Apa rasanya ditanya kapan nikah hampir di setiap hari?
Mengesalkan!
Ya, itulah yang dirasakan oleh Ghaliza.
Tapi Ghaliza tak pernah menyangka jika ia harus menjadi ISTRI Rahasia dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bingung ya?
Penasaran, ikuti kisahnya yuukk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Takdir Cinta Ghaliza
Setelah mengirimkan Rheina ke dalam penjara, Raja dan Ghaliza pun bisa lebih tenang menjalani kehidupan mereka. Kini Raja dan Ghaliza tengah mempersiapkan acara syukuran empat bulan kehamilan Ghaliza.
Acara tersebut digelar di kediaman Harun dan Suci. Dengan mengundang tetangga dan seorang ustadz, acara pun berjalan khidmat.
Mengenakan baju couple berwarna coklat susu Raja dan Ghaliza terlihat serasi. Sesekali keduanya saling menatap sambil tersenyum, menandakan kebahagiaan mereka yang natural dan bukan dibuat-buat. Saat itu keduanya duduk di balik tirai sambil menunggu saat Ghaliza diminta membacakan salah satu surah Al Qur’an yaitu surah Yusuf.
“ Apa Kamu bahagia Sayang...?” tanya Raja.
“ Iya Mas, Aku bahagia...,” sahut Ghaliza sambil tersenyum.
Mendengar jawaban istrinya, Raja pun terharu lalu membawa Ghaliza ke dalam pelukannya. Raja juga mendaratkan ciuman di wajah Ghaliza hingga membuat Ghaliza tertawa. Tanpa mereka sadari, kemesraan mereka terlihat oleh para undangan yang telah duduk di karpet sambil membacakan tahlil dan sholawat.
“ Lepasin Mas, Aku mau wudhu lagi. Gara-gara Kamu wudhuku jadi batal nih. Sebentar lagi kan Aku harus baca
Al Qur’an...,” kata Ghaliza sambil berusaha bangkit dari duduknya.
“ Maaf. Abisnya Kamu lucu banget sih...,” sahut Raja sambil tersenyum.
“ Aku kan ga ngelawak, kok lucu sih...,” protes Ghaliza sambil berlalu.
Dan usai berwudhu Ghaliza diminta membaca surah Yusuf. Ghaliza memang bukan seorang Qori, namun bacaan
Ghaliza sangat merdu dan menenangkan. Dan itu membuat Raja terpesona mendengarnya. Padahal bukan baru kali ini saja Raja mendengar istrinya itu mengaji.
“ Beruntungnya Aku memilikimu...,” kata Raja dalam hati sambil merekam Ghaliza dengan kamera ponselnya.
Setelah selesai mengaji, Ghaliza pun menyalami semua tamu undangan yang hadir. Tamu yang sebagian besar
adalah kaum ibu itu nampak bahagia melihat kebahagiaan Raja dan Ghaliza. Kemudian tausiyah diberikan oleh seorang Ustadz. Tema yang diangkat adalah ‘Sudahkah Kita Bersyukur Hari Ini’.
“ Lalu bagaimana nasib wanita-wanita yang ditakdirkan oleh Allah tak memiliki Anak. Perlu Kita ketahui, Bahwa menikah, hamil dan melahirkan adalah ketentuan Allah. Jadi tak ada satu pun manusia yang berhak menghakimi orang lain hanya karena dia belum menikah, belum punya Anak atau bahkan tak memiliki Anak. Mungkin saja Allah
sengaja menguji dia atau Kita. Orang lain sengaja diuji dengan ketidak mampuannya dan Kita diuji dengan kelebihan Kita. Nah, dari sana lah Allah menilai kesungguhan Kita dalam mensyukuri segala nikmat yang telah Allah
berikan sekecil apa pun itu. Mungkin dia terlihat tak mampu atau lemah. Tapi Kita tak tahu jika mungkin saja Allah menyukainya saat dia mensyukuri nikmatNya yang bagi orang lain mungkin terlihat sedikit dan tak berarti. Demikian halnya dengan Kita. Tanya lah diri Kita sendiri, sudahkah Kita mensyukuri nikmat Allah yang berlimpah ini yang seringkali membuat orang lain iri melihatnya. Jadi tidak memiliki Anak bukan lah aib, apalagi jika Kita telah mengusahakan yang terbaik. Yang penting bagaimana Kita menyukuri nikmat Allah yang sudah Kita miliki. Dengan mensyukuri nikmat Allah, akan membuat Allah senang dan ridho dengan perbuatan Kita. Dan Allah akan menambah nikmatNya lebih banyak lagi. Aamiin...,” demikian lah salah satu kalimat sang ustadz yang juga menyadarkan hadirin kala itu.
“ Jadi nikmat dari Allah bukan hanya Anak ya Pak Ustad...?” tanya seorang hadirin.
“ Betul Bu. Nikmat allah itu sangat banyak dan tak terhitung. Dan Anak adalah salah satu dari nikmat Allah yang jumlahnya tak terhitung tadi. Berbahagialah buat Kalian yang memiliki Anak atau keturunan. Manfaatkan moment ini untuk menambah pundi-pundi amal baik Kita melalui kehadiran mereka. Namun bagi yang tak memiliki keturunan, jangan kecil hati. Masih banyak hal lain yang bisa Kita lakukan untuk menambah pundi amal Kita. Misalnya memperdalam ilmu agama lalu mengamalkannya. Jangan biarkan waktu Kita terbuang percuma hanya untuk memikirkan dunia. Ingat, akherat menanti Kita. Sudah cukup kah bekal Kita untuk dibawa menghadap Allah, hanya Kita dan Allah yang tau...,” sahut sang ustadz.
Para tamu terdengar kasak kusuk saat tausiyah sang ustadz berakhir. Diantara para tamu yang hadir nampak Isda dengan wajah memucat mendengar tausiyah sang ustadz. Rupanya kalimat sang ustadz sangat mengena untuknya. Isda tersadar bahwa ia telah menyakiti banyak orang dengan lisannya. Mungkin saja orang yang selama ini ia hina dan ia remehkan ternyata lebih baik darinya di hadapan Allah.
“ Iya, ternyata mulutku udah membuatku lupa jika semua kesialan yang orang-orang alami itu kan bukan mau
mereka. Pasti ada takdir Allah juga di sana. Dan siapa tau mereka dicintai Allah karena sanggup bersabar menghadapi omonganku yang ga ada filternya ini. Astaghfirullah aladziim...,” kata Isda dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kenapa bu Isda, kok geleng-geleng kepala...?” tanya Marni.
“ Gapapa, lagi instropeksi diri aja Bu. Saya jadi malu karena udah bikin banyak orang sakit hati gara-gara ucapan Saya. Insya Allah Saya akan lebih hati-hati lagi ke depannya...,” sahut Isda sambil tersenyum.
Marni terkejut mendengar jawaban Isda yang terkenal sebagai biang gosip itu. Dalam hati Marni sangsi akan ketulusan ucapan Isda.
Sementara di sudut lainnya terlihat Suci dan Sendini yang tersenyum mendengar tausiyah dari ustadz tadi. Mereka senang karena ustadz mengatakan sesuatu yang bermanfaat untuk kaum ibu.
Setelah tausiyah selesai, para tamu pun meninggalkan rumah Harun satu per satu. Mereka pulang dengan
membawa buah tangan yang secara khusus disiapkan oleh Suci dan Sendini dan dikemas dalam tas-tas cantik. Tas itu berisi hijab syar’i berbahan ceruty, satu set cangkir unik 6pcs dengan merk ternama, buku panduan doa harian dan brownis berukuran sedang.
Semua yang menerima tas itu merasa senang. Apalagi saat mereka melihat isi tas yang jika diuangkan bisa bernilai dua ratus ribu rupiah lebih.
“ Bu Suci ini memang mengejutkan ya. Punya besan tajir ga bilang, ngadain resepsi pernikahan mewah ya ga pamer, eh sekarang ngasih souvenir kok harganya ya ga main-main...,” kata seorang tetangga sambil menggelengkan kepalanya karena kagum.
“ Iya. Jadi malu deh karena sempat kemakan omongan orang yang ga bertanggung jawab dulu. Padahal bu Suci
sama Pak Harun itu kan orangnya ga usil...,” sahut tetangga lainnya.
Isda yang mendengar omongan para ibu itu sadar jika dirinya lah yang mereka maksud. Lalu Isda membalikkan
badannya untuk kembali ke rumah Harun. Tujuannya hanya satu, yaitu minta maaf kepada Suci dan keluarganya.
Saat melihat Isda kembali, Ghaliza segera mendekati Suci. Ia khawatir akan terjadi keributan antara Isda dan Suci nanti. Sambil mengelus perut buncitnya, Ghaliza memperhatikan apa yang akan terjadi di depan matanya itu.
“ Assalamualaikum Bu Suci...,” kata Isda.
“ Wa alaikumsalam, eh Bu Isda. Apa ada yang ketinggalan Bu...?” tanya Suci ramah.
“ Ada Bu...,” sahut Isda dengan wajah merona.
“ Apa yang ketinggalan Bu...?” tanya Suci sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu yang
mungkin tertinggal di sudut rumahnya.
“ Maaf dari Bu Suci...,” sahut Isda.
“ Maksudnya gimana ya Bu...?” tanya Suci tak mengerti.
“ Saya ke sini mau minta maaf sama Bu Suci. Saya tau jika Saya telah sering menyakiti hati Bu Suci dan keluarga. Saya menyesal Bu. Tolong maafkan Saya...,” kata Isda dengan mata berkaca-kaca.
Suci tertegun mendengar ucapan Isda. Ia menangkap ketulusan dari penuturan Isda tadi. Suci tersenyum lalu mengangguk.
“ Iya Bu Isda. Saya udah maafin Bu Isda sebelum Bu Isda minta maaf kok...,” kata Suci sambil tersenyum.
“ Sungguh Bu...?” tanya Isda ragu.
“ Iya Bu. Sekarang Kita berteman ya Bu...,” sahut Suci sambil memeluk Isda.
Isda pun membalas pelukan Suci sambil menangis. Entah mengapa beban yang selama ini menghimpit hatinya
terasa hilang seketika. Ternyata beban itu ada karena rasa iri dan dengki Isda terhadap kebahagiaan Suci dan keluarganya. Isda tersenyum dalam pelukan Suci. Setelah beberapa saat saling memeluk, Isda dan Suci pun saling mengurai pelukan mereka.
“ Makasih Bu Suci, Saya lega sekarang. Kalo gitu Saya permisi dulu ya Bu Suci. Assalamualaikum...,” kata Isda sambil melangkah keluar dari rumah Harun.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Suci sambil tersenyum.
Ghaliza dan Sendini yang mendengar percakapan Suci dan Isda tadi nampak tersenyum bahagia.
“ Mudah-mudahan Bu Isda serius sama ucapannya ya Mi...,” kata Ghaliza penuh harap.
“ Aamiin...,” sahut Suci dan Sendini bersamaan.
\=\=\=\=\=
Masa kehamilan Ghaliza pun berjalan lancar. Keluarga Rekso dan Harun bahagia menanti kelahiran putra pertama Raja dan Ghaliza itu. Berbagai macam persiapan dilakukan untuk menyambut kelahiran sang bayi yang tinggal
hitungan hari lagi.
Raja sebagai ayah biologis sang bayi pun tak kalah antusiasnya. Ia bahkan sengaja menyediakan waktu khusus
untuk menemani Ghaliza menghadapi persalinannya nanti. Dan itu dilakukan sejak dua minggu sebelum jadwal persalinan Ghaliza. Walau terkesan berlebihan, namun Ghaliza maklum dengan sikap suaminya itu.
Pagi itu Raja sedang menemani Ghaliza olah raga ringan agar memperlancar persalinannya kelak.
“ Kita jalan pelan-pelan aja Sayang, ga usah buru-buru...,” kata Raja mengingatkan sambil memapah Ghaliza
“ Iya Mas. Tapi kok rasanya kakiku ini udah terasa berat banget ya kalo buat melangkah...,” keluh Ghaliza.
“ Masa sih. Sakit ga...?” tanya Raja cemas.
“ Pegel, capek...,” sahut Ghaliza sambil menghentikan langkahnya.
Keringat nampak membasahi wajah dan tubuh Ghaliza. Tangan Ghaliza pun terulur untuk mengusap perutnya
yang membuncit dan mengeras itu. Ghaliza sedikit meringis saat merasakan gerakan di dalam perutnya.
“ Kenapa Sayang, sakit ya. Kita duduk dulu ya...,” kata Raja dengan sabar dan diangguki Ghaliza.
Raja pun membawa Ghaliza menuju kursi taman yang ada di halaman rumah mereka. Namun Ghaliza tak sanggup melangkah saat merasakan cairan keluar dan mengalir cepat di kedua pahanya.
“ Mas ini kenapa ya. Aku ngerasa pipis Mas, tapi kok ga terasa apa-apa ya...,” kata Ghaliza panik.
Dengan sigap Raja mengecek ke bagian bawah tubuh Ghaliza dan melihat jika Ghaliza mengeluarkan banyak cairan.
“ Gapapa Sayang. Kita ke Rumah Sakit sekarang ya...,” kata Raja berusaha tenang.
Raja bisa setenang itu karena beberapa kali membantu kakaknya yang akan melahirkan. Raja pun menggendong tubuh Ghaliza dan membawanya masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman. Security yang tanggap pun segera meminta asisten rumah tangga agar mengambil tas berisi perlengkapan persalinan Ghaliza dan bayinya.
“ Saya antar ya Pak...,” kata sang security yang diangguki Raja.
Mobil pun melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Di dalam perjalanan tak hentinya Raja menghibur Ghaliza yang nampak menahan sakit.
“ Ini sakit banget Mas. Pokoknya Aku ga mau hamil lagi ya...,” kata Ghaliza diantara rasa sakitnya.
“ Iya Sayang, sabar ya...,” sahut Raja sambil tersenyum.
“ Jangan iya iya aja dong Mas. Kamu ga tau ya rasanya tuh sakit banget. Ya Allah...,” keluh Ghaliza sambil memejamkan matanya.
Raja mengecup kepala Ghaliza yang bersandar di bahunya. Sesekali kuku tangan Ghaliza melukai tangannya saat
tak sengaja mencengkeram tangan Raja dengan kuat. Dzikir pun terdengar dari mulut Raja dan itu membuat Ghaliza menjadi lebih tenang. Sang security nampak tersenyum simpul melihat sikap sabar Raja pada istri cantiknya itu.
Tak lama kemudian mereka tiba di Rumah Sakit. Ghaliza langsung ditangani oleh petugas medis di sana. Sedangkan Raja terus mendampingi Ghaliza hingga ke ruang persalinan.
\=\=\=\=\=
Keluarga Raja dan Ghaliza terlihat menanti dengan cemas di ruang tunggu. Namun penantian mereka berakhir saat terdengar tangisan bayi Ghaliza.
“ Alhamdulillah...!” kata semua yang menunggu di sana.
Sendini dan suci saling memeluk dengan mata basah oleh air mata. Keduanya nampak terharu. Sedangkan Harun dan Rahmat pun tertawa bahagia sambil melakukan toast.
“ Selamat ya Run. Jadi Kakek Kau sekarang...,” kata Rahmat di sela tawanya.
“ Selamat juga untukmu, sekarang jumlah Cucumu bertambah. Dan itu artinya Kau tambah tua Mat...,” sahut Harun sambil tertawa.
Suasana makin riuh saat Raja keluar sambil menggendong bayinya. Di wajahnya terlihat sisa air mata. Rupanya
Raja juga menangis saat menyaksikan kelahiran putra pertamanya tadi.
“ Assalamualaikum Eyang semuanya...,” sapa Raja mewakili bayinya.
“ Wa alaikumsalam Cucu Eyang...,” sahut kedua orangtua dan mertua Raja bersamaan.
“ Sudah Kamu adzankan dan iqomatkan Nak...?” tanya Rahmat.
“ Sudah Pa...,” sahut Raja.
Seorang perawat mengingatkan Raja agar membawa bayinya ke ruang rawat inap yang telah disediakan. Kemudian Raja kembali ke ruangan untuk menemui Ghaliza.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya keluarga Rahmat dan Harun bisa menjenguk sang bayi di ruangan
rawat inap. Ghaliza nampak terbaring pucat di atas tempat tidur dan berusaha tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya.
“ Siapa namanya Nak...?” tanya Sendini.
“ Namanya Muhammad Rafif Gaheza. Artinya Laki-laki berakhlak baik yang lahir di pagi hari. Semoga dia memiliki ahlak baik dan terpuji seperti Rasulullah Saw, aamiin...,” sahut Raja sambil tersenyum menatap bayinya.
“ Aamiin...,” sahut semuanya.
“ Dan selalu bangun pagi, jangan bangun siang kaya Papanya...,” gurau Rahmat disambut tawa semua orang.
Ghaliza ikut tertawa mendengar gurauan mertuanya itu.
Diam-diam Ghaliza tersenyum saat teringat perjalanan hidupnya yang berliku. Resah di usia matang karena belum kunjung menemukan jodohnya. Kemudian terpaksa menjalani pernikahan rahasia dan menyandang status sebagai ‘Istri Rahasia’ seorang direktur utama perusahaan terkenal. Belum lagi gosip yang beredar akan status lajangnya yang ternyata hanya sebuah trik untuk menyamarkan status sebenarnya. Saat mengingatnya Ghaliza ingin tertawa.
Namun kini statusnya bukan lagi istri rahasia. Tapi Istri sah yang diakui keberadaannya dan dihormati oleh semua orang.
Ghaliza kembali tersenyum saat Raja mengecup keningnya dan mengucapkan kalimat yang sangat ia sukai.
“ Makasih Sayang. I love You...,” bisik Raja di telinga Ghaliza.
“ Sama-sama Sayang. I love You too...,” sahut Ghaliza lirih.
Raja dan Ghaliza nampak menautkan jari sambil tersenyum. Keduanya menatap buah cinta mereka yang terlelap di box bayi dengan mata berkaca-kaca. Kebahagiaan tengah menyelimuti mereka dan mereka bersyukur atas takdir yang Allah tetapkan.
Sebuah takdir cinta yang membuat mereka bertemu, menikah, lalu jatuh cinta. Kini keduanya masih harus bersiap untuk menyambut takdir mereka selanjutnya.
T A M A T