Mentari Handoyo, seorang putri angkat dari Mirna Arzeta Wijaya. Ia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Laura, putri kandung Mirna. Mentari bekerja sebagai seorang pengasuh untuk mengelabui kakak angkatnya itu.
Ia hanya menandatangani surat kontrak kerja selama setahun. Siapa sangka, ia terjebak dalam jeratan ayah dari anak yang diasuhnya. Waktu setahun itu bertambah panjang, karena ia melakukan pernikahan kontrak dengan sang majikan.
Siapa sebenarnya Mentari? Mungkinkah mereka bisa saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Sayang ... sudah siap belum?" Tari memanggil Monica yang sejak dua jam yang lalu belum juga keluar dari kamar. "Cuma makan malam biasa aja, kok. Gak usah rapi-rapi."
"Tetap aja, Ma. Masa makan malam di resto mau pakai piyama tidur," jawab Monica dari kamar.
Tari menggelengkan kepalanya. Monica sudah terbiasa berpenampilan anggun setiap kali keluar rumah, sekalipun hanya sekedar jajan ke warung seberang rumah. Baginya, seorang gadis harus berpenampilan rapi dan sopan di depan orang lain.
"Yuk," kata Monic saat keluar dari kamar. Ia memakai dress lengan panjang berwarna biru dengan leher tertutup. Kaki panjangnya tertutup sebatas betis dengan sepatu hak tinggi berwarna putih polos.
Malam ini, Tari ingin memperkenalkan anak teman lamanya yang beberapa waktu lalu berulang tahun. Monic diminta membeli kado sebagai permintaan maaf karena terakhir kali mereka belum sempat bertemu. Mendengar anak teman sang mama adalah laki-laki, Monic berdandan sampai dua jam.
Dia tidak berniat merayu, tapi ia takut membuat kedua orang tuanya malu jika ia berpenampilan asal-asalan. Sampai sekarang, Monic tidak berminat mencari kekasih. Entah hatinya yang beku atau memang tidak tertarik menjalin hubungan asmara.
"Nanti, kamu coba ngobrol sama anak tante Aretha. Dia lumayan tampan dan baik katanya," ucap Tari saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Katanya, kan, Ma. Ibu mana, sih, yang akan menjelekkan anaknya," balas Monic sambil tertawa pelan.
Asal jangan seperti si Ryandi itu. Lagian, aku malas ngobrol sama cowok, apalagi yang hobi godain cewek.
Monic mengenang pertemuannya dengan laki-laki itu. Ia merasa laki-laki itu sengaja mendekatinya karena kemana ia pergi, Ryan juga ada di sana. Namun, ada perasaan aneh yang menjalar dihatinya. Rasa menggelitik seperti akan bertemu lagi.
Kenapa aku berdebar-debar begini? Aneh banget. Mana mungkin karena laki-laki brengsek itu? Tapi ... setiap kali aku keluar rumah, pasti bertemu dia.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di resto. Sebuah ruang VIP dipesan Will sejak dua hari yang lalu. Saat mereka memasuki pintu resto, seorang pelayan segera menghampiri.
"Selamat malam. Selamat datang di resto kami. Ada yang bisa dibantu?"
"Ruang VIP nomor 5," jawab Will dengan sopan.
"Silakan ikuti saya," kata pelayan seraya berjalan lebih dulu.
Tiba di ruang VIP hanya ada satu orang yang menyambut mereka. Monica mengedarkan pandangan, mencari sosok yang akan diberi kado. Namun, tak ada bayangan orang lain selain mereka berempat.
"Ah, kalian pasti mencari anakku. Dia naik motor, jadi gak barengan berangkatnya. Sebentar lagi juga sampai," jawab Aretha dengan tak enak hati.
Tak lama, seorang pemuda masuk sambil memeluk helm di pinggangnya.
Betapa terkejutnya Monica saat melihat laki-laki itu. Tak hanya Monic, Tari juga terkejut sekaligus senang. Laki-laki itu tersenyum tipis seraya melangkah mendekati ibunya.
"Kamu ... anaknya tante Aretha?" Monic bertanya sambil menunjuk Ryandi.
"Yup. Halo, salam kenal." Ryandi menjawab singkat. Ia berpura-pura dingin meski dalam hati ia melompat kegirangan. Gadis incarannya ternyata anak dari sahabat ibunya.
"Karena semuanya sudah berkumpul, kita langsung makan saja. Setelah makan, baru kita bahas soal perjodohan Ryan sama Monic," kata Aretha.
Seketika Monic tersedak saat air melalui kerongkongan. Tidak ada pembicaraan soal perjodohan saat orang tuanya mengajak makan malam. Mendengar ia dan Ryan dijodohkan, tentu saja membuatnya terkejut bukan main.
"Apa? Saya sama ..." Monic menunjuk Ryan dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa? Rugi gitu kalau punya calon suami kaya saya," kelakar Ryan sambil tertawa lebar.
"Gak lucu, ya," ucap Monic dengan tatapan sinis.
Pantas saja dari tadi berdebar-debar gak karuan. Ternyata mau dijodohin sama ... Ih, kenapa juga harus sama dia? Gak ada calon lain apa?
Monica mengumpat kesal dalam hati. Belum reda rasa kesalnya saat bertemu Ryan di toko buku, sekarang justru dihadapkan kenyataan bahwa mereka akan dijodohkan.
"Tante tidak memaksa, sayang. Kalau kalian gak mau, gak masalah. Cuma, barangkali Monic mau mempertimbangkan anak tante. Jalani aja dulu. Nanti kalau tidak cocok, tinggal pisah aja," bujuk Aretha sambil tersenyum canggung melihat Monic.
Jalani gimana? Orangnya super nyebelin begitu, mana mau aku sama cowok rese. Tapi, gak enak melihat tante.
"Gak salah, Ma? Cewek manja begitu dijodohin sama Ryan?" Ketus Ryan.
"Siapa yang manja? Kamu, kali," balas Monic tak kalah ketus.
Sementara Will, Tari dan Aretha tersenyum melihat pertengkaran mereka. Lebih baik terjadi pertengkaran keci yang mungkin saja akan berubah cinta di masa mendatang. Jika mereka saling mengabaikan, kecil kemungkinan untuk meneruskan perjodohan.
"Kalian ... sudah saling kenal, ya? Mama lihat, kamu banyak bicara sama Monic," kata sang ibu.
"Gak kenal." Ryan menjawab singkat.
"Tante salah. Aku gak kenal makanya gak mau dijodohin sama dia." Monic bicara tanpa berani menatap wajah Aretha.
"Siapa juga yang mau kenal sama cowok rese kaya dia," gumam Monic.
Mereka menahan senyum melihat gadis itu menggerutu. Bibirnya bergerak-gerak kesal. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Ryan.
Imutnya ... sayang, jutek. Tapi, dia sangat menggemaskan. Andai bisa aku simpan di kantong.
Ryan segera menoleh ke arah lain saat Monic melirik tajam padanya.
Makan malam berlanjut dalam diam setelah perdebatan kecil Ryan dan Monic. Saatnya berpisah, mereka saling melambai dari dalam mobil masing-masing sebelum kedua mobil itu meninggalkan parkiran resto. Hanya Ryan yang masih duduk di atas motor di parkiran.
Ia menatap mobil William sampai menghilang di sebuah tikungan. Anehnya, ia merasa hampa setelah mobil tak lagi terlihat. Ruang dihatinya terasa kosong seperti kehilangan sesuatu yang penting.
Sejak bertemu dia di resto pertama kali, aku sangat ingin bertemu dengannya setiap hari. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Tiba di rumah, Monic masuk ke kamar dengan kesal. Jika dia tahu akan ada pembicaraan perjodohan, ia tidak akan datang dari awal. Usianya masih sangat muda, baru lulus sekolah menengah atas. Bahkan, kuliah saja belum mulai aktif dan baru lolos seleksi.
"Mon ... sayang ...," panggil Tari sambil mengetuk pintu kamar Monica.
"Aku capek, mau tidur. Mama juga segera beristirahat, selamat malam, Ma."
Monic hanya membuka pintu sebentar dan berbicara singkat pada ibu sambungnya. Tari tidak memiliki kesempatan berbicara apalagi menghibur gadis itu. Ia tersenyum dan mengangguk pelan.
"Hm, selamat malam, sayang. Kita bicara besok pagi saja," jawab Tari, penuh pengertian.
○Bersambung○
next chap.. jgn terlalu panas thor.., diluar cuaca nya udh panas.. 😁😁
dear Laura.., knp Will milih Tari.., krn hati nya Tari putih bersih jd terpancar di aura nya.. sementara lau.. hati lau hitam kotor penuh dengki.. jd nya aura lau tuh gelap.. 😡😡
#readersebel (😂😂)
semangat othor.. ☕
bakalan malu tuh si model karbitan.. 😁😁
ayo thor.. lanjut.. 😍😍
tengah hari dibikin makin panas.. hahay.. 😂
mmng yg paling enak itu belah duren yg jatuh dr pohon nya.. (bkn terpaksa) 😁😁
kuy.. ditunggu bunyi gedebuk nya duren yg jatoh.. 😅😅
btw, gimana reaksi ayah nya william.. klo tau anaknya nikah dgn wanita lain yg bkn pilihan nya.. 🤔🤔
next>> 😁
GPL yak.. 😁😁 pinisirin nih.. 🙈