Kabur dari rumah agar terhindar dari perjodohan yang tak di inginkan, namun siapa sangka Eliana justru masuk kedalam lubang buaya. Ia harus berurusan dengan seorang lelaki yang super nyebelin menurutnya yang telah mempekerjakan dirinya sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah lelaki itu.
Dan masih banyak lagi kisah cinta pasangan muda mudi yang akan menemani Eliana di setiap episode nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diah mahlipi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa itu Velari
"Velari, siapa dia?" ucap El bertanya serius.
"Apa Aaron tidak memberitahu padanya? tapi kenapa ... ah sudahlah, toh bukan urusanku," batin Arkan memangku dagunya.
"Woy, aku nungguin loh!" kesel El karena Arkan malah diam melamun.
"Kamu tanya saja padanya setelah Aaron pulang nanti," jawab Arkan.
"Kenapa? kenapa Om sendiri gak mau kasih tau aku siapa itu Velari?" tanya El heran menatap curiga.
"Bukan urusanku, nanti aku kasih tau takut ada kesalahan. Lebih baik kamu tanyakan langsung saja padanya." lagi-lagi Arkan tak ingin memberitahu padanya.
"Om, Please... "
" Tidak, Eliana," tegasnya menjawab membuat El mendesah kecewa.
"Om, jangan buat aku mati penasaran dong." kekeh El membujuk Arkan.
Arkan mendesah," Gak bisa El, kalau Aaron saja. tidak memberitahu mu lalu kenapa aku harus memberitahumu!" jawab Arkan.
El menampilkan wajahnya murung, ia begitu penasaran siapa itu. Velari dan apa hubungan mereka.
"Apa Velari begitu penting baginya?" tanya lirih.
"Emmm, mungkin," sahut Arkan santai.
"Oh gitu ya...," ucapnya kecewa.
Arkan menjadi tidak enak, ia pun merasa bersalah.
"Sebaiknya kamu pulang, jadilah gadis baik dan menunggu Aaron di rumah. Aku sibuk, banyak kerjaan yang harus aku kerjakan. Pulanglah," ucap Arkan santai sambil membereskan berkas di atas meja.
BRAAAAK....
Arkan meloncat kaget, berkas -berkas di tangannya itu berterbangan karena tak sengaja ia buang sangking kagetnya tadi.
"Sibuk apanya?" tanya El dingin menatap tajam Arkan.
"S-sibuk... "
" Sibuk main sama perempuan, begitu? Heh, itu yang kau bilang sibuk?" hardiknya kesal. Amarah mencuak, memang ingin ia lampiaskan.
"Ya-ya begitu lah. Makanya kamu lebih baik pulang." Arkan sedikit terbata sambil mengelus dada yang dek-degan karena takut.
Buag...
El memukul wajah Arkan cukup kuat, lelaki itu tersungkur ke lantai. Ia memenangi wajahnya menatap Eliana.
"Brengs*k, kalian laki -laki semua sama. Sama sama brangs*k!" kesel El mencengkram kerah baju Arkan.
Lelaki itu hanya menelan ludahnya kasar, Eliana lebih menyeramkan di banding Aaron. Ia pun berpikir sejenak, kalau Aaron di hajar habis oleh Eliana, mungkin lebih seru. Pikirannya tersenyum licik.
"El...!" panggilnya bangkit.
"Apa!" ketus El menjawab datar.
"Galak bangat," gumam Arkan lagi-lagi menelan ludahnya kasar.
"Oke, aku akan memberitahumu siapa itu Velari. Tapi setelah itu, apa kamu boleh pergi dari kantor ini?" tawar nya ragu-ragu.
"Apa kau ingin masuk rumah sakit, atau masuk kuburan?" tanya El dingin.
Arkan kembali menelan ludahnya, sedikit gemetar. Wanita di hadapannya ini begitu mengerikan. Sangat jauh dari pandangannya awal bertemu yang ia pikir hanyalah gadis manja.
"S-santai El, aku cuma bercanda doang kok," ucap Arkan memaksa senyumnya.
"Katakan, siapa itu Velari?" tak mau menunggu waktu lama lagi, El sudah tak sabaran ingin tahu.
"Bahaya, gadis ini benar-benar menakutkan. Aku harus secepatnya pergi dari sini," batin Arkan bergidik ngeri.
"Om, apa kau menguji kesabaran ku?"
"Hehehehe, slow El ... Velari itu kekasih Aaron yang kabur beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang dia ada di Amerika, sebab itulah Aaron menyusulnya ke sana! Apa kau puas sekarang?" ucap Arkan menjelaskan sangat yakin sehingga membuat El bungkam terlihat jelas wajah kecewanya di sana.
"El, kamu gak apa-apa? " tanya Arkan.
Ek tak menjawab, matanya saat ini merah dan berkaca -kaca. Ia menepis tangan Arkan yang sedang menyentuh bahunya, lalu berlari keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Arkan mengelus dadanya menatap kepergiannya Eliana yang menutup pintu dengan membantingnya keras.
"Selamat, untung udah pergi. Tapi kasihan juga sih melihatnya sedih. Tapi biarlah, biar Aaron nanti yang menanggung akibatnya. Hehehe, sorry bro, ini balasan karena lo sudah memberikan pekerjaan banyak sama gue. Semoga beruntung minggu depan ya bro!" ucap Arkan tertawa jahat.