Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Positif
Penantian yang cukup panjang bagi Arya akan hasil tes itu, begitu juga dengan Dhea yang mengharapkan kesembuhan Reina, Tujuh hari pasca kecalakaan berlalu, kini Reina di nyatakan sembuh dan boleh di bawa pulang, namun tetap dengan syarat dalam pantauan tim medis.
Jantung Arya terus berdegup kencang saat menggendong Reina, Sedangkan Rania ada di gendongan Restu.
''Dhe, aku bawa Reina sebentar ya, kalian tunggu di mobil.'' pinta Arya pelan.
''Tuan mau ke mana?'' Dhea memalingkan wajahnya menatap Arya yag ada di belakangnya.
''Nggak kemana mana, hanya sebentar saja.''
Akhirnya Dhea mengangguk. Meskipun masih penasaran tujuan Arya yang kembali masuk bersama Jojo dan Jeki serta Reina. Dhea percaya kalau putrinya akan baik baik saja di tangan pria itu.
Apa mungkin ada yang ketinggalan, tapi apa?
Dalam perjalanan, Arya tak mengatakan apapun, hati dan pikirannya bersatu, fokus akan hasil yang keluar, dan Arya sudah siap, apapun hasilnya ia akan menerima dengan lapang, itu janjinya.
''Permisi, Dok,'' mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
''Silakan masuk, Tuan! kami sudah menunggu Anda dari tadi."
Arya masuk ke dalam, sedangkan Jojo dan Jeki berada di depan.
Dokter Hendi dan seorang suster mengambil amplop berwarna putih dari dalam laci dan menyodorkan ke arah Arya.
"Ini hasilnya, Tuan," ucapnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar Arya menerima amplop itu lalu menatap wajah Reina.
''Apa perlu saya baca kan, Tuan?'' Suster di hadapannya itu membungkuk ramah menawarkan diri.
Arya menggeleng tanpa suara.
''Saya permisi, Dok.'' Arya memilih untuk hengkang sebelum membuka isi amplop itu, rasanya tak kuasa untuk membacanya sendiri.
''Jek, kamu buka ini!" memberikan amplop di tangan Jeki. "Dan baca dengan keras di depanku." titah Arya.
"Baik, Tuan."
Dengan perlahan Jeki membuka amplop itu dan menjewer lipatan kertas yang ada di dalamnya.
Jeki membaca isi keterangan dari atas dengan lantang seperti keinginan Arya, sedangkan Jojo jadi saksi, dan Arya menjadi pendengar setia.
Reina yang ada di gendongan Arya hanya diam melihat tingkah ketiga pria itu.
Panjang lebar Jeki terus melantunkana apa yang tertera di atas kertas, dan kini pada hasil akhir Arya memejamkan mata dan menyiapkan hatinya.
"Tuan," hingga pada puncaknya pun Jeki memilih untuk menghentikan bacaannya dan menatap Arya yang masih memejamkan matanya.
"Lanjutkan!" titah Arya lagi, namun pengawal malah diam membisu.
"Sebaiknya Tuan baca sendiri," dasar Pengawal yang kurang ajar, itulah menurut Arya, yang sudah berani melawan perintahnya, Akhirnya Arya merebut kertas itu dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lainnya masih memeluk erat tubuh Reina.
Tak melihat tulisan yang lain, Arya fokus pada hasil yang tertera di bawah, dan pria itu langsung membulatkan bola matanya mengulang berkali kali apa yang tertulis.
Positif, ini benar benar positif, aku tidak lagi bermimpi kan, Reina dan Rania adalah anakku, jadi mereka benar benar putri kandungku.
Seketika Arya menjatuhkan lembaran kertas di tangannya dan memilih merengkuh Reina seraya menciumi pipinya.
Antara percaya dan tidak, kenyataan itu adalah anugerah bagi Arya yang saat ini menitihkan air mata, tak menyangka jika kejadian malam itu akan memberikannya sebuah permata indah yang saat ini ada di dekapannya.
"Sekarang apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
"Kalian pulang aja, aku akan ke rumah Dhea, dan aku akan mengatakan semuanya."
Arya pergi meninggalkan Jojo dan Jeki yang masih di tempat, bahkan dua pria itu ikut bahagia dengan kabar yang baru saja di dapat.
''Itu Tuan Arya, Mas.'' Dhea membuka pintu mobil yang sempat tertutup. Lalu menghampiri Arya yang maaih berada di depan pintu utama.
''Tuan dari mana saja, lama sekali.''
Arya menghela napas panjang dan tersenyum mendekati Dhea.
''Jangan panggil Tuan, panggil saja nama.''
Dhea tertawa lepas mendengar perintah Arya.
''Nggak bisa, kan Tuan lebih tua dari aku.''
''Kalau begitu Mas juga boleh,'' mulai membual.
''Baiklah, mas dari mana saja?'' Mengulangi.
''Aku dari ruangan Dokter Hendi.''
Dhea yang tak mengenal dokter itu pun diam tak melanjutkan pertanyaannya.
''Dhe, aku mau bicara sama kamu, ini penting, biarkan anak anak pulang bersama Yesi dan Restu.''
Dhea mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Arya.
''Tapi, Mas,__ Dhea menghentikan ucapannya saat Arya menarik tangannya menghampiri mobil Restu.
''Restu, aku pinjam Dhea sebentar, kamu ajak pulang Reina dan Rania, hati hati.'' mencium kedua putrinya bergantian.
Setelah mobil Restu pergi dari depan rumah sakit, Arya membukakan pintu mobil untuk Dhea, tak lupa memasangkan seat belt.
''Kita mau kemana?" tanya Dhea setelah beberapa menit berjalan.
''Tenang, aku nggak akan menculik kamu.'' Terkekeh.
Tiba tiba saja Dhea terbelalak saat Arya tiba di tempat yang tak asing baginya.
''Kita mau apa kesini?'' tanya nya Antusias.
''Aku mohon ikut aku, sebentar saja.''
Melihat Arya memelas, Dhea akhirnya menyetujui permintaan pria itu.
Kenapa mas Arya membawaku ke hotel, sebenarnya apa maksudnya?
Dhea membuka seat belt dan turun, begitu juga dengan Arya yang kini berjalan bersejajar bersama Dhea.
''Siang, Tuan,'' sapa para pegawai hotel yang berlalu lalang, bahkan dari mereka ada yang menatap wajah Dhea dengan lekat.
Setelah beberapa menit, Dhea kembali termangu, namun ia tetap mengikuti langkah lebar Arya.
''Mas,'' Dhea menghentikan langkahnya saat Arya menghampiri kamar yang sangat bersejarah itu.
''Kenapa kamu berhenti?'' Terpaksa Arya mundur mendekati Dhea.
Wanita itu menggeleng pelan, matanya terpana menatap nomor yang ada di depan pintu.
Kenapa mas Arya mengajakku ke kamar ini, apa yang akan di lakukanya.
Masih bertanya tanya dalam hati dan tak berani untuk menanyakannya.
''Ayolah, Dhe!'' Arya memutar knop pintu dan membukanya sedikit.
Dhea menggeleng, tubuhnya tiba tiba saja kaku dan tak bisa di gerakkan, matanya berkaca, kenangan itu kembali melintasi otaknya saat ini.
Dhea pasti ingat kejadian malam itu.
''Nggak apa apa, aku hanya ingin bicara sebentar.''
Mas Arya nggak mungkin macam macam, dia orang baik.
Setelah memantapkan hatinya, Dhea ikut masuk mengikuti Arya yang sudah berada di dalam.
Tak seperti dulu yang nampak gelap, saat ini kamar itu terang di penuhi dengan cahaya, meskipun siang hari semua lampu menyala.
''Apa kamu masih ingat kamar ini?'' tanya Arya mematung tepat didepan Dhea.
''Apa maksud mas, aku nggak ngerti?'' Pura pura bodoh.
''Dhe, siapa Ayah dari Reina dan Rania?'' tanya Arya lagi.
Keduanya saling pandang menatap bola mata lawan.
''Aku mau pulang,'' Dhea mendorong tubuh kekar Arya hingga tersentak kebelakang.
Namun dengan sigap Arya menarik tubuh Dhea hingga jatuh ke dalam dekapannya.
''Jawab saja, aku hanya ingin tau'' bisiknya.
Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan, dan kenapa Mas Arya menanyakan itu di kamar ini, apa jangan jangan, __
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔