Ini adalah karya keduaku.
Sekuel novel AKU DAN BINTANG.
***
"Lihat aku sebagai seorang pria, Bi. Bukan sebagai teman adikmu! Sekali saja, maka kamu akan melihat besarnya rasa cintaku." ~Orion.
"Please, Rion. Jangan aku! Kamu salah jika mencintaiku." ~Bintang.
"Tapi ini juga bukan salahku, Bi! Siapa yang harus di salahkan saat aku sudah kehilangan hatiku sejak lama. Dan saat remaja aku baru menyadari. Hatiku tercuri olehmu!" ~ Orion.
Ini adalah kisah cinta beda usia antara Bintang Alkhaleena dan Orion Arrayan Danadyaksa.
Bintang yang lima tahun lebih tua dari Rion merasa dirinya hanya dipermainkan oleh remaja yang memang terkenal jahil itu.
Hingga Bintang meminta Rion untuk membuktikan Cintanya.
Akankah Rion mampu membuktikan cintanya pada Bintang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fie F.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 Butuh banyak energi
Bintang
Sudah setengah jam lalu pesanku dibaca Zoya. Tapi martabak yang ku pesan tak kunjung datang.
Aku tengah berguling-guling di atas tempat tidur menunggu kepulangan Zoya yang seperti berabad-abad.
Gabut? Jelas!
Bagaimana tak gabut jika biasanya aku akan dengan santai bergabung bersama brondong-brondong di bawah sana. Tapi setelah masalah minggu lalu, aku masih enggan bertemu Rion diluar jam sekolah.
Aku takut dia jadi susah move on. Hahah... Pede sekali aku.
Bukan, bukan karena itu. Hanya saja aku masih enggan karena dia juga sepertinya sengaja menghindar. Entah itu di sekolah atau saat dia ikut Nath ke rumah.
Jujur saja aku rindu. Rindu melihat tingkah konyolnya bersama Nath dan Ethan. Ayolah Bi, kamu bukan sedang putus cinta. Tapi sedang memperbaiki diri.
Aku menghela nafas berat. Aku berdiri dan mengintip mereka dari balik tirai jendela kamar. Dapat ku lihat Delvin memetik gitar sedangkan Ethan dan Rion menyanyikan lagu Sheila on 7 yang judulnya Seberapa pantas.
Ceklekk! Pintu kamar terbuka dan ku lihat Zoya dengan wajahnya yang ditekuk meletakkan sebungkus martabak di atas meja.
"Galau banget, bun?"
"Suaminya belum pulang yak?"
"Hahahah... " Aku terbahak. Menggodanya seperti ini adalah kebahagiaan tersendiri.
Aku duduk di kursi riasku. Dan Zoya duduk di pinggir ranjang. Dia langsung merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung.
"Ezra ngelamar aku, Bi!" Ucapnya cepat.
"Oh! Baguslah!" Ucapku singkat.
Tunggu! ngelamar?
Aku langsung berdiri. "Apa!! Seriusan!" Aku menarik tangan Zoya untuk duduk.
"Apaan sih, Bi. Capek tauu!" Ucapnya manja.
"Jelasin dulu, Zoy!" Bentakku.
"Ini ngelamar? Ngelamar yang itu!" Aku menggerakkan tangan kananku seolah memasang cincin di jari manis kiriku.
"Iya, Bi!" ucapnya jengah.
Aku langsung duduk di sebelahnya. "Kok bisa?"
"Kok bisa?" Keningnya berkerut mengulang pertanyaanku.
"Iya, kok bisa? Selama ini kalian pacaran?"
Zoya menggeleng.
"Ya. Kok bisa dia ngelamar kamu tiba-tiba?"
Zoya mengangkat bahu. "Tau!" Dia cemberut.
"Lah terus kenapa muka kamu di tekuk begini?"
Dia menatapku. "Bingung, Bi."
"Perasaan kamu ke dia gimana?"
Zoya lagi lagi mengangkat bahu. Dia berjalan ke kearah pintu.
"Mau kemana, Zoy!"
"Mandi sebentar. Aku mau gabung anak-anak!"
"Marisa ada di bawah, Bi!" Zoya menghilang di balik pintu.
Marisa?
Aku bergegas mencari jilbab instan yang mulai terbiasa ku gunakan. Aku memakai lip balm lalu bergegas turun membawa serta martabak yang masih hangat.
Aku turun dan melihat ke dapur. Marisa tengah membuat minuman dibantu Nair.
"Ehm." Aku berdehem. Keduannya menatapku.
"Bu, -Eh, kak." Marisa tersenyum canggung.
"Bikin apa?" tanyaku.
"Ini kak. Minuman dingin." jawabnya.
"Gak lagi selingkuh kan?" Ucapku dengan tatapan penuh selidik.
Marisa dan Nair saling tatap. Lalu kembali menatapku.
"Seleraku bukan manusia batu, kak!" Ucap Marisa.
Ya, adikku itu memang manusia batu.
"Berbeda kak!" Itu jawaban Nair.
Oh iya, aku lupa jika Marisa non muslim. Pantas Ethan percaya-percaya aja.
Aku berjalan mengambil dua buah piring untuk meletakkan martabak yang Zoya beli. Martabak manis dengan topping coklat dan keju.
"Ayo kak ikut gabung." Ajak Marisa.
Aku berjalan di belakang keduanya. Tidak masalah ada Rion disini, batinku. Toh kami tidak hanya berdua.
Aku duduk di kursi bersama Ezra dan Nath. "Belum pulang Zra?" tanyaku basa-basi.
Ezra tersenyum dan menggeleng. "Belum, Bi. Sekali-kali gabung sama yang muda." Dia tertawa.
Ganteng, tapi tak membuatku berdebar.
Hanya ada satu orang yang membuatku berdebar. Seorang pria yang duduk agak jauh dariku. Tengah menatapku tajam.
Pandangan kami bertemu. Deg!
Nah kan, ku bilang juga apa? Cuma dia yang bisa buatku begini.
Aku menunduk, Delvin kembali memetik gitar. "Kak Bi, ikut nyanyi yuk. Pasti tau lagu ini. Lumayan tenar di aplikasi joget-joget." Ajak Ethan.
Wkwkwkwk. Aplikasi joget-joget? Tok-Tok maksudnya? Aku menggelengkan kepala. Ada-ada saja Ethan ini.
"Gak ah. Kalau nyanyi aku mundur. Kalau foto boleh diadu." Ucapku sambil tergelak.
"Wah, kalau soal kamera udah pro bangetlah. Gak perlu di tanya lagi. Masternya ini." Ethan memujiku berlebihan.
Ku biarkan mereka bernyanyi tanpa aku. Nath mulai bergabung. Hanya tinggal aku dan Ezra di kursi itu.
Aku melihat mereka tampak lepas. "Jangan terlalu semangat Ethan. Senin ujian. Ingat!" Teriakku. Dan jempol mereka tegak berdiri, dipersembahkan untukku.
"Bereees Bu Guru!!" Aku terbahak.
"Zoya cerita sama kamu, Bi?"
Aku melihat kesamping, Ezra menatapku.
Aku mengangguk.
"Aku serius!" Dia tersenyum miring. "Nekat banget ya aku? Berani cinta sama bos sendiri."
"Baru kali ini pagar yang tugasnya jaga tanaman malah berani mendekati tanaman itu." Ezra menatap lurus kedepan.
"Gak ada yang salah, Zra. Jika perasaan itu tulus." ucapku padanya.
"Heheh. Rion yang tajir begitu aja sulit buat bersanding sama kamu, Bi. Apa lagi aku yang cuma supir, berani mencintai seorang Zoya, owner Arumi Resto loh ini." Ucapnya miris.
"Kalau harta yang di permasalahkan keluarga kami. Harusnya Rion sudah menjadi suamiku, Zra." Ucapku tegas. Aku sedikit marah padanya.
Karena dari ucapannya dia seolah menilai keluargaku mementingkan harta dari pada cinta.
"Percayalah. Papa dan mama tak sematre itu." ucapku.
"Kira-kira Zoy bakalan jauhi aku gak ya, Bi? Kalau seandainya dia nolak aku."
Aku mengangkat bahu. "Tapi ku rasa dia akan profesional kok."
"Kalau dia gak nyaman, aku bakalan berhenti bekerja sama dia Bi."
"Dia belum jawab kan?"
Ezra menggeleng. "Mungkin dia syok, Bi."
"Jelaslah." ucapku.
"Numpang duduk." Rion tiba-tiba duduk ditengah-tengah. Antara aku dan Ezra.
Dia kenapa? Cemburu?
Aku menatap wajahnya yang tengah menatap kedepan dengan segelas es boba di tangan kirinya dan sepotong martabak manis yang tengah ia suapkan ke mulutnya dengan tangan kanan.
Dia tampak kesal dengan memasukkan potongan besar martabak ke mulutnya. Lucu sekali. Pipinya menggembung.
"Balik dulu, Bi." Ezra bangkit dari duduknya.
"Eh, kok buru-buru Zra. Zoya sebentar lagi turun. " Ucapku pada Ezra.
"Males! Panas disini."
"Ada yang kebakaran! Tapi bukan hutan."
Aku tau maksudnya.
Rion menoleh kearah Ezra. Dan aku tau dia pasti menatap tajam pria itu.
Ezra tertawa. "Pergi dulu, Bi. Makin angker disini."
Ezra pergi dan aku menahan tawaku agar tak meledak.
Aku memangku sepiring martabakku dan mulai memakannya.
"Minta satu!" Ucap Rion tanpa menatapku. Dia mengambil sepotong martabak dari piringku.
"Ambil aja." Ucapku enteng. Sesekali aku meminum air putih yang ku bawa dari dapur.
"Minta minum!" Dia mengambil gelasku dan menenggak tanpa ampun hingga tak tersisa sedikit pun air di gelas itu.
"Rion! Itu punyaku!" Aku tanganku terangkat hendak memukul bahunya. Kebiasaan yang sering ku lakukan padanya.
"Eeeiitt! No kontak fisik." Dia membuatku menurunkan tangan yang sudah terangkat.
Dia berdiri. Lalu menatapku. "Entar aku baper lagi kak." Dia mengerling.
Riooon!! Takut baper tapi suka banget baperin anak orang!
Dia kembali bergabung bersama yang lain. Menyisakan aku yang duduk sendirian di kursi.
"Makan yang banyak Bi!" Zoya menyuapkan martabak ke mulutku.
"Dibutuhkan banyak energi untuk menolak pesona brondong!" Ucapnya kemudian.
Aku menatapnya kesal sambil mengunyah martabak yang sudah terlanjur masuk ke mulutku.
****
Jejak jangan lupa kak. 😊
Rion minum digelas Bi itu cuma modus!
Biar bisa ngerasain bekas 👄 Bintang 😂😂😂
kq gak anak Rion yg pertama dulu.
tapi tetep aku baca kq
Apa pantas dg umur yg lebih jauh..
Bagaimana 5-10 thn kedepan nya...
Tapi jodoh gak ada yg tau... Hhhhhhh
Emang posesive banget mereka..
Apa apa harus lapor dn bikin seru plus harus berani sakit hati dgn saingan kita... Hhhhh
Dg jarak yg 5-7 thn tak membuat kita ilfiil tapi tambah lengket....
aq pernah seperti mu Yon, berjalan dibantu kruk
😂😂😂😂