NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mala Cyphierily BHae

Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?

Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]

Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapuh!

"Kenapa kalian diam?" tanya Maya dan Murni bangun dari duduknya menghampiri Maya.

"Kamu sehat dulu, sayang. Sekarang yang penting Ifraz baik-baik saja," kata Murni seraya mengusap rambut Maya.

Sedangkan Biru tidak lagi ingin menyembunyikan sesuatu dari Maya.

Pria itu bangun dari duduknya, berdiri di samping brangkar dengan dua tangan yang masuk ke saku celananya.

"Selama ini Hafizah yang merawat bayi kita," jawab Biru membuat Maya membulatkan matanya dengan sempurna, seperti luka yang tersiram air garam, itu lah sakit yang bertubi-tubi Maya rasakan.

"Berarti selama aku sakit kalian makin mesra? Kenapa kamu tidak berdoa saja untuk kematian ku!" bentak Maya, wanita itu memegangi kepalanya yang terasa sakit karena berbicara dengan nada tinggi.

"Aaakh!" pekik Maya, melihat itu Biru menjadi panik.

"Maya, kamu kenapa, May!" tanya Biru.

Sementara itu, Murni mengusir Biru dari ruangan Maya.

"Bukannya menenangkan tapi kamu hanya menambah stress saja!" geram Murni, setelah itu Murni menekan tombol yang tidak jauh dari brangkar Maya, memanggil dokter.

****

Sementara itu, di kafe.

"Apa? Tapi kalau nanti gue jatuh cinta beneran sama Maya gimana?" tanya Bram saat mendengar permintaan Gala untuk merebut Maya dari sisi Biru.

"Gua lebih suka Mbak Maya sama abang! Gua kasihan lihat dia disakiti seperti itu, bang!"

Mendengar itu, Bram meminta waktu pada Gala untuk berfikir, karena permintaan Gala adalah meminta Bram untuk merebut istri orang.

****

Beberapa hari telah berlalu, sekarang dengan terpaksa Maya pulang ke rumah Biru demi bertemu dengan putranya. Ya, Biru tidak mengizinkan Maya untuk bertemu dengan Ifraz apabila menolak ajakan Biru pulang ke rumah.

Di temani Murni, ia yang mendorong kursi roda Maya, keduanya menatap ke pintu karena di sana ada Hafizah dan Ifraz yang sedang menyambut kepulangan Maya.

Murni mendorong kursi roda itu ke arah menantu barunya dengan segera Maya meminta bayinya.

"Kembalikan bayiku!" pinta Maya seraya mengulurkan tangannya dan dengan hati-hati Hafizah memberikan bayi itu, setelah mendapatkan apa yang dimau, Murni membawa Maya ke kamar yang berada di lantai bawah.

Sementara itu, Biru mengajak Hafizah untuk pulang ke rumahnya karena Maya sudah kembali.

"Emm...," jawab Hafizah seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa? Ayo pulang, aku bisa memanggil suster untuk membantu Maya mengurus bayinya," kata Biru seraya menarik lengan Hafizah.

Hafizah melepaskan tangan Biru dari lengannya.

"Tapi aku malu tinggal di sana, Mas! Semua menggunjingku!"

"Astaga," geram Biru.

"Lagipula anak ini tidak ingin jauh dari ayahnya," jawab Hafizah seraya mengusap perutnya yang masih rata.

"Kalau aku bisa akrab sama Mbak Maya, kamu juga kan enggak pusing Mas," lirih Hafizah, "mungkin ini kesempatan aku buat berteman lagi sama Mbak Maya," lanjut Hafizah seraya bergelayut manja di lengan suaminya.

****

Sementara itu, di kamar, Maya sedang memeluk putranya, berfikir bagaimana akan merawat Ifraz apabila dirinya berada di kursi roda.

"Aku pasti bisa!" gumam Maya dalam hati. Lalu Maya yang sedang melamun itu dikejutkan dengan usapan lembut di punggung.

"Nak, Mamah akan membantu kamu untuk bercerai dari Biru, Mamah juga minta maaf karena tidak membesarkan Biru dengan baik sehingga dia menjadi pria yang seperti itu," lirih Murni.

Belum sempat Maya menjawab sudah terdengar suara Biru yang mengatakan, "Tidak akan ada yang bercerai!" Pria itu berdiri di pintu, dengan dua tangan berada di saku celananya menatap tajam Maya tidak ingin dibantah.

Melihat Biru yang menyebalkan, Maya memalingkan wajahnya.

Tak sanggup untuk melihat wajah pria yang sudah menghancurkan hidupnya.

"Aku akan mencari suster untuk membantumu merawat bayi kita," kata Biru, kali ini terdengar lembut, pria itu merasa tidak tega telah menyakiti hati istrinya, tetapi Maya salah menangkap ucapan Biru, wanita itu merasa kalau Biru meremehkan dirinya yang sekarang tidak bisa berjalan.

"Kamu pikir dengan kakiku yang lumpuh seperti ini membuatku tidak bisa mengurus anakku?"

"Aku tidak ingin bertengkar! Aku lelah ingin istirahat!" jawab Biru yang kemudian meninggalkan Maya dan Murni.

Murni mengusap dadanya, tidak menyangka kalau anaknya bisa seperti itu, tetapi Murni memahami niat baik anaknya.

"Sayang, mungkin bukan itu maksud Biru! mungkin dia ingin membantu kamu."

Dan Maya yang terlanjur sakit hati itu tidak mendengarkan ucapan Murni.

Hati dan fisiknya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya menjadi sangat sensitif.

"Mah, Mamah terlihat sangat lelah sekali, lebih baik mamah pulang dan istirahat, Maya ingin sendiri dulu!" ucap wanita itu seraya mengusap air matanya.

"Ta-"

Belum sempat memprotes Maya, wanita rapuh itu sudah memotong lebih dulu ucapan mertuanya.

"Maya ingin sendiri, mah," lirih Maya, seraya menimang putranya.

Dengan berat hati, Murni keluar dari kamar dan mencari Susi yang sedang menyetrika. Mendengar namanya di panggil, Susi pun menghentikan aktivitasnya.

"Sus.Saya titip Maya, ya. Tolong bantu dia!" perintahnya yang berdiri di pintu ruang laundry.

"Baik, Nyonyah," jawab Susi seraya menganggukkan kepala.

Dan sampai malam, Maya tidak keluar dari kamar itu. Semua kebutuhannya diantarkan oleh Susi.

Sampai akhirnya Biru masuk untuk melihat keadaan Maya, di sana Biru melihat Maya yang sedang kesusahan ingin berpindah dari kursi roda ke ranjangnya.

"Biar ku bantu, May!" kata Biru seraya meraih lengan Maya, tetapi wanita itu merasa kesal, seharian kemana saja dia, kenapa baru datang untuk membantu, apa dia sedang sibuk dengan istri barunya, begitulah pikir Maya.

"Nggak usah!" tepis Maya seraya menyingkirkan tangan suaminya dari lengan.

"Enggak usah keras kepala!" timpal Biru yang kemudian membopong Maya dan memindahkannya ke ranjang.

Maya menangis dan segera menghapus air matanya, tidak ingin menunjukkan kerapuhan hatinya.

Setelah itu, Biru ikut berbaring dengan Ifraz yang berada di tengah.

Maya memejamkan matanya tak mau melihat suaminya yang terus menatap.

Lalu terdengar suara lirih dari suaminya, "May."

Dan Maya tidak merespon, memilih untuk berpura-pura tidur.

Tetapi Biru mengerti kalau Maya masih terjaga.

"Aku tau kamu belum tidur, May!" kata Biru, "Maya, maafkan aku, aku sangat merindukanmu," lanjut Biru dan Baru saja Biru beringsut ingin mengecup kening Maya, dirinya sudah mendengar suara Hafizah yang terus memanggilnya.

Mendengar itu, Maya merasa sakit, berfikir kenapa wanita itu masih berada di rumahnya.

Lalu Maya merasakan bibir lembut suaminya yang mendarat di kening.

Setelah itu, Biru keluar dari kamar untuk menemui Hafizah.

"Ada apa? Kenapa berteriak, ini sudah malam," kata Biru yang baru saja keluar dari kamar Maya.

"Aku laper, Mas."

"Bukannya tadi kamu udah makan?"

"Iya, tapikan aku lagi hamil, jadi nafsu makan aku bertambah dan sekarang aku mau es krim," rengek Hafizah, wanita itu mengusap perutnya di depan Biru yang sedang memperhatikan.

Bersambung.

Jangan lupa untuk klik like dan favorit juga ya, dukung karya ini dengan Gift/Vote gratisnya. Terimakasih bagi yang sudah membaca dan mendukung 😇

1
Khairul Azam
sebeuah cerita itu mencerminkan dari diri sipenulis itu sendiri
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: makasih, kak. Sudah memahami si penulisnya. 😇😇
total 1 replies
Khairul Azam
menurutku disini yg aneh bukan siapa" tp othornya yg aneh
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: Makasih, kak. 🥰😇😇
total 1 replies
Khairul Azam
hadeeeehhhh ini yg bikin cereta gak mumet apa
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: Kaaaa 😅😅😅😅
total 1 replies
Khairul Azam
hadeh gak ada yg bener semua, si maya bego, sihafiz pelakor, si biru tukang selingkuh, si bram hadddooohhhhh
Khairul Azam
perempusn psling bodoh maya, sukurlah klo gak bisa jln, tsu suami gak bener tingalkan aja malah nrobros lampu merah
Khairul Azam
hadeeehhh suami kaya gitu di rebutin tinggalin aja
Komang Diani
semangat maya demi masa depan irfas, jangan biarkan perlakor itu menang.. buat dia menderita
Komang Diani
bagusss,, kapok, karmanya instan,..
Komang Diani
bikin gregetttt,, dasar pelakorrrrr
Komang Diani
Luar biasa
Komang Diani
nama aja hafizah tp ular
Siti Nurbaidah
sukses sllu kk sayang..alurcerita ny mantap👍👍👌💕dag dig dug kdg buat sedih..nth lah spt dunia nyata tpi siapa pun itu pasti ada jln terbaik ny
Siti Nurbaidah: 👍👌👌siap
total 2 replies
Siti Nurbaidah
Luar biasa
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: Terimakasih 🥰
total 1 replies
ALNAZTRA ILMU
bodoh
ALNAZTRA ILMU
rasakan
ALNAZTRA ILMU
mampus
ALNAZTRA ILMU
bangkitlah maya. cepat!!
ALNAZTRA ILMU
semoga saja maya bisa bercerai dan nikah sama bram.. biru akan selingkuh lagi dan hafizah tau rasa diselingkuhi.. semoga saja
ALNAZTRA ILMU
otak blue sebab tu kau rosak
ALNAZTRA ILMU
astagaaaa.. brengsekkkk.. ceraisajalah bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!