NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:177
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Q Kerang Hijau Pengering

Ketika dia memakainya, dia merasa sedikit aneh dengan pakaian ini. Pinggangnya seperti ditekan oleh pakaian, apalagi bagian roknya yang memiliki desain aneh, dengan bagian depan terbuka, memperlihatkan kakinya, sementara bagian belakangnya tertutup, menjuntai dengan ruffle bertingkat.

Dia memutar tubuhnya, roknya berkibar ketika dia melakukannya. "Jadi seperti ini rasanya memakai pakaian bajak laut? Hm, rasanya sedikit aneh."

Setelah itu, dia menundukkan kepalanya, melihat sepatu bot bertali berwarna coklat tua dengan aksen merah. Dia mengangkat sedikit salah satu kakinya untuk melihat sepatu itu lebih lanjut. "Rasanya sangat aneh memakai... em, sepatu, ya. Kakiku terasa sesak dan gerah. Dan ini juga membuatku sulit untuk berjalan. Aku sebenarnya ingin melepaskannya, tapi ini juga membantuku melatih menggunakan kaki manusia. Kurasa aku harus menahannya."

Dia menurunkan kakinya dan kemudian melirik ke arah keranjang yang sudah penuh. Dia menghela napas dan mendekati keranjang itu, dia mengangkatnya dan meletakkannya dekat dengan bak mandi. Setelah menguras airnya, dia kembali mengisinya dengan air, dia akan menggunakannya untuk mencuci pakaian ini.

Walaupun dia berasal dari Ras Athu, dia tahu cara mencuci pakaian, dia sempat mempraktekkannya sendiri. Dia mengetahuinya karena saudaranya yang sering pergi ke daratan memberitahunya bahwa manusia di daratan mencuci pakaian mereka dengan menggunakan mesin aneh atau menggunakan tangan mereka sendiri.

Berbeda dengan saudara-saudaranya yang sering pergi ke daratan, Cia sendiri tidak berani melakukannya. Alasannya karena dia masih takut dengan manusia. Walaupun begitu dia sangat tertarik dengan kehidupan manusia.

Setelah selesai mencuci semua pakaiannya, dia meletakkannya kembali ke keranjang dan kembali menguras air di bak mandi. Dia mengusap dahinya yang berkeringat dan berdiri, menatap pakaian basah di keranjang.

Lalu, bagaimana cara dia mengeringkannya? Apakah dia akan menjemurnya di dek? Tidak, tidak. Dia mempunyai cara yang lebih baik dan lebih efisien!

Cia lalu mengulurkan tangan kanannya, membuka telapak tangannya. Pada momen ini, sebuah cahaya berwarna hijau berbintik-bintik muncul di telapak tangannya. Cahaya hijau itu seterang cahaya kunang-kunang. Cahaya hijau berbintik-bintik itu melayang di telapak tangannya, bergulung-gulung lalu menyatu sama lain. Ketika cahaya itu menyatu sepenuhnya, sebuah kerang hijau dengan panjang enam sentimeter dan lebar setengahnya terbentuk.

Cia kemudian menyalurkan energi Laut Primordial berwarna biru gelap ke kerang hijau itu, membuatnya membuka cangkangnya. Dia meletakkannya di atas tumpukan pakaian basah, dan secara perlahan, sebuah gelembung air terbentuk dan terhisap masuk ke dalam tubuhnya.

Cia berjongkok, memandangi kerang hijau itu melakukan tugasnya untuk mengisap seluruh air yang ada di pakaian.

"Hehe," dia tertawa kecil sambil memandangi kerang hijau itu. "Untung saja aku punya Q Kerang Hijau Pengering. Q ini memang Tingkat 1, dan kemampuannya hanya bisa menghisap air untuk mengeringkan suatu benda. Hanya saja proses ini memerlukan waktu yang cukup lama, semakin banyak benda yang ingin dikeringkan, semakin lama pula waktu yang diperlukan. Cara merawatnya pun mudah, aku hanya perlu memberinya air sebagai makanan.

"Tapi, kenapa aku merasa terlalu banyak menyalurkan energi Laut Primordial?" Cia, di sisi lain merasa kebingungan. Dia menyentuh dada kirinya, merasakan Laut Primordialnya terkuras lebih banyak dari biasanya hanya untuk mengaktifkan kemampuan Q Kerang Hijau Pengering. "Aku hanya menyalurkan sekitar 3% Laut Primordial, tapi kenapa aku merasa seperti menyalurkan hingga 6%?"

Cia tidak ingin terlalu memikirkannya dan memilih untuk fokus ke tumpukan pakaian yang tengah dikeringkan.

Sepuluh menit kemudian, Q Kerang Hijau Pengering menutup cangkangnya, pertanda bahwa pakaian yang ada di dalam keranjang telah kering sepenuhnya. Q itu kemudian berubah menjadi cahaya hijau berbintik-bintik dan kembali masuk ke dalam Laut Primordial.

Cia mengangkat keranjang ke kamarnya, dan ketika sampai di sana, dia melipatnya satu per satu dengan rapi. Gaun yang sebelumnya dia kenakan disimpan di lemarinya, sementara pakaian Rostav akan dia berikan padanya.

Dia meletakkan pakaian Rostav yang sudah terlipat rapi di dalam keranjang dan membawanya ke depan pintu Ruangan Kapten. Dia mengetuknya dengan pelan, dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.

.....

Beberapa waktu sebelumnya, di dalam ruangannya, Rostav tengah menelaah sebuah buku sambil sesekali mengamati peta yang terbentang di atas meja. Jarum kompas masih menunjuk ke arah utara, menandakan kapal terus melaju ke tujuan yang sama. Tapi, setelah mencocokkan koordinat pada kompas dengan yang tertera di peta, dia menyadari bahwa posisinya masih berada di tengah hamparan lautan yang luas.

Jarak menuju Hutan Akar Malam Abadi ternyata masih sangat jauh. Berdasarkan perkiraannya, perjalanan itu mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan. Peta yang dia gunakan merupakan peta berskala kecil, yaitu 1:1.000.000, yang berarti setiap satu sentimeter pada peta mewakili satu juta sentimeter di dunia nyata. Bahkan setelah berhari-hari berlayar, titik yang menandai posisinya hanya bergeser sedikit di atas lembar peta.

Rostav menghela napas pelan dan bergumam, "hah. Aku tidak yakin bisa mencapai Hutan Akar Malam Abadi hanya dengan mengandalkan dorongan angin. Terlebih lagi, arah angin sering berubah-ubah. Andai saja aku mengetahui permesinan di dunia ini, mungkin aku sudah berani menyalakan mesin di kapal ini agar perjalanan menjadi lebih mudah."

Dia menutup peta dan melakukan olaraga ringan selama beberapa puluh menit. Saat dia sedang melakukan push up, dia mendengar suara ketukan pintu dan menyudahi aktivitasnya. Saat dia membuka pintunya, dia melihat Cia dengan penampilan barunya, tapi tetap saja tidak menutupi kecantikannya. Pakaian apa pun yang dia kenakan, sepertinya akan cocok.

Dia melihat keranjang pakaian di tangannya dan tahu maksud kedatangannya.

Cia menyerahkan keranjang itu kepada Rostav, dan Rostav menerimanya dengan senang hati sambil berterima kasih. Tapi, Cia tidak langsung pergi, melainkan melirik ke ruangan Rostav.

Rostav yang tahu maksudnya memiringkan tubuhnya, seolah-olah membiarkan Cia untuk masuk ke ruangannya.

Cia mengangguk sambil melangkah masuk dan bergumam dalam hati, 'sepertinya dia cukup peka.'

Ketika Cia masuk ke ruangannya, dia menutup pintu dan melangkah mendekati lemari sambil bertanya, "bagaimana caramu mengeringkan pakaiannya?"

Sementara Cia memindai ruangan ini dengan teliti, dan tertarik dengan kepala kambing yang terpajang di belakang kursi, dia menjawab dan menjelaskan sambil mendekatinya dan menyentuhnya, merasakan tekstur dan detailnya yang seolah-olah itu adalah kepala kambing asli.

Rostav yang mendengarnya hanya bisa bergumam di dalam hati, 'tak kusangka ada Q yang dapat berguna untuk kehidupan sehari-hari. Aku mengira Q hanya memiliki kemampuan yang mengerikan, seperti Q Sumpah Segel Teratai yang dapat memotong lidah jika berbohong.'

Cia kemudian menatap ke arah Rostav yang tengah membuka lemari, tapi dia lebih tertarik dengan sistem lemarinya yang terlihat seperti brankas berisi harta karun.

"Lemari apa yang sistemnya seperti itu? Apa itu sebuah brankas atau lemari pakaian? Apa kau menyimpan berlian di dalam sana?" Cia terkekeh pelan lalu menatap ke arah buku yang ada di meja.

Dia mengambil buku itu dan membukanya. Dia terkejut bahwa buku ini ternyata berisi informasi tentang makhluk-makhluk yang ada di Laut Mayat. Mulai dari hewan laut, udara, dan tanaman.

'Buku ini sangat tebal dan informasinya terlihat akurat, apa dia sendiri yang membuatnya?' Cia tak henti-hentinya menatap buku itu, dan membacanya. Cia sangat terobsesi dengan informasi baru yang belum pernah dia ketahui. Ditambah dia kini berada di wilayah bernama Laut Mayat, melihat buku ini obsesinya kembali kambuh.

Dia segera menatap Rostav yang tengah menutup lemari dan bertanya, "apa aku bisa meminjam buku ini?"

Rostav menatap ke arahnya dan melirik buku di tangannya. 'aku sudah membaca setengah halamannya, jadi kurasa tak ada salahnya meminjamkannya. Walaupun aku sudah membaca sejauh itu, tapi aku hanya dapat mengingat beberapa informasi dengan sempurna. Kurasa Cia tipe orang yang mudah mengingat sebuah informasi, kurasa tak ada salahnya meminjamkannya padanya,' setelah berpikir beberapa saat, dia akhirnya mengangguk dan berkata, "silahkan."

"Hehe, terima kasih, aku akan membacanya dengan cepat," Cia memeluk buku itu dan hendak pergi, tapi dia segera teralihkan oleh sebuah gulungan peta yang ada di meja. Dia melangkah mundur dan menatap gulungan itu, karena rasa penasaran dia bertanya pada Rostav, "gulungan apa ini?"

"Peta," jawab Rostav dengan singkat sambil melangkah mendekat. Melihat tingkah Cia seperti ini membuat Rostav mengira dia sedang menjaga adiknya.

"Peta?" mata Cia tampak berbinar saat mendengar hal tersebut. Pupil mata biru safirnnya semakin berkilau, seolah-olah itu adalah lampu.

Tanpa memberikan jawaban lebih lanjut, Rostav membuka gulungan itu dan membukanya di atas meja. Ukuran peta itu, walau dengan skala kecil, ukuran fisiknya tidak bisa diremehkan, hampir menutupi meja.

Rostav kemudian menjelaskan bagaimana cara membaca peta ini, "kita sedang berada di titik koordinat ini. Sesuai dengan koordinat di kompas dan di peta. Kita sedang bergerak ke arah utara, walaupun sebenarnya tujuanku adalah pergi ke sini," dia menunjuk sketsa Hutan Akar Malam Abadi. Cia mengikuti arah tunjuk Rostav dan mengangguk. "Tapi, jarak kita dengan Hutan Akar Malam Abadi bisa dibilang masih sangat jauh. Peta ini menggunakan skala 1:1.000.000. Kau tahu maksudnya?"

Dia menatap ke arah Cia sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Cia menganggukkan kepalanya, tahu maksudnya. "Ya, satu senti di peta sama dengan satu juta sentimeter atau sepuluh kilometer. Jadi, jika jaraknya masih sejauh ini, butuh waktu berapa lama untuk bisa sampai ke sini? Aku juga menyadari kalau kapal ini bergerak dengan lambat."

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!