Mengharuskan menjalani pernikahan disaat istri pertamanya masih hidup? Lebih uniknya harus dijodohkan oleh istrinya sendiri.
Pernikahan yang diawali dengan niat untuk agar dapat merawat suaminya dan bersiap jika operasi yang akan dijalani gagal oleh sang istri pertama.
Akankah Alva dapat bertahan dengan niat itu? Bisakah dia menjadi istri selamanya sosok bernama Adnan dan menjadi satu satunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
"James bagaimana ini?" Tanya Alva pada James karena Ritha yang telah sala paham.
James menghela nafas karena ia sendiri juga bingung dengan keadaan aslinya. Ia saja tidak memiliki hubungan bahkan kenal saja tidak.
"Sebenarnya saya tidak kenal dengan gadis itu nyonya" Seru James menjelaskan.
"Aku tau, bahkan dia juga tidak tau namamu" Timpal Alva.
"Tapi dia itu suka denganmu dan dia itu adalah temanku. Jika dia salah paham seperti ini bagaimana dong?" Kesal Alva karena James yang tak kunjung mengerti.
"Lalu saya harus bagaimana nyonya?" Tanya James yang dirinya sendiri juga bingung dengan apa yang dilakukannya.
Andai saja dirinya tidak menolong gadis aneh tadi mungkin semua ini tak kan terjadi. James pun memijit keningnya merasa penat.
"Kenapa pakai tanya sih, Ya kau kejar dong dia. Astaga James kenapa kau bodoh masalah wanita!" Celoteh Alva.
James pun akhirnya menuruti apa yang d katakan oleh Alva. Sedangkan Alva di dalam mobil tertawa merasa puas.
Ia menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan apa yang terjadi. Mendapati bahwa pria yang disukai oleh temannya adalah sekretaris dari suaminya sendiri.
"Tunggu!" Gumam Alva saat mengingat sesuatu.
Dan benar saja, bagaimana jika James menceritakan siapa dirinya yang merupakan sekretaris dan majikannya dari suaminya.
"Gawat jika Ritha tau kalau manusia pluto adalah suamiku!" Frustasi Alva mengacak acak rambutnya sendiri.
Alva pun segera mengejar mobil dan ternyata pintu mobil telah terkunci dan James lupa bahwa di mobil ada Alva.
Membuat Alva melototkan matanya.
"Mati aku!" Gumamnya pasrah
...🍀🍀🍀...
"Astaga kenapa diriku ini kudet sekali!" Gumam Ritha.
Mengingat bahwa temannya Jennita bisa kenal dan dekat dengan Daryan. Dan sekarang Alva yang juga merupakan temannya sudah memiliki pacar dan bukannya Daryan.
Bahkan pria yang ia sukai itu adalah kekasih dari temannya sendiri.
Deheman dibelakangnya membuat Ritha menoleh kebelakang dan melihat adanya James disana.
"Ada apa om?" Tanya Ritha dengan cool seakan akan tidak terjadi apa apa dan seakan ia tidak pernah bertemu dengan James
James mengangkat alisnya dan akhirnya mengangkat bahunya tanda ia tidak peduli.
Toh sebenarnya juga salah paham ini membuat gadis aneh di depannya tidak mengganggunya lagi.
"Nyonya Alva bukan kekasih saya. Hanya itu yang hanya saya katakan!" Seru James membuat Ritha pada awalnya mengangkat alisnya bingung..
James pun berbalik dan ingin segera kembali ke mobil.
"Nyonya?" Gumam Ritha melamun mencoba menelaah apa yang dikatakan oleh James.
"Alva itu nyonya? Majikan dong? Sebenarnya aku yang kurang update atau bagaimana?" Gumam Ritha tanpa ia sadari James pun sudah pergi dari sana.
James pun kembali kedalam mobil dengan Alva yang sudah was was di dalam mobil menunggu dirinya.
"James kenapa kau kunci pintunya!" Geram Alva menatap tajam ke arah James yang baru saja masuk kedalam mobil.
"Maaf nyonya saya terburu buru1" Jawab James.
"James apa kau bilang pada Ritha jika aku ini istrinya tuan mu?" Tanya Alva menyelidik.
"Tidak nyonya memang kenapa?" Tanya James menimpal.
"Pakek tanya lagi, ya jelas jangan dong bisa bahaya kalau tau bahwa aku ini istri dari dosenku sendiri. Lagi pula juga mbak Melanie akan sembuh dan aku akan bercerai dengan bosmu!" Celoteh Alva..
James pun mengangkat alisnya saat mendengar penjelasan Alva.
'Saya tidak yakin jika anda akan berpisah nantinya dengan tuan Adnan' Batin James dengan menatap Alva dari balik kaca spion.
James pun melanjutkan perjalanannya dan melajukan mobilnya menuju mansionn.
"James, kita tidak akan ke rumah sakit?" Tanya Alva sesampainya di mansion.
"Tuan masih melarang nyonya untuk datang ke rumah sakit sampai semua proses perawatan dan operasi nyonya Melanie selesai" Jelas James membuat Alva kecewa.
Itu tandanya bahwa memang Adnan tidak merindukannya. Ah kenapa jadi membahas tentang rindu.
Mana mungkin manusia pluto itu rindu dengannya. Begitulah pemikiran Alva.
Alva pun hanya menganggukan kepalanya dan memilih untuk masuk ke dalam mansion. Sementara James mennggalkannya.
Di dalam mansion hanya kegabutan yang melanda Alva. Menyapu, mengepel, membersihkan debu, memasak dan hanya membersihkan rumah yang ia lakukan
Seakan saat ini hidupnya ada yang berbeda dari biasanya. Sepi seakan ada yang hilang.
Setelah ia selesai ia pun segera membersihkan diri dan berbaring di kamarnya menatap langit langit.
"Syukurlah jika mbak Melanie sembuh mak aku akan segera bebas!" Gumam Alva.
Namun ia kembali mengingat perkataan Adnan dibawa dirinya mengatakan bahwa jika sudah terlalu nyaman mungkin Adnan tidak akan meninggalkannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya adalah apakah sekarang Adnan sudah nyaman dengan kehadirannya?
Sepanjang hari Alva pun anya berguling di atas kasur dengan tangan yang terus memegang ponsel dan memainkan ponselnya.
Sampai tak terasa pun malam telah tiba dan Alva merasakan lapar. Ia pun segera keluar dari kamarnya dan memasak sesuatu untuk dimakannya.
'Apa malam ini manusia pluto juga tidak akan pulang?" Tanya Alva pada dirinya sendiri..
"Ya ampun Al, kau terlalu berharap yang tidak tidak" Ujar Alva pun dan melanjutkan aktivitasnya memasak.
...🍀🍀🍀...
Beralih ke apartemen milik Daryan.
Disana Jennita tidak mungkin jika harus berkelanjutan untuk tinggal dengan Daryan.
Atau ia akan semakin jatuh cinta dengan pria yang telah membantunya dan sekarang hanya menganggapnya adik.
Dengan memberanikan diri akhirnya Jennita pun mendekati Daryan dan berniat untuk mengatakan keinginannya
"Kak!" Panggil Jennita.
Daryan yang tengah menonton televisi itu pun menoleh dan menarik Jennita untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa?" Tanya Daryan.
"Aku ingin pulang!" Seru Jennita menundukkan kepalanya membuat Daryan menoleh ke arahnya..
"Pulang kemana? Di sini rumahmu, kau ingin pulang di rumah ibu tirimu yang kejam itu?" Celoteh Daryan yang tidak terima untuk Jennita pindah dan meninggalkannya.
Ia sudah meenganggap Jennita sebagai adiknya sendiri. Jadi dia tidak rela jika adiknya akan dianiaya oleh seseorang.
"Kak tapi,-
"Tidak ada tapi tapian, kau akan pulang jika ibumu yang menjemputmu sendiri dan meminta maaf kepadamu!" Sahut Daryan.
"Kau ini sekarang adalah adikku jadi kau harus patuh dengan apa yang di perintahkan oleh kakakmu!" Jelas Darayan kembali
'Tapi aku tidak bisa menganggap kamu kakak ku kak" Batin Jennita.
Mereka bertatapan cukup lama saling mencoba memahami dari mata mereka masing masing.
Bahkan sampai mereka berdua sadari pun, Daryan memajukan kepalanya.
Namun baru beberapa centi pun sebuah dering ponsel terbunyi dari ponsel Jennita.
"Siapa yang meneleponmu malam malam?" Tanya Daryan posesif.
"Aku juga tidak tau kak" Gumam Jennita yang bangkit dan mengambil ponselnya.
Terteralah nama disana nama temannya dan tentusaja RItha.
"JENNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!"
hihihi...