Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 31
Hanan tampak tak terpengaruh dengan apa yang Amelia katakan. Dia justru semakin bertekad menyingkirkan gadis itu dari hidupnya dan Rosa. Lagi pula sejak awal niatnya memang memberikan penderitaan pada gadis itu, meski pada akhirnya dia tak melakukannya totalitas.
“Kontraknya selesai. Kamu bisa pergi sejauh mungkin dan jangan pernah menunjukkan wajah menjijikkanmu lagi di sini dan jangan harap bisa membawa apa pun bersamamu.”
Kalimat Hanan terdengar kejam, tapi sayangnya, Amelia sama sekali tak terkejut. Dengan putusnya kontrak yang telah keluar dari mulut pria itu sendiri, Amelia akhirnya benar-benar bebas. Dia bisa pergi sekarang.
Lagi pula, pria di depannya bukan lagi remaja yang dia temui dulu dengan semua kalimat tulusnya. Dia hanyalah sosok pembenci yang sampai kapan pun tak akan sudi menetapkan hatinya untuk gadis yang dia anggap hina.
“Baiklah, senang bisa mengenalmu. Kuharap kamu tidak pernah menyesali ini.” Amelia menguatkan dirinya sendiri dan menampilkan senyum manis untuk terakhir kalinya. Dia mengulurkan tangannya pada Hanan membuat kening pria itu berkerut tak sabar. “Sebagai tanda perpisahan.”
Amelia benar-benar berharap tangannya bersambut, meski itu untuk terakhir kali. Sayangnya, Hanan dengan ekspresi tajamnya malah bergeming yang sebenarnya tak membuat gadis itu heran. Tangannya diturunkan begitu saja.
“Terima kasih telah menegaskan kebencianmu. Selamat tinggal.”
Amelia berbalik dengan langkah pelan yang berangsur-angsur menjadi cepat. Perpisahannya dengan pria yang paling dia cintai berakhir menyedihkan.
Kini dia sadar bahwa tak semua luka lahir dari ketidaksengajaan, beberapa terlahir dari hati yang memilih mempertahankan sumber luka.
Amelia memilih meremas lukanya sendiri, meski harus berdarah lagi agar terbebas dari penyiksaan berkepanjangan.
^^^You^^^
^^^Aku jadi ke rumahmu hari ini. Tunggu aku ....^^^
Kanaya yang tengah bosan berada di kamarnya tersentak hingga bangun dari posisi rebahannya—tak menyangka sahabatnya itu yang akan langsung mendatanginya.
^^^You^^^
^^^Biar kujemput^^^
Meel🧸
Tidak, biar aku ke sana sendiri.
“Sepertinya ada yang tidak beres. Amelia tidak pernah berinisiatif datang ke mari sendiri. Dia selalu memintaku menjemputnya.” Kanaya bergumam resah dan meninggalkan kamarnya.
Sementara itu di dalam taksi, Amelia berusaha menata pikirannya. Perutnya terasa tak nyaman dengan perasaan mual. Dia menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Matanya tampak sayu menatap ke luar jendela.
Semua kelelahan ini mungkin akumulasi dari masalah yang selalu dia tekan.
Amelia tanpa sadar mengelus perutnya dan memejamkan mata hingga tertidur. Gadis itu tersadar saat sang sopir membangunkannya.
“Nona, kita sudah sampai, saya tidak bisa masuk ke dalam.”
Taksi itu terparkir di luar gerbang dengan dua penjaga yang memblokir jalan kendaraan beroda empat itu.
“Ini uangnya, Pak. Terima kasih. Kembaliannya simpan saja.”
Sang sopir tertegun sejenak menatap dua lembar uang merah di tangannya sebelum menunduk sopan. “Terima kasih, Nona. Semoga hidup Anda selalu dilimpahi kebahagiaan.”
Pria paruh baya itu menggenggam uangnya dengan penuh rasa syukur. Pasalnya sejak pagi dia belum mendapat satu penumpang pun. Kehadiran Amelia saja sudah cukup membuatnya berterima kasih, bahkan jika gadis itu membayar kurang dari yang seharusnya dia tak akan protes. Namun, semua sungguh di luar dugaannya.
Amelia tersenyum kecil mendengar doa pria itu dan melanjutkan langkahnya. Baginya sudah terlambat untuk mengharapkan doa itu terkabul, tapi dia sangat menghargai niat baik sang sopir.
Rasa mual dan pening masih tersisa membuat langkahnya begitu lambat. Dua penjaga yang mengenali sosok Amelia langsung mempersilakan gadis itu masuk. Mereka juga memberi tahu penghuni mansion bahwa gadis itu datang.
“Amelia sudah sampai?” Kanaya langsung berlari dari ruang tamu. Melihat putri mereka yang tak karuan, orang tua Kanaya menyusul.
Di luar, Kanaya bisa melihat sosok Amelia mendekat dengan langkah pelan. Kakinya tampak tak stabil setiap berpijak di atas paving.
“Amel!” Kanaya berseru keras yang dibalas senyum tipis oleh gadis itu. Namun, semuanya tiba-tiba buram. Dunia terasa berputar dalam pandangan Amelia sebelum akhirnya dia kehilangan pijakannya sendiri. Tubuhnya limbung dan nyaris menghantam paving andai dua penjaga gerbang tak sigap menahan tubuhnya.
“Amel!”
Kanaya dilanda kepanikan, begitu pula dengan kedua orang tua Kanaya. Tanpa pikir panjang mereka membawanya ke rumah sakit saat menyadari wajahnya yang begitu pucat tanpa rona merah muda yang biasa menghiasi pipinya.
“Dia tampak parah. Bunda tak pernah melihatnya sepucat ini.” Ibu Kanaya bersuara.
Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, mereka akhirnya sampai dan dokter langsung sigap menangani gadis itu saat menyadari keluarganya bukan orang sembarangan.
Ketiganya menunggu hasil pemeriksaan Amelia dengan wajah kusut. Begitu dokter keluar dari ruangan, sang ibu berdiri pertama kali.
“Bagaimana keadaannya, Ran?”
Sang dokter yang bernama Rani Tabitha itu merupakan sahabat lama Ibu Kanaya. Keduanya sudah sangat akrab hingga tak terlalu sopan satu sama lain.
“Sepertinya Amelia kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Pastikan dia istirahat yang cukup maka kondisinya akan membaik.”
Ketiganya menghela napas lega mendengar penjelasan sang dokter.
“Syukurlah.” Kanaya sedikit lega.
“Dan satu lagi. Sepertinya kita harus mengundang dokter spesialis kandungan ke mari.”
“Apa?”
Begitu kalimat sang dokter jatuh, koridor itu diselimuti keheningan.
Rani menarik napas pelan sebelum menjelaskan. “Aku hanya pernah belajar sedikit. Jadi, ini hanya dugaanku saja. Situasinya saat ini mungkin juga dipengaruhi oleh hormon progesteron yang membuatnya mudah mengantuk. Dalam arti lain, dia sedang hamil. Untuk lebih pastinya, dokter kandungan harus mengeceknya langsung.”
Ketiganya terdiam untuk sesaat seolah berusaha memproses apa yang baru saja disampaikan..
“Ck, sudahlah. Biar aku saja yang memanggil dokter spesialisnya.” Rani berdecak kesal dan berbalik memunggungi tiga orang yang membeku seperti orang bodoh.
“Sialan! Pasti bajingan itu yang melakukannya.” Kanaya sadar lebih dulu.
“Tenang dulu, Mel. Kita harus menunggu pemeriksaan dari dokter. Lagi pula Hanan itu masih suami Amelia secara sah. Kita tidak bisa melakukan apa pun sekarang.” Sang ayah menghela napas pelan.
“Tapi tetap saja, Ayah. Bajingan itu selalu membenci Amel. Bagaimana bisa dia menyentuhnya hingga hamil?” Kanaya mengepalkan erat tangannya.
Keduanya tak dapat membujuk putri mereka lagi untuk meredakan amarahnya. Mereka pun sama syoknya, padahal ini belum pasti.
Mereka menunggu beberapa saat sebelum kenalan Rani datang dan langsung memeriksa kondisi Amelia yang masih tak sadarkan diri. USG sampai dilakukan untuk memastikan kondisi gadis itu.
“Bagaimana hasilnya? Apa Amel benar-benar ....”
“Iyap, dari pemeriksaannya dia positif hamil. Kehamilannya sudah memasuki lima minggu. Tidak hanya satu, tapi dua. Saat ini keadaan ibu hamil sangat rentan. Jadi tolong pastikan dia beristirahat dengan baik dan makan-makanan sehat. Jangan lupa ... tidak boleh terlalu stres.”
“T-terima kasih, Dokter.” Sang ibu maju lebih dulu dan memegang tangan Amelia lembut.
Bagaimana mereka harus mencerna situasi ini. Semuanya terasa wajar dan janggal secara bersamaan.
Tak lama kemudian, Amelia terbangun. Mereka semakin kebingungan bagaimana menjelaskan situasinya. Mereka juga penasaran dengan banyak hal. Namun, rasanya tak pantas jika mereka menanyakan sesuatu yang tak seharusnya mereka tahu sebelum gadis itu sendiri yang menceritakannya.
“Amel, bagaimana perasaanmu, Nak?” Sang ibu memberi elusan pelan di kepala Amelia.
“Apa aku pingsan? Maaf merepotkan kalian.” Amelia samar-samar mengingat apa yang terjadi terakhir kali padanya.
“Tidak, tidak. Mengapa kamu mengatakan itu. Tidak ada yang direpotkan. Lebih dari pada itu, kamu harus tahu sesuatu dulu.” Wanita itu melirik orang-orang di ruangan itu. Dia tak berniat menyembunyikannya lebih jauh.
“Ada apa?” Amelia tampak penasaran karena orang-orang di sekitarnya terdiam cukup lama.
“Bibi, tolong katakan apa yang terjadi.” Amelia tampak memohon.
“Ada ... ada nyawa lain yang tumbuh bersamamu saat ini. Kamu tahu apa artinya itu, Sayang?” Sang ibu berusaha menjelaskan secara perlahan.
“Nyawa lain? D-di mana?” Amelia tampak kebingungan sebelum melirik perutnya sendiri lalu menatap wajah wanita di sampingnya yang perlahan mengangguk.
“Bibi, itu ... itu tidak mungkin. Aku sudah meminum obat kontrasepsi. Bagaimana bisa dia bertahan dari ketidaksengajaan malam itu?” Suara Amelia bergetar—menunjukkan betapa takut dan bingungnya dia saat ini.
“Jadi, kamu dan bajingan itu benar-benar telah—“
“Nay.” Sang ayah menegur putrinya itu.
“Aku ... aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya malam itu, tapi dia datang begitu saja ke kamarku. Terus memaksa dan akhirnya ... itu terjadi. Kupikir itu tidak akan apa-apa setelah aku minum obat pencegah kehamilan.” Amelia menunduk dengan mata berkaca-kaca.
“Obat kontrasepsi tidak bisa mencegah kehamilan seratus persen. Kehadiran dua janin ini bukti bahwa takdir memang menginginkannya hadir.”
“Dua?”