" Gadis kecil sebaiknya kamu tanda tangani saja surat itu "
Begitulah ucapan dari Hendra saputra pemilik perusahaan Jewelery yang terkenal di kota ini kepada seorang gadis bernama Yesa. Dia mengancam dengan sorot matanya. Dan akhirnya kerena tidak memiliki kekuasaan. Yesa menanda tangani surat itu.
Sesaat senyum puas penuh kemenangan muncul di bibir Hendra Saputra.
Cerita novel ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan
Nulis nya cuma iseng
Update na semau gue 😋
selamat membaca ^^,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ovhiie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA
"Hei turunkan aku, kenapa kau menggendongku begini?"
Yesa meronta saat di gendong suaminya menuju mobil yang sudah disiapkan sekretaris Dani. Para wartawan pun menyerbu mereka untuk mengambil foto terbaiknya. Bagi mereka ini adalah kejadian yang sangat langka.
"Ini memalukan, hei turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."
"Susah payah aku baru bisa mendapatkan mu. Bagaimana mungkin dengan begitu mudah aku melepaskan mu."
Entah kenapa gadis itu langsung diam menatap wajah suaminya penuh makna. Sekilas pipinya merona merah.
Aku tidak menyangka dia melakukan ini padaku
"Silahkan Tuan Muda" Kata Dani sambil membuka pintu mobil, mempersilahkan masuk dengan sopan. Arya menurunkan tubuh Yesa pelan-pelan
"Naiklah"
"Kita mau kemana?" Yesa bertanya belum mau masuk
"Kita akan kembali ke rumah Ayah."
"Rumah Ayah! Kenapa tidak pulang ke rumah mu saja. Tapi bagaimana dengan Nenek, acaranya belum selesai."
"Hanya untuk malam ini kita menginap di rumah Ayah dan kamu tenang saja. Biarkan Ayah sendiri yang mengurus sisanya."
"Tapi... Aku tidak mau meninggalkan Nenek,
dia masih di dalam." Ujar Yesa dengan suara dan wajahnya yang cemas
"Kau turuti saja perintah ku cepat!" Arya memaksa Yesa masuk kedalam agar ikut bersamanya duduk di kursi belakang dan berhasil. Saat pintunya tertutup Arya melingkarkan tangan kananya di pinggang Yesa. Memeluknya duduk berdampingan.
Di tengah perjalanan
"Kamu sudah boleh melepaskan ku. Jika kamu masih seperti ini aku merasa malu."
Arya gugup dan malu saat tersadar dengan posisi tangannya."Maaf!" Katanya salah tingkah tapi tidak dengan segera ia melepaskan tangannya dan tetap di posisinya. Entah kenapa Yesa hanya diam, tersenyum kecil melihatnya, wajahnya merona.
Aku merasa nyaman. Tapi kenapa aku merasa canggung. Ini kali pertamanya aku merasakan kebahagiaan yang manis
Sekertaris Dani tersenyum melirik mereka
dari kaca spion."Tuan Muda kita sudah tiba"
Arya memegang tangan Yesa saat mau membuka pintu mobilnya ."Tunggu! Biar aku yang melakukannya untuk mu." Buru-buru turun lalu berjalan cepat menuju pintu mobil satu lagi. Setelah terbuka ia mengangkat tubuh istrinya dengan sangat lembut.
"Kenapa kamu menggendongku lagi?
hei turunkan aku." Yesa meronta lagi
Arya tidak memperdulikannya.
"Selamat datang." Sapa Ketua pelayan dan para Pelayan lain di depan pintu masuk utama kediaman Hendra menyambut kedatangannya. Mereka membungkukkan badan dengan sopan saat melihatnya datang.
"Tuan Muda, ada apa dengan Nona Muda? Kenapa Anda menggendongnya?" Ketua Pelayan bertanya dengan kuatir
"Bantu siapkan satu kamar dan bantu istriku mempersiapkan malam pertama ku. Cepat!"
"Baik Tuan Muda "
****
Di kamar
"Nona, biarkan saya bantu Anda untuk menyiapkan air mandi." Kata salah satu Pelayan dari kedua Pelayan wanita di yang sudah tugaskan untuk melayani seorang Nona Muda.
"Terimakasih"
"Nona, biarkan saya bantu anda melepaskan pakaiannya." Pelayan dua bicara
"Terimakasih, tapi tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri."
"Maaf Nona, jika kami tidak bisa mengerjakannya. Tuan Muda akan memarahi kami" Ujar Pelayan gelisah
"Sungguh, aku bisa melakukannya sendiri. Biar aku menjelaskan masalah ini pada suami ku nanti."
"Tapi setidaknya, mohon ijinkan saya untuk membersikan wajah anda Nona." Pelayan tidak ingin menyerah.
"Tidak perlu, terimakasih sungguh aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi Nona.."
"Nona saya sudah menyiapkan air hangat,
saya akan bantu memandikan Anda." Kata pelayan satu yang baru saja muncul dari kamar mandi
"Apa? memandikan ku?" Yesa tercengang "Tidak perlu! Aku bisa mandi sendiri." Buru-buru berlari memasuki kamar mandi dan mengunci pintunya.
Kedua pelayan itu hanya bisa mengetuk pintu dari luar seraya berkata. "Mohon Nona Muda, biarkan kami membantu Anda."
"Terimakasih, sungguh aku bisa melakukanya sendiri."
Hening.
Menjengkelkan sekali
"Wahh, luas sekali kamar mandinya" Yesa mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan."Ini bahkan lebih luas dari kamar mandi bocah itu. Udaranya juga sangat harum." Ia melepaskan gaun pengantinnya lalu menceburkan diri kedalam bathub.
"Aku di paksa menikah seperti ini, tapi kenapa aku merasa bahagia? Tidak tahu kenapa saat dia menggendong ku tadi, aku merasa senang. Waktu itu sungguh aku merasa dia akan selalu melindungi ku dari gangguan manapun."
Susah payah aku baru bisa mendapatkan mu. Bagaimana mungkin dengan begitu mudah aku melepaskan mu.
Yesa teringat sejenak dengan kalimat yang sudah terlontar dari bibir suaminya.
"Apa maksud dari kata-katanya itu?" Berpikir " Entahlah tidak terpikir olehku. Meski dingin begitu aku merasa terharu dan sangat bahagia."
Setelah selesai dengan urusan mandinya
Yesa membuka sedikit pintu kamar mandi, mengintip kedua Pelayan yang masih menunggunya di depan pintu. Meminta pada para pelayan menyerahkan baju tidur padanya.
"Ini baju tidur anda Nona." Ujar pelayan
"Terimakasih" Yesa menutup pintu kamar mandinya kembali. Beberapa saat kemudian ia keluar dari sana.
"Nona, sudah kami persiapkan tempat tidur Anda." Kata Pelayan lagi seraya menunjuk tempat tidur dengan sopan.
Keadaan tempat tidur itu indah sekali. Sprei berwana putih di hiasi dengan sedikit taburan bunga mawar merah di tengahnya. Ada lilin aroma terapi berwarna putih yang terletak di bawah lampu tidur.
"Baik, Terimakasih"
"Tuan Muda"
Hormat Pelayan membungkukkan badannya ketika melihat Arya berjalan memasuki kamarnya. Dia berjalan menuju meja rias, meraih sebuah sisir rambut lalu duduk di bibir tempat tidur
"Keluarlah" Arya bicara pada Pelayan
"Baik Tuan Muda"
"Tadi aku mendapat telepon dari Dani, dia bilang Nenek sudah pulang ke rumah.'' Kata Arya setelah para pelayan menghilang di balik pintu tertutup
"Syukurlah." Yesa menarik nafas lega." Kenapa rambutmu jadi begini?" Yesa heran ini kali pertama baginya melihat rambut Arya yang baru saja habis keramas. Membuat wajah dinginnya berubah seperti bocah.
"Aku baru saja mandi, Jika kena air, rambutku jadi begini." Ujar Arya seraya mengeringkan rambut basahnya dengan menggunakan handuk kecil.
"Begitu ya." Lucunya hihi
"Duduklah" Arya menepuk tempat tidur agar gadis itu duduk di sana
Yesa mengerutkan kening." Untuk apa kamu menyuruh ku duduk di sampingmu?"
Entah karena apa ini kali pertamanya Arya menampakkan senyum nakalnya yang mempesona pada istrinya. "Aku ingin bantu kamu merapikan rambutmu." katanya sambil mengangkat sebuah sisir rambut di tangannya
"Begitu ya, baiklah." Yesa duduk lalu berbalik, sementara Arya mulai menyisir rambutnya
''Akh sakit!" Yesa menggema
"Jangan berteriak!"
"Kamu menyisirnya terlalu kencang."
"Aku bilang jangan berteriak!"
"Ah! Lebih lembut, jika ada luka di kepalaku,
kamu harus tanggung jawab." Yesa mulai kesal
"Tentu, aku akan tanggung jawab." Arya terkekeh."Tapi bagaimana rambutmu bisa seindah ini? "
"Entahlah, rambutku memang sudah seperti ini sejak lahir."
Arya meletakan sisir di meja samping tempat tidur, memandang wajah Yesa begitu dalam penuh makna. Reaksi yang normal saat ia mau menyampaikan perasaan terdalamnya.
''Maaf, sebenarnya kamu di paksa menikah seperti ini karena aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf."
"Dari awal aku sudah tahu, Ayahmu sengaja melakukan ini demi kebahagiaan mu." Yesa tersenyum, senyum yang membuat Arya kehilangan kata-katanya
Hening
Terimakasih ayah. sungguh aku bahagia karena sudah menikah dengan gadis pilihan mu
"Hei kenapa diam?" Arya tersadar "Apa kamu menyesal karena sudah menikah denganku?" Yesa menunjuk dirinya dengan wajah kikuk
Arya tercengang."Bodoh, kamu ini memang benar-benar bodoh, Jika bukan karena aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku bersedia menikah denganmu."
"Sungguh?"
"Memang, apa lagi yang seharusnya aku lakukan, untuk membuatmu menjadi milik ku. Yesa sungguh aku benar-benar mencintaimu."
Karena terbawa suasana, perlahan Arya memajukan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibir Yesa. Entah kenapa Yesa hanya diam, ini pertama kalinya ia merasakan kelembutan yang sangat hangat dari bibirnya. Menunduk sekaligus merinding saat sapuan bibir Arya mulai menjelajahi kulit di sekitar tengkuknya semakin lembut semakin hangat terasa....
Brukkk
"Aah! sakit"
Belum sempat Arya membuat istrinya bergairah kening Yesa sudah mendarat mulus di lantai, tersungkur karena terdorong dengan tubuh suaminya yang sexy nan indah itu. Kedua tangan Arya langsung menarik kedua bahu Yesa supaya duduk dari posisinya.
"Istriku, kamu tidak apa-apa?" Arya khawatir tangannya memegang kedua pipi Yesa dengan lembut.
Istriku! Ya tuhan aku bahagia mendengarnya
Yesa hanya geleng-geleng
"Sungguh?"
Yesa mengangguk. "Sungguh aku tidak apa-apa."
"Istriku, kening mu memar." Ujar Arya sambil menyentuh kening Yesa
"Aah, sakit!" Yesa mengerang
"Aku akan ambilkan obat untukmu, kamu tunggu disini."
Yesa mengangguk lagi.
Arya buru-buru berjalan mengambil obat dalam kotak P3k. Beberapa saat kemudian dia muncul lagi seraya membawa sebuah obat di tangannya
"Istri ku duduklah"
Yesa menganggukkan kepala lalu duduk di sofa
"Besok akan ada pemotretan, aku akan oleskan obat ini dengan hati-hati. Jangan sampai ada memar di kening mu." Arya bicara sambil mengoleskan obat pada kening istrinya
"Terimakasih."
Ya Tuhan Aku tidak pernah menyangka ternyata dia laki-laki yang begitu lembut dan sangat perhatian seperti ini
"Ini harus hati-hati, jangan sampai terkena mata."
"Aduh, perih mataku perih." Terlambat, Yesa merintih saat sudah terlanjur mengucek matanya. Dan sepertinya efek samping obatnya mulai bereaksi.
Arya menarik tangan Yesa. "Jangan di sentuh! Jika kamu menyentuhnya matamu akan menjadi semakin perih. Diamlah!" Ujarnya panik
"Perih, mataku sangat perih.'' Saking perihnya Yesa menangis
"Aku harus membilasnya, istriku ikutilah aku." Arya menarik tangan Yesa memapahnya berjalan dengan cepat menuju kamar mandi
"Ini sangat perih, mataku sangat perih "
Arya membuka keran air. "Diamlah, aku akan membilasnya dengan air, majukan wajahmu."
********
"Sudah lebih baik sekarang?" Arya bertanya sesudah meneteskan obat cair pada mata istrinya
"Ini masih sedikit perih dan sulit untuk membuka mata "
"Jangan buka matamu. Sebaiknya kita pergi ke kamar dan tidur." Saran Arya sambil merapikan kembali peralatan obatnya.
"Baiklah, terimakasih." Yesa menundukkan kepala, bangun dari duduk melangkahkan kaki dengan mata tertutup
Brukk, satu kaki Yesa tersandung meja
"Hati-hati." Dengan refleks Arya bangun dari duduk, tangannya bergegas menangkap tubuh Yesa dari belakang saat nyaris terjerembab di lantai
Gadis itu langsung berdiri kembali dengan tegak, saat menoleh ia nyaris bersentuhan dengan bibir suaminya.
"Maafkan aku."
"Istriku, ayo biarkan aku memapah mu "
Arya meraih tangan Yesa agar mengikutinya di belakang. Tidak pernah terbayang olehnya saat menggenggam lembutnya tangan Yesa sambil berjalan. Pandangannya tulus, seolah cinta dan kasih sayang mengalir di tangannya. Ini adalah kali pertamanya ia merasa begitu bahagia sebesar ini.
"Naiklah."
"Suamiku, apa kamu marah?" Yesa bertanya
saat sudah duduk di tempat tidur.
"Hemm" Arya tersenyum, wajahnya merona senang. "Kamu bahkan tidak bisa melihat ku. Bagaimana kamu tahu aku sedang marah?"
"Karena aku hanyalah gangguan yang selalu membuatmu marah." Suara Yesa terkesan mengharukan saat menyampaikannya membuat Arya merasa bersalah setelah mendengarnya
Dulu ia memang berkata begitu karena belum bisa membedakan antara cinta dan benci. Tapi sekarang ia menyadari bahwa cinta dan benci memiliki perbedaan yang sangat tipis.
"Awalnya kamu seperti itu bagiku. Tapi kini... kamu... untuk ku ..."
Arya bahkan tidak tahu kata apa yang harus diucapkan untuk seorang gadis yang sangat berharga di depannya. Seorang gadis yang sudah membuatnya tahu akan arti kebahagiaan yang sangat tulus di dunia ini.
Hening
Kenapa diam
"Apapun arti ku bagimu. Aku tidak akan keberatan." Setelah bicara Yesa melebarkan senyum indahnya, senyum yang membuat suaminya terpesona.
Tiba-tiba, Arya mencium habis bibir tipisnya dengan sangat lembut. Secara perlahan kedua tangannya mendorong bahunya agar berbaring di bantal tidur. Ciumannya beralih pada bagian leher dan tangannya mulai meraba kemana-mana. Saat berhenti wajahnya mendekat.
"Istriku, kamu sudah siap?" Ia bertanya dengan suara lembut, gadis yang di tanyai hanya menganggukkan kepala, sambil berusaha membuka matanya sedikit-sedikit karena masih perih
"Jangan buka matamu, serahkan padaku, aku akan melakukannya dengan sangat lembut."
Belum di jawab tangan Arya sudah melepaskan baju yang di pakainya, membuangnya ke lantai, tangannya beralih menanggalkan semua pakaian istrinya satu persatu tanpa ada yang tertinggal. Sesudahnya ia kembali mengecup bibirnya lalu menurun ke leher, di kecupnya sampai meninggalkan bekas warna merah.
Gadis itu mulai mengerang, saat Arya menghisap puting dadanya. Dan satu tangannya bermain di bagian sensitifnya dengan kelembutan.
"Emmh"
Arya tersenyum setelah mendengar istrinya mendesah. Nafasnya naik turun, seolah menunggu kejantanannya.
"Malam ini, meskipun kamu berteriak sekencang apapun, aku tidak akan melepaskan mu."
kalimatnya terdengar lembut, pandangannya menggoda seolah ingin segera memakan istrinya hidup-hidup. Setelah bicara ia menaruh lututnya bertumpu di antara kedua belah paha istrinya yang sudah terbuka dengan lebar. Dalam sekejap ia menghentakkan tubuhnya.
"Aah!"
"Istriku, aku mencintaimu." Ia berbisik lembut di dekat telinga Yesa
Mimpi. Bukan ini bukan mimpi. Ini kenyataan.
Aku dan dia ... Bukan ! Walaupun ini mimpi, aku berharap tidak akan pernah bangun
Gumam gadis itu dalam hati, kini ia hanya mampu mencengkram jemari suaminya Rintihan bahagia pun masih terdengar hingga larut malam.