Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN
Hari-hari perlombaan berlalu sangat menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman berbagai jurusan lintas daerah. Ratusan kejuruan ikut serta dalam ajang ini. aura persaingan antar provinsi memang ketara, namun rasa persaudaraan jauh lebih kental. Bening mendapat jatah kamar dengan salah satu teman dari kota Sukabumi yang mewakili provinsi Jawa Barat. Shanti namanya.
Walau seorang perempuan, Shanti berasal dari SMK dengan jurusan tekhnik mesin. Bening antusias mendengarkan Santi menjabarkan pesona alam Jawa Barat yang akan mereka kunjungi nanti. Rasanya semakin tak sabar.
"Yang penting kamu sudah menampilkan yang terbaik," hibur Bu Jusma saat malam pengumuman tiba.
Walau sebelumnya Bening sudah mempersiapkan diri untuk tidak berambisi dalam kontes ini, tetap saja saat menunggu pengumuman hasil lomba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Persaingan nasional bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditaklukan.
Pengumuman pemenang dibacakan dari urutan belakang. Juara favorite dan beberapa kategori sudah maju ke depan. Tidak ada nama Bening disana, Bening mulai pasrah mungkin sedikit putus asa. Saat dewan juri kembali menyebutkan pemenang ketiga, dan runner up Bening kembali murung karena tidak ada namanya disana.
"Hufd, maaf ya bu," ujarnya sedih menatap pembimbingnya.
Bening rasanya ingin keluar dari ruangan itu dan mencari udara segar di luar sana. Bu Jusma tidak sedikitpun merubah ekspresi penuh harap dari wajahnya. Bening tak ingin melihat pembimbingnya itu kecewa.
Tapi nyatanya Bening malah terasa terkunci di bangku peserta saat nama, nomor peserta dan nama provinsinya disebutkan sebagai pemenang utama. Bening tak bisa berdiri, rasanya masih tidak percaya.
"Ning, Bening..." panggil Bu Jusma membuyarkan lamunannya "Bening ayo, udah dua kali itu disebutkan nama kamu, ayo nak naik ambil hadiah mu!" raut wajah bahagia tak dapat disembunyikan lagi.
"Bening Ivanka Radmund, peserta dengan nomor undian 08 perwakilan Provinsi Kepulauan Riau," ucap dewan juri tak kalah bergemuruh. "Kami panggilkan untuk naik ke atas pentas."
Yang pertama kali Bening lakukan adalah sujud syukur tepat di lantai samping bangkunya. Semua orang melihat ke arah Bening, beberapa diantara mereka sampai berdiri sangking penasarannya. Setelah bangun dari sujudnya, Bening melompat-lompat kegirangan dan memeluk Bu Jusma.
"Ibu, ibu...itu nama saya kan Bu? Itu Bening yang ini kan bu?" menunjuk ke dirinya. Bu Jusma hanya mengangguk-angguk sambil memegang pundak Bening.
"Ayo nak, naiklah!"
Bening berlari-lari kegirangan melewati bangku penonton. Semua mata tertuju padanya dan tertawa melihat tingkah polos itu. Hingga Bening tiba di atas panggung utama dan mendapat tepukan tangan yang sangat meriah. Dengan rasa syukur yang tiada habisnya, Bening menerima apresiasi luar biasa. Baik berupa piala, uang tunai, beasiswa, modal usaha, serta sebuah tiket menuju ajang international yaitu World Skills Competition yang akan diadakan di Leipzig,Jerman.
***
Usai sudah serangkaian kegiatan perlombaan, menurut jadwal hari ini mereka akan bertolak ke salah satu pesantren yang ada si salah satu kabupaten Tasikmalaya. Pesantren pimpinan K.H Turmudji.
Perjalanan ditempuh dengan bus parawisata, Bening duduk di sebelah Shanti yang dengan setia menjelaskan apa-apa yang dia ketahui tentang nama-nama tempat yang mereka lalui sampai bus berhenti tepat di depan sebuah gapura besar bertuliskan nama pesantren disana.
Di depan gerbang berwarna kuning hitam itu mereka disambut oleh Pimpinan pesantren, istrinya, dan beberapa ustadz serta ustadzah pengajar disana. Sejenak kedua perwakilan rombongan saling bertegur sapa barulah dipersilahkan masuk.
Waktu itu kegiatan belajar mengajar berjalan dengan normal, tampak para santri sedang berada di kelas mereka masing-masing. Para peserta dari SMK Berjalan menikmati suasana pesantren yang sangat menyejukkan. Sepanjang gedung terdengar suara para santri yang sedang mengulang hafalan, atau para asatidzah yang sedang mengajar.
"Salah satu kerabat ku ada yang jadi tenaga pengajar disini loh Ning," ujar Shanti saat mereka sedang melalui deretan kelas yang sepertinya tingkatan Kanak-kanak. Terdengar jelas juga suara nyaring anak-anak mengulang hafalan bacaan Surah An Naba secara bersama-sama.
Rombongan diajak berkeliling mengitari area pesantren yang cukup luas, tak terkecuali bangunan asrama yang menjadi tempat santri tinggal.
Dari depan pintu salah satu ruangan, tampak seorang wanita dengan hijab labuhnya keluar. Dia tampak sedang menggendong bayi dipangkuan.
"Teh Nimaz!" panggil Shanti yang tidak menyangka akan bertemu dengan kerabatnya disana.
Wanita yang dipanggil Nimaz tadi mencari arah suara dari ramainya barisan rombongan siswa yang ada disana.
"Shanti?" ucap Nimaz yang juga ikut tak percaya. Kemudian mereka berbicara dengan bahasa Sunda dan kira-kira seperti ini terjemahannya. "Kamu ikutan LKS Nasional yang di Singaparna?" .
"Iya Teh, oh ya kenalin. Ini temen aku Bening, dia dari Pronvinsi Kepulauan Riau," ucap Shanti.
Mendengar namanya disebutkan Bening tersenyum mengulurkan tangan dan mencium tangan Nimaz layaknya bertemu seorang guru.
"Asalamualaikum ustadzah," sapa Bening.
Namun Nimaz segera menarik tangannya sebelum Bening sempat menciumnya.
"Waalaikumsalam, Eh ga perlu cium tangan. MasyaAllah meuni bening pisan euy sesuai namanya. Panggil Teteh atau Kakak aja ya Neng, gak perlu panggil ustadzah," ucap Nimaz ramah.
Yaampun ternyata di sini banyak kakak-kakak yang mirip kak Humai. Apa dari sini juga ya Kak Humai berasal?
"Tadinya aku fikir teteh gak disini, gak nyangka bakal ketemu sama Zamima, MasyaAllah makin gembul aja,"
"Iya, di dalam lagi ada acara santunan dari donatur. Teh Shofi baru aja pulang, ini Zamima kepanasan makannya teteh keluar sebentar"
"Oh, jadi di dalam lagi ada acara ya kak?" tanya Bening sambil melihat barisan anak-anak berjalan beriringan ke atas panggung.
"Iya Neng, hayu atuh ikut masuk ke dalam,"
"Ah pengen sih, tapi nanti kita ditinggal sama rombongan,"
"Ehehhe, iya yaudah keliling dulu aja. Sepertinya nanti juga a Zam ada ngisi taujih buat rombongan LKS Nasional yang study tour . Setelah acara ini deh sepertinya," urai Nimaz sambil menggoyang-goyangangkan tangan menidurkan bayinya.
"Yaudah teh, kita jalan lagi ya. Sampai ketemu nanti," ucap Shanti "Assalamualaikum, bye Zamima." mengusap lembut pipi bayi gembul yang sudah hampir tertidur.
Shanti dan Bening melangkah cepat mengejar barisan rombongan yang belum terlalu jauh.
***
Setelah hampir separuh area pesantren di kelilingi, semua peserta masuk de dalam satu ruangan yang cukup besar untuk mendengarkan sedikit taujih dari salah satu pengajar yang ada disana.
"Shant, kok manis banget sih ustadznya?" seketika Bening teringat paras wajah Ustadz Iqbar yang pernah dia temui di sekolah.
"Hush, Bening. Itu Ustadz Zamzam, aku panggilnya a Zam. Suaminya teh Nimaz yang tadi kita ketemu disana. Ayahnya Zamima," urai Shanti panjang lebar.
"Eh iya? Astagfirullah. Maaf ya Shant, ini mata belum bisa dikondisikan. Suka kerjasama ama mulut ku kalau lihat yang begitu, auto pengen muji,"
"Ahahah, Bening... Bening... yasudah diamlah, ayo kita ikutin tuh yang ustadznya sampaikan, "
Bening sudah mengeluarkan pulpen dan buku catatan. Kebiasaan sejak pertama kali mentoring, Bening selalu mencatat potongan Ilmu yang dia dapat. Karna Ilmu katanya bagai kuda, sedang manusia tempatnya lupa. Menuliskannya adalah cara kita mengikat dan menjaganya agar tetap melekat.
Karena yang hadir adalah peserta umum dan tidak semua punya latar belakang pendidikan islam. Jadi ustadz Zam menyampaikan taujih ringan tentang keutaman bersilaturahim dan keberkahan yang akan didapatkan.
Setelah kegiatan study tour berakhir, mereka saling berpamitan. Tak lupa pihak penyelenggara LKS memberikan cendera mata sebagai kenang-kenangan.
***
Di sisa waktu yang tinggal beberapa hari lagi, Bening, Shanti dan rombongan dibawa mengunjungi beberapa titik tempat wisata yang ada di Tasikmalaya.
Diantara yang sempat dikunjungi adalah Taman Wisata Karang Resik, Situ Gede, Air terjun Curug Dengdeng dan menikmati wisata kuliner khas Tasikmalaya dari saung-saung tradisional nan romantis di Danau Lemona.
Yang paling dinantikan adalah momen berburu oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerah masing-masing.
Bening membeli beberapa kain batik Tasik untuk Bern dan Mami Viola. Bening memilih kain dengan harga yang sedikit lebih mahal.
Kemudian dia membeli kelom geulis yaitu kerajinan kayu berupa selop yang terbuat dari kayu mahoni. Yang akan dihadiahkan untuk Mami Sandra dan teman-teman rohisnya.
"Buat si Donna sekalian gak ya? Ahahah," tawanya seorang diri saat membayangkan Donna dengan sendal kayu itu.
Kemudian beberapa makanan khas seperti wajit, kolontong dan rangginang. ketiganya dibungkus dalam satu box kecil.
***
Hari kepulangan akhirnya tiba, Bening sedih harus berpisah dengan Shanti setelah kebersamaan mereka 10 hari ini. Begitupun sebaliknya.
Mereka saling memberikan pelukan perpisahan di lobby hotel saat acara perpisahan. Shanti memberikan sebuah gantungan kunci dan pena bertuliskan nama dirinya dan Bening serta tanggal perpisahan mereka.
"Sukses ya untuk acara di Jerman nanti. dan Kabari aku kalau sudah sampai di kota mu," ucap Shanti melepas sahabatnya di depan bus.
"Terimakasih sudah berbagi cerita tentang pesona alam Jawa Barat pada ku. Aku tunggu di Kepulauan Riau ya," sahut Bening.
Kemudian Bening melambaikan tangannya dari jendela kepada Shanti yang masih berdiri melepas kepergiannya.
Setiap perjalanan selalu memberikan pelajaran.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Ini dua part intermezo. Kalau kalian ada baca novel love In Pesantrem karya author Rivi, ini adalah part kolaborasi ku dengan dia. Ehehehe. Kalian boleh banget mampir kesana buat liat gambaran Pesantren lebih luas lagi dan kenalan dengan Nimas, Ustadz Zam dan Zamima anak mereka.
Oh ya temen-temen, Sebelum melanjutkan baca, author mau kasi tau dulu. Kisah Bening ini mungkin bukan Happy ending seperti pada novel umumnya ya. Jadi Buat yang gak kuat dengan pergolakan batin kusarankan untuk tidak diikuti karena sejujurnya aku takoooot di bully kalau nanti akhirnya ga sesuai dengan harapan kalian.
Aku akan tetap menuliskannya sesuai outline cerita yang sudah tersusun. Jadi aku helo helo dulu sebelum nanti pas ending kalian menyesalinya.
Tapi buat yang memilih lanjut juga InsyaAllah aku doain makin soleh soleha... Ihihihi.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯