#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rak yang terbuka
Matahari perlahan turun. Langit terlihat gelap, padahal tak ada tanda kedatangan hujan di mana suara gemuruh terdengar menggelegar, yang diikuti dengan kilatan petir yang menyambar. Elena dan kedua temannya terlihat berjalan menuju ke pintu keluar dari taman belakang. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, lewat pintu belakang. Elena yang berjalan lebih depan dari kedua temannya kini berjalan dengan terburu-buru.
Sesampainya di ruangan perpustakaan. Elena menyuruh kedua temannya untuk duduk. Ia berjalan pergi menuju ke sebuah rak yang ada di pojokan ruangan itu. Terlihat Elena sibuk mencari sesuatu disana. Karena penasaran, Darren pun mulai berjalan menghampirinya. Ia menanyakan apa yang Elena cari, di rak bagian bisnis itu. “Tumben sekali kau ingin membaca buku bisnis?” tanya Darren dengan polosnya.
Elema menggeleng pelan. “Tidak! Aku sedang mencari buku yang akan membuka rak ini!” jawab Elema dengan suara berbisik.
“Hah? Apa? Apa yang kau bicarakan barusan?” tanya Darren kembali dengan wajah kebingungan. “Kau cari apa, sih? Sedari tadi kau terlihat mencurigakan?” tanya Darren kembali yang berjalan lebih dekat ke samping Elena. Hingga, tiba-tiba rak di depannya itu membelah menjadi dua. Dan seolah seperti pintu yang terbuka. “Akhirnya, aku mengemukanya!” ucap Elena dengan wajah yang berubah bahagia.
“Lucy, kemarilah!” ucap Elena seketika menoleh ke arah belakang, dimana Lucy sedang duduk dan ia sibuk dengan ponselnya. Segera Lucy pun mengalihkn pandangan dari ponselnya itu dan menoleh ke arah Elena yang berada jauh di sebelah kanannya.
Lucy pun bangkit berdiri dan terpana dengan penampakan yang ada di depannya. Ia begitu terkejut dan takjub dengan yang dilihatnya kini. Lucy berlari kecil dan menengadah menatap rak yang terbuka seperti pintu. Elena mengajak kedua sahabtnya itu masuk. “Tunggu! Maukah kau mengunci pintu depan ruangan ini, kak?” ucap Elena yang meminta pada Darren dengan wajah pengharapan. Darren pun mengangguk pelan dan berbalik untuk bergegas mengunci pintu perpustakaan itu.
Akhirnya Elena beserta kedua sabatnya itu mulai berjalan masuk kedalam ruangan rahasia yang ada di dalam perpustakaan tersebut. Terlihat suasana disana begitu gelap. Dan Elena berusaha mencari sakelar lampu ruangan itu. Dimana jemari tangannya mulai merayap didinding. Dan akhirnya cahaya dari lampu mulai menerangi ruangan itu. Terlihat, begitu rapi. Dengan sebuah meja kerja di ujung sana. Dam benerapa lemari di kiri dan kanan.
“Ok, sepertinya disini lebih aman!” ucap Elena dengan berjalan menuju ke sebuah kursi yang ada di belakang sebuah meja.
Ia duduk di sana dan mulai mengambil sesuatu dari saku celananya. Di meja itu, terdapat sebuah Laptop dan Elena mulai menghidupkan laptopnya. Tak lupa, ia pun menghubungkan ponsel yang ia ambil dari sakunya barusan. Kedua sahabatnya itu pun berjalan menghampiri Elena. Mereka berdiri di samping Elena, dengan menatap kearah laptop yang ada di hadapan mereka.
“Aku mendapatkan video rekaman saat di bandara,” ucap Elena yang mengerakkan jarinya di atas tuts panel papan huruf. Hingga, layar laptop itu menampilkan keadaan di bandara.
Elena beserta kedua sahabatnya, memperhatikan dengan serius. Terlihat cuplikan seseorang pria tinggi bertopi hitan dan berpakian hitam. Tetapi ia tak memakai masker hidung. Dan rekamn video itu perlahan mendekat pada pria yang sedamg berjalan. Ya, pria yang berjalan dengan membawa tas koper itu adalah Ervan Xander yang tak lain sang mantan kekasih Elena. Pria itu duduk di kursi tunggu dengan memegang ponsel ditangan kanannya. Xander terlihat asyik dengan ponselnya itu.
“Apa, dia Xander? Aku tak salah melihat, kan?” ucap Lucy yang terlihat heboh sendiri.
Elena mengangguk pelan, “Iya, aku pikir ini adalah memamg Xander. Dia tak memakai maskernya dan terlihat cocok, dengan semua barang miliknya yang memang aku kenal semua barang yang di bawanya itu!” tutur Elena dengan wajah serius.
Darren hanya diam dan memperhatikan cuplikan video itu. Matannya seoalh tak berkedip sedikit pun. Ternyata memamg Darren sedari tadi memperhatikan secara detail apa saja perbedaan dari Xander yang asli atau pun Xander palsunya. Hingga, video cuplikan itu pun merekam kedatangan Elena. Terlihat Elena yang menarik tangan pria itu. Dan terlihat pula mereka saling berbicara dengan wajah yang bersitegang.
“Tunggu!” ucap Darren yang tiba-tiba membuat Elena serta Lucy terkejut.
“Ada apa?” tanya keduanya bersamaan.
“Hentikan di menit sebelumnya!” ucap Darren dengan menunjuk ke arah layar laptop didepannya.
Segera, Jemari tangan Elena menekan kursor pada papan tombol laptop, untuk menghentikan video rekaman itu. Darren menatap dengan menyipitkan kedua matanya. Alisnya mengernyit seolah sedang berpikir. “Sini biar aku saja,” ujar Darren dengan menyenggol tangan Elena pada kursor laptop.
Darren mengembalikan cuplikan itu ke menit sebelumnya dan menghentikan cuplikan itu. Dilihatnya layar begitu dekat, sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Elena. Elena pun canggung dengan situasi itu. Karena bagaimana pun mereka sahabat tetapi, tak pernah sekalipun Darren mendekatinya begitu dekat sekali. Rasanya bunyi napas dari hidungnya pun terdengar.
“Apa yang kau lihat, sih? Aku tak paham dengan yang kau pikirkan!?” tanya Lucy polos. Seketika, Darren menoleh kearah samping Elena dimana, Lucy berada di sebelah seberang Elena. Darren menatap Lucy dengan tatapan dingin, dan kembali ia menoleh kearah layar yang ada di hadapannya itu.
Elena mencoba memahami apa yang di pikirkan Darren, dengan terus menerus membalikkan rekaman itu ke menit semula, dan kemudian memajukan kembali ke rekaman dimana ia datang. Hingga Darren pun menjentikkan jari, memecahkan keheningan suasana saat itu. “Aku mengerti sekarang!” ungkap Darren dengan bersuara agak nyaring.
“Sssttt... bisakah kau berbicara agak pelan sedikit? Kita itu sedang bersembunyi,” gerutu Lucy dengan suara berbisik dan terlihat kesal.
Darren berkata bahwa ada hal yang janggal dari rekaman awal dan ketika Elena datang. “Apa maksudmu? Masa rekaman ini di edit? Tak mungkin kan? Ini kan yang rekam kaki tangan dari detektif Felix!” ujar Elena yang berkilah. Darren pun menunjukkan rekaman awal video tersebut. Ia menunjukkan jemari tangan dari Xander. Terlihat dari jemarinya bahkan tangan kanan Xander memakai sebuah plester kecil di jarinya.
“Ini, dia memakai plester dijarinya. Jadi mungkin memang jarinya terluka saat itu.” Lalu Darren pun kembali menghidupkan rekaman video itu dan sekarang memajukan menit setelah Elena datang.
“Disini! Pria yang kau tarik tak memakai plester dijarinya,” tutur Darren yang kembali menghentikan rekaman itu dan menunjukkan gambar pada rekamna video itu, dimana pria yang tengah berdiri di hadapan Elena tak memakai plester di jarinya.
“Oh, ya benar! Ia tak memakai plester itu!?” ujar Lucy dengan tatapan serius pada layar monitor laptop.
To be continue...