spin-off dari novel Menjadi Istri Tuan Muda.
Karena menunggu di kamar seseorang yang menjadi Nyonya Mudanya. Bunga Florencia harus mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia harus kehilangan kesucian yang dia jaga selama ini.
Maxime Anderson pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamar orang yang dicintainya, dan berpikir untuk memilikinya seutuhnya. Tapi tidak pernah dia duga jika gadis yang menghabiskan malam bersamanya adalah gadis lain yang dia ketahui sebagai pelayan pribadi Kakak iparnya.
Karena kejadian itu mereka akhirnya menikah, Akankah keduanya akan sama-sama membuka hati dan membuat cinta akan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Max!" Teriak Bunga yang melihat suaminya tidak sadarkan diri di tengah kerumunan.
Semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara, dan langsung berganti mengerumuni Max, ketika dua orang yang mengalami kecelakaan sudah dibawa masuk ke dalam mobil ambulans oleh petugas medis.
"Apa yang terjadi? Apa dia mengenal korban?" Bisik-bisik orang terdengar.
Salah satu petugas medis turun kembali dan menghampiri Max untuk memeriksa kondisinya.
"Maaf Anda siapanya?" Tanya seorang pria yang berumur sekitar 30 tahun.
"Aku istrinya," jawab Bunga sambil menatap Max yang sedang diperiksa kondisinya.
"Dia hanya shock, apa Anda mengenal korban kecelakaan tadi?" Tanya pria itu.
"Tidak, kami tidak mengenalnya," jawab Bunga yang memang tidak mengenal korban kecelakaan tadi, tapi yang membuat Bunga bingung kenapa suaminya sampai tidak sadarkan diri? Apa suaminya itu mengenal korban?" Itulah yang saat ini Bunga pikirkan.
"Terima kasih," kata Bunga kemudian para warga yang ada di sekitar tadi membantu mengangkat Maxime agar bisa masuk ke dalam mobilnya.
Bunga membuka pintu mobil bagian depan samping kemudi dan kemudian mendudukan Max di kursi itu.
"Terima kasih," kata Bunga menundukkan kepalanya kepada orang-orang yang membantunya pertanda sebagai ucapan terima kasih.
Kemudian Bunga masuk ke kursi kemudi, orang-orang tadi memberikan jalan pada Bunga agar bisa lewat, dan Bunga pun melajukan mobil ke apartemen suaminya karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian. Selain itu jika Bunga membawa Max ke mansion utama, dia takut semua orang akan khawatir, sehingga Bunga memilih kembali ke apartemen.
Sepuluh menit perjalanan Bunga akhirnya sampai, dia bingung harus bagaimana membawa suaminya yang masih belum sadarkan diri, sementara apartemen suaminya ada di lantai yang paling atas.
Bunga kemudian meminta tolong petugas keamanan, dan sekarang disinilah Bunga, di kamar suaminya.
Hingga tak lama, Max pun kemudian mengerjapkan matanya, tapi dirinya langsung bangun dan berlari ke kamar mandi membuat Bunga bingung sekaligus panik.
Uwek
Uwek
Maxime memuntahkan semua isi perutnya. Bunga mendekat sama sekali tak merasakan jijik, dia mengurut tengkuk suaminya.
Max kemudian duduk di kloset dengan tubuh yang sudah lemas.
Wajahnya masih pucat, keringatnya masih bercucuran di sekitar dahi. Bunga menghapus keringat itu dengan lengan bajunya. Sambil menunggu suaminya Bunga sudah mengganti gaunnya dengan kaos lengan panjang kebesaran dan celana pendek di atas lutut.
Max menatap istrinya, kemudian dengan masih duduk di kloset Max langsung memeluk Bunga erat.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, aku mohon!" Katanya dengan suara yang sangat pelan, tapi Bunga masih bisa mendengarnya.
Kepala Max tepat berada di perut Bunga yang sudah sedikit membuncit. Max sangat nyaman dengan posisinya saat ini. Rasa mualnya yang tadi dirasakannya sudah sedikit mereda.
Bunga mengelus rambut suaminya dengan lembut, seraya memberikan ketenangan pada suaminya. Bunga ingin menanyakan apa yang terjadi tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat.
Bunga merasakan jika ada sesuatu yang terjadi dengan suaminya. Bisa dirasakan jika tubuh suaminya gemetar.
"Jangan tinggalkan aku!" Katanya lagi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, sekarang lebih baik kamu kembali beristirahat. Sebelum itu kamu ganti pakaianmu dulu, agar lebih nyaman," kata Bunga melepaskan pelukan Max agar bisa menatap wajah suaminya, kemudian tangan mungilnya memegang kedua pipi Max, menghapus air mata suaminya yang entah sejak kapan menetes, membelai wajahnya dengan lembut, kemudian Bunga mengecup kening suaminya cukup lama, menyalurkan semua segala rasa yang dimilikinya.
Max hanya memejamkan matanya, saat istrinya melakukan itu, hatinya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, Nyaman damai, tenang, dan masih banyak rasa yang dirasakan menjadi satu saat mendapat perlakuan itu dari Bunga. Max tidak pernah merasakan perasaan itu sebelumnya. Baru kali ini bersama wanita yang sudah menjadi Istri dan Ibu dari anaknya dia bisa merasakan perasaan yang berbeda.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat," kata Bunga membantu suaminya berdiri dan melangkah menuju ranjangnya.
Bunga menuju ke walk in closet untuk mengambil baju tidur untuk Max. Setelah mengambilnya, Bunga pun menghampiri suaminya dan memberikan setelan baju tidur itu. Kemudian Bunga hendak keluar dari kamar Max membiarkan suaminya mengganti pakaiannya sendiri.
Tapi langkahnya terhenti, karena Max menahan pergelangan tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Max dengan suara yang lemah.
"Aku mau ke dapur untuk membuatkanmu minuman hangat, agar perutmu merasa lebih baik," Kata Bunga.
"Jangan pergi!" Mohon Max.
"Tapi…"
"Aku mohon," kata Max dengan wajah penuh permohonan.
"Baiklah," jawab Bunga pasrah.
"Sekarang ganti pakaianmu!" Perintah Bunga.
"Tubuhku rasanya sangat lemas dan tidak bertenaga, tidak bisakah kamu membantuku mengganti pakaianku, lagian kita ini suami istri, jadi tidak ada salahnya bukan?" Kata Max panjang lebar memberi alasan.
"Simpan saja tenagamu, jangan terlalu banyak bicara, karena itu bisa lebih menguras tenagamu itu," kata Bunga.
"Tidak bertenaga tapi cerewet sekali," gumam Bunga pelan.
"Apa yang tadi kau katakan?" Tanya Max karena sepertinya dia mendengar istrinya bersuara.
"Tidak apa-apa," kata Bunga kemudian mulai membuka kancing kemeja suaminya satu persatu. Setelah semuanya terbuka, Bunga pun melepas kemeja yang basah penuh keringat itu dari tubuh suaminya, dan menggantinya dengan pakaian tidur.
Setelah selesai, Bunga menyerahkan celana panjang setelan baju tidur tadi kepada Max.
"Kenapa?" Tanya Max.
"Pakai sendiri!" Ucap Bunga dengan pipi yang merona.
Max tersenyum melihat itu. "Kenapa tidak dipakaikan sekalian?" Tanya Max sengaja menggoda istrinya.
"Kulihat kamu sudah baik-baik saja dan ku yakin kamu bisa memakainya sendiri," kata Bunga kemudian langsung bangun dari ranjang suaminya dan berlalu menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terasa panas.
Max tertawa melihat istrinya yang buru-buru pergi ke kamar mandi dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
Tapi tawanya seketika pudar begitu istrinya sudah tidak tampak lagi, Max memejamkan matanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup telinga ketika terlintas bayangan-bayangan kejadian yang pernah dilaluinya. Kejadian yang membuatnya merasakan kembali luka yang tidak pernah sembuh walau sudah lama. Luka yang dia dapat dan hanya dua orang yang tahu. Luka yang membuatnya tersiksa tanpa ada orang yang tahu bagaimana menderitanya dia.
Max membuka celana panjang hitamnya hingga menyisakan celana boxer dan disingkapnya celana boxer itu, luka itu masih ada dan membekas. Max kemudian buru-buru memakai celana tidurnya sebelum istrinya kembali.
Max kemudian merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya hanya sekedar menenangkan dirinya yang kini dalam kegelisahannya.
Bunga keluar dari kamar mandi, dan melihat suaminya yang tampak begitu gelisah, Bunga mendekat dan naik ke atas ranjang.
Max yang merasa ada pergerakan di atas ranjangnya, akhirnya membuka mata dan melihat istrinya juga merebahkan diri di sampingnya.
Max kemudian memeluk istrinya, menelusupkan wajahnya di d*d* istrinya, mencari kenyamanannya disana. Hingga tak lama dia pun terlelap, apalagi merasakan sentuhan lembut tangan istrinya yang mengelus kepalanya. Tak lama pun Bunga menyusul suaminya ke alam mimpi.
, , .
,
,