Hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh kakaknya,Jamilah harus rela dihina,diperlakukan dengan tidak baik.
Harus membayar hutang-hutang kakaknya pada seorang bos besar dan sangat berkuasa.
Dapatkah Jamilah melepaskan diri dari belenggu yang merantai hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naya siswanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADDC 28
Bramasta buru-buru pergi saat salah satu anak buahnya mengatakan bahwa Gara sedang bergerak ke lokasi chip yang mereka buang.Jack sudah berada di lokasi itu,agar tidak menimbulkan kecurigaan.
" Tari,tolong sampaikan pada istriku agar tidak menungguku.Kali ini aku pergi sedikit lebih lama dari sebelumnya" pesan Bramasta.Jamilah masih tertidur pulas di ruang karaoke setelah pertempuran hebatnya tadi.
" Dia ada di room,masuk saja.Aku mengizinkanmu masuk" tambahnya.
" Baik Tuan,nanti akan saya sampaikan" kata Tari.
Begitu Bramasta masuk ke mobil Seno langsung mengemudikan mobilnya.Sebenarnya,Bramasta bisa saja memakai helikopter tapi takut menimbulkan kebisingan dan kedatangannya bisa ketahuan oleh Gara.
" Seno,Berapa besar kekuatan mereka?" tanya Bramasta sambil memakai jaketnya.
" Tidak terlalu banyak Tuan,karena sebagian dari mereka sudah berpihak pada kita" jawab Seno.
" Baguslah" kata Bramasta.
" Tuan kenapa tidak pake rompi anti peluru?" Bagaimana kalo nanti Tuan tertembak lagi.Jangan sampai anak yang Nona kandung jadi anak yatim sebelum lahir" ujar Seno.
" Sial! Kamu mendoakan aku mati,Seno!" hardik Bramasta.
" Saya hanya mengingatkan Tuan saja" balas Seno santai.
Dengan wajah kesal,Bramasta membuka kembali jaketnya lalu menggantinya dengan rompi anti peluru.Bramasta duduk bersandar di kursinya,lalu mengambil ponsel dari saku celana,dia mencari nomor ponsel Tari dan langsung menghubunginya.
Tuuut....panggilan terhubung.
" Hallo Mas,kenapa kamu tidak membangunkan tidurku dan kenapa tiba-tiba pergi begitu saja." oceh Jamilah dari seberang telpon.Saat mengetahui kalo Bramasta menelponnya, Tari memberikan ponselnya pada Jamilah.
" Maaf sayang,aku ada urusan mendadak.Lagipula tidurmu sangat nyenyak,aku tidak berani mengganggumu" kata Bramasta.
" Kapan kamu pulang?" tanya Jamilah.
" Aku baru saja pergi dan belum juga sampai ke tempat tujuanku,kamu sudah bertanya kapan aku pulang.Apa secepat itu kamu merindukan suami tampanmu ini sayang?" kata-kata Bramasta membuat Seno kaget.Dia tidak percaya Bramasta yang terkenal dan dingin bisa sekonyol itu.
" Aku bukan rindu,tapi aku kesepian" jawab Jamilah.
" Baik-baik di rumah,aku akan segera pulang.Aku matikan telponnya ya" ujar Bramasta lalu memutuskan panggilannya.
...****************...
Mobil yang ditumpangi Bramasta mulai memasuki lokasi.Beberapa anak buah Bramasta sudah berkumpul di titik yang sudah di sepakati.
" Selamat malam Tuan" sapa anak buahnya.
Bramasta mengerutkan keningnya saat melihat banyak wajah yang sangat asing baginya.
" Mereka anak buah Gara yang bergabung dengan kita" kata Seno.
" Hemmm" Bramasta hanya mendehem dengan wajah datar dan terkesan dingin.
" Gara sudah mulai masuk jebakan" seru seseorang dari dalam sebuah mobil box.
" Siapa kamu?" tanya Bramasta pada orang itu.
" Nama saya Jonathan Tuan,biasa dipanggil Jojo" jawab Jojo.
" Maksud Tuan Bram,anda siapa.Soalnya Tuan baru melihat anda" jelas Seno.
" Saya temannya Jack" jawab Jojo.
" Silahkan Tuan lihat sendiri posisi Gara" kata Jojo pada Bramasta.
" Bos,Jack sudah memberi sinyal agar kita bergerak" lapor anak buah Bramasta yang datang menghampirinya.
" Tuan menunggu saja di sini,biar kami semua yang membereskan Gara dan beberapa anak buahnya yang masih setia" kata Seno.
" Tapi..."
" Maaf saya memotong,tapi Seno ada benarnya Tuan.Dengan tangan saya,saya berjanji akan membawa mayat Gara ke hadapan Tuan" potong seseorang.
" Siapa kamu?" tanya Bramasta.
" Saya adik tirinya Gara" jawab orang itu.
" Anak Nyonya Ranisa?" tanya Bramasta.
" Anda benar Tuan,saya Putra Soebrata.Nama saya Ferdinan" jawab Ferdinan.
" Saya percaya kamu dan kalian semua,pergilah dan kembalilah dengan selamat" titah Bramasta.
Semua mengangguk lalu mulai bergerak secara halus ke lokasi penyergapan.Seno tetap disana menemani Bramasta.
" Kalo boleh saya tahu,siapa Soebrata dan Nyonya Ranisa?" tanya Seno.
" Nyonya Ranisa adalah sahabat Mama Denada.Tuan Soebrata meninggal saat Ferdinan masih kecil.Tidak lama kemudian,Nyonya Ranisa menikah dengan ayah Gara" jawab Bramasta.
" Walau pun tiri,tapi mereka bersaudara.Apa kita bisa mempercayainya?" tanya Seno.
" Kita lihat saja nanti" jawab Bramasta.
Dor
Dor
Dor
Bunyi tembakan mulai terdengar dari kejauhan.
Boom...
Disusul suara ledakan yang sangat dahsyat hingga tanah tempat Bramasta berpijak bergetar.
" Kenapa harus menggunakan peledak?" tanya Bramasta.
" Saya tidak tahu Tuan,mungkin dari pihak Gara yang membawa peledak" jawab Seno.
" Berarti ada yang membocorkan rencana kita" ujar Bramasta yang langsung bergegas hendak ke medan pertempuran.
" Jangan Tuan,bahaya" cegah Seno.
" Tuan tetap di sini,biar saya yang pergi kesana" ujar anak buah yang mendampingi Bramasta.
Setelah Bramasta mengangguk, anak buah itu langsung pergi.Bramasta menunggu kabar dari anak buahnya dengan was-was, hatinya terasa tidak tenang.
" Kenapa lama sekali,ini sudah dua jam dan hampir subuh?" tanya Bramasta dengan wajah cemas.
Dari kejauhan terlihat cahaya yang berasal dari senter.Cahaya itu mendekat kearah Bramasta dan Seno.
" Mereka kembali" seru Seno.
Bramasta langsung menyongsong kedatangan anak buahnya.Jack dan Ferdinan berada di barisan paling depan dengan tangan Ferdinan yang menyeret tubuh seseorang.
" Gara" desis Bramasta saat melihat orang yang sedang di seret oleh Ferdinan.
...****************...
Jamilah mengaduk makananya tanpa berniat memakannya,sudah siang tapi Bramasta belum juga pulang.
" Kenapa cuma diaduk-aduk makanannya,Non?" Apa makanannya tidak enak?" tanya Tari.
" Aku gak berselera" jawab Jamilah lesu.
" Tuan kan sudah bilang,kepergiannya kali ini sedikit lama.Nona gak boleh menyiksa diri sendiri gitu,kasihan Junior, pasti dia sangat lapar" tutur Tari.
" Tari" panggil Jamilah.
" Iya Nona" sahut Tari.
" Apa aku terlihat jelek?" tanya Jamilah.
" Nona cantik kok.Cantik banget malah" jawab Tari.
" Emangnya kenapa Non?" tanya Tari.
" Tidak apa-apa" jawab Jamilah.
" Aku mau tidur,bawa kembali makanannya ke dapur" titah Jamilah lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
" Aku sudah seperti burung yang terkurung dalam sangkar.Aku pikir setelah menikah aku akan tetap bebas,ternyata aku salah.Mas Bram terlalu mengekangku,jangankan keluar dari rumah,keluar kamar saja harus pendapat izinnya" gumam Jamilah dalam hati.Perlahan air matanya menetes di pipinya.
Tari mengemasi makanan yang sama sekali tidak terjamah,lalu membawanya ke dapur.
" Nona tidak mau makan lagi?" tanya Alex.
" Iya" jawab Tari.
" Kasihan Nona,pasti dia merasa jenuh" ujar Alex.
" Kamu benar Lex,tapi mau gimana lagi.Peraturan yang dibuat oleh Tuan sudah harga mati" kata Tari.
" Kisah masa lalunya yang membuat Tuan seperti sekarang,dia terlalu mencintai Nona hingga dia takut kehilangan" kata Alex.
" Trauma boleh,terlalu cinta juga boleh.Tapi tidak dengan membatasi pergerakan juga mengurung orang yang dicintai.Untung Nona orangnya penurut,coba kalo sifat Nona seperti Kayla,pembangkang" tutur Tari.
Tari melanjutkan pekerjaannya,berpatroli untuk mengawasi pekerjaan para pelayan.Alex kembali ke pos jaga,selama Bramasta dan Seno pergi,dia yang bertanggung jawab menjaga keamanan di rumah ini.