Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Pelukan Ren Sebelum Naik Panggung
Puncak kampanye Aurora akhirnya tiba. Sejak pagi, seluruh gedung perusahaan Ren berubah menjadi lautan manusia. Tim event berlarian membawa perlengkapan. Tim tata cahaya terus melakukan pengecekan. Makeup artist bergantian keluar masuk ruang rias. Stylist sibuk memastikan setiap helai kain jatuh sempurna. Suara headset, panggilan radio, hingga langkah kaki memenuhi setiap sudut backstage.
Semua orang sibuk. Namun, di tengah hiruk pikuk itu, hanya ada satu nama yang paling sering disebut.
"Anjani, fitting terakhir."
"Anjani, cek gaun."
"Anjani, lighting sudah sesuai konsep."
"Anjani, briefing lima menit lagi."
Wanita itu bahkan sampai tertawa kecil sendiri. "Aneh juga."
Seorang penata rambut menoleh. "Apa yang aneh, Mbak?"
Anjani memandang gaun Aurora yang menggantung anggun di hadapannya. "Saya yang mendesain."
"Iya."
"Saya yang ikut menyusun konsep."
"Iya."
"Saya juga yang jadi model."
Penata rambut ikut tertawa. "Lengkap sekali."
Anjani menggeleng pelan. "Semua gara-gara Pak Ren."
Kalau bukan karena manusia bermulut pedas itu, mungkin ia masih berkutat di balik meja desain. Takdir memang suka bercanda.
Di ruang kontrol...
Ren berdiri memperhatikan seluruh monitor. Tatapannya tenang, namun pikirannya terus menghitung. Waktu, urutan tampil, investor, media, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
Raka menghampiri.
"Pak, semua siap."
"Hm."
"Model juga sudah siap."
Ren mengangguk tipis. "Pastikan backstage steril."
"Baik."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ren meninggalkan ruang kontrol.
Di ruang ganti...
Anjani baru saja selesai mengenakan gaun Aurora. Gaun berwarna hitam keemasan itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Ia memeriksa sekali lagi setiap jahitan. Sudah sempurna.
Saat hendak berbalik, matanya menangkap bayangan seseorang di cermin.
Winda.
Desainer senior itu berdiri tidak jauh dari gaun cadangan Aurora. Tatapannya terlalu lama tertuju pada bagian sambungan kain.
Anjani tidak bergerak, hanya memperhatikan. Winda mengira dirinya tidak diawasi. Perlahan wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku blazer. Benda kecil yang sangat tajam.
Tatapan Anjani langsung berubah curiga. Tanpa suara ia mendekat.
"Ternyata benar."
Winda langsung terkejut. Refleks menyembunyikan tangannya. "Apa maksudmu?"
Anjani menangkap gelagat Winda yang seperti ketahuan mencuri itu.
"Saya dari awal merasa Ibu terlalu sering muncul di sekitar gaun ini."
Winda tersenyum sinis. "Kamu menuduh saya?"
"Saya belum menuduh."
"Kalau begitu minggir."
Anjani tetap berdiri. "Tidak."
Tatapan Winda mengeras. "Orang baru memang berani. Merasa hebat?"
Anjani tersenyum tipis. "Tidak. Saya cuma hati-hati."
Winda mendengus. "Lalu? Mau lapor Pak Ren? Saya tinggal bilang kamu memfitnah. Saya desainer senior. Sedangkan kamu? Orang-orang akan lebih mempercayaiku daripada kamu yang baru hitungan hari bekerja. Jangan sok cari perhatian."
Beberapa detik suasana sunyi. Keduanya masih saling tatap. Kemudian, Anjani mengeluarkan ponselnya sembari tersenyum tenang.
"Makanya...saya tidak datang tanpa persiapan."
Ujung jempolnya menekan layar. Suara semua percakapan mereka barusan langsung terdengar jelas.
Wajah Winda seketika berubah panik. "Kamu merekamnya?"
"Iya."
"Lancang sekali kamu ya!"
Winda langsung maju hendak merebut ponsel itu, tapi Anjani lebih cepat menghindar.
"Serahkan!"
"Tidak."
"Kamu licik!"
"Saya belajar berjaga-jaga."
Kalimat itu justru semakin membuat Winda naik pitam. Tangannya langsung bergerak tanpa kendali.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Anjani. Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Anjani memegang pipinya yang terasa panas. Di saat itu juga tatapannya berubah dingin.
Plak!
Tamparan balasan mendarat di wajah Winda. Tamparan yang lebih keras. Kini giliran wanita itu yang terpaku.
"Kamu berani?!"
"Saya hanya membalas."
Winda benar-benar kehilangan kendali. Ia mendorong tubuh Anjani sekuat tenaga hingga terhuyung mundur. Tumit sepatunya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir jatuh. Namun, seseorang lebih dulu menangkap pinggangnya.
Bruk.
Anjani membelalak. Dadanya menabrak dada bidang seseorang. Satu lengan kuat melingkari pinggangnya dan lengan yang lainnya berada di pundaknya agar tidak jatuh.
Wanita itu mendongak. Wajah tampan Ren langsung memenuhi pandangannya. Pria itu menatap lurus ke arah Winda. Sementara ponsel Anjani yang masih berada di tangannya tidak sengaja tertekan.
Rekaman bukti percakapan tanpa sengaja kembali berputar. Ruangan mendadak sunyi. Kali ini lebih mencekam.
Tatapan Ren perlahan beralih kepada Winda. Sorot matanya terlampau dingin hingga membuat napas wanita itu tercekat.
"Pak Ren..." Winda mencoba tersenyum. "Ini salah paham."
Ren tidak menjawab. Ia justru melirik sekilas ke arah bekas tamparan di pipi Anjani, lalu bertanya dengan suara sangat pelan.
"Siapa yang menampar dia?"
Winda membeku. "Pak, saya bisa jelaskan--"
"Jawab." Nada suara Ren tetap datar, tapi sukses membuat seluruh tubuh Winda gemetar.
"S-saya...," aku Winda pada akhirnya.
Ren mengangguk sekali. "Cukup."
Ia masih belum melepaskan Anjani. Tatapannya tetap mengunci Winda.
"Sepuluh tahun saya membangun perusahaan ini, tidak pernah saya mempertahankan orang yang sengaja merusak pekerjaan timnya sendiri."
Winda mulai panik. Arah pembicaraan Ren sudah seperti firasat buruk. "Pak, saya desainer senior."
"Saya tahu."
"Saya punya kontribusi besar."
"Saya juga tahu."
"Kalau saya keluar sekarang--"
"Kamu keluar. Mulai detik ini."
Winda membelalak. "Pak!"
"Tanpa pesangon. Tanpa surat peringatan. Tanpa kesempatan kedua."
Suara Ren masih tetap tenang, namun setiap katanya terdengar seperti palu hakim di meja hijau.
"Lalu..." Tatapannya semakin tajam.
"Orangku bukan untuk kamu sentuh."
Semua mendadak diam, termasuk Ren sendiri. Sepersekian detik, ia baru menyadari pilihan katanya. Anjani pun ikut terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Sedangkan Winda sudah kehilangan seluruh keberaniannya. Matanya memerah dan ia tahu tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Ia menggigit bibir, menahan tangis dan malu, lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa berani menoleh lagi.
Pintu tertutup, menyisakan keheningan. Barulah Anjani menyadari lingkaran tangan Ren masih berada di pinggangnya. Pria itu sama sekali belum melepaskannya.
Anjani menggeliat pelan. "Pak Ren..."
Tidak ada jawaban. Ren malah menatapnya lekat.
"Pak..."
Suara lembut berikutnya, barulah Ren seperti tersadar. Pria itu berkedip pelan, lalu perlahan mengendurkan pelukannya. Anjani segera mengambil satu langkah mundur.
Suasana berubah canggung. Untuk pertama kalinya, Ren tampak sedikit kehilangan ritme.
Anjani berdeham pelan. Terima kasih..."
Ren hanya mengangguk. "Hm."
Anjani kembali bertanya. "Bapak... ke sini ada perlu?"
Ren mengalihkan pandangan sesaat sebelum kembali memasang wajah datarnya. "Mengecek kesiapan model utama."
Jawabannya masuk akal dan sangat profesional. Tak ada celah untuk dicurigai. Padahal, beberapa menit sebelumnya, tanpa alasan yang jelas, kakinya memang membawanya ke ruang ganti Anjani, seakan ada dorongan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
"Oh."
"Model utama harus dipastikan siap."
Anjani mengangguk paham.
Ren menatap Anjani sekilas. "Kamu siap?"
Anjani menarik napas. "Lumayan gugup."
"Itu normal."
"Saya takut mengecewakan."
"Kamu tidak akan," jawab Ren cepat, bahkan lebih cepat daripada yang disadari Ren sendiri.
Anjani sedikit tertegun.
Ren segera berdeham pelan. "Lima menit lagi, panggung menunggu."
Anjani mengangguk mantap.
"Baik, Pak."
Ren berbalik meninggalkan ruangan, namun tepat sebelum membuka pintu ia berhenti tanpa menoleh.
"Anjani."
"Iya?"
"Jangan jatuh."
Anjani tersenyum tipis. "Saya akan berhati-hati."
Ren membuka pintu. "Lalu kalau memang harus jatuh, lastikan bukan karena ulah orang lain."
Setelah mengucapkan itu, Ren benar-benar pergi, meninggalkan Anjani yang masih berdiri memandangi punggung pria tersebut.
Entah kenapa untuk sesaat, dadanya terasa sedikit hangat, tapi ia segera menggeleng pelan.
"Pak Ren memang aneh."
Anjani lalu berbalik menatap gaun Aurora. Menarik napas, kemudian membuangnya pelan. "Sudah waktunya naik ke panggung."
Sementara di sudut lainnya...
"Aku dipecat gara-gara kamu!" desis Winda dengan wajah merah padam.
"Itu karena Mbak Winda kurang berhati-hatI," jawab Cintya lembut. Nada suaranya tetap tenang, seolah tidak ingin memperkeruh keadaan.
"Kurang hati-hati?" Winda tertawa sinis. "Dari awal itu idemu! Kalau aku nggak dengerin kamu, aku masih kerja di sini!"
Cintya menundukkan kepala pelan, memasang wajah penuh penyesalan. "Maaf... aku cuma ingin membantumu memberi pelajaran pada Anjani."
"Ah, sudahlah!" Winda mengibaskan tangan kasar. "Capek aku!"
Wanita itu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Cintya menatap punggungnya hingga menghilang di balik lorong.
Sesaat kemudian, ekspresi lembut di wajahnya perlahan memudar. Tatapannya berubah dingin. Kedua tangannya mengepal erat.
"Anjani..." Senyum tipis yang sama sekali tidak hangat terukir di bibirnya. "Lagi-lagi kamu menang. Dulu kamu berhasil mempertahankan posisi istri Satriya yang seharusnya jadi milikku. Dan sekarang kamu mengambil panggung yang selama ini kuimpikan."
Tatapan Cintya mengeras. "Tapi permainan ini belum selesai."
Bersambung~~
tep kotep cellot.
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...