Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Di Ambang Penculikan
Aluna mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur dinding gudang. Di hadapannya, Victor berdiri dengan senyum penuh kemenangan, sementara belasan anak buahnya mengepung setiap jalan keluar.
"Kenapa... kenapa Anda melakukan semua ini?" tanya Aluna berusaha tetap tenang.
Victor tertawa kecil.
"Karena keberadaanmu adalah ancaman."
"Aku bahkan tidak mengenalmu."
"Itulah masalahnya. Kamu tidak tahu siapa dirimu sendiri."
Victor mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tasnya.
"Di dalam map ini ada seluruh rahasia tentang kelahiranmu."
Mata Aluna langsung tertuju pada map tersebut.
"Itu milikku?"
Victor mengangguk pelan.
"Benar. Tapi kamu tidak akan pernah membacanya."
Belum sempat Aluna menjawab, dua pria bertubuh besar mendekatinya.
"Ikat dia."
Mereka berusaha menangkap Aluna, tetapi gadis itu segera berlari ke arah lain. Gudang yang penuh dengan tumpukan peti membuat mereka kesulitan mengejarnya.
Aluna terus berlari tanpa menoleh.
Napasnya mulai memburu.
"Tolong..." bisiknya pelan.
Namun, salah seorang anak buah Victor berhasil menarik lengannya.
Aluna berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku!"
Pria itu tidak menghiraukannya.
Saat ia hendak mengikat kedua tangan Aluna, suara benturan keras terdengar dari pintu depan.
Brak!
Pintu gudang terbuka lebar.
Arsen datang bersama Rangga dan beberapa pengawal.
"Jangan sentuh dia!"
Victor tersenyum tipis.
"Aku tahu kau akan datang."
Arsen melangkah mendekati Victor dengan tatapan tajam.
"Lepaskan Aluna."
"Kalau tidak?"
"Aku pastikan kau menyesal."
Victor tertawa.
"Berani sekali."
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya.
Dalam sekejap, perkelahian kembali terjadi.
Rangga bersama para pengawal menghadang sebagian besar anak buah Victor.
Sementara itu, Arsen menerobos kerumunan untuk mencapai Aluna.
"Arsen!"
Aluna berteriak saat melihat salah seorang pria mengangkat batang besi ke arah Arsen.
"Hati-hati!"
Arsen berhasil menghindar tepat waktu, lalu menjatuhkan pria itu dengan satu pukulan.
Ia segera meraih tangan Aluna.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aluna mengangguk, meski air matanya mulai mengalir.
"Aku takut..."
Arsen menggenggam tangannya erat.
"Aku datang."
Hanya dua kata itu, tetapi cukup membuat Aluna merasa aman.
Melihat Aluna berhasil diselamatkan, Victor mengepalkan rahangnya.
"Ternyata kau memang selalu menjadi penghalang."
Victor mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
Semua orang langsung membeku.
"Pak!" teriak Rangga.
Victor mengarahkan pistol itu ke arah Arsen.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan gadis itu..."
"...setidaknya aku bisa menyingkirkanmu."
Aluna langsung berdiri di depan Arsen.
"Jangan!"
Victor menyeringai.
"Kau rela mati untuknya?"
Aluna menatap Victor tanpa rasa takut.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya."
Ucapan itu membuat Arsen terkejut.
Sementara Victor hanya tertawa pelan.
"Kalau begitu..."
Dor!
Suara tembakan menggema di seluruh gudang.
Aluna memejamkan mata.
Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari dirinya tidak merasakan sakit.
Saat membuka mata, ia melihat seseorang berdiri di depan mereka.
Orang itu adalah Hendra.
Pria tua itu terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Darah mulai mengalir dari bahunya.
"Hendra!" seru Arsen.
Victor terkejut karena tembakannya meleset dari sasaran.
Suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan.
Wajah Victor berubah kesal.
"Kita pergi!"
Ia dan anak buahnya segera melarikan diri melalui pintu belakang gudang sebelum polisi mengepung lokasi.
Arsen berlutut di samping Hendra.
"Pak Hendra, bertahanlah."
Hendra tersenyum lemah.
"Aku... tidak apa-apa."
Ia kemudian menggenggam tangan Aluna.
"Dengarkan baik-baik..."
"Ada satu tempat..."
"...yang menyimpan bukti terakhir tentang siapa dirimu."
Sebelum sempat menyebutkan lokasi tersebut, Hendra kehilangan kesadaran.
Ambulans segera membawa Hendra ke rumah sakit.
Sementara Aluna hanya bisa menangis di samping Arsen.
Ia sadar, perjalanan mencari jati dirinya belum berakhir.
Justru kini, rahasia terbesar semakin dekat untuk terungkap.