Baru ingin ke kamar, Nada mendengar suara pintu yang digedor sangat keras.
"Apa kau gila kak? Ibu sedang tidur!" Nada terlihat marah saat mengetahui yang mengedor pintu itu adalah kakaknya.
"Jangan banyak bicara, ikut aku sekarang!" kata Zian menarik tangan Nada kasar.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku." kata Nada memberontak meminta dilepaskan namun Zian tidak peduli, Ia membawa Nada mendekat ke sebuah mobil yang berhenti didepan rumahnya.
Tanpa menjelaskan apapun, Zian mendorong tubuh Nada masuk ke dalam mobil yang berisi beberapa pria yang tidak Nada kenal.
"Kak apa yang kau lakukan!" teriak Nada namun pintu mobil tertutup dan mobil segera melaju kencang.
Nada menatap takut ke arah pria yang ada dimobil bersamanya.
"Kau sangat cantik Nona, Tuan kami pasti akan senang." kata Boni menatap Nada dari atas hingga bawah dan langsung tergoda dengan tubuh putih mulus milik Nada.
"Apa yang kalian katakan? aku tidak mengerti. kemana kalian akan membawaku pergi?" tanya Nada dengan bibir bergetar.
"Tentu saja ke tempat menyenangkan yang mungkin tidak akan pernag kau lupakan." balas Boni membuat Nada semakin takut.
"Ku mohon lepaskan saya." ucap Nada memohon.
"Tentu saja kami akan melepaskan mu setelah urusan mu dengan bos kami selesai."
"Aku tidak memiliki urusan dengan siapapun, ku mohon lepaskan kami." pinta Nada lagi namun tidak lagi di gubris oleh Boni.
Mobil melaju semakin kencang hingga mereka sampai dirumah Vans.
Segera Boni membawa paksa masuk Nada ke dalam salah satu kamar yang ada dirumah Vans.
"Jadi dia kalah lagi?" tanya Vans yang sudah menunggu kedatangan Boni.
"Benar Bos,"
"Dia memang bodoh!" Vans tertawa lalu meneguk segelas anggurnya.
"Kami sudah membawa adiknya bos, dia sudah berada di kamar."
Vans mengangguk, "Waktunya untuk bersenang senang."
Vans segera pergi meninggalkan Boni.
"Dan setelah itu giliran aku yang bersenang senang menikmati gadis itu." ucap Boni penuh percaya diri karena memang biasa seperti itu. setelah digunakan oleh Vans, Boni selalu di beri kesempatan untuk ikut mencicipi gadis bekas Vans kecuali Nira karena Nira hanya milik Vans seorang.
Vans memasuki kamar dimana ada gadis cantik yang duduk dilantai memeluk kakinya. Kaki indah yang terlihat karena gadis itu memakai piyama pendek.
Gadis itu menatap Vans dengan tatapan takut. Vans tersenyum ke arah gadis itu, tak lupa mengunci pintu.
Vans meletakan sebotol anggur di meja. Ia menuangkan anggur ke dalam dua gelas kosong yang ada dimeja.
"Minumlah Nona, tenangkan dirimu." kata Vans mengulurkan segelas anggur kepada Gadis itu.
Nada yang kini menatap Vans enggan menerima gelas itu. Ia hanya menatap Vans sebentar lalu menunduk karena Ia benar benar takut saat ini. Entah apa yang akan terjadi pada Nada selanjutnya, Ia tidak tahu namun Nada yakin jika setelah ini dirinya tidak akan baik baik saja.
"Ayolah Nona, minumlah ini." kata Vans sedikit memaksa.
"Jangan membuatku marah, aku tidak akan memperlakukanmu dengan baik jika sedang marah." kata Vans yang langsung membuat Nada semakin takut dan akhirnya menerima uluran gelas dari Vans.
"Minumlah Nona." perintah Vans.
Nada menuruti ucapan Vans, Ia akhirnya meminum minuman asing yang belum pernah Ia rasakan itu.
"Good girl, jadi siapa namamu?" tanya Vans pada Nada.
"Na Nada."
"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji Vans membuat Nada tersipu malu. Sungguh Nada belum pernah mendapat pujian seperti itu dari seorang pria tampan, setampan Vans.
"Apa kau tahu alasan mu berada disini?" tanya Vans.
Nada menggelengkan kepalanya, "Ku mohon Tuan, biarkan aku pergi." pinta Nada akhirnya memberanikan diri.
"Kau tidak ingin tahu alasan mu berada disini?"
Nada menunduk,
"Kakak mu menjualmu padaku."
Nada masih menunduk, seolah sudah tahu apa yang terjadi dan kenapa dia bisa berada disini.
"Kau sudah tahu?"
Nada masih diam, entah mengapa Ia merasa tubuhnya panas sangat panas, rasanya Nada ingin membuka bajunya saat ini juga.
"Jadi kau sudah tahu jika harus melayani ku malam ini?" tanya Vans tersenyum manis sangat manis di mata Nada.
"Tu Tuan, ku mohon jangan lakukan itu, biarkan aku pergi." pinta Nada dengan suara serak menahan hawa panas juga aneh yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
"Sssttt, tenanglah."
Vans memegang dagu Nada lalu mengelusnya lembut yang entah mengapa membuat Nada merasa tenang. Hawa panas yang menyerang kini mulai mereda karena sentuhan sentuhan tangan Vans.
Vans mengangkat tubuh Nada, membawa gadis itu ke ranjang. Nada yang seolah terhipnotis pun mengikuti setiap gerakan Vans.
"Malam ini kita akan bersenang senang baby." bisik Vans mulai membuka bajunya, memperlihatkan dada kotak kotak yang membuat Nada semakin jatuh dalam pesona seorang Vans.
"Apa yang kau lihat huh?"
Merasa ketahuan, Nada menundukan kepalanya, tidak berani menatap Vans lagi.
Vans tersenyum, mengangkat dagu Nada, membiarkan mata mereka saling memandang.
"Cantik." puji Vans yang semakin membuat Nada terbuai.
Tangan Nada bahkan mulai terangkat menyentuh dada kotak kotak milik Vans.
"Malam ini kamu milik ku." Bisik Vans lalu memulai permainannya.
Nada menikmati setiap sentuhan tangan, Ia bahkan mengumamkan suara lembutnya berkali kali membuat Vans semakin semangat. melupakan sejenak masalahnya dengan Nira dan Raka.
"Sekarang waktunya..."
Nada berteriak kencang saat merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk ke dalam miliknya. sakit sangat sakit terasa dibawah sana sobek.
"Kau benar masih orisinil." gumam Vans memaksakan untuk masuk lebih dalam membuat Nada menjerit semakin keras.
"Tuan ku mohon hentikan, ini sangat menyakitkan." teriak Nada tak tahan akhirnya menangis.
Vans tidak mengubris kesakitan Nada, Ia semakin semangat menyatukan miliknya hingga tangisan Nada terhenti dan berganti gumaman kenikmatan membuat Vans semakin semangat.
"****, kau sangat nikmat baby."
Nada tidak memperdulikan ocehan Vans, Ia lebih menikmati gerakan Vans yang mulai terasa nikmat.
Satu ronde sudah mereka lalui, namun sepertinya masih kurang cukup untuk Vans hingga Ia menambah ronde selanjutnya dan entah akan berapa kali untuk malam ini.
"Tuan, milik ku sangat sakit dan aku lelah." keluh Nada setelah tiga kali ronde.
Vans tidak menjawab, hanya tersenyum dan menarik tubuh Nada ke dalam pelukannya hingga akhirnya keduanya terlelap tidur.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa