Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chila
"Itu bus kedua?" tanya Radit.
"Iya, sepertinya ... itu mobil Abang, aku gimana?" Jenna panik.
"Tenang ... kalo bisa kita jalan di samping bus itu saat dia masuk ke pelataran kantor pasti dia melaju pelan, kamu aku biarin jalan sendiri gak papa kan? karena gak mungkin aku ikut ... takutnya Abang kamu tau."
Posisi mobil Akbar membelakangi kedatangan bus kedua, kemungkinan besar Akbar tidak akan melihat keberadaan Jenna, begitu perkiraan Radit.
"Jadi aku jalan di samping bus?"
"Iya ... gak papa kan?" tanya Radit menggandeng tangan Jenna sebelum melepaskannya berjalan sejajar dengan bus.
Jenna melepaskan genggaman tangan Radit, meraih tas punggungnya yang Radit bawa sedari tadi.
"Kalo udah sampe rumah kabari aku," ujar Radit dan masih mengawasi Jenna dari kejauhan.
Jenna berjalan perlahan ketika bus kedua sudah memasuki pelataran kantor, dia ikut berhenti ketika bus pun berhenti. Radit masih mengawasinya, ketika para penumpang turun, Jenna mendekati pintu belakang bus, dan berbaur dengan para penumpang yang lain. Beberapa orang melihat Jenna heran, Jenna hanya bisa tersenyum, untungnya saat itu malam mungkin yang lain pun tak akan begitu memperdulikannya.
Entah mengapa, Jenna dan Radit seperti sedang menyelesaikan sebuah misi. Radit tersenyum melihat Jenna yang mengambil kesempatan untuk berbaur dengan yang lain dan berjalan santai menuju mobil sang kakak.
"Di bus kedua ternyata, kakak kira di bus ketiga ... ayo pulang," ujar Akbar.
Mobil Akbar melintasi mobil Radit yang masih berada di sana, Jenna hanya dapat melihat kekasihnya itu dari dalam mobil tanpa membuka kaca. Satu pesan masuk dari Radit.
"Istirahat, jangan malem-malem tidurnya ... ketemu besok lagi, i love you Na."
Jenna tersenyum, dua hari bersama Radit melakukan banyak hal gila, lelaki itu membuatnya sejenak melupakan kejenuhannya di dalam keluarga.
Memasuki kediamannya, Jenna mendapati kedua orangtuanya sedang berada di ruang keluarga dengan beberapa saudara dari pihak sang Mama sedang membicarakan acara pertunangan Akbar minggu depan.
"Sudah siap semua kalo perlengkapan seserahan, beres ...," ujar Mama Kartina.
"Nah ... Jenna baru sampai, dari mana?" tanya Tante Rita, adik Mama Kartina.
"Dari outing kantor Tante ... Jenna permisi dulu mau mandi," ujar Jenna melangkah menaiki anak tangga.
"Setelah Akbar ... berarti Jenna jadi ditunangkan dengan salah satu pengusaha properti itu?" tanya Tante Rita pada Mama Kartina.
"Gimana mau ditunangkan, Jenna memilih meninggalkan si Raka itu, entah dimana pikirannya ... jelas-jelas Raka itu sesuai kriteria tapi ... ya sudahlah,aku gimana lagi," jawab Mama Kartina.
"Kenapa gak coba dijodohin sama anaknya si Ruslan, perwira polisi kan ... kali aja jodoh si Jenna."
Jenna hanya menggelengkan kepalanya mendengar pembicaraan sang Mama dengan saudara-saudaranya di bawah sana. Mama Kartina tidak akan pernah hilang akal untuk mempertahankan harkat dan martabatnya dengan menggadaikan kebahagiaan anak-anaknya.
...----------------...
Ada satu tanggal merah di minggu ini, Jenna mencari kesempatan untuk bertemu dengan Radit. Karena sudah dipastikan minggu depan dia akan sibuk ikut andil dalam acara pertunangan Akbar.
"Kamu dimana?" tanya Jenna.
"Ada di coffee shop, mau kesini? aku suruh Pak Supri jemput kamu ya."
"Gak usah, aku naek ojol aja biar cepet," kata Jenna sambil memberikan polesan lipstik tipis di bibirnya.
"Cie, mau cepet-cepet ketemu ... udah kangen?"
Jenna tersipu. "Aku jalan sekarang, ojolnya udah di depan."
Tak butuh waktu lama, Jenna sampai di coffee shop Radit. Biasanya dia akan bertemu Ellen di meja kasir, namun siang ini entah dimana wanita bertubuh bongsor dan lucu itu.
"Mas Radit lagi di atas Mbak, kayaknya tidur ... naek aja," ujar Budi.
"Mbak Ellen?"
"Lagi keluar ... tapi aku gak tau kemana."
"Aku naek gak papa ya," ujar Jenna dan Budi mengangguk.
Jenna mengetuk kamar tempat beristirahat Radit, pintu itu tidak tertutup rapat. Jenna bisa melihat Radit sedang tertidur dengan posisi tengkurap. Rasanya 20 menit yang lalu lelaki itu masih terdengar semangat menunggu kedatangannya, tapi sekarang Radit tertidur.
"Mas ...." Jenna membangunkan Radit.
Radit membuka matanya, mengubah posisi tidurnya.
"Kok cepet?"
"Ngebut abang ojolnya." Jenna terkekeh.
"Yang kangen kamu apa abang ojolnya sih?" Radit tertawa.
"Udah makan?" tanya Jenna.
"Udah tadi sebelum minum obat."
"Mas Radit sakit?" tanya Jenna, meraba kening lelaki itu.
"Gak demam, cuma pusing." Radit meraih tangan Jenna. "Pusing kangen kayaknya." Radit membelai punggung Jenna.
"Di lihat orang, Mas." Jenna menoleh ke belakang karena pintu kamar memang tidak di tutup rapat.
"Tutup," bisik Radit di telinga Jenna lalu mengecup sekilas leher gadis itu.
"Mas."
"Apa?" Radit beranjak dari tempat tidur mengarah ke pintu kamar untuk dia tutup.
"Kok di kunci?"
"Biar gak ada yang bisa masuk." Radit terkekeh.
"Kamu mau salad?" Radit membuka kulkas kecil di sudut ruangan itu.
"Kamu kenapa bisa pusing?" tanya Jenna menerima satu kotak makanan berisi salad buah.
"Dibilang aku kangen." Radit membuka mulutnya meminta Jenna menyuapkan salad padanya.
"Baru tiga hari gimana tiga bulan." Jenna menyuapkan salad untuj Radit. "Manja lagi ...."
"Manja sama pacar kan gak salah," kata Radit yang akhirnya merubah posisi duduknya menghadap Jenna. "Apalagi minta cium ... cium dong Na." Goda Radit.
"Mas ... kamu tuh ya, kenapa jadi gini sih." Jenna tertawa saat melihat Radit yang merengek.
"Biar cepet sembuh Na, aku harus minum obat ... obatnya cuma kamu."
"Gak ada alasan, Mas ... Mas, stop gak.
Radit meraih kotak salad, dia taruh di atas nakas lalu mendekatkan wajahnya pada Jenna.
"Mau dong, Na." Kelakuan Radit seperti anak kecil yang meminta permen pada Jenna.
"Apa."
"Ciuman ...," ujarnya tersenyum lalu meriah tengkuk leher Jenna.
Lelaki itu sudah menautkan bibirnya, menyesapnya lembut, memberi gigitan-gigitan kecil di bibir Jenna. Jenna terbuai, perlahan tubuh gadis itu terbaring di tempat tidur, matanya terpejam menikmati permainan lidah Radit di dalam sana.
Radit menyusuri leher Jenna, hingga suara lembut gadis itu terdengar samar. Radit kembali memandangi wajah Jenna, dia sentuh pipi gadis itu. Jenna menikmati setiap sentuhan Radit dari pipi hingga tangan Radit berada di atas dada gadis itu. Jenna menatap manik mata Radit yang mulai sayu, tangan lelaki itu sudah masuk ke dalam kaos berwarna hitam milik Jenna.
"Mas ...." Jenna membelai rahang Radit, mengusap bibir lelaki itu.
Mereka kembali berciuman, kali ini ciuman itu begitu liar, tangan Radit yang menyusup ke dalam kaos Jenna sudah mulai meremat dada gadis itu, Jenna semakin menegang. Suara halusnya semakin terdengar memacu adrenalin Radit. Radit melepas kaos yang dia gunakan.
"Mas ... please." Jenna menggeleng. Lelaki itu semakin gagah berada di atas tubuhnya.
"Sebentar ... aku gak ngapa-ngapain," bisik Radit lembut.
tok tok tok.
Suara ketukan di pintu, menyadarkan mereka. Jenna mendorong dada Radit perlahan, sedangkan Radit meraih pakaiannya.
"Papa ... Papa ini Chila ... Chila udah dataaang." Suara gadis kecil dari balik pintu itu terdengar bersemangat.
"Chila?" tanya Jenna menatap Radit.
**enjoy reading 😘
banyakin komen sama like nya duooong 😂**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba