NovelToon NovelToon
BODYGUARD CANTIK SANG ARTIS

BODYGUARD CANTIK SANG ARTIS

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Trauma masa lalu / Gangster / Duniahiburan / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / CEO / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Alfiina nurul

Perjalanan hidup seorang gadis bernama Vega Clarista dengan bayang-bayang masa lalu. Tujuan hidupnya berubah sejak menyaksikan sendiri ayahnya tewas di depan matanya. Segala cara ia tempuh untuk mencari pembunuh sang Ayah. Hingga ia menghimpun pasukan menjadi sebuah genk yang mereka juluki sebagai Genk X, yang tujuan awalnya agar kelak dapat membantunya menyelesaikan misi hidupnya.
Meskipun banyak menghabiskan waktu hidup di jalanan, namun jiwa penolongnya selalu bergejolak tatkala melihat ketidak adilan di depan matanya. Meskipun akibatnya ia harus di hadapkan dengan banyak musuh karena aksi kepahlawanannya.
Kemampuan bela diri yang ia kuasai sejak kecil menghantarkannya bertemu dengan pengusaha kaya yang memintanya menjadi bodyguard putranya yang berprofesi sebagai artis dan penyanyi bernama Devano Zidan haidar. Rencana yang di susun oleh keluarganya membuat Devan merasa kebebasannya semakin terkekang, ia pun berupaya membuat rencana agar Vega tidak betah bekerja dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiina nurul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Rindu

Pagi di kediaman Devan, moment di mana jarang terjadi, Ervan, Alin dan Devan duduk di depan meja makan bersama. Ervan melihat Vega berdiri di belakang Devan, ia pun berkata, " Ve silahkan duduk kita makan bersama-sama."

" Tidak Tuan saya nanti saja makannya," jawab Vega.

" Tidak apa-apa, silahkan duduk," pinta Alin.

Vega akhirnya duduk di kursi sebelah Devan. Meskipun canggung. Vega tetap berusaha terlihat tenang. Devan hanya saling melihat dengan kedua orang tuanya.

Selesai makan Vega mengutarakan keinginannya pada Ervan dan Alin, " Tuan bolehkah saya hari ini izin pulang ke rumah menjenguk Mama saya?"

" Bagaimana Devan, apa boleh Vega izin, bukankah hari ini jadwalmu kosong?" tanya Alin pada Devan

" Silahkan saja, tidak usah kembali lagi juga tidak apa-apa," ujar Devan santai lalu meneguk air putih.

" Devan!" ucap Ervan dengan tatapan tajam pada putranya itu.

" Silahkan Vega, cepatlah kembali. Salam untuk Karin," ucap Alin.

" Trimakasih Nyonya, trimakasih juga telah mengirim orang untuk menjemput Mama saya di rumah sakit," ucap Vega.

" Mama perhatian sekali pada orang lain, sampai lupa memperhatikan anak sendiri," ucap Devan.

" Devan! kenapa kamu bilang begitu? kami selalu memperhatikan dan menyayangi mu," ucap Alin.

" Sudahlah, ayo Ferdi kita pergi," pinta Devan sembari berdiri.

Ferdipun mengikuti Bosnya itu kemanapun melangkah.

Vega mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, hingga dalam beberapa menit sudah sampai di halaman rumahnya sendiri.

Vega mengucap salam dan membuka pintu yang tidak terkunci.

" Kak Vegaa!" pekik Vani yang menghambur memeluk kakaknya.

" Di mana Mama?" tanya Vega.

" Ada di ruang tengah," jawab Vani.

Vega bergegas ke ruang tengah. Ia menjumpai mamanya sedang menonton acara TV bersama nenek dan kakeknya. Vegapun mencium punggung tangan Karin dan memeluknya.

" Ma, aku rindu Mama," ucap Vega, tak terasa air matanya menetes.

" Mama juga rindu sayang," balas Karin.

Karinpun memegang pipi Vega yang berjongkok di hadapannya. Ia mengamati dengan detil wajah Vega.

" Kenapa Ma?"

" Memastikan kamu tidak terluka, dan juga memastikan kamu tidak berkelahi lagi," jawab Karin.

" Bagaimana bisa berkelahi Ma, bukankah Kak Vega hanya menjaga anak kecil? jangan-jangan anak yang di asuhnya sudah ketakutan duluan melihat wajah Kak Ve" ucap Vani.

" Apa kamu mau aku hajar?" balas Vega.

" Aduh baru bertemu sudah mau main perang-perangan lagi, Ve apa kamu tidak merindukan kami juga?" tanya Nenek.

" Aku merindukan Nenek dan Kakek," jawab Vega, lalu mencium punggung tangan nenek dan kakeknya bergantian.

Vega masih menahan diri untuk menceritakan pekerjaan sesungguhnya kepada keluarganya. Melihat kekhawatiran berlebihan dari mamanya. Ia tidak ingin membuat mamanya bersedih lagi. Ia akan tetap menyembunyikan pekerjaan berbahayanya sampai waktu memungkinkan untuk menceritakan pada keluarganya.

Tentunya Vanipun akan heboh bila tahu kakaknya bekerja pada idolanya itu. Vega juga menjaga harga diri di hadapan adiknya, mungkin saja Vani akan meledeknya jika tahu dirinya bekerja pada orang yang selama ini dia benci.

Vega dan keluarga makan siang bersama. Ia jadi teringat Devan dan keluarganya. Ia merasa sangat beruntung selama ini masih bisa selalu berkumpul dengan Mama dan adiknya meskipun tanpa Papanya. Hidup sederhana namun saling menyayangi.

" Kenapa kamu melamun Vega?" tanya Karin.

" Tidak apa-apa ma, saya hanya teringat dengan Tuan Ervan dan Nyonya Alin, oh iya dapat salam dari mereka,"

" Sampaikan ucapan trimakasih untuk mereka, karena sudah membantu kita," jawab Karin.

" Baik ma?"

" Apa keluarga itu memperlakukanmu dengan baik?"

" Iya Ma, jangan khawatirkan Vega Ma,"

" Kak minta nomornya Kak Gavin dong!" ucap Vani

" Untuk apa?"

" Besok ada acara musik live, Devano Zidan juga akan tampil disana, biar bisa ketemu sama Kak Devan kalau ngajak Kak Gavin," jawab Vani seraya nyengir kuda.

" Apaan? nggak-nggak! tidak ada acara konser, di sana berbahaya. Lagian Gavin sibuk kuliah," jawab Vega.

" Ah Kak Vega pelit, besokkan hari minggu. Aku ajak Kak Maya dan Kak Luna saja, biar mereka ajak Kak Gavin, katanya mereka satu kampus.

" Dasar keras kepala," ujar Vega.

Vegapun baru ingat bahwa besok Devan akan menghadiri acara itu. Bagaimanapun caranya dia tidak boleh ketahuan oleh Vani, Luna dan Maya kalau dia sekarang menjadi pengawalnya Devan. Bisa-bisa mereka membocorkan pada mamanya.

Vega baru teringat tentang Gavin, bukankah dia sudah tahu kalau dirinya bekerja pada Devan. Jangan-jangan ia sudah membocorkan tentang pekerjaannya. Vega bergegas menuju kamar dan menghubungi Gavin.

Vega bertanya pada Gavin, apakah dia sudah bercerita tentang pekerjaannya kepada kedua temannya itu. Untungnya Gavin belum bercerita tentang Vega, iapun meminta Gavin merahasiakannya.

Malam itu Vega menginap di rumahnya sendiri, namun pagi-pagi sekali ia harus kembali bekerja. Setelah berpamitan dengan keluarganya Vegapun melangkah keluar rumah, namun Vani menghentikannya, " Tunggu Kak, aku sudah menghubungi Kak Maya dan Kak Luna, mereka mau mengajakku nonton acara live music. Apa Kakak mau titip salam buat Kak Devan?" tanya Vani sambil mengedip-ngedipkan mata sengaja menggoda Vega. Ia tahu Kakaknya itu tidak menyukai artis idolanya itu.

" Hem, ya sudahlah hati-hati, Kakak pergi dulu," Vega hanya menghela nafas panjang.

Tak butuh lama Vega akhirnya sampai di halaman parkir rumah Devan. Ia bertemu Sakti di depan pintu.

" Kamu sudah sampai? bagaimana kabar Mamamu?" tanya Sakti.

" Sudah baikan Bang," jawab Vega.

" Bersiaplah! kita akan segera berangkat," ujar Sakti.

" Saya ke atas dulu," jawab Vega.

Vega melihat dirinya di cermin, ia berpikir bagaimana caranya agar orang-orang tidak mengenalinya. Ia sempat berpikir bahwa ia berencana ingin pura-pura sakit agar bebas dari tugas. Iapun membuang jauh pikirannya itu, ia tidak suka berbohong. Ia sudah cukup banyak berbohong, yang ternyata tidak membuatnya tenang.

Devan yang sudah di dalam mobil merasa kesal karena di buat menunggu. " Sakti kita tinggal saja gadis itu!"

" Baik tuan!" jawab Sakti.

Sakti yang sudah menyalakan mobil melihat kedatangan Vega.

" Maaf saya terlambat," ucap Vega setelah membuka pintu mobil lalu duduk di samping Devan.

Sakti, Ferdi, Devan melihat kearah Vega dengan heran. Devanpun bersuara, " Kamu mau aku pecat? membuat kita semua menunggu? Kenapa juga kamu berpenampilan seperti itu?"

Semua terheran, melihat Vega yang biasa tampil rapi dan elegan ketika bertugas, namun kali ini berbeda. Vega mengikat rambut panjangnya dan memasukkan kedalam topi. Ia juga memakai masker dan kacamata hitam.

" Saya sedikit flu Tuan," jawab Vega, akhirnya berbohong juga.

" Cepat masuk!" Devan menggertak.

" Barusan kru memberitahukan bahwa jalan menuju lokasi shooting terjadi kemacetan panjang karena ada kecelakaan Bos," ujar Ferdi yang ada di depan.

" Terus bagaimana kita ke lokasi?" tanya Devan panik.

" Kita naik motor saja Tuan muda, biar dapat menerobos kemacetan dan lewat jalan-jalan alternatif," usul Sakti.

" Baiklah, kita naik motor," Devan menyetujui usul Sakti.

Devan dan Ferdi turun dari mobil. Tak lama kemudian Vega dan Sakti sudah siap dengan motornya. Ferdi sudah lebih dulu naik di belakang Sakti.

" Ferdi!" pekik Devan, dengan mata membulat.

" Sudahlah Bos, kita sudah terlambat, cepat naik di belakang Vega," jawab Ferdi.

Devan terpaksa menghampiri Vega. Vega menyerahkan helmet pada Devan dan berkata, " Pakailah tuan, biar aman."

Devan meraih helm yang ada di tangan Vega, lalu memakainya. Iapun segera naik di belakang Vega. Vega mulai menarik gas dan melepas sedikit kopling di jarinya.

Wust!

Devan yang tadinya tidak berpegangan langsung melingkarkan tangan di pinggang Vega karena ketakutan, pasalnya Vega mengemudi dengan kecepatan tinggi. Vega menepi dan tiba-tiba mengerem sehingga kepala Devan membentur kepala Vega. Untungnya keduanya memakai helm.

Vega membuka kaca helm teropongnya, begitu juga dengan Devan.

" Lepaskan tangan anda!" pinta Vega .

" Apa kamu mau membunuhku?" tanya Devan.

" Kita akan terlambat Tuan muda jadi jangan banyak protes, jangan memelukku atau aku lempar anda ke jalanan," ujar Vega kesal.

" Siapa yang memelukmu? kamu mengemudi dengan kebut-kebutan, aku hanya melindungi diri saja," Devan protes.

" Heeii Bos, ayo cepat, waktu kita tinggal sedikit," teriak Ferdi yang ada di belakang Sakti.

" Ayo jalan!" perintah Devan pada Vega.

" Ingat jangan memelukku lagi, pegang jaketku saja!" ujar Vega.

" Iya ya!" jawab Devan kesal.

Vega mulai menyalakan lagi sepeda motornya. Awalnya ia mengemudi dengan kecepatan sedang. Akhirnya ia punya ide licik untuk mengerjai Devan yang penakut menurutnya. Ia berpikir hitung-hitung untuk membalas hukuman yang tidak layak ia terima selama ini.

Vega mulai menaikkan kecepatan sedikit demi sedikit dan akhirnya memacu dengan kecepatan tinggi layaknya pembalap. Devan semakin kesal bercampur takut, ia hanya berbicara berharap Vega mendengarkannya, " Hei bocah pelan-pelan!"

Namun sayang suaranya terbang terbawa angin. Vega mulai menyadari bahwa orang di belakangnya mulai ketakutan. Vega tersenyum simpul dan semakin menjadi-jadi menyalip kanan-kiri mobil, truk besar, kontainer dengan cepat dan sigap. Membuat pengemudi lain mengelus dada, bahkan ada yang sampai mengumpat karena terkejut dengan Vega yang tiba-tiba menyalip dan nyaris saling bertabrakan.

Ia baru mengurangi kecepatan ketika melewati kemacetan, lalu memutar mencari jalan alternatif melewati gang-gang sempit hingga menemui jalan raya lagi dan terhindar dari kemacetan.

Lampu merah pun menyala, Vega menghentikan motornya. Devan yang di belakangnya mulai ngomel, " Awas aku akan menghukummu?"

" Apa Tuan, saya tidak dengar?" tanya Vega yang pura-pura tidak dengar, meskipun ia mendengar jelas suara Devan di tengah hiruk pikuk suara kendaraan.

" Aku akan memecatmu! Dasar Brandal! Apa kamu sengaja mau membunuhku?" umpat Devan lagi.

" Aduh Bos, anda bicara apa nanti saja," jawab Vega

Dan Wust!!

Vega kembali mengebut ketika lampu hijau menyala, membuat Devan terkejut dan mengeratkan pegangan pada jaket Vega.

Sakti jauh tertinggal di belakang, sebelumnya Ferdi yang mengenali motor Vega hanya terbengong-bengong melihat aksi Vega yang menyalip Sakti dan kendaraan lain dengan ugal-ugalan.

" Apa itu tadi Nona gengster?"

Sakti tak menjawab hanya bisa geleng-geleng kepala.

Vega dan Devan sampai terlebih dahulu di lokasi acara. Vega memarkirkan motor tepat di depan tenda artis yang di dirikan khusus untuk Devan, karena Devan kerap memesannya khusus setiap ada acara. Ia jarang mau satu tenda atau ruang tunggu dengan artis lainnya.

Devan turun, menyerahkan helm dengan kasar ke tangan Vega.

1
Novi Yanti
harus nya njanggan cerita kesembarang ora gimana sii
~Daf r r
mantap
fulana anonymous
mantaffff....that was an epic closure ... udh kek pilem² genk² Amerika, di benakku kek pilem Face Off, pas lagi perang pamungkasnya....
fulana anonymous
asli ini bagus lho storyline nya
fulana anonymous
ya Kali butuh dompet di pulau hehehehe kagak peka hahha
Sekuntum rosella Pelipur lara
oke
Eli Supriatna
mantap thor, terima kasih, atas cerita nya,
Alfiina Nurul: Terimakasih kunjungannya Kakak,,,,
total 1 replies
Eli Supriatna
thhor kasih kedewasaan donk sama vega, kan dia pemimpin genk
Eli Supriatna
semoga anak nya lekas sembuh, tante author,
Eli Supriatna
semangaatt thor
Eli Supriatna
semangat thor
Eli Supriatna
lanjut thor
Eli Supriatna
devan payah
Eli Supriatna
lanjut thor
Eli Supriatna
visual ny mntap
Eli Supriatna
mantap thor
Eli Supriatna
god cantik ,
Pa'tam
menarik
kiky+25
keren 👍🏻👍🏻
Rudi R
Keren bang..
Shen月呀: Mampir kak ke hantu tampan dan CRUSH karya berry once.
Invisible friend karya Berrybunny 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!