Zinu seorang pemuda yang baik budinya dan suka menolong kepada siapa pun, suatu ketika setelah ia memberikan roti kepada seorang pria tua berpakaian kumal, ia bertemu dengan Bee roh berwujud boneka beruang putih yang mengaku sebagai Roh Kebaikan. Dari Bee, Zinu mendapatkan sebuah Sistem di ponsel pintarnya, Sistem itu bernama Sistem Menjadi Kaya.
Jika Zinu berhasil menjalankan tugas yang diberikan Sistem, Zinu akan mendapatkan Poin Kebaikan. Poin Kebaikan ini sendiri dapat Zinu tukarkan menjadi uang. Jika Zinu menukarkan 1000 Poin Kebaikan ia akan mendapatkan uang 100.000 Rupiah.
Ding...
[Sistem Kekayaan :
Agar Pengguna bisa selalu berbuat kebaikan, Pengguna harus tetap hidup!
Hadiah :
10.000 Poin Kebaikan/hari]
Sejak mendapatkan Sistem, kehidupan Zinu mulai berubah, ia mampu memperbaiki ekonomi keluarganya.
Suatu ketika Zinu mendapatkan misi dari Sistem untuk menjadi Youtuber dengan konten berbagi kebaikan. Bagaimana kisah Zinu dengan Sistem yang dimilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Budi menatap seorang wanita cantik, dia adalah calon Sekretaris ke-3. “Mbak Anya sudah menyelesaikan semua tahap interview dan pengujiannya, hanya tinggal menunggu kabar selanjutanya dari kami.”
Zinu meminta bantuan Budi dalam proses pencarian Sekretaris untuknya. Tahap pertama adalah tahap interview dimana yang ikut ada ratusan orang, Budi sendiri yang menjadi eksekutor tahap ini karena diminta oleh Zinu. Dari ratusan orang itu, hanya lima orang yang lolos untuk tahap ujian tertulis. Para calon Sekretaris itu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di beberapa lembar kertas. Budi sebelumnya mengatakan bahwa tahap ini akan bertemu langsung orang yang akan menjadi pemilik perusahaan. Namun ternyata Zinu mempunyai caranya tersendiri, akan ada tahap pengujian secara rahasia yang akan diambil alih olehnya. Jadi untuk tahap pengujian secara tertulis Budi yang akan mengawasinya.
“Baiklah Pak, saya tunggu kabar baik dari Bapak, saya juga berharap kedepannya benar-benar akan berjumpa dengan pemilik perusahaan,” jawab wanita yang bernama Anya sembari tersenyum ke arah Budi. Anya sendiri sangat penasaran seperti apa pemilik perusahaan baru yang akan menjadi calon bosnya itu, ia sudah mendengar kabar dari Budi bahwa pemiliknya masih sangat muda.
‘Anda pasti sudah bertemu dengannya, hanya saja anda tidak menyadari itu!!’ batin Budi yang sudah mengetahui kenyataannya.
***
Zinu hanya bisa menggelengkan kepalanya kembali lantaran wanita ke-4 ini kurang lebih saja dengan yang sebelum-sebelumnya. Apakah ia akan mendapatkan Sekretaris yang sesuai? Itulah yang sedang Zinu pikirkan.
Zinu merencanakan tahap pengujian ini agar bisa mengetahui ego dari tiap calon Sekretarisnya. Jika Sekretarisnya ini seorang yang mementingkan ego dan ambisinya terhadap sesuatu tanpa mempertimbangkan hal lain, maka bisa saja di kemudian hari dia akan menjadi pengkhianat ketika nanti ada yang lebih menguntungkan dibanding perusahaannya. Namun jika ia mendapatkan seorang Sekretaris yang mau mengorbankan diri sendiri untuk orang lain, bisa saja ini adalah orang yang akan sangat loyal terhadap perusahaannya, lebih mengedepankan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Ia merasa perlu mendapatkan sekretaris terbaik karena kedepannya orang itu akan menjadi tangan kanannya untuk menjalankan perusahaan.
Zinu menatap kedatangan seorang pengendara motor Vario. Ia tau ini adalah calon Sekretarisnya yang terakhir. Jika ini akan sama saja, maka ia perlu mencari calon baru sampai akan benar-benar cocok baginya.
Zinu melambaikan tangannya, menghentikan pengendara motor itu. “Iya Mas ada apa ya?” tanya si pengendara dengan ramah.
“Mbak tolong saya, tolong antarkan saya ke rumah sakit tempat adik saya berada! Saya dapat kabar adik saya sedang sakit kritis sekarang...”
Wanita itu terdiam sejenak, ia merasa sangat membutuhkan pekerjaan, tapi ia sadar jika tak membantu pemuda yang ada di hadapannya ini bisa saja dia tak akan bertemu adiknya lagi. Apakah ia tega untuk tidak membantu orang yang sedang sangat membutuhkan pertolongan? Ia menghela nafasnya. ‘Rejeki sudah ada yang ngatur, kalau emang ini bukan rejekiku mungkin saja kedepannya aku akan mendapatkan pekerjaan yang akan menjadi rejekiku.’ batin wanita itu.
“Ayo Mas naik, saya antar!” ujar si wanita yang tanpa berfikir lagi siap untuk mengantarkan Zinu
Wajah Zinu terlihat cerah. “Benar Mbak? Terima kasih..”
.
.
.
.
Zinu membawa wanita itu ke sebuah rumah sakit yang jarak tempuhnya sekitar satu jam dari aparatemen.
“Di sini Mbak, kabarnya adik saya di bawa ke rumah sakit ini!!” ucap Zinu menunjuk gedung rumah sakit. Itu hanyalah skenario Zinu, tentu adiknya tidak di rawat di rumah sakit ini karena adiknya dalam keadaan sehat walafiat.
Zinu tersenyum. “Maaf ya Mbak sebelumnya, karena saya udah buat aktifitas Mbak terhambat. Saya sangat berterima kasih sama Mbaknya. Apa yang Mbak lalakukan sekarang akan selalu saya ingat,” ucapnya.
“Gak masalah Mas, aman kok. Iya, sama-sama, semoga adiknya lekas sembuh ya.” Wanita itu tersenyum ke arah Zinu, dia terlihat cukup cantik.
“Terima kasih atas doanya. Boleh saya tau nama mbaknya?” Sebenarnya Zinu sudah mengetahui nama wanita ini, hanya saja untuk menguatkan perannya Zinu harus berkenalan langsung karena wanita inilah yang kelak akan menjadi Sekretarisnya.
“Aku Irin,” jawabnya dengan senyuman.
“Zinu..” balas Zinu memperkenalkan dirinya. “M-maaf mbak, saya duluan ya, sekali lagi terima kasih,” sambungnya lalu berbalik menuju gedung rumah sakit
Irin kembali menghela nafas, ia merasa tidak akan ada harapan lagi mendapatkan posisi yang ia lamar karena sebelumnya ia sudah diingatkan untuk tidak terlambat apapun yang terjadi. Ia sebelum mengantar Zinu ke rumah sakit sudah mengirimkan pesan permohonan maaf akan terlambat dalam mengikuti tahap ujian tertulis karena ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya.
Irin mengeluarkan ponselnya, ternyata ada sebuah pesan yang sudah masuk di poselnya itu. “Ya tidak masalah, anda bisa menyusul dan bebas memilih untuk datang atau pun tidak ke sini. Terima kasih.” pesan itu dari Budi yang ia ketahui sebagai GM apartemen.
Irin tidak mengetahui apa maksudnya pesan itu, maka ia akan memilih untuk menyusul datang ke sana, terpilih ataupun tidak itu belakangan saja karena yang penting ia sudah berusaha dan sudah pasrah akan apa pun yang terjadi.
***
“Baiklah selamat untuk mbak Irin karena sudah menyelesaikan semua tahap interview dan pengujiannya. Ada pesan dari pemilik perusahan baru, dia ingin menemui anda beberapa jam ke depan, apakah anda bersedia?”
“Tentu saja pak, saya bersedia!” ucap Irin secara tegas kepada Budi. Sebenarnya ia ada rasa heran karena pemilik perusahaan itu masih ingin menemuinya, padahal uji tertulis ini saja ia sudah terlambat cukup lama.
“Baiklah kalau begitu, anda bisa tunggu di lobby ya, nanti jika ada kabar anda akan segera kami beritahukan!”
“Baik Pak kalau begitu.. Saya permisi dulu,”
“Iya silahkan!” balas Budi.
Irin berbalik dan keluar dari ruangan Budi.
.
.
.
.
“Maaf mbak, tuan Zinu meminta anda untuk ke ruangannya!” ucap seorang resepsionis wanita kepada Irin yang sedang duduk di sofa lobby apartemen.
Ada sedikit keterkejutan dari Irin ketika mendengar resepsionis itu menyebut nama Zinu. ‘Bukankah nama pemuda yang aku antar tadi bernama Zinu juga?’ batin Irin.
“Baik,” ucap Irin sambil mengangguk, lalu bangkit dari duduknya.
“Mari saya antar!” kata resepsionis itu.
.
.
.
.
Setelah mengikuti si resepsionis, tibalah Irin di sebuah ruangan. Ia amat terkejut ketika pertama kali melihat seorang pemuda yang sedang duduk di sofa.
“Silahkan duduk Mbak Irin!” ucap pemuda itu yang tak lain ialah Zinu.
“I-iya..” ucap Irin yang masih tampak kebingungan.
“Aku sudah putuskan untuk menjadikan Mbak Irin sebagai sekretaris baruku,” ucap Zinu dengan senyum simpul.
Irin mulai paham apa yang sebenarnya yang telah terjadi.
\=\=\=\=
Bila membaca tulisan typo, mohon dikomentari ya biar bisa aku perbaiki..
Ini novel pertama aku Si Cumi Putih, jadi mohon berikan dukungan berupa Like, saran dan masukan di kolom Komentar, serta agar tidak ketinggalan jadikan novel ini Favorit-mu
mending sistem seperti semula thor
lebih bagus