Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Di kelas,
Monica duduk di bangkunya dengan perasaan kesal.
"Menyebalkan sekali! Apa maksudnya tiba-tiba datang ke sekolahku lalu menyamar menjadi murid baru yang bahkan tidak bisa ku kenali. Dia bahkan tidak memberitahuku lebih dulu."
Jam istirahat berakhir. Semua murid kembali memasuki kelas. Nathan dan Archen masuk bersamaan. Saat Archen melangkah ke bangkunya, Monica langsung membuang muka. Archen justru merasa tingkah Monica yang marah seperti ini sangat lucu dan menggemaskan.
.......
.......
.......
Pulang sekolah,
Monica berjalan dengan cepat meninggalkan gedung sekolah. Archen berhasil mengejarnya sampai di koridor.
"Aku tidak tahu kau bisa berjalan secepat ini! Sepertinya kemampuanmu sedikit meningkat," goda Archen.
"Bagus kalau begitu!" jawab Monica ketus.
"Kau masih marah?" tanya Archen.
"Pikirkan saja sendiri!" jawab Monica masih dengan nada yang ketus.
Archen langsung menarik tangan Monica. Memojokkannya ke dinding.
"Aku tidak bisa memikirkan jawaban kenapa kau marah. Kau tidak suka aku menjadi teman sekelasmu? Bukankah kau ingin aku selalu ada di sampingmu? Aku hanya tidak ingin meninggalkanmu sendiri. Jika aku datang sebagai Archen, bukankah akan lebih mudah bagiku untuk menjagamu dan memastikan kau berada dalam kendali?!"
Monica tersentak dengan penjelasan Archen.
"Apakah itu alasannya?"
"Apa itu cukup untuk dijadikan alasan?" tanya Archen.
Monica sepertinya luluh. Ia tertunduk.
"Maaf. Aku tidak tahu kenapa aku marah. Aku hanya merasa ...."
Archen mengangkat kepala Monica.
"Merasa dipermainkan?! Aku bukan orang seperti itu, sayang. Aku memang tidak ingin memberitahumu dan hanya akan menjagamu secara diam-diam. Sayangnya Isabelle justru kelepasan bicara, jadi apa boleh buat. Aku tetap akan menjagamu," jelas Archen dengan begitu dekat di depan wajah Monica.
"Baik. Aku mengerti. Semua ini untuk diriku. Sekarang bisakah kau sedikit menjauh? Kita masih di sekolah," kata Monica.
"Tentu." Archen melepaskan Monica. Keduanya kembali berjalan meninggalkan koridor sekolah.
Monica diam-diam mencuri pandang ke arah Archen. Monica tidak tahu bagaimana Arthur bisa mengubah wajahnya sampai tidak bisa dikenali. Begitu meninggalkan area sekolah, Archen memegang tangan Monica dan berjalan lebih rapat. Keduanya berjalan dalam diam.
"Oya, aku ingin mengajakmu bertemu seseorang!" kata Archen.
"Siapa?" tanya Monica.
"Nanti kau akan tahu," jawab Archen.
Ia memperhatikan sekeliling jalan yang sepi. Memastikan kondisi aman, Archen langsung mengangkat tubuh Monica dan membawanya melompat tinggi dengan cepat. Monica memeluk Archen dengan erat.
"Kau seharusnya bilang dulu kalau mau melompat," protes Monica yang sempat terkejut.
"Haha ... Aku juga tidak mungkin membuatmu sampai jatuh," balas Archen.
Akhirnya keduanya sampai di menara lonceng. Archen menurunkan Monica dan mengajaknya masuk melalui pintu rahasia. Ruangan itu tidak berubah sejak kedatangan Monica pertama kali. Archen membawa Monica turun dengan lift. Di dalam lift Archen melepaskan lapisan kulit tipis yang menutupi wajah aslinya. Kemudian ia mengacak-acak rambutnya mengembalikan ke model semula.
"Dari tadi aku berpikir bagaimana kau bisa merubah wajahmu. Ternyata berkat topeng ini?" ujar Monica tidak merasa penasaran lagi.
"Hm. Apa kau pikir aku punya kekuatan sihir untuk mengubah wajah?" jawab Arthur.
Monica mengangkat bahu.
"Kenapa juga harus menutupi wajah aslimu yang tampan?"
Arthur mendekat ke depan wajah Monica membuatnya tak bisa menghindar.
"Bukankah akan sangat merepotkan kalau aku muncul dengan wajah seperti ini? Aku justru khawatir kau tidak bisa mendekatiku nantinya," kata Arthur membanggakan diri.
"Rasa percaya dirimu itu terlalu tinggi," ejek Monica.
Arthur menyunggingkan senyum.
"Mana mungkin aku menampakkan diriku yang sebenarnya? Itu sangat merepotkan. Dan lagi beberapa temanmu dulu pernah melihat wajahku. Jika harus bertemu dengan banyak orang, aku harus menghilang cukup lama setelah itu. Setelah orang-orang yang ku temui tiada, barulah aku bisa muncul kembali. Supaya tidak ada yang menyadari kalau aku tidak menua," jelas Arthur.
"Itu masuk akal," ujar Monica.
Lift berhenti dan pintu terbuka. Arthur memberi jalan dulu untuk Monica keluar. Keduanya sampai di sebuah ruang keluarga besar bergaya klasik. Monica menatap kagum dengan segala isi di ruangan dengan warna putih pastel yang mendominasi. Dari sofa dan meja mewah ala Victoria, lampu gantung kristal yang berkilauan, juga corak pada dinding dengan ukiran warna emas. Monica merasa seperti berada di salah satu ruangan di dalam istana. Arthur meletakkan topeng wajahnya di atas meja.
" Dulu ruang keluarga ini berada di atas. Setelah pemugaran disembunyikan di lantai bawah. Juga banyak barang yang sudah di ganti baru karena rusak," jelas Arthur.
"Sebenarnya berapa luas Katedral ini? Ada berapa banyak ruangan di bawahnya?" tanya Monica dengan takjub.
"Ini hanya beberapa. Masih banyak ruangan lain di sini yang belum kau jelajahi," jawab Arthur.
Arthur lalu memegang tangan Monica, membawanya menelusuri koridor yang juga didominasi warna pastel itu. Di sepanjang dinding koridor terpampang lukisan-lukisan serta potret wajah para bangsawan. Monica berjalan sambil melihat setiap potret wajah para bangsawan. Kemudian datang seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan menghentikan langkah keduanya.
"Selamat siang, Tuan muda! Dan maaf, nona ..." sapa Tuan Phill, yang sekarang adalah orang kepercayaan Arthur juga yang bertanggung jawab atas Katedral dan kediaman Arthur di dalamnya.
Monica menoleh untuk melihat Tuan Phill. Namun betapa terkejutnya Tuan Phill. Ia melangkah maju dengan pelan untuk melihat Monica dengan lebih jelas.
"No- Nona muda? Apakah itu kau?" tanya Tuan Phill dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.
"Nona muda?!" Monica nampak kebingungan.
"Ini adalah Monica Steward." Arthur memberitahu Tuan Phill.
Tuan Phill tersadar.
"Oh, maafkan aku! Aku sudah salah mengira orang," ucap Tuan Phill pada Monica.
"Tuan muda, Nona Monica, jika butuh bantuan, silahkan panggil aku! Aku permisi sebentar!" Tuan Phill berbalik melangkah pergi. Dari raut wajahnya tersirat perasaan sedih.
Melihat punggung Tuan Phill yang menjauh, Monica seperti mengingat sesuatu.
bersambung.....
_______________________________________
*Halo, semuanya! Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir membaca karyaku ini, juga sudah memberikan dukungan kalian atas karya ini. Tidak ada kata yang lebih berarti selain ucapan banyak terima kasih 🙏🙏 Semoga karya ku ini bisa menghibur dan menjadi salah satu karya favorit kalian, ya!
Happy Halloween! 🎃🎃🎃
Author,
ErizaYuu ♥
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
i'm really really
Like