Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Semburat jingga terlukis dilangit. Sang surya mengintip dari balik bukit dan perlahan tenggelam. Semilir angin senja bertiup, menerbangkan daun-daun kering yang berguguran dihamparan rumput. Di sana, seorang gadis bersurai coklat duduk termenung memandang langit senja, disampingnya seorang pemuda terlihat masih terlelap dalam dunia mimpinya.
Desiran angin menggoyangkan helaian panjang si gadis. Matanya terpejam menimati hembusan angin yang menerpa wajah cantinya. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah merasakan perasaan sedai ini," ujarnya lirih.
Dia masih setia dihamparan rumput, bercengkrama dengan angin senja yang senantiasa menemaninya tanpa bosan. Sesekali pandangannya beralih pada pemuda tampan yang terlelap damai disampingnya. Gadis itu 'Jia' ingin sekali membangunkan Justin tapi merasa tidak tega.
Tiba-tiba ponsel milik Justin bergetar, saat gadis itu menoleh. Pemuda berwajah stoic itu telah terbangun dan terlihat beranjak dari posisi berbaringnya. Justin berjalan sedikit menjauh dari Jia hingga yang terlihat hanya punggung lebarnya. Tapi Jia tidak mau ambil pusing dan tidak ingin tau dengan urusan Justin, toh itu bukan urusannya. Lalu ia arahkan kembali pandangannya pada langit senja sampai ia merasakan tarikan pada lengannya. "Kita pulang, aku ada urusan penting."
"Eh," membuat gadis itu terkejut "Pelan-pelan, Justin Qin. Kau membuatku hampir terjatuh." protes Jia tapi tak dihiraukan oleh Justin.
Pemuda itu tetap tidak menghentikan langkahnya. Jia terus bertanya-tanya, memang urusan apa sampai-sampai Justin terlihat begitu panik. 'Mungkinkah masalah lagi dengan geng lain?' fikirnya.
Justin tetap tidak menjelaskan apapun bahkan setelah mereka didalam mobil. Justin diam 1000 bahasa dan hanya fokus pada jalanan didepannya. Jia ingin sekali bertanya tapi rasanya sangat tidak sopan. Ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, bahkan itu Justin yang kini menjadi salah satu teman terdekatnya. Akhirnya Jia memilih untuk tetap diam dan menatap keluar jendela
Tiba-tiba ponsel Justin kembali berdering. Jia meliriknya melalui ekor matanya dan melihat Justin seperti sedang berbicara dengan seseorang. "Tahan dia di sana, dan jangan bertindak apa pun sampai aku datang." Pip, Justin memutuskan sambungan telfonnya dan menambah kecepatan pada mobilnya.
Tubuh Jia menegang, nyawanya serasa tercabut perlahan-lahan dari dalam tubuhnya 'Justin gila, dasar rusa tidak waras. Gila gila gila,' gadis itu terus memaki Justin dalam hati, menyumpahinya dengan berbagai sumpah serapah. Justin berdecak dan sedikit mengurangi kecepatan pada mobilnya. "Kau terlalu penakut, Min Jia." gumam Justin mencibir.
"Itu karna kau terlalu gila, Justin Qin. Kalau ingin pergi ke neraka sebaiknya jangan mengajakku, kau pergi saja sendiri. Aku masih muda dan memiliki sebuah impian besar, selain itu aku masih belum menikah apalagi merasakan bagaimana rasanya malam pertama. Jadi aku tidak ingin mati muda." ujarnya panjang lebar.
Hampir saja Justin tersedak ludahnya sendiri karna penuturan konyol Jiq. Pemuda itu mendengus geli, mengabaikan Jia yang terus mendumal tidak jelas. Justin tetap fokus pada jalanan aspal di depannya, dan tepat pulul 18.30 mereka tiba di kediaman Jia. Jia langsung masuk kedalam rumahnya tanpa mempersilahkan Justin untuk masuk terlebih dulu.
Sedangkan Justin langsung melesat menuju markasnya. Felix dan Sehun menangkap beberapa tamu tak di undang yang berani menyelinap masuk kedalam maskas mereka saat penghuninya tidak ada. Penasaran, Justin bergegas pergi kesana. Ia harus tau apa motif dan tujuan mereka.
Brakkk!!
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan semua orang yang berada dalam ruangan itu termasuk beberapa pria yang tidak jelas lagi bentuknya. Tubuh mereka terikat kuat dengan tali dan duduk bersimpuh dilantai.
Wajah mereka penuh coretan tinta serta banyak ikatan pada rambut masing-masing hasil karya Sehun, Felix dan Thomas.
Tubuh mereka dalam keadaan setengah telanjang, hanya tinggal ****** ***** yang melekat ditubuh mereka.
"Hyung," seru Felix saat menyadari kedatangan Justin.
"Siapa mereka?"
"Kami juga tidak tau. Saat kami tiba ketiga bocah setan ini sudah menangkap mereka dan membuat bentuk mereka menjadi seperti ini." ujar Leo.
Justin menghampiri kelima orang itu kemudian berlutut dan mensejajarkan posisinya dengan mereka. "Katakan, siapa yang mengirim kalian dan untuk apa kalian mendatangi tempat ini saat aku dan teman-temanku tidak ada?" tanya Justin, matanya memancarkan sebuah amarah yang siap meledak kapan saja.
Mereka menciut melihat tatapan super tajam Justin.
"Ma..maafkan kami. Ka..kami tidak tau apa-apa. Tiba-tiba ada pria yang menghampiri kami dan meminta kami untuk tinggal di sini, dia juga memberi kami uang yang sangat banyak. Dia bilang kami bisa melakukan apapun yang kami inginkan karna adiknya selaku pemilik rumah ini sudah tenggelam di lautan."
Gyutt!!
Justin menggepalkn tangannya. Tanpa bertanya lebih lanjut pun Justin tau siapa orang yang mereka maksud. "Lepaskan mereka, aku akan membuat perhitungan dengan seseorang." ucapnya dan berlalu begitu saja. Felix, Sehun dan Thomas pun langsung melepaskan mereka dan mengembalikan pakaian mereka yang sempat disita lalu melepaskan mereka tanpa syarat.
Sementara itu, Justin yang dikuasi emosi mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Ia akan membuat perhitungan dengan kakaknya itu.
.
.
Saat tiba dirumah. Justin langsung disambut dengan sebuah pesta besar. Tamu yang datang adalah kolega bisnis ayahnya, bukan hanya dari Korea tapi dari luar negeri juga. Justin dihadang oleh beberapa orang yang menanyakan undangan
"Maaf, Tuan. Tanpa undangan anda tidak bisa masuk. Lagi pula ini bukan tempat untuk seorang brandalan mencari sumbangan." Justin mendengus seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya dua pria dihadapanhya sudah bosan hidup sampai-sampai berani mencari masalah dengan iblis yang sedang kelaparan.
"Bre*gsek, senak jidat kalian menyebutku pengemis. Asal kalian tau, aku Tuan Muda dirumah ini. Jadi minggir dan jangan halangi jalanku jika kalian tidak ingin berakhir dipemakaman umum."
"Sepertinya kau tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik. Jangan salahkan kami jika kami harus melakukan tindakan tegas dan mengusirmu dengan tidak hormat." Salah satu dari kedua pria itu memberi kode pada teman-temannya untuk menyerang Justin.
Justib yang memang membutuhkan pelampiasan akan melampiaskan kemarahannya pada orang-orang ini. Keributan yang terjadi diluar menyita perhatian para tamu undangan. Semua berhamburan keluar termasuk sang tuan rumah, setibanya diluar mereka disuguhi sebuah perkelahian yang sangat menegangkan. Seorang pemuda berkelahi melawan sedikitnya tujuh orang yang enam diantaranya telah tumbang dan tak berdaya dengan beberapa luka pada sekujur tubuhnya.
Berbeda dengan Justin yang tampak baik-baik saja meskipun luka tampak pada pelipis kanan dan bawah mata kirinya. "Justin hentikan," seru Alex membuat gerakan tangan Justin terhenti beberapa centi dari wajah pria dihadapannya
"Apa-apaan kau ini, pergi berhari-hari dan pulang-pulang malah membuat keributan. Apa kau ingin mempermalukan papa didepan semua rekan bisnis Papa, eo?" amuk Alex pada putra bungsunya.
Justin menyeka darah yang ada dibawah matanya lalu menghampiri sang ayah "Memangnya siapa yang mengijinkamu membuat pesta dirumahku?"
"Justin, jaga sikapmu. Dia ayahmu,"
"Diamlah, Kim Hanna, tidak ada yang memintamu untuk bicara." bentak Justin seraya menunjuk Hanna tepat didepan wajahnya. "Kau hanya orang asing, sebaiknya tidak usah ikut campur urusan keluarga ini."
Sakittt....
Itulah yang Hanna rasakan saat ini. Justin begitu membencinya dan sepertinya masih belum bisa memaafkannya. Hanna menyadari kesalahannya pada Justin, tapi tidak bisakah dia memaafkannya sekali saja.
"Jaga bicaramu, Justin Qin Dia istri Papa yang artinya dia Ibu kita." seru Brian menengahi. Justin menyeringai dan menatal remeh kakaknya itu.
"Dasar ular berbisa, munafik dan sok benar. Manusia sepertimu tidak layak untuk tetap hidup, aku sangat berharap agar kalian mati saja. Aku muak melihat muka sok baik kalian," ujar Justin dan berlalu begitu saja.
Tubuh Brian dan Alex sedikit terhuyung karna senggolan Justin pada bahunya. Justin masuk kedalam rumah sambil menggenggam sebuah tongkat besi, dengan geram... Justin menghancurkan pesta yang masih berlangsung itu termasuk kue bertingkat yang masih belum tersentuh. Ia muak dengan semuanya, dengan penghianatan yang dilakukan kekuarganya sendiri.
Pesta perayaan satu tahun pernikahan Alex dan Hanna memang tidak seharusnya ada. Justin benar-benar menghancurkan semuanya. "BUBAR SEMUANYA, PESTANYA SUDAH BERAKHIR." teriak Justin pada semua tamu undangan yang datang.
"JUSTIN QIN!" geram Alex. Dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun ia mekayangkan tinjunya pada wajah Justin hingga membuat sudut bibirnya robek dan berdarah. "Dasar anak kurang ajar, tidak tau di untung. Aku membesarkanmu, menghidupimu dan inikah balasanmu?"
Brugg!!
Dengan kasar Justin mendorong tubuh Alex hingga terhuyung. "Apa kau bilang? Apa aku tidak salah dengar? Memangnya sebanyak apa uang yang kau keluarkan untukku? Bangun, Alex Qin, bangun, apa kau mulai pikun... bukan kau yang menghidupiku dan membiayai semua kebutuhanku selama ini tapi kakek, bahkan kau tidak melakukan apapun untukku. Kau hanya melakukan semuanya untuk Brian, bukankah selam ini putramu hanya dia? Jadi untuk apa sekarang kau mengungkit-ungkit hal yang tidak pernah kau lakukan sebagai seorang Ayah?
MEMANGNYA AYAH MACAM APA KAU, ALEX QIN? KAU MENELANTARKAN PUTRAMU SENDIRI KARNA KAU ANGGAP MEMBAWA SIAL DAN AYAH MACAM APA YANG TEGA MEREBUT KEKASIH PUTRANYA SENDIRI? LALU, APAKAH BAJ)NGAN SEPERTIMU MASIH LAYAK DISEBUT AYAH? KADANG AKU BERFIKIR KENAPA HARUS KAKEK YANG MATI SAAT ITU, KENAPA BUKAN KAU SAJA. AKU BENAR-BENAR BERHARAP KAU MATI DAN MENGHILANG DARI DUNIA INI."
"JUSTIN QIN"
"DIAMLAH KAU, BAN*SAT. KAU SAMA BEJADNYA DENGAN AYAHMU ITU. KALIAN AYAH DAN ANAK SAMA SAJA. SAMA-SAMA BIADAB." Justin melemparkan besi ditangannya dan pergi begitu saja.
Alex menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan mengusap wajahnya. Ia tidak tau harus berbuat apalagi. Justin benar-benar membencinya. Ia memang salah telah memperlakukan Justin dengan berbeda. Sejak kecil ia selalu memanjakan Brian dan mengunggul-unggulkannya. Selalu membanding-band
ingkan Justin dengannya.
Dan saat Justin dewasa ia malah melakukan kesalahan yang lebih fatal dengan merebut Hanna dari pelukkan putranya. Ia sadar jika kesalahannya pada Justin memang tidak akan pernah bisa termaafkan.
Melihat semua orang sibuk dengan masalahnya masing-masing. Hal itu Thalita manfaatkan dengan menyelinap masuk kedalam kamar Justin. Ia melihat adik iparnya itu sedang mengobati dan menutup lupa pada pelipis serta bawah mata kirinya dengan perban. Thalita menghampiri Justin lalu memeluknya dari belakang. "Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini, jika kau ijinkan. Aku bisa mengobati hatimu yang luka."
Justin berbalik dan mendorong Thalita hingga terhempas kelantai. Dengan kasar Justin mencengkram rahang wanita itu dan menatapnya tajam. "Dengar ya, jal*ng. Meskipun wanita didunia ini hanya tinggal kau saja, aku tidak akan sudi untuk berhubungan denganmu. Keluarlah sebelum kesabaranku benar-benar habis."
"Uuhh, kau begitu dingin, adik ipar. Aku tau, kau membutuhkan seseorang untuk memuaskanmu dan mengurangi luka dihatimu. Dan aku di sini untuk itu."
Thalita tersentak saat sebuah ujung pistol menempel pada keningnya, keringat dingin mulai bercucuran dan membanjiri tubuhnya. "Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Aku tidak peduli siapa pun dirimu, jika kau berani membuat masalah denganku. Aku tidak akan segan-segan menembak kepalamu dan memutilasi tubuhmu."
Jistin menarik kembali senjatanya dan pergi begitu saja. Mungkin coctail akan sedikit mengurangi rasa pening di kepalanya. Ya, Justin berencana mendatangi bar Xion dan menghabiskan waktunya di sana.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....