Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28: Apa Maumu, Aldo?
"Darimana kamu masuk? Dan kenapa kamu melakukan ini?" Pelan dan terdengar lirih Alma menanyakannya dengan nada takut. Aldo yang membawanya dalam gendongan menyeringai, hidungnya mendekat, menggesek-gesekkannya di hidung Alma dan puncaknya. Wajah Aldo memiring seiring napas panasnya terhembus, melirik bibir Alma, Aldo mencepak bibir. Wanita ini ... segala sesuatu pada dirinya dengan berani menantang raga dan jiwa Aldo untuk semakin tergila-gila padanya.
"Di sini banyak cela, Alma ... aku bisa masuk lewat darimana saja. Di bawah lantai yang kita pijaki ada ruang, jika ada waktu kamu ingin kuajak menjelajah ke bawah?"
Alma mengalihkan tatapan dari pandangan Aldo, melihat penolakan Alma Aldo hanya menyeringai.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Alma mengulangi pertanyaan seraknya. Digendong oleh Aldo wanita itu tidak menolak. Dengan perlahan Aldo menurunkan Alma ke tepian ranjang, lalu bertekuk di depan kedua kaki jenjang wanita itu. Aldo menyentuh kedua lutut Alma, mendongak menatap wajah wanita itu. "Aku ingin bahagia di balik bayang-bayang bersamamu, Alma ...." Aldo berbisik.
"Tak harus begini 'kan, Aldo?"
"Harus begini," Aldo menggelengkan kepala.
"Kenapa harus begini?"
"Agar saat kamu muak dengan kehidupanmu, aku bisa kabur membawamu kapan saja. Dan saat keluargaku mengira aku sudah mati, tak ada yang akan menghalangiku untuk membawamu pergi."
"Kamu berlebihan, Aldo!" Alma memukul kepalanya. Aldo malah menggenggam erat tangannya, lelaki itu membenarkan. "Ya, aku berlebihan. Aku mencintaimu secara berlebihan, tergila-gila padamu juga berlebihan. Aku akui, Alma. Sehingga itulah aku menginginkanmu dengan cara berlebihan." Aldo membaringkan kepalanya ke pangkuan Alma dengan kedua tangan yang masih mencekram lutut wanita itu. "Kamu tidak usah takut, sayang ... tak perlu takut ... aku takkan menuntut apa-apa darimu, cinta atau tubuhmu, tapi izinkan aku hidup seperti ini di sekitarmu. Ya?" Aldo mengecup lutut Alma yang dibalut kain. "Ya? Oke, Alma?"
"Aku tahu, kamu takut kehilanganku 'kan? Kamu takut 'kan? Iya 'kan?" Pertanyaan Aldo terdengar menuntut. Alma diam, matanya berkaca-kaca. "Air matamu sudah membuktikan segalanya, Alma. Kamu takut kehilanganku ... kamu tidak mau aku pergi, kamu menyesal saat kamu kira aku sudah mati. Jadi izinkan aku hidup begini, Alma. Jika lagi-lagi kamu bilang, kamu tidak butuh aku ... maka aku benar-benar akan mengakhiri hidupku." Alma bergerak hendak menahan kepala Aldo saat kepala lelaki itu turun, dari lututnya, turun menciumi tungkai kakinya lalu tepat ke jari kaki Alma. Tubuh Alma gemetar takut. Kenapa dengan lelaki ini?
"Aldo," Alma membawa lelaki itu berdiri. "Hentikan," wanita itu memohon. Matanya berkaca-kaca, "kumohon hentikan."
"Aku lebih baik mencium kakimu daripada bibirmu, Alma ... bibir ini harus kujaga dengan baik ...." Aldo berbisik, tangannya membingkai wajah manis Alma. Tatapan lelaki itu intens. Maniknya merah dengan bibir melengkung, seperti bahagia bisa melihat wajah Alma dengan jarak sedekat ini. "Tubuh ini ...." Aldo mencekram kedua bahu Alma, lalu sedikit merapatkannya sekalipun kedua kulit mereka tidak bersentuhan. "Harus kujaga dengan baik, Alma. Harus. Aku tahu posisiku, ini hanya berhak untuk lelaki yang benar-benar memilikimu. Yang saat dia menyentuhmu, dunia tidak akan menyorakimu sebagai wanita kotor."
"Aldo," Alma memelas. Dia mulai tidak nyaman dengan tingkah lelaki itu.
Dulu Alma memang pernah menduga Aldo akan segila ini padanya, tapi tak pernah mengira akan sampai separah ini. Saat kelas sepuluh, Alma sempat menolak Aldo karena ingin fokus belajar dan tidak mau terjebak pergaulan bebas. Aldo membujuk dengan segala caranya, dia akan memberikan Alma banyak waktu luang untuk fokus bersekolah dan tidak akan pernah menyentuh Alma sembarangan. Tapi Alma selalu teringat pesan ayahnya, kalimat manis lelaki hanyalah bohongan semata. Alma tetap menolak Aldo. Keesokannya Alma terkejut saat dua bodyguard membawanya paksa ke rumah sakit. Untuk pertama kali Alma bertemu dengan Rehan, yang menginterogasi Alma, karena Alma Aldo sampai berniat bunuh diri. Setelah Aldo keluar dari rumah sakit, Alma yang mulai kasihan pada Aldo mendekati lelaki itu dan bilang Alma mulai menyukainya dan mau berpacaran dengannya.
Aldo ternyata benar-benar menepati janjinya. Aldo memberikan banyak waktu luang pada Alma untuk belajar dan tetap mendapatkan nilai bagus. Aldo tidak pernah berani menyentuh Alma seincipun, hal itu bertahan sampai 10 tahun yang lalu. Sungguh ajaib, tapi selain karena mencintainya Alma tidak berani meninggalkan Aldo kecuali Aldo meninggalkannya duluan. Dari tatapan dalam Aldo, Alma selalu sadar, lelaki itu sangat mencintainya. Melebihi apapun di dunia ini.
"Aku masih memiliki dendam, Alma ...." Aldo meletakkan kepalanya di pangkuan Alma, dengan kedua lengan yang menjerat dua tungkai kaki wanita itu. "Tentang lelaki yang menodaimu. Sean Aplosso, benar lelaki itu 'kan? Aku mengecek kembali hasil rekaman kamera dan penyadap akhir-akhir ini. Dia sempat bicara denganmu. Kenapa kamu begitu bodoh, Alma. Menyebut hal itu juga salahmu, dan menolak berurusan dengan hukum, jaksa dan polisi."
"Jangan macam-macam, Aldo," Alma memperingatkan. "Ini juga salahku. Jangan berniat mencelakai Sean." Alma menangkup wajah lelaki itu, berusaha membujuknya. Air mata dan tatapan memelas Alma biasanya sanggup menyelamatkan seseorang dari kejaran maut saat Aldo mengincar mereka.
"Kenapa tidak boleh?" Aldo menenggelamkan wajahnya di pangkuan Alma, lelaki itu nyaris terlelap saking nyamannya pangkuan Alma baginya.
"Tidak boleh, karena dia tidak sepenuhnya salah. Kamu hanya tidak memasang kamera pengintai di rumahnya. Andai kamu melihat segalanya secara langsung, maka kamu akan mengerti." Suara Alma terdengar takut. Berharap Aldo memercayainya dan tidak berniat macam-macam.
"Berarti aku harus diam saja, Alma?"
"Ini bukan urusanmu, Aldo."
"Kenapa bukan urusanku, sayang?"
"Buka matamu, Aldo. Jika kamu ingin membunuh seorang pemerkosa, kamu juga harus melakukan hal yang sama kepada seorang jalang—yaitu aku."
Aldo mengangkat kepalanya, "kenapa kamu harus disebut sebagai ******?"
"Karena saat itu, aku menikmati apa yang terjadi. Jadi seharusnya kamu membenci wanita ini." Dengan berat Alma mengatakannya, sekalipun tidak sepenuhnya benar.
Aldo menatapnya sendu, lelaki itu terkekeh. "Ternyata Alma-ku hobi dinodai." Kembali diletakkannya kepala ke pangkuan hangat Alma. Di antara dua paha itu, Aldo berbisik lirih. "Ternyata Alma-ku senang dikotori. Ternyata Alma-ku seorang ****** ... tapi kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama padamu?" Dahi Aldo mengerut. Matanya mengerjap beberapa kali.
"Tidak ...." Aldo menangkup lutut Alma dan menciumnya. "Alma-ku masih suci. Sekalipun aslinya memang begitu, dia tetap suci." Alma menatap lelaki itu dengan pandangan sendu.
"Kenapa kamu sampai segila ini, Aldo?"
"Wanita cantik memang akan membuat seorang lelaki tergila-gila. Tidak sadar 'kah kamu, Alma? Kamu itu begitu cantik."
"Cantik?" Alma menangkup pipi Aldo, mengulangi pertanyaan. "Cantik? Tatap wajahku sekali lagi, Aldo. Dan bandingkan ke jutaan wanita cantik di luar sana. Kelak kamu dipersilahkan memilih. Di sana perempuan cantik terbentang banyak, lebih dari aku. Jadi, kamu harus menggilai semuanya 'kan?"
"Alma-ku menolak dikatai cantik ... apakah itu hinaan bagimu Alma?"
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊