NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Bukti yang Tak Bisa Diabaikan

Markas Jangkar Kelabu masih menyala terang ketika rombongan tiba menjelang senja, lampu-lampu di jendela terlihat dari ujung jalan seperti mercusuar kecil di tengah kota yang mulai temaram. Bau debu jalanan bercampur asap cerobong tetangga menyambut mereka begitu memasuki gerbang kota, familiar setelah berhari-hari terbiasa dengan bau tanah dan lumut Greywood. Ilsa sudah berdiri di ambang pintu sebelum mereka sempat mengetuk, lengan bersedekap, matanya menghitung kepala satu per satu.

"Semua utuh," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Bagus. Aku sudah menyiapkan makian kalau ada yang hilang."

"Kami baik-baik saja," kata Corym, melepas ranselnya di ambang pintu dengan gerakan lelah, bahunya turun begitu beban itu lepas.

Wick sudah menyiapkan sup hangat di meja panjang, uapnya mengepul di udara yang mulai dingin, aroma bawang dan rempah menyeruak begitu pintu terbuka lebih lebar. Halden membantu Doran melepas pelana kuda dan memeriksa sayap Ashe yang masih sedikit kaku, tangannya bergerak hati-hati di sepanjang tulang sayap muda itu. Ness duduk di sudut, map kulit kesayangannya sudah terbuka di pangkuan, siap mencatat apa pun yang perlu dicatat malam ini.

Arden meletakkan tasnya, tidak langsung duduk meski tubuhnya menuntut istirahat. Ia menatap meja panjang yang biasanya penuh peta kontrak dan daftar belanja perbekalan, sekarang kosong, menunggu sesuatu yang lebih berat diletakkan di atasnya.

"Kumpulkan semua yang kita punya," katanya. "Malam ini juga."

Brann membuka tasnya lebih dulu, mengeluarkan Kodeks Verlanth dan meletakkannya di tengah meja, halaman terakhirnya masih terselip penanda kertas kecil di titik sketsa simbol yang mereka temukan. Tomas menaruh gulungan catatan ekspedisi Draymoor dari Greywood di sampingnya, tinta yang setengah luntur masih bisa dibaca di bawah cahaya lentera. Doran meletakkan lencana Ashcloak yang baru, permukaannya masih berkilau di antara kertas-kertas usang lainnya, terasa asing di tengah tumpukan dokumen tua.

Ilsa mengangkat lencana itu, memutarnya di antara jari-jari, memeriksanya dari berbagai sudut seperti menilai barang curian. "Ini yang kalian temukan di bangkai monster?"

"Di lipatan kulitnya," jawab Petra. "Tersangkut. Masih baru."

Ness meletakkan map kulitnya sendiri di ujung meja, membuka halaman berisi catatan pendanaan Draymoor yang sudah ia kumpulkan sebelum keberangkatan ke Greywood, jarinya menahan halaman itu tetap terbuka. "Dan ini yang kudapat sebelum kalian pergi. Draymoor mendanai ekspedisi itu diam-diam, membungkam lima keluarga yang kehilangan orang."

Meja itu sekarang penuh: sketsa simbol, catatan sejarah, lencana baru, laporan pendanaan rahasia. Semua orang berdiri mengelilinginya dalam diam, menatap potongan-potongan yang perlahan mulai membentuk gambaran yang tidak bisa lagi disangkal. Cahaya lentera bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang belum ditutup, membuat bayangan benda-benda di meja itu ikut bergerak seolah hidup.

"Coba kita susun urutannya," kata Corym, jarinya menunjuk satu per satu benda di meja. "Sepuluh bulan lalu, Draymoor mendanai ekspedisi mencari sesuatu terkait Lantai Tersegel. Ekspedisi itu diserang, lima orang tewas, Draymoor membungkamnya."

"Lalu ia menyewa kita," lanjut Arden, "dengan permintaan khusus, secepat dan sediam mungkin, untuk mengambil relik dari lantai yang sama."

"Relik yang ternyata bereaksi hanya pada Anima-mu," tambah Brann, menatap Arden sesaat sebelum melanjutkan. "Dan sekarang kita menemukan lencana Ashcloak yang masih baru, jauh dari Aldenmere, tertinggal di makhluk hasil eksperimen mereka sendiri."

"Semua jalan mengarah ke tempat yang sama," gumam Tomas, jarinya menelusuri garis di gulungan catatan ekspedisi seolah masih membaca jejak di tanah. "Lantai Tersegel Menara Verlanth."

Yuna berdiri agak menjauh dari meja, tangannya masih menggenggam liontinnya sendiri, kebiasaan yang muncul setiap kali suasana terasa berat. "Anima yang kurasakan di reruntuhan, dan di makhluk itu, sama persis. Bukan kebetulan."

"Jadi ini bukan cuma soal satu kontrak lagi," kata Petra, suaranya lebih rendah dari biasa, kehilangan nada ambisi yang dulu sering mewarnai ucapannya. "Ordo ini benar-benar sedang beroperasi di sekitar kita. Sekarang. Bukan cuma kisah lama."

Tidak ada yang membantah itu.

Halden, yang selama ini lebih banyak diam mendengarkan dari sudut ruangan, akhirnya bersuara, suaranya berat dan tenang seperti biasa. "Aku sudah cukup lama hidup untuk tahu kapan sesuatu berhenti jadi kebetulan. Ini bukan kebetulan."

Ilsa meletakkan lencana itu kembali ke meja, pelan-pelan, seolah benda kecil itu bisa meledak kalau digenggam terlalu keras. "Kalau mereka menargetkan Lantai Tersegel Menara Verlanth, itu artinya kota kita sendiri yang jadi taruhannya. Bukan reruntuhan jauh di Greywood."

Ness menutup map di pangkuannya, menatap sekeliling meja dengan raut yang jarang ia tunjukkan, biasanya sibuk dengan angka dan kontrak, kini justru diam menyerap beratnya situasi bersama yang lain. "Kalau ini benar, kita bukan cuma menghadapi klien bermasalah. Kita menghadapi sesuatu yang bisa membakar kota ini kalau dibiarkan."

Arden menatap seluruh isi meja sekali lagi, mencoba menyerap beratnya secara utuh. Dulu ia bisa menolak kontrak besar dengan mudah, memilih jalur aman, menjaga kelompoknya kecil dan jauh dari sorotan. Tapi ancaman ini tidak menawarkan opsi menolak. Ancaman ini sudah berdiri di depan pintu kota tempat mereka semua tinggal, di jalan yang sama tempat Wick berbelanja setiap pagi, di gerbang yang sama tempat mereka semua pulang setelah setiap misi.

"Kalau Draymoor tahu semua ini sejak awal," kata Arden pelan, "berarti ia bukan sekadar klien yang kebetulan menyewa kita di waktu yang salah."

"Ia klien yang tahu persis apa yang ia sewa," gumam Corym.

Brann menutup Kodeks Verlanth perlahan, tangannya masih di atas sampul kulitnya seperti enggan melepaskannya dari pandangan. "Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Draymoor terlibat. Pertanyaannya seberapa dalam, dan di sisi mana ia sebenarnya berdiri. Klien yang bersalah, atau korban yang terjebak permainan yang lebih besar dari dirinya."

"Dua-duanya bisa benar sekaligus," kata Yuna pelan. "Orang yang bersalah pun bisa jadi korban dari kesalahannya sendiri."

Wick, yang selama ini diam menyiapkan makanan, berdiri di ambang dapur dengan mangkuk sup di tangan, mendengarkan seluruh percakapan dengan wajah pucat. Ia tidak berkata apa-apa, tapi meletakkan mangkuk itu di meja dekat Arden tanpa suara, seolah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan malam ini adalah memastikan pemimpinnya tidak kelaparan sambil menghadapi kenyataan seberat ini.

Arden meraih mangkuk itu, mengangguk singkat pada Wick sebagai ucapan terima kasih, tapi tidak segera menyentuhnya, uapnya masih mengepul tanpa disentuh sendok.

"Kita perlu bicara dengan Draymoor langsung," katanya. "Bukan lewat surat. Bukan lewat perantara."

"Kau sudah bilang itu sebelum kita ke Greywood," kata Petra.

"Sekarang kita punya alasan lebih kuat untuk memaksanya bicara jujur," jawab Arden. "Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan bukti sebanyak ini."

Ness, yang sejak tadi diam mencatat, tiba-tiba mengangkat kepala, matanya membulat menatap sesuatu di sudut ruangan. Seorang anak kurir berdiri di ambang pintu markas, wajahnya masih memerah karena berlari, napasnya tersengal-sengal, tangannya menyodorkan sepucuk surat kecil bersegel lilin hijau, lambang keluarga Draymoor tercetak jelas di permukaannya.

"Maaf mengganggu," kata anak itu, terengah. "Utusan Lord Draymoor menyuruhku menyerahkan ini secepat mungkin, katanya penting."

Ness mengambil surat itu, membuka segelnya dengan hati-hati, matanya bergerak cepat membaca isinya. Wajahnya berubah semakin serius setiap baris yang ia lewati, jarinya mengetuk pinggir kertas tanpa sadar.

"Apa katanya?" tanya Arden.

Ness mengangkat kepala, menatap Arden lama sebelum menjawab, seolah mencari cara paling ringan untuk mengucapkan sesuatu yang tidak ada versi ringannya.

"Draymoor meminta bertemu denganmu. Malam ini juga. Pribadi." Ness menahan napas sebentar. "Dan ia memintamu datang sendirian."

Ruangan itu hening sesaat, hanya suara api lentera yang berdesis pelan mengisi jeda.

Ilsa sudah berdiri tegak sebelum kalimat itu selesai diucapkan, rahangnya mengeras, matanya menatap Arden dengan tatapan yang tidak butuh kata-kata untuk dimengerti.

"Tidak," katanya, singkat dan tegas, suaranya memenuhi ruangan tanpa perlu diangkat lebih keras.

"Aku belum bilang apa-apa," jawab Arden.

"Kau tidak perlu bilang apa-apa. Aku sudah tahu wajah itu." Ilsa melangkah mendekat, lengannya masih bersedekap. "Kita baru menemukan lencana Ashcloak yang masih baru di dekat lokasi ekspedisi yang didanai diam-diam oleh orang yang sama yang sekarang memanggilmu sendirian, malam ini. Kau tidak berpikir itu terdengar seperti jebakan?"

"Bisa juga bukan," kata Corym, meski nadanya sendiri tidak terdengar terlalu yakin, matanya turun sejenak ke meja penuh bukti sebelum kembali menatap Arden. "Draymoor tampak ketakutan waktu kau temui dulu, bukan mengancam."

"Ketakutan orang bisa berubah jadi banyak hal kalau dia terpojok," balas Ilsa.

Petra ikut mendekat, tangannya masih memegang salah satu lembar catatan dari meja, ujung jarinya menekan kertas itu tanpa sadar. "Kalau ini jebakan, kenapa memanggil lewat surat resmi bersegel keluarga? Bukankah itu terlalu terbuka untuk sesuatu yang direncanakan diam-diam?"

Tidak ada yang punya jawaban pasti untuk itu.

Arden menatap surat itu di tangan Ness, lambang keluarga Draymoor yang dulu terasa seperti klien biasa, kini terasa seperti undangan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar pertemuan sopan santun. Ia mengingat kembali percakapan Corym di tepi jurang Greywood, tentang berpura-pura pilihan masih ada padahal sebenarnya sudah habis.

"Aku akan pergi," katanya akhirnya, "tapi bukan berarti aku akan pergi tanpa rencana."

"Sekarang kau bicara," gumam Ilsa, meski nada suaranya belum sepenuhnya melunak.

Corym mulai menyusun kembali dokumen-dokumen di meja, menyimpannya rapi ke dalam map, tapi matanya sesekali melirik Arden, memastikan tidak ada yang berubah pikiran secara diam-diam soal keselamatan malam ini. Petra membantu merapikan sisa peralatan, gerakannya lebih cekatan dari biasa, seolah kesibukan kecil itu satu-satunya cara menahan kegelisahannya sendiri, sesekali meliriknya ke arah pintu seolah menghitung berapa lama lagi sebelum Arden harus berangkat.

Malam di luar semakin gelap, dan waktu pertemuan yang diminta Draymoor semakin dekat, menyisakan tidak banyak waktu bagi mereka untuk menyusun rencana yang benar-benar aman.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!