JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chat Berlanjut.
^^^"Gue kira lo udah lupa sama gue, mana tadi tampang lo sombong amat!"^^^
^^^"Boleh telepon, kan sekarang?"^^^
Rian tersenyum membaca chat teman kakaknya itu, ahh, sekarang kan 'Si Bodoh' itu temannya. Semoga 'Si Bodoh' memberitahu nama aslinya, dia tak akan bisa menjawab kalau ditanya.
"Jujur, saya sedikit lupa. Kamu banyak berubah!"
"Besok kan kita ketemu di kelas, buat apa telepon?"
pesan balasan dikirim Rian.
^^^"Pastinya gue berubah makin cakep, kan?"^^^
^^^"Ya, telepon aja, sih. Gak mau juga gak apa!"^^^
"Huh, anda butuh kaca? Saya bisa kirim yang paling besar dan jernih agar anda bisa melihat kenyataan!"
"Saya lebih suka bertukar pesan daripada berbicara di telepon!"
^^^"Jahat lo jadi temen! Udah lama gak ketemu lo masih aja suka ngejek gue!"^^^
^^^"Oghey, sampai jam makan malam, ya!"^^^
Rian tertawa tertahan membaca balasan chat temannya itu.
"Mohon maaf, saya bicara apa adanya. Jadi jangan salah menduga kalau itu ejekan!"
"Gak! Aku mau mandi sekarang! Ntar lanjut lagi."
Rian meletakkan ponselnya, dia berbaring diam. Mengingat-ingat bagaimana sosok 'Si Bodoh' yang ditemuinya tadi. "Teman kakak ternyata memiliki tampang lumayan juga, tapi kenapa kakak ngasih julukan si bodoh, ya?" gumam Rian heran.
Tak lama gadis itu mengangkat bahu acuh, dia tak harus repot memikirkan hal yang tak mungkin dia tahu, kan. "Jadi ..., siapa namanya, ya?" kata Rian mencoba mengingat-ingat.
"Sudahlah, besok juga aku akan tahu," katanya santai. Mereka satu sekolah, bahkan satu kelas. Tak mungkin susah untuk sekedar mengetahui namanya saja besok.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di rumahnya, Rafael sedang duduk di depan meja belajarnya. Dia menatap layar ponselnya. Tak ada lagi balasan yang diterimanya untuk chat terakhir yang dia kirimkan. Padahal dia masih ingin berlama-lama bertukar pesan dengan kawannya itu.
"Rasanya ada yang berubah dari Ian," kata remaja itu sambil berpikir.
"Kenapa dia bisa sama sekali tak mengenali gue gini, sih!" gerutu Rafael mengerucutkan bibirnya.
"Apa Ian lupa karena masalah adiknya, ya?" pikir pria kecil yang baru beranjak dewasa itu.
"Tak peduli apapun alasannya, Ian tetap temen gue selamanya!" putus Rafael dengan serius.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamar, di luar ada yang mengetuk pintu kamar Rafael sepertinya. "Tuan muda, nyonya memanggil anda!" ucap suara di luar dengan sopan dan nada yang tepat, tak terlalu pelan tapi juga tak terlalu nyaring.
Rafael membuka pintu kamarnya. "Nanti gue ke sana! Makasih, ya," ucap Rafael disertai senyum simpul. Pelayan itu mengangguk paham kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Rafael pun langsung pergi ke tempat ibunya. Ibunya pasti menunggu dirinya di ruang kerja sang ayah.
Begitu sampai, Rafael mengetuk pintu di depannya dengan sedikit kuat. "Masuk!" tukas suara di dalam sana.
Rafael masuk dan melangkah mendekati ibunya. "Mama panggil Raf? Ada apa?" tanya anak itu langsung tanpa basa basi.
"Ada yang mau mama tanyakan sama kamu!" ucap sang ibu menatap anaknya serius. Kepala keluarga Wicaksono malah diam saja, dia menggelengkan kepala melihat sikap istrinya. Sudah terlalu biasa mendapati hal yang serupa seperti sekarang ini.
Rafael yang melihat ayahnya menggelengkan kepala malah tersenyum tipis, meski senyumnya tak terlalu kentara. "Waktu dan tempat, dipersilakan Nyonya Wicaksono yang terhormat dan tercantik!" gurau Rafael menyelipkan pujian untuk orang yang melahirkan dirinya.
"Kamu tahu mama saat ini tak ingin main-main, Raf?!" ketus sang ibu, meski berkata begitu, tapi pipinya memerah juga mendapatkan pujian dari sang anak.
"Mama aku yang paling cantik, baik hati, lagi penyayang! Kapan Raf main-main, ma?" balas Rafael, pria kecil itu duduk tegap di depan sang ibu yang terus mengintimidasi dirinya.
"Baik kalau begitu! Sekarang mama tanya, kapan kamu mau serius? Mama tahu kalau kami bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat, tapi kamu selalu malas!" Rafael menghela napas pelan, ternyata hal yang sama terjadi lagi. Pertanyaan beberapa minggu yang lalu, kini kembali dipertanyakan oleh ibunya. Padahal Rafael yakin, sang ibu masih sangat ingat dengan jawaban yang diberikannya terakhir kali.
"Kamu gak kasihan sama papa kamu? Lihat keriputnya bertambah banyak untuk sedetik waktu yang terlewat! Dua menua lebih cepat karena banyaknya pekerjaan yang diurusnya!" lanjut Dinda, tangannya menunjuk bagian dahi suaminya yang sedikit berkerut. Padahal itu bukan keriput, suaminya hanya sedang mengerutkan dahi saat istrinya membuat dirinya sebagai alasan untuk memaksa anak mereka.
"Apa tak bisa kamu membantu papa kamu, Raf? Kasihan papa kamu kalau dia lebih cepat tua dibandingkan dengan mama," air mata buaya keluar juga untuk pelengkap jurus jitu memelas di depan anaknya.
"Ma ..., tolong hentikan, ha-ah," desah Rafael tak habis pikir.
"Mama gak capek apa? Setiap beberapa minggu selalu menanyakan hal yang sama, selalu mengatakan hal serupa, bahkan papa dibawa-bawa!" lanjut Rafael menggelengkan kepalanya tak berdaya.
"Raf masih kelas dua, ma. Lagian papa juga gak setua itu, kok! Lihat!" tunjuk Rafael sambil tersenyum simpul ke arah papanya.
"Papa masih keren dan seperti pahlawan super saat ini! Pekerjaan gak akan membuat papa kalah dan menjadi lebih tua!" ucap Rafael yakin. Apa yang dia katakan memang benar, sang mama saja yang terlalu berusaha keras untuk membuatnya terjun ke dalam bisnis keluarga secepatnya. Rafael kan masih ingin menikmati wakti, masih ingin bermain dengan teman-temannya, belum lagi dia baru saja bertemu lagi dengan sahabat baiknya. Mana mau dia lulus sebelum waktunya.
"Lihat pa, lihat. Anak kita satu-satunya tak mau mendengarkan perkataan mamanya," adu sang ibu memasang mimik sedih.
"Ekhem, Raf ... sekolah saja dan nikmati harimu!" kata sang ayah yang malah mendukung anaknya. Dinda mencebik kesal mendengar apa yang Dirga, suaminya ucapkan pada anak mereka.
"Makasih pa, tanpa papa suruh pun, Raf akan melakukannya!" ucap sang anak dengan cepat.
"Dan, ma ... semoga mama gak nanya hal ini lagi beberapa minggu kemudian, ya. Raf gak ada niat untuk berubah pikiran. Jadi, bakat mama sebagai aktris jangan dibuang sia-sia gini, kan sayang ma!" Rafael tersenyum kemenangan, sang papa saja berpihak kepadanya. Dia sadar, dia harus mengemban tugas untuk melanjutkan bisnis keluarga, tapi Rafael tak mau menghabiskan masa mudanya di balik meja kerja dan berurusan dengan hal melelahkan sepanjang hari.
Sepertinya Rafael kebalikan dari Rian, jika Rian lebih suka berada di balik meja kerja dan mengurus dokumen. Rafael malah lebih suka membuang-buang waktu dengan menikmati masa sekolah yang menurut Rian tak terlalu penting.
Dua orang yang berbeda karakter, kemungkinan besar akan sangat cocok menjadi sahabat.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝