Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Aku Tidak Pergi
Darren bangun menjelang subuh.
Hal pertama yang ia rasakan bukan sakit di dada.
Bukan sisa obat yang membuat kepalanya berat.
Bukan dingin lantai ruang bawah tanah yang meresap melalui punggungnya.
Yang pertama ia lihat adalah Keira.
Gadis itu duduk di lantai di sampingnya, punggung bersandar pada kaki kursi logam. Wajahnya pucat karena kurang darah dan kurang tidur. Rambutnya berantakan. Baju yang kemarin masih bersih kini ternoda darah, sebagian sudah mengering menjadi cokelat gelap.
Di sisi lehernya ada kasa putih.
Kecil.
Sederhana.
Tetapi bagi Darren, kasa itu seperti pisau yang ditancapkan langsung ke matanya.
Ia membeku.
Ingatan datang tidak lengkap, tetapi cukup kejam.
Pintu terbuka.
Suara Keira memanggilnya.
Aroma darah yang bukan miliknya.
Kulit hangat di bawah giginya.
Darren menarik napas.
Udara masuk terlalu tajam, membuat dadanya sakit. Tubuhnya masih lemah, tetapi rasa lemah itu kalah oleh satu hal yang lebih tua dari rasa sakit.
Takut.
Ia menyakiti Keira.
Tangannya bergerak hendak menjauh, tetapi gerakan kecil itu membuat Keira membuka mata. Ia tampak tidak benar-benar tidur sejak tadi, hanya memejamkan mata karena tubuhnya menyerah sesaat.
"Pak Darren?"
Suara itu serak.
Karena menangis.
Karena menahan sakit.
Karena terlalu lama tidak tidur.
Darren menatap kasa di lehernya.
Lalu wajahnya.
Lalu kasa itu lagi.
Dalam satu detik, sesuatu di wajah Darren berubah tiga kali.
Pertama, kosong oleh ketakutan.
Kedua, runtuh oleh rasa bersalah.
Ketiga, mengeras menjadi marah.
Bukan marah pada Keira.
Marah pada dunia, pada tubuhnya sendiri, pada semua orang yang membiarkan gadis ini tetap berada di sisinya setelah melihat apa yang ia lakukan.
"Pak Ji."
Suaranya keluar kasar, seperti batu digesekkan ke lantai.
Pak Ji yang duduk tidak jauh langsung berdiri. Lelaki tua itu tampak belum tidur sama sekali. Di meja samping, ada baskom kecil berisi air merah muda bekas membersihkan luka, kasa, botol antiseptik, dan beberapa alat medis yang ditinggalkan Dokter Xiao sebelum masuk ke ruang persiapan sebelah.
"Pak Darren."
"Bawa dia pergi."
Keira diam.
Pak Ji juga diam.
Darren mencoba duduk. Tubuhnya hampir jatuh, tetapi ia menolak bantuan. Matanya tetap menempel pada luka di leher Keira.
"Dia tidak seharusnya melihat semua ini." Napasnya terputus sebentar. "Keluarkan dia dari compound."
Keira akhirnya berkedip.
Seolah kalimat itu lebih menyakitkan daripada gigitan di lehernya.
"Pak Darren..."
"Sekarang."
Pak Ji melangkah setengah langkah ke arah Keira, tetapi tangannya berhenti di udara.
Ia tahu perintah Darren tidak boleh ditawar.
Namun ia juga melihat Keira semalam. Melihat gadis itu duduk di lantai selama berjam-jam, leher dibalut seadanya, menolak pindah ke ranjang periksa yang disiapkan Dokter Xiao. Melihat ia berkali-kali hampir pingsan, lalu tetap membuka mata setiap kali Darren bergerak sedikit.
Pak Ji tidak pernah melihat orang seperti itu di sisi Darren.
Tidak sejak Darren kecil.
Mungkin tidak pernah.
Keira mengangkat wajah. Matanya merah, tetapi pandangannya jernih.
"Aku tidak pergi."
Ruang bawah tanah menjadi terlalu sunyi.
Darren menatapnya seperti tidak memahami bahasa yang baru saja ia dengar.
Keira menelan ludah. Gerakan kecil itu menarik luka di lehernya, membuat alisnya bergetar. Namun suaranya tetap keluar, pelan dan jelas.
"Kamu bisa mengusirku. Aku akan kembali."
"Kamu tidak mengerti apa yang kamu lihat."
"Aku mengerti cukup banyak."
"Tidak." Darren hampir menggeram. "Kamu melihatku kehilangan kendali. Kamu melihatku menyakitimu. Itu cukup untuk pergi."
"Bagi siapa?"
Darren terdiam.
Keira menatapnya, lalu tertawa kecil tanpa suara. Air mata baru jatuh, tetapi wajahnya tidak berubah.
"Bagi orang normal, mungkin iya. Sayangnya aku tidak pernah terlalu normal."
"Keira."
Itu bukan panggilan.
Itu peringatan.
Namun Keira justru merasa dadanya lebih sakit karena ia memanggil namanya seperti itu, seolah satu kata saja sudah bisa patah di mulutnya.
"Aku takut," katanya jujur.
Jari Darren menegang di lantai.
"Aku sangat takut. Saat kamu menggigitku, saat matamu merah, saat darah keluar dari mulutmu. Aku takut sampai tubuhku tidak bisa bergerak."
Pak Ji menundukkan kepala.
Darren memalingkan wajah.
Keira menggeleng pelan. "Tapi aku lebih takut kalau kamu bangun dan tidak ada siapa pun."
Tidak ada yang bergerak.
Di luar ruang bawah tanah, pagi mungkin sudah mulai menyentuh halaman compound. Burung mungkin sudah berbunyi. Ningsih mungkin sedang menangis di Sayap Giok karena semalam Keira tidak kembali. Dunia di atas sana mungkin tetap berjalan seperti biasa.
Tetapi di ruangan ini, waktu berhenti pada wajah Darren yang perlahan kehilangan semua kemarahannya.
Keira tidak tahu kata-kata itu menembus bagian mana dari dirinya.
Ia hanya melihat pria yang biasanya berdiri seperti dinding itu tiba-tiba tampak kehabisan tempat untuk bersembunyi.
"Semua orang pergi setelah melihat hal yang tidak mereka sukai," kata Darren akhirnya.
Suaranya sangat rendah.
Begitu rendah sampai hampir tidak terdengar.
Keira tidak bertanya siapa semua orang itu.
Keluarga?
Mama Lian?
Orang-orang yang dulu menyebutnya pewaris lalu menutup pintu saat ia sakit?
Atau dirinya sendiri, dalam kehidupan yang terbakar itu?
Ia tidak tahu.
Ia hanya tahu ia tidak mau menjadi nama berikutnya dalam daftar itu.
"Kalau begitu," kata Keira, "biar daftar itu berhenti di aku."
Pak Ji menarik napas.
Darren menatapnya.
Lama sekali.
Lalu pandangannya turun ke kasa di leher Keira.
Tangannya bergerak.
Pelan.
Sangat pelan.
Seolah ia sedang mendekati sesuatu yang mudah pecah, padahal yang lebih mungkin pecah adalah dirinya sendiri.
Ujung jarinya berhenti beberapa sentimeter dari kasa itu.
Ia tidak berani menyentuh.
Keira melihat tangannya gemetar.
Darren Hendrawan, pria yang bisa membuat ruang rapat membeku, pria yang memutus masa depan Diana dengan satu kalimat, sedang gemetar di depan luka kecil yang ia buat sendiri.
Keira mengangkat tangannya.
Telapak tangannya masih diperban dari luka jatuh kuda. Jari-jarinya lemah, tetapi ia menyentuh punggung tangan Darren lebih dulu.
Kontak itu membuat Darren tersentak halus.
"Tidak apa-apa," bisik Keira.
"Jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
"Karena itu bohong."
Keira tidak punya jawaban cepat untuk itu.
Benar. Tidak apa-apa adalah kalimat yang selalu ia pakai untuk mengecilkan diri. Semalam ia berdarah. Ia sakit. Ia takut. Semua itu bukan tidak apa-apa.
Tetapi ia tetap di sini.
Mungkin untuk pertama kalinya, dua hal itu bisa benar bersamaan.
Ia terluka.
Dan ia tidak menyesal.
Darren akhirnya menyentuh tepi kasa di lehernya.
Sentuhannya hampir tidak terasa.
Begitu ringan sampai lebih mirip permintaan izin daripada pemeriksaan. Namun mata Keira kembali panas.
"Maaf."
Satu kata.
Rendah.
Hampir hilang di antara napas mereka.
Pak Ji mendongak.
Wajah lelaki tua itu berubah, seolah ia baru mendengar sesuatu yang selama puluhan tahun dianggap mustahil.
Ia pernah melihat Darren kecil jatuh dari tangga dan menolak menangis. Pernah melihat remaja itu berdarah setelah latihan berkuda, lalu tetap berkata tidak perlu dokter. Pernah melihat lelaki dewasa itu disalahkan, dikhianati, dan ditinggalkan, tetapi tidak pernah sekali pun menundukkan kepala untuk meminta maaf.
Darren Hendrawan lebih sering memilih patah daripada mengaku sakit.
Namun di depan Keira, satu kata itu keluar.
Keira juga terdiam.
Bukan karena kata itu asing.
Orang pernah meminta maaf padanya untuk banyak hal kecil. Menabrak bahunya. Menumpahkan air. Membuatnya menunggu. Maaf jenis itu murah dan ringan.
Tetapi kata yang keluar dari mulut Darren tidak murah.
Itu seperti sesuatu yang harus ia gali dari tempat paling dalam, melewati harga diri, ketakutan, dan seluruh kebiasaan hidupnya yang selalu memerintah agar tidak terlihat lemah.
Keira menggenggam tangan Darren.
Tangannya dingin.
Terlalu dingin.
Ia memindahkan tangan itu perlahan dari lehernya ke pipinya.
Darren menahan napas.
Keira memejamkan mata dan membiarkan telapak tangan Darren menempel di wajahnya.
Tidak ada kata-kata indah.
Ia tidak tahu cara mengucapkan hal besar tanpa membuatnya terdengar canggung.
Jadi ia hanya diam.
Diamnya berarti: aku masih di sini.
Diamnya berarti: aku takut, tapi bukan padamu.
Diamnya berarti: jangan mengusirku agar kamu bisa membenci dirimu sendiri dengan tenang.
Darren tidak menarik tangannya.
Untuk waktu yang lama, mereka hanya duduk seperti itu di lantai ruang bawah tanah, dikelilingi bau obat, darah yang sudah mengering, dan lampu putih yang terlalu terang.
Pak Ji memalingkan wajah.
Mungkin untuk memberi mereka ruang.
Mungkin untuk menyembunyikan matanya yang memerah.
Akhirnya Darren menarik napas panjang. Ketika berbicara lagi, suaranya masih lemah, tetapi sudah kembali memiliki ketajaman yang dikenal Pak Ji.
"Tidak ada yang boleh tahu."
Pak Ji langsung menegakkan tubuh. "Baik, Pak."
"Tentang semalam. Tentang dia berada di sini. Tentang lukanya."
"Saya mengerti."
Darren menatap Pak Ji. "Terutama Mama dan Vivienne."
Keira membuka mata.
Nama Vivienne membuat sesuatu di dadanya bergerak kecil, tetapi ia tidak bertanya. Belum.
Pak Ji membungkuk. "Saya akan pastikan."
Darren kembali menatap Keira.
Kali ini matanya tidak dingin, tidak sepenuhnya melindungi, dan tidak lagi sekadar menilai.
Ada sesuatu yang baru di sana.
Sesuatu yang membuat Keira merasa seolah ia baru saja membuka pintu ke bagian terdalam dari seorang pria, dan bukannya mengusirnya, pria itu membiarkan pintu itu tetap terbuka sedikit.
Darren menyentuh pipinya sekali lagi dengan ibu jari yang masih gemetar.
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Jangan takut padaku."
Keira menatapnya.
Lalu menjawab dengan suara serak yang sama keras kepalanya seperti semalam.
"Kalau takut, aku sudah pergi."