NovelToon NovelToon
BIMA LOVERS

BIMA LOVERS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.

Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.

Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.

Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taman Komplek

Hey guys maaf banget baru bisa update

Suasana hati lagi gak mood nulis di tambah banyak kerjaan

Langsung cus baca aja ya

Jangan lupa Vote sama Komennya

***

Bima bangun tidur tidak biasanya, bangun siang seperti bukan dirinya saja. Ia melangkah keluar dan menutup kembali pintunya di tengah perjalanan dia melihat pintu kamar Nabila. Ia menintip apa yang di lakukan Si Kalem penuh misterius sedang duduk serius di depan meja dan matanya penuh teliti menatap laptop dan tangan masih sibuk mengetik, mungkin mengerjakan tugas, pikirnya. Saking penasaran Bima menghampiri adiknya masih belum menyadari kedatangannya berdiri di belakang dengan diam. Ia masih melihat apa yang di lakukan oleh Nabila begitu serius sampai tidak menyadari kedatangan Bima sejak tadi.

"Ehm," suara dehaman Bima membuyarkan kefokusan Nabila meski niatnya tidak menggangu tapi tetap saja Bima ingin tahu apa yang sebenarnya di lakukan Nabila dari tadi. 

Nabila menoleh kebelakng dengan wajah terkejut, "Kak Bi, ngapain disini?" Ungkap Nabila to the point tampak ada sesuatu yang aneh melihat ke arahnya.

"Memang gak boleh?"tanya Bima dengan bersedakep menatap Nabila. 

"Boleh." katanya singkat.

"Habis kamu serius banget, sampai gak sadar kakak sejak tadi berdiri di belakang kamu. Lagi ngerjain apa sih? Serius banget!" Kata Bima tidak sabar ingintahu. 

"Nabil lagi ngerevisi naskah ceritaku kak," Jelas Nabila tapi Bima masih belum puas akan jawaban adiknya. Ia duduk di sisi ranjang.

"Memangnya cerita kamu mau di terbitkan?"

Nabila mengangguk. "Udah dua kali revisi masih aja di tolak sama Editornya, Kak. Aku bingung padahal cerita gak masuk dalam cerita berat, malah ini sangat mudah di pahami pembaca. Tapi tetap aja di tolak." Cetusnya sebal akan Editor yang merevisi naskahnya.

Baru kali ini Bima mendengar Si Kalem bicara panjang lebar, bukannya apa-apa di keluarganya yang pelit akan bicara adalah Nabila, berbeda dengan adiknya, Si Bawel, siapa lagi kalau bukan Nadila. Saking bawel netizen pun lewat.

Sebenarnya Bima sudah tahu kalau Nabila punya hobby menulis sejak masih SMP sampai sekarang berawal dari novel yang sering dibacanya hingga dia nekat menulis dengan rasa penasarannya.

"Mungkin cerita kamu masih kurang dalam segi plot atau mungkin EYD-nya, kamu gak boleh menyalahkan Editor karena mereka banyak penulis bisa menerbitkan bukunya. Kenapa gak minta bantuan Tante Rara, beliau kan Editor juga."

"Aku tahu, kak, tapi Editornya nyebelin. Kalau soal Tante Rara, aku malu. Aku gak pede dengan ceritaku kalau harus minta bantuan dia. Kan masih amatiran. Bukan profesional."

"Kakak paham, gak maksa sih, tapi kalau kata kakak kamu coba dulu."

"Iya nanti aku coba deh." Ucap Nabila masih ragu apa memang harus minta bantuan Tantenya, bagaimana kalau ceritanya mendapatkan ejekan? Eh, tapi tantenya tidak mungkin seperti itu.

Bima beranjak dari duduknya mendekati Nabila dan mengelus rambutnya halus. 

"Gitu dong, baru anaknya Daddy Reza." Bima tidak bisa membantu tapi setidaknya dia bisa memberikan Nabila semangat.

"Kak… " Panggil Nabila sedikit meremas tangan dengan perasaan gugup.

"Apa, ada yang mau kamu bicarakan lagi?" Bima masih setia menatap adiknya terlihat takut, tapi mungkin itu hanya perasaanya.

"Kak Arsen ajakin aku kondangan minggu depan, boleh gak?" tanya Nabila menunduk takut kalau kakaknya bisa marah membicarakan Arsen yang notabenenya playboy dan pria mesum. 

"Kamu tahu kan jawaban kakak?" Kata Bima tegas dan penuh penekanan. Bima bukan mau mengatur privasi adiknya tapi dia ingin menjaga adik-adiknya dari hal atau seseorang yang memang tidak baik untuk mereka meski orang itu adalah orang dekatnya sekalipun. Kalau memang baik menurutnya Bima tidak akan melarang.

Nabila mengangguk, mengiyakan. 

"Kakak ke bawah dulu!"

***

Bima menuruni anak tangga dengan langkah pelan tegak pandangannya bertenu dengan kedua orangtua tengah duduk menikmati acara televisi. Bukan hanya keduanya ada pula, Nadila memangku cemilan dan Kaivano duduk menyandar di bahu Luna dan sebelahnya ada Reza yang menatap serius pada layar televisi. 

"Siang, guys!" sapa Bima pada anggota keluarganya dan minus Nabila, yang berada di dalam kamar. Bima duduk di single sofa dekat Nadila. 

"Siang." Suara mereka serentak membalas sapaan Bima dengan kompak.

"Tumben baru turun, Bi? Biasanya kamu paling rajin," tanya Reza saat Bima sudah duduk di sofa berhadapan dengan Reza, Luna dan Kaivano terlihat begitu manja menempel disamping Luna.

"Maklum anak muda, semalam pulang larut jadi baru bangun jam segini." Sahut Bima. 

"Anak muda niye." Ledek Kaivano. "Terus gimana acara semalam seru gak, Kak?" tambahnya. Diantara mereka yang lebih antusias bertanya adalah si bungsu yang lain hanya jadi pendengar yang baik. 

"Biasa aja!" Singkat Bima.

Adiknya hanya manggut-manggut. Sudah tahu akan sifat Bima yang memang amat jauh dengan namanya wanita. 

"Dapat gebetan gak? Pasti banyak cewek-cewek cantik di sana." tanya Kaivano.

"Gak." Kata Bima menatap Kaivano penuh kekesalan. Ia memang selalu tidak suka dengan sifat adiknya cerewet seperti wanita. "Lagian disana pake topeng, mana kakak tahu mereka cantik atau gak!" lanjutnya secara sarkas.

"Buka dong, kak, topengnya. Gitu aja repot." Kaivano dengan kekonyolannya. 

Bima menghela nafas kemudian dibuang kasar. "Iyain aja biar cepet!" malas kalau harus berdebat dengannya yang ada darahnya semakin tinggi.

Kaivano mendengus dan merajuk pada Luna. "Mom, pantes Kak Bi jomblo selama ini."

"Kai." Sahut Luna. 

Bima mengambil keripik singkong milik Nadila dan pemiliknya hanya berdecak.

"Bi, sudah biasa diledekin Kai sudah kebal sama dia, saking kebalnya virus saja gak mau nempel ke Bima." Kata Bima dengan kepedaannya. Banyak orang pasti akan beranggapan kalau Bima  adalah sosok yang dingin dan pendiam. Tapi mereka tidak tahu kalau sebenarnya Bima adalah sosok yang berbanding balik dengan kesehariannya di kantor.

Kaivano melempar bantal kecil ke arah Bima. "Gak lucu, garing, brother."

Ia mengambil bantal bekas lemparan Kaivano yang tidak mengenainya malah terlempar ke bawah kakinya. 

"Tumbenan kamu ada dirumah biasanya keluyuran." 

Nadila dan kedua orang tua Bima hanya mendengarkan dua laki-laki sedang mengobrol karena jarang-jarang mereka bisa akur dan biasanya kayak kucing garong cakar-cakaran, baku hantam dan sebagainya maklum lah dua laki-laki ini punya tampang dan pesona yang berbeda jadi mereka selalu bersaing keras dengan cara apapun mereka ingin saling menang tanpa ingin ada kekalahan apalagi mengalah demi apapun sekalipun mereka berdua bersaudara.

Masih serius dengan obrolan Kaivano mengubah posisi tubuhnya tegak menyadar di sofa dan pandangannya mengarah pada Bima. Luna mengerakkan bahunya yang sedikit pegal karena ulah Si Bungsu.

"Lagi males, soalnya bingung mau ngajakin siapa hari ini."

Bima mengerut kening. "Maksudnya?"

"Pacar aku itu lebih dari satu, aku bingung kalau main harus ngajak Isabella atau Agatha." katanya dengan penuh kesombongan agar Bima iri. 

"Oh! Kenapa gak ajak dua-duanya saja, gitu ajak repot." Bima bersikap tenang agar tidak berpengaruh dengan ucapan Kaivano yang secara tidak langsung membuat meledeknya. Bima memang jomblo. Bukan berarti dia harus merutuki kejombloannya yang masih belum ada seseorang yang ngangkut dalam hatinya. Meski banyak sekelebatan wanita menghampiri.

"Bisa perang dunia shinobi ke ke empat kalau aku ajak mereka bersamaan yang ada nanti aku kena amukan mereka."

"Kamu takut di putusin mereka? Apa takut di amuk mereka?"

"Bukan dua-duanya. Kak Bi tahu gak, wanita super rempong dan super ngeselin. Mereka itu mahluk paling benar tidak mau disalahkan. Aku sih kalau di putusin tinggal cari lagi, tapi mereka yang gak mau dilepasin. Ibaratnya perangko sama amplop selalu menempel kemana-mana. Mereka lah yang rugi mutusin Kaivano Reza Winajaya yang gantengnya bisa ngalahin Shawn Mendes." Petuah Kaivano dengan kepercayaan tingkat dewa dan saking pedenya dewa yunani yang di gamblang penuh pesona dan ketampan di atas rata-rata saja lewat oleh Kaivano. 

Bima dan yang lain hanya menggeleng akan sifat Kaivano yang begitu confidene.

Luna memukul bahu Kaivano tiba-tiba. "Kalau ngomong tuh di saring, Mommy kesingung nih. Mommy kan juga wanita." Keluh Luna. Bima tersenyum seraya menikmati keripik singkong. Ia tidak habis pikir kelakuannya dan sifatnya seperti siapa?

"Mommy mah beda lah, Mommy itu terbaik dari segala yang terbaik di dunia ini." Kaivano memeluk Luna erat agar Mommy-nya tidak lagi tersingung. Kaivano lupa kalau mereka mengobrol bukan hanya berdua.

"Aku juga cewek Kai. Jaga mulut mau di lindes kontener biar mulut bisa layak bicara." Sahut Nadila dan segala keketusannya menatap Kaivano.

"Sorry deh, khilaf alias kelepasan." Sesal Kaivano penuh penyesalan amat teramat apalagi dengan bodohnya bisa bicara tanpa menyaring, melihat situasi maupun kondisi dan malah nyerocos keluar batas tanpa jeda. Dan Nadila hanya mendengus sebal. 

"Daddy, Kai itu kayak kamu banget deh!" tukas Luna pada suaminya yang sejak tadi fokus dengan layar TV tanpa bicara tapi yakin kalau Reza mendengarkan acara obrolan tadi. 

"Fitnah. Daddy gak begitu kok. Daddy anak baik-baik, zaman dulu masih sekolah, taat belajar, rajin menabung dan gak pernah keluyuran."Sanggah Reza cepat.

Anak baik-baik hamilin anak orang! Sarkas Luna dalam hatinya.

"Abel selalu cerita sama aku zaman kamu sekolah dulu sering gonta-ganti cewek. Nah, sekarang menurun ke Kai. Huh dasar gak mau ngaku." Delik Luna. 

"Tapi gak separah Kai, dia lebih parah malah. Aku mah cuma buat happy aja gak lebih."Kata Reza tidak mau di salahkan malah balik unjuk pada Si Bungsu.

"Sama aja Daddy!" Seru mereka bersamaan membuat Reza melebarkan mata dan terkejut. Lah kenapa jadi Reza yang menjadi bulan-bulanan, bukannya Kaivano yang berulah.

"Kok jadi Daddy?"

"Karena semua berawal dari Daddy, coba kalau Daddy dulu waktu masih muda kalem dan cupu pasti Kai gak akan begini." Kata Kaivano di angguki mereka semua. 

"Loh kok?" Reza bingung kenapa dia menadapatkan serangan bertubi-tubi.

"Ibarat pribahasa, buah tidak jatuh dari pohonnya."

Reza dilanda kebingungan. Siapa yang salah kok jadi aku yang kena getahnya. 

"Jadi Daddy yang salah?"

"YES!"

Mereka kembali berseru bersamaan membuat mereka geli sendiri. Dan malah tertawa akan kelakukan aneh yang mereka tidak tahu siapa yang mengawali.

***

"Mau kemana kak?"

Tanya seseorang dari belakang sontak Bima menoleh pada sumber suara. 

"Mau ke taman komplek. Kenapa?"Bima mengambil kunci motornya di saku celana. Niat Bima ingin mencari sesuatu untuk di makan karena rindu akan makanan di masa kecilnya.

"Boleh aku ikut?" kata Nabila dengan wajah harapan agar Kakaknya mengizinkannya ikut. Nabila merasa bosan.

"Boleh."

"Memang mau beli apa, kak?"

"Lagi kangen makanan masa kecil, cilok."

"Oh! Kirain mau ketemu seseorang." Tukas Nabila. 

Bima mengernyit. "Ketemu siapa di sana, kenal sama orang sini aja gak tuh." Ujar Bima.

Selama pulang dari Jerman Bima tidak pernah main atau bertukar sapa dengan anak komplek di sini, semasa sekolah dia lebih banyak menghabiskan waktu main dengan Gengkor dari pada berkenalan dengan anak komplek yang memang kebanyakan jadi anak rumahan.

"Kira aja mau ketemu jodoh."

Jodoh dari hongkong, pacar aja belum punya. Sahut Bima dalam hati. 

"Amin aja deh."

Bima menaiki motor matic sebagai kendaraannya dan Nabila duduk di belakang punggungnya. Perjalan Bima dan Nabila hanya butuh waktu sepuluh menit karena memang taman komplek mereka dekat dengan rumah. Biasanya para pedagang makanan berada di sini karena meski kalangan elit tapi yang namanya makanan mereka makan apa saja yang penting halal dan higienis.

"Tapi memang tukang ciloknya suka mangkal di sini, kak?" tanya Nabila. Pandangan mereka melihat ke sisi jalan.

"Dulu sih dia keliling komplek, tapi gak tahu sekarang. Kata Mang Kumis, tukang cilok suka mangkal di taman komplek." Jelas Bima di angguki Nabila yang notabene tidak menyukai cilok berbeda dengan adiknya Nadila sangat menyukai makan tersebut.

"Semoga aja kita bisa ketemu sama tukang ciloknya. Biar Kakak gak ileran."

"Sembarangan emang kakak bocah!"

Nabila terkikik geli mendengar ucapan Bima yang begitu ketara akan kekanak-kanakan. Kakaknya lebih manja dari pada adik-adiknya apalagi pada Mommy mereka. 

Akhirnya Bima sudah berada di taman banyak pedangan sedang berjejeran rapi. Taman komplek di sini agak lebih bersih karena tempat mereka jauh lebih layak dan beda dengan pedagang kaki lima yang sering di lihatnya. 

Bima menghentikan laju motornya dan melihat ke segala arah penjuru. Mencari jajanan yang di carinya. Namun tidak ada, hanya ada penjual kembang gulali, bakso, es nong-nong dan banyak lagi, ibarat bazar kuliner, hingga saat libur banyak pengunjung dari luar komplek datang kemari.

"Mana kak, gak ada."

Bima mengangkat bahu. "Gak tahu nih. Masa gak jualan sih."

Saat hendak melangkah ke arah lain, Bima memandang lekat seseorang yang di kenalnya. Ia tersenyum senang. 

Akhirnya ketemu lagi. 

***

Marhaban ya Ramadhan bagi yang menjalankan

Terima kasih

1
reea
blangkar or brankar bukan trolly thor🤣😭
Vy Maniez
saya sudah baca berulang x tapi belum ada jga lanjutannya.
Hardiana Rahim
othorrnya kmana ini?sdh brp tahun ini gk prnh up?mirisnya/Grimace//Smug/
ros
ceritanya gantung belum di selesaikan
adm dome
udah 1thn ga ad update an thor.
Desi Nofita Sari
ad yg tau thornya kemn
Desi Nofita Sari
kemna si author nya kok gak pernah up date n gak ad keterangan juga, padahal suka sm novel karya thor
Zulfha Barawas
halo thor .. apa kabar .. kangen cerita nya .. udab lama gak up 😭😭😭😭
Desi Nofita Sari
kok blm update juga kaj
Desi Nofita Sari
kemna kah gerangan author ini kok gak update2, msh ditunggu untuk selesai ni thor, kmu sehat kan
Desi Nofita Sari
kak thor kok gak up2 si kasih tau dong kenapa,,,, kamu sehatkan
Herlan Budiman
ini author'y kmna ya? ko ga pernah d lanjut
Khey Rachmat
kok ga update lg thor sudah mau setahun.. aku kangen bima
Hana Rohana
gantung ,bolak balik cek ga ada up terus
Lia ajalah 💋
otor ba'a kabanyo nih...kok gak pernah up lagi,gantung deh ceritanya tor ✌️😥
Anonim
Lanjut thor penasaran dengan cerita selanjutnya
Anonim
bima
Anonim
Yang A thor
Anonim
Visual siapa thor?
Desi Nofita Sari
thor knm ni da lm banget gak up date
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!