NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gu Xian, Anak yang Tak Memiliki Rumah

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah masih terasa sakit?” tanya suara lembut yang terdengar begitu menenangkan. Yanfei duduk dengan tenang di tepi kasur, matanya menatap bocah kecil yang baru saja membuka matanya perlahan.

Namun, alih-alih menjawab dengan sopan atau menunjukkan rasa terima kasih, bocah itu justru menatapnya dengan tatapan curiga, lalu bertanya dengan nada sedikit tinggi, “Kau… apa yang telah kau lakukan pada diriku?”

Yanfei tertegun sejenak, lalu menghela napas panjang sambil menatapnya dengan pandangan yang bercampur rasa kesal dan iba. “Seharusnya akulah yang bertanya, apa yang telah kau lakukan hingga bisa terluka separah ini dan tergeletak di tengah jalan? Kau ini baru berusia tahun, masih sangat kecil dan lemah, mengapa selalu saja terlibat dalam hal-hal yang berbahaya dan mencari masalah?”

Entah mengapa, hatinya terasa tak tenang dan sedikit kesal. Bocah ini baru saja pulih dari demam tinggi, dan kini tubuhnya penuh luka serta memar. Namun yang lebih membuatnya bertanya-tanya adalah hal lain. Sudah satu malam lebih ia menghilang, namun di sepanjang jalan dan pasar tidak pernah terdengar kabar atau pemberitahuan tentang anak hilang. Biasanya, jika ada anak seusia ini yang tidak pulang ke rumah, orang tuanya pasti akan panik dan melaporkannya ke pihak berwenang agar segera dicari. Namun untuk Gu Xian, rasanya seolah tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan atau mencarinya. Apakah nasib anak ini sesungguhnya semalang itu?

Mendengar pertanyaan itu, bocah kecil itu hanya terdiam. Ia menatap wajah Yanfei dengan pandangan yang terasa lebih dalam dari usianya, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya, seolah ingin menyembunyikan diri dari dunia luar.

“Hei, ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba bersikap seperti ini?” tanya Yanfei sambil sedikit mendekat, merasa bingung dengan tingkah laku anak yang terasa sangat dewasa namun mudah tersinggung ini. Ia hanya bertanya dengan maksud baik, bukan bermaksud memarahinya.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya terdengar suara lirih dari balik tumpukan kain tebal itu, “Gu Xian.”

Yanfei terkejut sejenak, lalu tersenyum kecil dan berdehem seolah tidak mendengarnya dengan jelas. “Ha? Apa yang kau katakan tadi?”

Bocah itu pun kesal, lalu menarik selimutnya turun hingga terlihat wajahnya yang masih sedikit pucat. “Namaku adalah Gu Xian! Aku punya nama sendiri, jangan terus memanggilku ‘bocah’ atau ‘anak kecil’ setiap kali berbicara denganku!”

Wanita ini memang sering bertindak sembarangan dan menyebutnya dengan sebutan yang tidak sopan. Meskipun demikian, Gu Xian sadar bahwa jika bukan karena pertolongan wanita ini, mungkin ia sudah tertangkap atau tergeletak tak berdaya di jalanan semalaman. Ia ingin mengeluh, namun tahu ia tidak berdaya untuk menolak.

“Baiklah, baiklah, Gu Xian. Sekarang sudah siang, bangunlah dan makanlah sedikit makanan agar tenagamu pulih kembali. Setelah itu, aku akan mengantarkan mu pulang ke rumah,” kata Yanfei dengan nada yang lebih lembut, mencoba menenangkan hati anak itu.

Ia berpikir, meskipun tidak ada yang terlihat mencarinya, pasti masih ada keluarga atau orang tua yang menunggunya di rumah. Daripada membiarkannya berkeliaran di luar dan terus membahayakan dirinya sendiri, lebih baik ia dikembalikan ke tempat yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya.

Namun, mendengar kata “pulang”, tatapan mata Gu Xian berubah. Ia menatap Yanfei dengan pandangan kosong dan bertanya pelan, “Pulang ke mana?”

“Tentu saja pulang ke rumahmu. Kau sudah meninggalkan rumah selama satu malam penuh, pasti ibumu sangat cemas dan mencemaskan keadaannya,” jawab Yanfei dengan wajar.

Gu Xian hanya menggeleng pelan, lalu mengucapkan kalimat yang membuat hati Yanfei terasa teriris. “Aku tidak punya rumah. Aku hanyalah rumput liar yang tumbuh di pinggir jalan, tidak memiliki ibu dan sudah kehilangan kasih sayang ayah sejak lama. Hidupku memang sangat malang.”

Ia menghela napas panjang, dan raut wajahnya terlihat sangat sedih dan menyedihkan, seolah menanggung penderitaan yang sangat berat. Melihatnya seperti itu, hati Yanfei yang lembut pun tergerak dan terasa iba.

Namun, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di balik selimut yang menutupi sebagian wajahnya, sudut bibir Gu Xian justru terangkat membentuk senyum penuh makna. Ia berpikir, wanita ini sudah menolongnya dua kali dan terlihat memiliki hati yang lembut. Maka lebih baik ia memanfaatkan situasi ini untuk berlindung dan melarikan diri dari bahaya yang mengintainya.

Berada di rumahnya sendiri justru jauh lebih tidak aman dan menyedihkan daripada berada di luar. Anak ini, meski baru berusia lima tahun, ternyata sangat pandai berpura-pura dan mempermainkan perasaan orang dewasa di sekitarnya.

Di saat suasana menjadi hening dan penuh perasaan iba, pintu kamar diketuk pelan. Li Xia masuk dengan membawa sebuah kotak besar yang terbungkus kain sutra halus.

“Nona, Nyonya Duan mengutus seseorang mengantarkan gaun baru ini. Beliau juga bertanya apakah Nona berencana untuk menghadiri jamuan makan malam keluarga Wei nanti sore,” lapor Li Xia sambil membuka kotak itu, memperlihatkan gaun yang indah dan berkilau buatan penjahit terbaik di ibu kota.

Semalam saat melaporkan bahwa mereka harus menginap di penginapan karena keadaan mendesak, Nyonya Duan sangat cemas dan hampir saja memerintahkan seluruh anggota keluarga untuk datang ke tempat itu malam itu juga. Untung saja Li Xia bisa menjelaskan dan meyakinkan bahwa semuanya aman, sehingga Nyonya Duan baru bisa tidur dengan tenang.

Yanfei menatap gaun itu sekilas, lalu mengangguk. “Aku akan pergi menghadiri jamuan itu. Siapkan air hangat dan perlengkapan mandi untukku.”

“Baik, Nona,” jawab Li Xia dengan lembut. Ia melirik sekilas ke arah Gu Xian yang duduk diam di tempat tidur. Bocah ini jelas tidak memiliki hubungan keluarga atau status apa pun, namun ia bisa melihat betapa perhatiannya majikannya pada anak itu. Tanpa bertanya banyak hal lagi, Li Xia segera keluar untuk mengambil air hangat dan juga menerima barang-barang tambahan yang dikirim dari kediaman.

Setelah Li Xia pergi, Yanfei berdiri dan melangkah mendekati meja bundar yang sudah disiapkan pelayan penginapan. Di atasnya terhidang bubur hangat, sup ayam bening, serta beberapa lauk pauk yang ringan dan mudah dicerna.

“Bangunlah dan datanglah ke sini. Makanlah terlebih dahulu agar tubuhmu memulihkan tenaga. Setelah itu, jika kau masih ingin tinggal di sini untuk sementara waktu, katakan saja kepada pemilik penginapan. Tagihan dan biaya yang diperlukan nanti akan dikirimkan ke kediaman keluarga Duan. Pemilik tempat ini sudah mengetahui siapa aku, jadi kau tidak perlu khawatir tidak diterima atau tidak bisa membayar,” ujar Yanfei sambil menunjuk ke arah kursi kosong di sebelahnya.

Ia tidak mau memaksakan kehendak pada anak itu. Jika ia benar-benar tidak memiliki tempat untuk pulang, maka setidaknya ia memberinya tempat berteduh sementara hingga ia bisa memikirkan solusi terbaik untuk masa depan anak malang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!