Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menceritakan.
Setelah sampai di dalam kamar, aku menutup pintu dengan kasar dan bahkan menguncinya. Aku meletakan belanjaanku ke atas meja, dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahku yang habis menangis. Setelah membasuhnya, aku mengambil ponselku yang berada di dalam tas kecilku. Aku membuka grup Three Mukeester untuk meminta maaf pada Lita dan Rini.
Three Mukeester
Maila
Lita, Rini. Maafin gue, karena gue pulang duluan.
Jerry/Lita
Iya nggak papa, tapi kenapa lo tiba-tiba nangis?
Tom/Rini
Iya kenapa lo tiba-tiba nangis? Kalo lo nangis karena kami berdua, gue minta maaf.
Maila
Bukan, itu bukan karena kalian.
Jerry/Lita
Terus kenapa May? Kalo bukan karena kami? Kalo ada sesuatu cerita ke kami berdua.
Maila
Maaf jika gue mengkhawatirkan kalian, tapi gue nggak kenapa-kenapa kok. Jadi tolong jangan mengkhawatirkan gue. Dan sekarang udah malem, gue ngantuk. Mau tidur.
Jerry/Lita
Cerita sama kami berdua May, gue tau lo pasti ada sesuatu yang sembunyiin dari kami berdua.
Tom/Rini
Iya cerita sama kami berdua.
Jerry/Lita
Maila!
Aku tidak kuat untuk membendung air mataku jika aku harus cerita pada mereka berdua. Aku melemparkan ponselku ke atas kasurku, aku membaringkan tubuhku dan memejamkan mataku, tapi rasanya tidak bisa. Aku selalu kepikiran tentang hal tadi.
Drrttt... Drrttt... Drrttt..
Ponselku berbunyi, tapi aku tidak peduli siapa yang menelponku. Tapi suara ponsel tersebut sangat berisik dan mengganggu tidurku, aku meraih ponsel tersebut dan ku lihat itu telpon dari Larbi. Aku mematikan telponnya, dan kembali untuk tidur.
Drrtt... Drrttt... Derrttt...
Aku membuka mataku kembali, merasa berisik dengan suara telpon itu. Aku meraih ponsel itu dan itu telpon dari Larbi lagi, tapi langsung ku matikan. Rasanya aku tidak ingin di gannggu oleh siapa pun.
Drrttt... Drrttt... Derrttt...
"Ini tawon kenapa sih, telpon mulu? Nggak tau apa udah malem?" gerutuku. Dan aku pun langsung mengangkat telpon itu.
"Lo kenapa sih telpon mulu?! Gue nggak mau di ganggu!" bentakku padanya dan langsung ku matika telpon tersebut. Aku kembali membaringkan tubuhku ke atas kasur, aku tidak bisa memejamkan mataku. Karena rasanya aku belum mengantuk.
Tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Apakah aku harus menanyakan langsung pada kak Jova? Agar aku tahu ia berbohong atau jujur padaku.
Iya aku harus menanyakan langsung padanya. Aku meraih ponselku yang berada di dekatku. Aku langsung mencari nomor kak Jova, dan langsung menelponya. Aku sengaja menelponnya, agar aku bisa tahu ia berbohong atau jujur padaku, melalui cara bicaranya. Tak lama kemudian ia langsung mengangkat telponku.
"Kak!" ucapku di telpon.
[ Apa May? Lo udah dipikirin jawabannya?] jawabnya yang malah bertanya padaku.
"Belum. Maila ingin bertanya pada kak Jova. Boleh?" ucapku sambil bertanya padanya.
[ Boleh, mau tanya apa?]
"Maaf kak, jika sedikit menyinggung. Maila mau kakak jujur dengan jawaban kakak. Apa benar kak Jova playboy? Dan orang yang menelpon kakak saat di cafe yang namanya Lexa adalah pacar kakak? Dan bukan teman kakak? Jika benar, kenapa kak Jova bohongi Maila?" tanyaku dengan menahan tangisku. Sementara ia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku.
"Kenapa diam kak? Maila cuman menyuruh kakak untuk jujur kok," ucapku lagi.
[ Gue... Gue emang terbilang playboy, tapi Lexa itu bukan pacar gue, dia cuman teman gue.] jawabnya.
"Oh ya? Lalu photo kakak dan Lexa itu yang berada di akun Instagram @Lexa.Alxndr48. Orang yang bernama Lexa itu sedang memegang bunga mawar berwarna merah bersama kak Jova di taman. Apakah itu sebatas teman?" ucapku sambil bertanya padanya.
[ May, gue sama Lexa itu cuman teman! Dia itu bukan pacar gue!] ucapnya begitu serius padaku.
"Jangan bohong kak! Maila nggak marah kok, kalo kakak pacaran sama orang itu, Maila cuman ingin kak Jova jujur, dan jangan membohongi Maila. Karena Maila nggak mau di bohongi sama teman kecil Maila sendiri, yaitu kak Jova," ucapku dengan lagi-lagi menahan tangisku.
[ Ok! Gue jujur. Lexa itu dulu adalah pacar gue, tapi sekarang dia udah jadi mantan gue. Dan photo itu adalah photo jadian kami berdua, dan mungkin sekarang ia masih mengupload nya di akun Instagram nya.] ucapnya yang membuatku ingin menangis. Ternyata kak Jova berbohong, dia bilang di cafe Lexa itu adalah temannya, tapi ternyata orang yang bernama Lexa itu adalah mantannya.
"Terus kenapa kak Jova bohong ke Maila?" tanyaku.
[ Maaf May, gue cuman nggak mau lo tahu tentang keplayboyan gue. Makanya gue berbohong ke lo.]
[ Sekali lagi gue minta maaf! Gue mohon lo maafin gue!]
"Iya Maila maafin, karena kak Jova mau berkata jujur pada Maila. Lain kali jangan bohongin Maila lagi," ucapku yang mulai terasa iba karena ia mau berkata jujur padaku, dan bahkan meminta maaf padaku.
[ Makasih Maila, lo mau maafin gue.]
"Sama-sama. Tapi jawaban Maila untuk mau atau tidaknya jadi pacar kak Jova masih belum di pikirkan. Maaf jika Maila menuduh kak Jova. Selamat malam." Ucapku sambil menutup telpon tersebut. Aku menghela nafas lega karena kak Jova mau berkata jujur padaku, walaupun aku sedikit kecewa karena di bohongi sebelumnya.
*****
Aku melangkahkan kaki ku menuju ke kelasku. Aku sedikit tidak bersemangat hari ini karena kejadian semalam. Malam ini acara The Refour Band akan di mulai, banyak siswa-siswa disini, begitu juga siswa yang merupakan fans dari kak Jova tidak sabar untuk segera menyaksikannya.
"Maila!" panggil seseorang memanggil namaku, dan ku tengok ke arah suara tersebut. Ternyata itu kak Jova, aku hanya memasangkan wajah biasa saja pada dia, tidak seperti sebelumnya ketika aku bertemu dia, aku selalu menampakan senyumku.
"Nanti malem, lo liat acara gue ya?!" ucapnya padaku, dan aku hanya mengangguk untuk mengiyakan.
"Lo kenapa sedikit cuek banget sama gue? Apa lo masih marah tentang kebohongan gue?" tanyanya padaku.
"Nggak kok, cuman hari ini kurang agak semangat," jawabku.
"Lo belum makan?"
"Udah kok."
"Eummm... Gimana sama jawaban lo, udah dipikirin?" tanyanya padaku, dan aku hanya menatap bingung padanya.
"Jawaban apa?" tanyaku padanya.
"Lo nggak inget? Yang lo mau nggak jadi--"
Kring... Kring... Kring...
"Udah bel, Maila masuk ke kelas dulu ya kak." Ucapku sambil melangkahkan kaki ku menuju ke kelasku. Aku ingat dengan pertanyaan kak Jova tadi, tapi aku belum memikirkannya. Apakah aku harus menjawab IYA atau TIDAK?
Aku masuk ke dalam kelas dan menghampiri tempat dudukku, terlihat Rini dan Lita terus menatapku. Aku langsung duduk dan menaruh tasku di kolong meja.
"Maila," panggil Lita padaku, dan aku hanya menoleh ke arahnya untuk merespon.
"May, cerita tentang semalam dong, kenapa lo nangis? Cerita sama kami berdua, apa yang terjadi? Dan kenapa tiba-tiba lo nangis?" Lita nampak begitu penasaran dengan kejadian semalam.
"Iya May, kita bakal jadi pendengar yang baik buat lo. Cerita aja, kami juga bakal merahasiakan tentang masalah lo semalam, yang membuat lo tiba-tiba menangis," ucap Rini menimpali ucapan Lita.
Aku hanya terdiam sejenak, apa aku harus cerita pada mereka berdua? Dan rasanya aku tidak tega jika mereka mengkhawatirkan ku semalam.
"Iya nanti gue cerita, tapi nanti saat jam istirahat. Di sini." Ucapku.
Tak lama kemudian pelajaran di mulai. Aku mengambil alat tulis beserta buku-buku ku yang berada di dalam tas. Aku hanya menyimak dan memperhatikan guru yang menerangkan dan menjelaskan pelajaran hari ini, rasanya malas, dan aku pun tidak bersemangat untuk belajar, mengingat kejadian semalam, dan aku juga harus memirkan menerima Ya atau Tidaknya untuk memikirkan perasaan kak Jova.
Tak lama kemudian jam pelajaran sudah selesai, dan jam istirahat pun tiba. Ini waktunya aku menceritakan kejadian semalam sehingga membuatku menangis. Ketika semua orang yang berada di kelasku mulai sepi karena mereka sedang beristirahat di luar kelas. Kecuali kami bertiga yang masih terdiam di kelas. Nampak nya Lita dan Rini sudah menungguku untuk mulai menceritakan masalahku semalam.
Aku pun mulai menceritakan dari awal. Mulai dari pertama kak Jova mengajakku ke cafe, sehingga ia menyatakan perasaannya padaku disana. Dan yang kedua saat di cafe semalam dengan mereka berdua, ketika Lita menunjukan photo kak Jova dan juga orang yang bernama Lexa, dan ia mengatakan jika Lexa itu adalah pacar dari kak Jova. Sehingga itulah yang membuatku menangis, karena di bohongi. Dan yang ketiga, ketika aku bertanya langsung pada kak Jova melalui telpon. Itulah yang membuatku kecewa.
Nampaknya Lita dan Rini paham dengan apa yang sudah ku ceritakan. Wajah mereka terlihat sendu padaku, dan bahkan mereka menenangkanku dengan memelukku ketika aku menceritakan hal itu dengan menangis. Entah kenapa ketika aku mengingat kejadian yang menyakitiku, aku merasakan hal itu kembali lagi. Sehingga membuatku menangis.
"Jangan nangis lagi dong May. Gue ngerti apa yang lo rasain, di bohongi oleh teman kecil sendiri yang sudah lo anggap sebagai orang yang lo percaya, pasti rasanya sakit," ucap Lita dengan menguatkanku.
"Iya, gue juga baru tau kalo kak Jova begitu terhadap teman kecilnya sendiri," timpal Rini.
"Terus lo bakal mau jadi pacarnya?" tanya Lita padaku.
"Nggak tau, gue bingung," ucapku dengan lirih.
"Ikuti kata hati lo aja. Gue yakin kalo lo mengikuti kata hati lo, itu yang terbaik buat lo." Ucap Rini. Aku merasa lega setelah bercerita kepada mereka berdua, mereka sangat pengertian padaku.
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate.
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧