Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Zona yang Tidak Lagi Nyaman
Markas terasa lebih sempit begitu Arden selesai bicara. Bau kayu bakar dari perapian yang baru dinyalakan Wick masih menggantung di udara, bercampur sisa keringat perjalanan yang belum sepenuhnya hilang dari jubah mereka. Sembilan pasang mata menatapnya dari sekeliling meja panjang, sebagian diam, sebagian sudah bergerak gelisah di kursi masing-masing.
"Diawasi," ulang Corym, pelan, seolah kata itu perlu diucapkan ulang untuk benar-benar dipercaya.
"Bukan hukuman, katanya," kata Arden.
"Tapi terasa seperti itu," kata Ilsa, lengan bersilang di kusen pintu dapur, satu kaki menyilang di depan yang lain.
Petra berdiri dari kursinya, kursi itu terdorong ke belakang dengan bunyi berat di lantai kayu. "Kenapa kita menganggap ini buruk?"
Ruangan hening sejenak, hanya derak api di perapian mengisi jeda itu.
"Guild mengawasi kita karena mereka menganggap kita penting sekarang," lanjutnya, kedua tangannya terbuka di depan dada, seolah menawarkan sesuatu yang seharusnya jelas bagi semua orang. "Itu bukan ancaman. Itu pengakuan."
"Itu ancaman terhadap semua yang sudah kita bangun," kata Corym, suaranya tajam, lebih tajam dari yang biasa ia gunakan pada Petra. "Independensi kita bukan sekadar gaya hidup, Petra. Itu yang membuat kita bisa bergerak cepat, mengambil keputusan sendiri, tidak menunggu izin birokrasi setiap kali nyawa seseorang dipertaruhkan."
"Dan lihat ke mana itu membawa kita." Petra menunjuk ke arah pintu, ke arah kota di luar sana, tangannya bergetar sedikit dari kemarahan yang belum sepenuhnya reda sejak Hollowreach. "Hollowreach terbakar. Kau terluka. Aku hampir mati. Mungkin kalau kita punya dukungan Guild sejak awal, semua itu bisa dicegah."
"Atau kita akan tenggelam dalam laporan dan izin sementara desa itu tetap terbakar," kata Halden, suaranya berat, tidak berpihak sepenuhnya pada siapa pun, matanya menatap api alih-alih menatap Petra langsung.
Petra menoleh padanya, terkejut mendapati tentangan dari sosok yang biasanya paling sabar padanya, bibirnya terbuka sesaat sebelum menemukan kata-kata lagi. "Aku tidak bilang kita harus jadi Guild besar. Aku bilang kita berhenti bersikap seolah setiap bentuk pengawasan adalah akhir dari segalanya."
Brann duduk diam di ujung meja, jarinya mengetuk buku catatannya, tidak ikut bicara, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain seperti menonton pertandingan yang tidak ingin ia menangkan sisi mana pun. Tomas dan Doran bertukar pandang singkat, memilih diam, Ashe di bahu Doran menggeser posisinya sekali, seolah merasakan ketegangan di ruangan. Sister Yuna meletakkan tangan lembut di lengan Petra, isyarat untuk duduk kembali, tapi Petra tidak bergerak, ototnya tegang di bawah sentuhan itu.
"Aku bukan sedang menyerangmu, Arden," katanya, suaranya melunak sedikit, tapi matanya masih menyala, dagunya masih terangkat. "Aku hanya lelah kita selalu jadi pihak yang paling terakhir tahu, paling terakhir dipercaya, karena kita terlalu keras kepala menolak bantuan."
"Ini bukan soal menolak bantuan," kata Arden, suaranya tetap tenang, tapi rahangnya mengencang, buku jarinya memutih di atas meja. "Ini soal siapa yang mengendalikan nasib kelompok ini. Kalau Guild mulai menentukan kontrak mana yang boleh kita ambil, wilayah mana yang boleh kita masuki, kapan kita harus lapor sebelum bertindak, kita bukan lagi Jangkar Kelabu. Kita jadi cabang kecil dari sesuatu yang lebih besar."
"Mungkin itu tidak seburuk yang kau bayangkan."
"Mungkin kau belum cukup lama di sini untuk tahu kenapa itu penting."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Arden inginkan, menggantung di udara seperti sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Petra mundur setengah langkah, seolah baru saja ditampar, matanya berkedip cepat sebelum ia mengatupkan rahang, jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya.
"Baik," katanya, suaranya kaku. "Aku belum cukup lama. Terima kasih sudah mengingatkan."
Ia berjalan keluar ruangan, tidak berlari, tapi cukup cepat untuk membuat siapa pun tahu ia tidak ingin dikejar, langkahnya menghentak di lantai kayu sampai pintu belakang membuka lalu tertutup. Yuna menghela napas, berdiri, mengikutinya perlahan, tanpa berkata apa-apa pada yang lain.
Sisa rombongan duduk dalam keheningan yang canggung, hanya suara api yang masih memakan kayu di perapian. Ilsa menatap Arden dengan alis terangkat, tidak berkata apa-apa, tapi ekspresinya cukup jelas.
"Itu tidak perlu," kata Corym akhirnya.
"Aku tahu," kata Arden, tangannya menggosok wajahnya sekali, terasa lebih berat dari yang seharusnya sesuatu segenggam kata bisa terasa. "Aku akan minta maaf padanya nanti."
"Itu bukan maksudku." Corym duduk lebih tegak, jari-jarinya terjalin di atas meja. "Maksudku, sebagian dari yang dia katakan tidak sepenuhnya salah, Arden. Aku sudah memikirkannya sejak Hollowreach. Mungkin kita memang perlu mulai mempertimbangkan cara baru menjalankan kelompok ini."
Arden menoleh padanya, sesuatu yang menyerupai keterkejutan singkat melintas di wajahnya, rahangnya sedikit terbuka sebelum kembali tertutup. "Kau juga?"
"Aku tidak bilang aku setuju dengan cara Petra menyampaikannya," kata Corym, cepat, tangannya terangkat sedikit seolah menahan tuduhan yang belum diucapkan. "Tapi aku melihat apa yang kau lihat, dan aku juga melihat apa yang dia lihat. Dunia berubah di sekitar kita, mau kita suka atau tidak."
Tidak ada yang menjawab itu. Halden menatap ke meja, jari-jarinya mengetuk permukaannya sekali, dua kali. Doran mengelus Ashe yang bertengger diam di bahunya. Tomas memilih menatap keluar jendela, ke kegelapan jalan yang sepi. Brann menutup buku catatannya pelan, tanda diskusi ini sudah selesai untuk malam ini, meski tidak ada satu pun kesimpulan yang tercapai, hanya keretakan kecil yang baru saja terbuka di antara mereka, belum sembuh, belum juga ditutup.
Arden berdiri, tidak mengatakan apa-apa lagi, dan berjalan menuju tangga, meninggalkan meja panjang yang masih penuh ketegangan yang tidak terselesaikan di belakangnya.
Ia menemukan kedamaian singkat di kamarnya, duduk di tepi ranjang, jendela terbuka membiarkan udara malam masuk, dingin menyentuh kulitnya. Ia baru saja menyentuh rantai di lehernya ketika ketukan pelan terdengar di pintu.
"Masuk," katanya, tanpa berpikir.
Ilena membuka pintu, berdiri di ambangnya, tidak masuk sepenuhnya, tangannya menggenggam prisma kecil yang sudah lama tidak ia lepaskan sejak Menara Verlanth, cahayanya redup di antara jari-jarinya.
"Aku dengar sebagian dari bawah," katanya.
Arden tidak menjawab, tangannya masih di dada, belum sepenuhnya menyembunyikan liontin itu.
"Kau janji akan bicara," lanjut Ilena, melangkah masuk sekarang, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan. "Setelah Hollowreach, kau bilang. Hollowreach sudah selesai, Arden. Guild sudah tahu lebih banyak soal dirimu daripada aku, orang yang sudah tujuh tahun berdiri di sisimu."
"Ilena—"
"Aku sudah menunggu, Arden." Suaranya tidak keras, tapi setiap kata jatuh dengan berat yang tidak bisa ia bantah, matanya tidak berkedip menatapnya dari seberang ruangan. "Aku sudah bersabar lebih lama dari yang seharusnya. Tapi aku melihatmu hampir ambruk di Menara Verlanth. Aku melihatmu berbohong pada Guildmaster hari ini soal apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhmu. Aku tidak bisa terus berpura-pura tidak tahu ada sesuatu yang sangat salah."
Arden menatapnya, tangannya perlahan turun dari dadanya, jatuh ke pangkuan.
"Kau berjanji akan bicara," katanya, berdiri tepat di depannya sekarang, matanya tidak berkedip. "Sekarang saatnya."