NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat

Empat hari berlalu sejak perintah besar itu dikeluarkan. Gerakan balas dendam Buwana-Zafira berjalan persis seperti rencana yang disusun rapi oleh Naura dan dieksekusi dengan tangan besi oleh Dewa. Di dunia bisnis, perubahan terjadi begitu cepat dan drastis hingga membuat seluruh kota terperangah. Perusahaan-perusahaan milik para pengkhianat itu mulai goyah satu per satu. Nilai saham mereka anjlok tanpa ampun, mitra bisnis lama berbalik arah dan memilih bekerja sama dengan keluarga Buwana, sementara aliran dana yang dulunya lancar kini terputus total seolah ditelan bumi. Semua rahasia kotor, korupsi, dan kejahatan yang selama ini mereka sembunyikan rapi di balik jabatan terhormat, kini tersebar luas di media dan menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut kota.

Di sisi lain, di dunia bawah tanah, Rian dan pasukan elitnya bekerja tanpa lelah. Setiap kelompok penjahat bayaran yang mencoba masuk ke wilayah kota atau bergerak diam-diam atas perintah para pengkhianat itu, selalu berakhir dengan nasib yang sama: hilang tanpa jejak atau ditemukan dalam keadaan mengenaskan sebagai peringatan mengerikan bagi siapa saja yang berani melawan kekuasaan Dewa Angkasa Buwana.

Pagi itu, di ruang kerja utama yang megah namun penuh wibawa, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu, namun ketegangan kemenangan masih terasa kental di udara. Dewa duduk di kursi kebesarannya, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya tetap tajam dan waspada. Di hadapannya, Raga sedang melaporkan perkembangan terakhir sambil menunjuk grafik di layar besar.

"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan," lapor Raga dengan suara penuh hormat dan kekaguman. "Kelompok mereka sudah terdesak hebat. Dua dari lima tokoh utama dalam daftar itu sudah kehilangan seluruh aset dan kekuasaan mereka, kini mereka kabur bersembunyi seperti tikus yang ketakutan. Dua lainnya sudah dipanggil pihak berwajib karena bukti-bukti yang kami ungkapkan begitu kuat dan jelas. Hanya tersisa satu orang lagi... orang yang paling berbahaya, paling licik, dan paling kaya di antara mereka semua: Ardiansyah."

Nama itu membuat rahang Dewa mengeras. Aura dingin seketika menyelimuti ruangan. Ardiansyah adalah orang nomor dua di jaringan Mahesa, sosok yang selama ini bergerak di balik layar pemerintahan, orang yang paling gigih menyebarkan kebohongan bahwa Dewa dan Naura adalah saudara kandung, orang yang paling bertanggung jawab atas perpisahan dan penderitaan panjang mereka dulu.

"Dia yang menjadi otak utama di balik semua serangan ini," ucap Dewa dingin, suaranya rendah namun bergetar amarah yang tertahan. "Dia yang mengatur agar perjodohan kami berbalut dendam dan kebencian. Dia yang memutarbalikkan fakta agar dua keluarga besar ini saling membunuh demi keuntungannya sendiri. Dia berpikir dia aman karena dia punya banyak koneksi dan uang berlimpah?"

Di sampingnya, Naura menutup berkas di tangannya dengan gerakan tegas. Wajahnya tenang namun matanya memancarkan tekad yang sama kuatnya dengan suaminya.

"Dia tidak aman, Dewa. Dia hanya bertahan sedikit lebih lama karena dia lebih pengecut dan lebih pandai bersembunyi. Tapi kita sudah tahu kelemahannya. Segala kekuasaannya bergantung pada satu hal: proyek pembangunan pelabuhan internasional yang dia pegang. Itu adalah sumber kekayaan dan perlindungan terbesarnya. Jika proyek itu runtuh, dia akan kehilangan segalanya, sama seperti teman-temannya yang lain."

Naura tersenyum lembut, senyum yang selalu mampu menenangkan badai di hati Dewa. Ia mengusap punggung tangan kasar milik suaminya itu dengan penuh kasih sayang.

"Ardiansyah tahu dia terpojok, Dewa, Naura. Menurut laporan terakhir Rian, dia tidak akan diam saja. Karena dia sudah kehilangan segalanya, dia mungkin akan bertindak nekat. Dia tidak punya jalan keluar lagi selain melawan sampai mati. Dan dia tahu betul satu hal yang paling bisa melukaimu, Dewa..." Sera berhenti sejenak, menatap sahabatnya dengan khawatir. "Dia tahu bahwa Naura adalah nyawamu, kelemahan sekaligus kekuatan terbesarmu."

Tangan Dewa yang menggenggam tangan Naura mengerat seketika. Sorot matanya kembali berubah tajam dan mematikan. Aura seorang penguasa mafia yang tidak mengenal ampun meledak seketika, membuat udara di ruangan itu terasa menekan.

"Berani dia..." desis Dewa rendah, suaranya penuh ancaman pembunuhan yang nyata. "Jika dia berani menyentuh satu helai rambut pun dari kepala istriku, aku akan pastikan dia mati dalam penderitaan yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini. Aku akan hapus namanya dari sejarah, aku akan musnahkan seluruh keturunannya, dan aku akan pastikan bahkan abunya pun tidak tersisa."

Dewa berbalik menatap Rian yang baru saja masuk dengan langkah cepat dan wajah tegang.

"Rian! Perketat pengamanan di setiap tempat. Di mana pun Naura berada, aku ingin ada dua puluh pengawal elit di sekitarnya, siaga dua puluh empat jam. Tidak ada yang boleh mendekat tanpa pemeriksaan ketat. Bahkan angin pun tidak boleh lewat tanpa sepengetahuanmu. Dan kirim pasukan khusus ke markas persembunyian Ardiansyah. Aku ingin dia hidup-hidup, aku ingin dia melihat wajahku saat aku menghancurkan sisa-sisa kebanggaannya."

"Siap, Tuan Dewa! Segera saya laksanakan!" jawab Rian tegas, lalu bergegas keluar.

Naura menarik lengan suaminya pelan, memaksa pria itu menatapnya kembali. Ia tahu betul betapa posesif dan melindunginya Dewa, terlebih setelah semua bahaya yang mereka lalui.

"Dewa, tenanglah," ucap Naura lembut namun tegas. "Aku tidak akan menjadi beban atau penghalang bagimu. Aku juga sudah siap. Aku tahu risiko berada di sisimu. Aku tahu musuh kita akan menggunakan aku sebagai sasaran terakhir mereka. Tapi aku bukan wanita lemah yang hanya bisa bersembunyi di belakang punggungmu. Aku adalah Nyonya Buwana. Aku adalah bagian dari kekuatan ini. Kita berjanji untuk berjalan bersama, berjuang bersama, dan menghadapi segala bahaya bersama. Ingat? Bahkan maut pun harus melewati kita berdua dulu sebelum bisa menyentuh salah satu dari kita."

Dewa menghela napas panjang, lalu menarik Naura ke dalam pelukan eratnya, seolah takut wanita itu akan hilang jika ia melepaskannya sebentar saja. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naura, mencari ketenangan yang hanya bisa diberikan wanita itu.

"Aku tahu, Sayang. Aku tahu kau kuat, bahkan lebih kuat dari siapa pun yang kukenal. Tapi ketakutan kehilanganmu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku gila. Dulu aku tidak punya apa-apa untuk dijaga, jadi aku berani bertaruh nyawa kapan saja. Tapi sekarang... sekarang aku punya segalanya. Aku punya kau, aku punya cinta ini, aku punya masa depan yang kita bangun bersama. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan iblis sekalipun, merusaknya."

Naura mengangguk, tersenyum penuh keyakinan. Ia meremas tangan suaminya erat.

Dewa berjalan menuju jendela besar, menatap kota yang kini hampir sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Di luar sana, bahaya masih mengintai, jerat musuh masih mencoba mengikat, dan pertempuran terakhir semakin dekat. Namun Dewa tersenyum dingin, penuh wibawa dan keyakinan mutlak.

"Ardiansyah... bersiaplah," bisik Dewa pelan, matanya berkilat penuh tekad mematikan. "Kau yang memulai permainan kotor ini bertahun-tahun lalu. Kau yang membuat kami saling membenci. Kau yang menyakiti wanita yang kucintai lebih dari nyawaku. Dan sekarang, akulah yang akan mengakhirinya. Aku akan datang padamu, dan aku akan pastikan kau membayar setiap tetes air mata, setiap rasa sakit, dan setiap detik penderitaan yang pernah kau berikan pada kami. Ini bukan sekadar balas dendam... ini adalah keadilan dari Buwana dan Zafira."

Malam akan segera tiba, membawa serta kegelapan dan bahaya.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!