Aderson yang sering dipanggil Derson adalah laki-laki yang sangat kejam, suka kekerasan dan juga sangat membenci yang namanya perempuan.
Olivia yang kerap disebut Via datang kekehidupan Derson, Via mampu mengobrak abrik hati Aderson yang dingin dan sangat susah untuk dijangkau.
Jangan lupa dukung karya ini dengan tinggalkam jejak kalian ya, cukup dengan like, komen, vote, kasih hadiah mawarnya.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Mencuci baju sendiri tuan" jawab pelayan itu.
"Kalau begitu baju yang ada dikeranjang kotor tidak usah kalian cuci biar saya yang akan membereskannya nanti" kali ini Derson kayaknya tersambar petir atau kesurupan hantu dari mana, berbicara diluar akal para pelayan.
"Baik tuan" jawab pelayan itu patuh lalu segera kekamar Via.
Derson kembali kearah meja makan disana James masih asik dengan sarapannya, Derson mendudukan bokongnya dengan kasar kekursi.
"Aku sudah ada rencana untuk menyingkirkan Nona Via dari rumah ini, kapan kita menjalankan misi kita" James sengaja memancing Derson supaya buka mulut, James juga tau pasti Derson tidak akan menyingkirkan Via dari rumah itu.
"Lupakan masalah itu, aku akan menghukumnya dengan cara yang berbeda, terlalu mudah jika ia hanya minggat dari rumah ini" jawab Derson ragu.
"Terserah mu lah boss, kau yang selalu benar" jawab James cuek.
"Hari ini kamu duluan kekantor aku masih ada urusan" ucap Derson berbohong.
"Baiklah kalau begitu tapi cepat datang hari ini kita ada rapat" James langsung bergegas pergi setelah selesai berbicara dengan Derson, James tau apa yang akan dilakukan oleh bossnya itu karena tadi dia menguping pembicaraan Derson dengan pelayan itu.
"Kalau bucin bucin aja ngapain sok keras kalau ujung-ujungnya mengalah karena takut ditinggal" batin James.
Saat James sudah pergi dari hadapan Derson, Derson langsung menuju kamar Via dan mengambil baju kotor milik Via untuk dibersihkan, dengan enteng Derson membawa baju Via semuanya keruangan khusus untuk mencuci dan menjemur pakaian.
Sesampainya disana Derson bingung mau ngapain karena sejarahnya Derson tidak pernah mencuci di mesin cuci, yang Ia tahu hanya menggunakan tangan itupun karena sewaktu dia belum kaya mencuci baju sendiri.
"Kayak mana cara pakainya?" batin Derson sambil melihat-lihat tombol yang ada dimesin cuci itu.
"Susah juga jadi orang kaya, nyuci baju istri aja nggak bisa" guman Derson sambil mondar mandir seperti setrikaan. kebetulan ada pelayan yang datang keruangan itu derson langsung memanggilnya.
"Pak tolong ajari saya, bagaimana cara memakai mesin cuci ini" sambil berbicara Derson mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Pertama tama-tama tuan Masukkan pakaian kotor dan detergen ke dalam tabung mesin cuci.
Kedua isi tabung dengan air bersuhu sesuai kebutuhan. Untuk menentukan volume air yang sesuai, mengaculah pada buku manual mesin cuci.
Ketiga jalankan siklus pencucian. Semakin banyak muatan mesin cuci, semakin panjang pula waktu yang diperlukan untuk mencucinya.
Keempat setelah siklus pencucian selesai, keluarkan airnya melalui selang yang tersedia pada bagian belakang mesin. Isi kembali tabungnya dengan air bersih, lalu jalankan siklus pembilasan.
Kelima seusai siklus pembilasan, pakaian Anda semestinya sudah bersih. Pada mesin cuci semi otomatis, pindahkan cucian dari drum pencucian ke dalam drum sebelahnya untuk membuang sisa-sisa air berlebihan yang terserap kain.
Keenam segera keluarkan cucian dari mesin cuci dan gantung untuk mengeringkannya" (sumber dari internet)
Dengan sabar pelayan itu menjelaskan bagaimana cara menggunakan mesin cuci didepannya.
"saya mengerti bapak boleh pergi" ucap Derson setelah mengerti apa yang dijelaskan pelayan itu, Derson mulai memasukkan baju Via kedalam mesin cuci dan memasukkan deterjen, dengan sabar Derson menunggu sampai mesin itu selesai berputar.
Setelah selesai mencuci sampai mejemur Derson kembali kekamarnya untuk mandi kembali sebelum brangkat kekantor. Derson sama sekali belum sadar apa yang ia lakukan dari tadi pagi, kini Derson yang kejam itu bersikap layaknya orang yang lemah lembut. mungkin besok dia kembali kejam lagi seperti biasa.
🌛🌛🌛
Derson sudah sampai dikantor Aderson company yang berlantai belasan itu ketika Derson lewat semua orang menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada boss mereka.
Tanpa menoleh sedikit pun Derson terus berjalan menuju lantai paling atas untuk memulai aktivitasnya.
Ting..... pintu lift terbuka Derson keluar dari lift dengan eskpresi dinginnya langsung menuju ruangan yang ada disampaing ruangan James.
"Kamu sudah datang? ada tamu yang menunggu mu didalam".
"Siapa?" Derson heran karena sejarahnya Derson tidak pernah menerima tamu kekantornya apalagi sampai menunggu diruangannya.
"Kamu lihat sendiri saja, oh ya jangan lupa Jam 11 nanti kita meeting diruang miting jangan terlambat" ucap James.
Klek.... pintu terbuka Derson langsung melihat ada wanita paruh baya duduk manis disofa, wanita yang paling dibenci oleh Derson, beberapa tahun ini dia selalu menjumpai Derson dan meminta maaf tapi Derson tidak pernah menanggapinya.
"Ngapain datang kesini?" Tanya Derson sinis.
"Mama hanya merindukanmu, dan juga adikmu" ucap paruh baya itu menghampiri Derson ingin memeluk tubuh Derson.
"Jangan mendekat dan sentuh aku, aku dan Lily bukan anakmu lagi, hiduplah dengan bahagia dengan keluarga sempurna mu itu" Derson menepis tangan wanita paruh baya itu yang ingin memegangnya pipinya.
"Setiap mama ingin menjelaskannya kamu tidak pernah mau mendengar alasan mama dan siapa yang sebenarnya yang salah mama atau papa kamu yang jahat itu" mamanya Derson bicara sambil melap air matanya yang jatuh dipipi.
"Cukup.... jangan pernah ungkit masa lalu aku bahagia dengan hidupku sekarang, dan satu lagi jangan pernah menyalahkan papaku sebelum anda berkaca terlebih dahulu" jawab Derson marah saat mamanya ingin membela diri.
"Kalau anda sudah siap bicara silahkan keluar dari ruangan saya, pintu keluar ada disana" Derson mengusir mamanya sambil menunjukkan pintu.
"Kamu kejam Derson mama yang membesarkan kamu dari bayi sampai kamu tumbuh berumur 15th tapi apa balasanmu, kamu malah percaya ucapan papa kamu dari pada mama" wanita paruh baya itu pergi dari ruangan Derson dengan luka dihati dan juga rindu terhadap anak-anaknya.
Tidak mau berpikir aneh-aneh terhadap papanya Derson menyibukkan diri dengan memeriksa laporan diatas mejanya sampai jam meeting akan dimulai.
Tepat pukul 10:55 Derson berjalan kearah ruangan meeting disana sudah banyak yang menunggu dirinya, yang ikut andil dalam meeting tersebut.
Derson duduk dikursi paling ujung, James juga duduk disamping Derson yang selalu setia disampingnya saat bekerja.
"Selamat pagi menjelang siang, baiklah saya sebagai sekertaris dari tuan Aderson membuka rapat ini, saya ingin semua pihak menjelaskan laporan bulan ini" ucap James.
Semua pihak mempersentasikan hasil kinerja mereka bulan ini, Derson maupun James terlihat puas dengan persentasi mereka.
"Baiklah persentasi kali ini kami puas dengan kinerja kalian, tapi bulan depan kita harus lebih bagus dan lebih maju dari pada yang sekarang, terimakasih atas kesempatannya saya ucapkan terimakasih dan selamat siang buat kita semua" ucap James menutup rapat itu.
Semua karyawan yang ikut dalam rapat sudah keluar satu persatu, kini yang tertinggal Derson bersama James.
"Bagaimana pertemuan mu tadi dengan tante apa semua baik-baik saja" James sangat peduli dengan Derson, karena James tau saat Derson habis ketemu mamanya bawaannya emosi terus menerus.
"Aku baik-baik saja, kalau dia bukan urusan ku mau baik-baik saja atau nggak" jawab Derson menyembunyikan hatinya yang terluka.
🌛🌛🌛
Jangan lupa tinggalakan jejak ya.