NovelToon NovelToon
Oh, My Rey

Oh, My Rey

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:335.1k
Nilai: 5
Nama Author: din din

Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.

Blurb:

"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.

"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.

"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.

"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.


Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.

Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.

Pict from Google, editing by Din Din

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kekhawatiran

"Syukurlah," ucap Rey bersyukur. "Je! mereka datang, mereka menemukan kita," ucap Rey lagi, tapi sepertinya Jihan tak sekedar tidur, ia tak sadarkan diri.

Dia mengingat bagaimana teman temannya mengambil tubuh gadis itu dari gendongannya. Kala itu kakinya sudah sangat lelah, tenaganya habis terkuras untuk berjalan. Rey terjatuh begitu Jihan sudah di bawa dengan tandu. senyum itu terbit di sela-sela wajah lelahnya sebelum dia juga ikut tak sadarkan diri.

"REYYY!" teriak Jason panik melihat temannya itu terkulai ke tanah.

Sulur mentari mulai meringsek masuk kecelah jendela, samar-samar Jihan mendengar seseorang tengah berbincang. Matanya terasa berat, tubuhnya begitu lemah, ia tidak sanggup untuk membuka mata.

"Ini sudah hampir empat hari, tapi kenapa dia belum sadar?" tanya Julia pada suaminya.

Julia sudah empat hari pula disana menunggui Jihan, berharap putri kesayangannya itu segera bangun dari tidurnya yang terlalu lelap. Hari itu setelah Jihan dan Rey di temukan, pihak penyelenggara memberitahukan kondisi Jihan yang tak sadarkan diri. Membuat ibu dua anak itu terduduk lemas, kakinya seakan tidak memiliki tulang, ia terkulai di lantai dengan linangan airmata yang membanjiri wajahnya. Andrew yang saat itu memang sudah di rumah pun terkejut dengan kondisi istrinya yang terduduk di lantai.

Mereka bergegas pergi menuju Rumah sakit tempat di rawatnya Jihan, kala itu Julia tidak mengetahui jika Rey juga dalam kondisi tidak sadarkan diri. Pihak penyelenggara kesulitan menghubungi keluarga Rey karena tentu saja mereka tidak mengetahui jika wali Rey dan Jihan sama.

"Sabar, sayang. Mungkin sebentar lagi, kita berdoa saja. Kau dengarkan penjelasan Dokter, Jihan mengalami Hipotermia dan infeksi karena luka yang ia alami. Jadi bersabarlah." Andrew mengusap lembut bahu Julia yang berada di rangkulannya. Mereka berdiri menatap Jihan yang sama sekali belum menunjukan tanda-tanda akan bangun.

"Dia belum sadar?" Suara tidak asing mengisi ruang inap Jihan.

Julia hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan itu. Ken ternyata juga disana, bagaimanapun dia adalah ayahnya, begitu mendengar kabar tentang Jihan, pria itu langsung terbang ke kota itu untuk melihat kondisi putrinya.

"Drew! Bawalah Julia beristirahat, dia sudah terlihat lelah," ucap Ken.

"Tidak! Aku masih mau disini," tolak Julia.

"Ken benar, kau sudah terlihat lelah. Lihat kantung matamu, sudah mirip mata panda, memangnya kamu induk panda," seloroh Andrew.

Guyonan sang suami tentu saja membuat Julia sedikit bisa tersenyum, ia menatap putrinya yang terbaring dengan jarum infus yang masih tertancap di lengan.

"Baiklah, Ken jika ada apa-apa tolong segera menghubungiku," pinta Julia.

"Tentu saja."

Andrew akhirnya membawa Julia untuk beristirahat, kini tinggal Ken yang duduk di kursi sebelah ranjang Jihan. ken menggenggam tangan putrinya, di usapnya lembut punggung tangan gadis itu.

"Daddy disini sayang, apa kamu nggak mau bangun?" tanya Ken berbicara sendiri. Ditatapnya wajah cantik putrinya meski masih terlihat pucat.

Terlihat pergerakan kecil dari jari lentik gadis itu, membuat mata Ken berbinar.

"Sayang, kau sudah sadar." Ken begitu senang melihat pergerakan kecil dari jemari Jihan.

Ken memencet tombol darurat yang ada di atas kepala ranjang untuk memanggil perawat dan Dokter. Jihan mulai membuka kelopak matanya perlahan, samar-samar ia melihat bayangan ayahnya juga perawat yang sedang mengecek kondisinya. Setelah memastikan keadaan Jihan baik-baik saja, Dokter dan perawat itupun meninggalkan ruangan.

"Bagaimana perasaanmu, hah!" Ken mencium punggung tangan Jihan lagi.

Jihan berusaha untuk duduk, tertidur selama empat hari tentu saja membuat tubuhnya terasa kaku. Ken membantu gadis itu dengan menata bantal untuk di jadikan sandaran punggung.

"Dimana mama?" tanya Jihan mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang mama.

"Daddy menyuruh mama mu istirahat, dia terlalu lelah karena sudah menunggumu selama empat hari ini," jawab Ken.

Jihan mengangguk pelan, ia tidak tahu jika ternyata ia sudah tidak sadarkan diri selama empat hari, kemudian pikirannya ingat akan sesuatu yang penting.

"Dimana Rey?" tanya Jihan tiba-tiba.

Jihan benar-benar ingin tahu kondisi pemuda itu, bagaimanapun ia merasa banyak berhutang budi kepada pemuda itu karena sudah menjaganya dari dia hanyut sampai ketika berada di hutan.

"Rey?" Ken tidak langsung menjawab pertanyaan Jihan, membuat gadis itu merasa aneh.

"Dimana dia? Bagaimana keadaannya?" cecar Jihan yang mulai khawatir.

Ken baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaan jihan, tapi terhenti ketika suara pintu terbuka.

"Je!" teriak Chika yang terdengar dengan suara haru karena melihat temannya itu sudah sadar.

Kedua gadis itu langsung berhambur ke ranjang Jihan dan memeluk erat sahabatnya, kini mereka bertiga berpelukan bersama. Ken yang tidak ingin mengganggu kebersamaan ketiga sahabat itupun memilih keluar dari ruangan sekalian memberi kabar pada Julia jika putri mereka sudah sadar.

"Chik! Shel! Kalian membuatku kehabisan napas." Suara Jihan terengah karena pelukan yang erta dari dua sahabatnya.

Kedua sahabat itu tersadar dan langsung melepas pelukan mereka. Jihan kemudian meraup udara sebanyak-banyaknya karena stok di paru-parunya menipis gegara bekapan dua sahabatnya.

"Ya Tuhan, Je! Kami bahagia banget akhirnya Loe sadar juga." Chika menangkup kedua sisi wajah Jihan, ia benar-benar bahagia.

"Iya ... iya! tapi sikap kalian malah menyakitiku," gerutu Jihan mengerucutkan bibirnya.

Chika dan Shelly tertawa tanpa rasa bersalah, yang mereka pikirkan sekarang hanyalah meluapkan rasa syukur dan bahagia ketika melihat temannya itu bangun dari tidur panjangnya.

"Hah ... kami sempat berpikir kalau loe udah kayak putri tidur dalam cerita Snow White dimana hanya ciuman sang pangeranlah yang bisa membangunkanmu." Chika tiba-tiba saja berimajinasi, pikirannya berpetualang entah kemana.

"Dasar kau!" Shelly memukul pelan kepala Chika agar gadis itu terbangun dari mimpinya.

Tingkah kedua temannya itu tentu saja sukses membuat Jihan tertawa. Shelly duduk di tepian ranjang, kemudian ia menatap jihan dengan pandangan yang berbeda.

"Je! Bagaimana kabar kak Rey?" tanya Shelly penuh dengan rasa penasaran.

Jihan mengernyitkan dahinya, ia sendiri baru bangun dan tidak tahu apa-apa, bahkan disaat ia bertanya pada ayahnya, Ken belum sempat menjawab.

"Aku tidak tahu, apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya Jihan balik, ia menatap Chika kemudian menatap Shelly.

Shelly dan Chika saling melempar pandangan, Rey dan Jihan ditemukan bersama. Jadi shelly berpikir Jihan tahu tentang kondisi Rey.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rey? Kenapa kalian saling tatap seperti itu?" tanya Jihan keheranan. Melihat ekspresi kedua temannya itu membuat jantung Jihan berdegup kencang, darahnya mendesir karena rasa takut, seingatnya Rey baik-baik saja, tapi kenapa sekarang kedua temannya mengeluarkan ekspresi yang membuatnya begitu khawatir.

..._...

..._...

..._...

..._...

..._...

..._...

...Jangan lupa like komen ya .......

...Biar Author semangat Up ......

...Thank you...

...😘😘😘...

1
Ney
Rey jd cwo hrs cool,, jgn tp tp, sm php
Ney Maniez
jgn galak galak nnt bucin 🤭🤭
Ney Maniez
aku mampir
Raffi
thorr iih gokil bgt u asli gua ngakak 🤭🙈🙈🤭 setdaaah..
Nurwana
jgn marah marah Jason, jgn sampai Thu jodohmu.🤭🤭🤭🤭🤭
retno prabandari
Rey. romantis.......jadi pingin muda lagi. 😁😁
retno prabandari
Wee Rey cemburu akut ..😁😁
retno prabandari
salut buat Jason.....bisa melepas orang yg dicintai
Just Rara
akhirnya happy jg mereka☺️☺️
Just Rara
lah idah tamat,blm tau kehidupan mereka setelah menikah 🥺🥺
Just Rara
akhir mereka menemukan pasangan masing2 walaupun chika hrs LDR'an☺️☺️
Just Rara
akhirnya jeje dilamar juga sm rey😍😍
Just Rara
sepertinya selly berjodoh dgn sam ni,tp baguslah jadi rey gak bakalan cemburu lg sm dia😄😄
Just Rara
nah benarkan si chika mau pi dah ke australia ikut ayahnya😔
Just Rara
pasti si chika disuruh milih ikut ibu atau ayahnya deh
Just Rara
untung aja si jeje jujur sama sam,klu gak bisa berabe urusannya😜😜
Just Rara
nah si chika dapat brondong tu😄😄
Just Rara
walah si rey diduluin sama jason ni nikahnya😬
Just Rara
😄😄😄chika....ni lucu ya,mudah2an ntar km ketemu lg ya sm tu cwok chik
Just Rara
waduh ternyata si sam masih blm nyerah juga buat ngedapatinbcinta dari jihan😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!