NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Begitu aku meletakkan sendok dan garpu, denting logam yang beradu dengan piring porselen seolah menjadi penanda dimulainya interogasi. Abhinav menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada, lalu menatapku dengan sorot yang lebih dingin dari sebelumnya.

​"Aku tidak ingin basa-basi," suaranya berat dan mutlak, menggantung di antara kami. "Dan jangan pernah mencoba menguji batas kesabaranku."

​Ia memajukan sedikit tubuhnya, membuat aura dominasinya semakin menekan. "Tidak akan ada lagi rumah sakit, tidak ada lagi pekerjaan, dan kau tidak akan pergi ke mana pun sesuka hatimu sendiri," tegasnya tanpa nada ragu. "Mulai sekarang, akan ada seseorang yang menemanimu setiap saat ketika aku tidak berada di sampingmu. Kau tidak punya pilihan lain dalam hal ini."

"Orang yang akan menjagamu adalah mereka yang berada di bawah perintah langsungku," lanjutnya, suaranya sedingin es yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Artinya, mereka adalah mataku, telingaku, dan perpanjangan tanganku. Kamu tidak akan pernah benar-benar sendirian, entah itu di dalam maupun di luar rumah ini."

​Kalimat itu menghantamku telak. Lidahku terasa kelu, sekadar untuk membantah atau sekadar menanyakan alasan pun, suaraku seolah tersangkut di tenggorokan. Aku hanya bisa mematung, menatap kosong ke arah meja, menyadari betapa sempit ruang gerak yang kini tersisa untukku.

​Belum sempat aku mencerna kenyataan pahit tersebut, ia kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang terdengar seperti sebuah titah yang tidak bisa diganggu gugat.

​"Pernikahan kita akan diadakan satu minggu lagi," ucapnya mutlak. Ia menatapku lekat, seolah memastikan setiap kata meresap ke dalam kesadaranku. "Aku ingin intimate wedding. Hanya keluarga, sahabat, dan beberapa kolega bisnis terdekat yang akan hadir. Persiapkan dirimu, karena setelah hari itu, tidak akan ada lagi dunia luar yang bisa kau gapai tanpa seizinku."

"Aku berikan kebebasan padamu untuk memilih tema pernikahan, gaun, jenis jamuan, dan segala detail lainnya," ucapnya singkat, seolah memberikan sedikit kelonggaran di tengah kungkungan yang baru saja ia buat. "Gunakan waktumu untuk mengurus itu, tapi jangan harap kebebasan itu berlaku untuk hal lain di luar persiapan pernikahan."

​Tepat saat kalimatnya selesai, pintu kamar yang tadi tertutup rapat terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita asing melangkah masuk dengan langkah yang terlatih dan presisi. Ia mengenakan setelan pakaian serba hitam yang tampak formal sekaligus mengintimidasi. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

​Begitu sampai di dekat meja kami, wanita itu berhenti dengan gerakan yang sangat disiplin. Ia berdiri dengan bahu tegak, lalu menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang kaku dan penuh kepatuhan kepada Abhinav. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat suasana di balkon yang tadinya hanya diisi oleh ketegangan kami berdua, kini terasa lebih menyesakkan dengan keberadaan orang asing yang tampak seperti bayangan hidup Abhinav.

Abhinav tidak membuang waktu. Ia mengarahkan dagunya sedikit ke arah wanita itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin.

​"Perkenalkan, dia Gladiolus," ujar Abhinav datar. "Panggil saja dia G."

​Ia terdiam sejenak, membiarkan matanya menatap tajam ke arah wanita bernama G itu sebelum kembali beralih padaku. Dan setahuku namanya seperti bunga yang memiliki arti bahasa Latin, gladius, yang berarti pedang. Posturnya yang tegak dan sikapnya yang disiplin adalah representasi dari integritas, ketabahan, serta moral yang kuat. Dia bukan sekadar pengawal, dia adalah manifestasi dari kepatuhan yang tidak mengenal kompromi.

​G tetap berdiri mematung di posisi yang sama, bahkan tarikan napasnya pun seolah tidak terdengar. Tatapannya lurus ke depan, mencerminkan ketajaman layaknya pedang yang terhunus, persis seperti filosofi namanya. Kehadiran G di sana benar-benar menjadi pengingat nyata bahwa mulai detik ini, setiap langkahku akan selalu berada dalam pengawasan yang tak bisa kuhindari.

Abhinav bangkit dari kursinya, membiarkan bayangannya menutupi sebagian meja sarapan. Ia menatapku sejenak, tatapannya menyapu penampilanku dengan dingin sebelum ia kembali berucap, seolah semua ini hanyalah rutinitas yang sudah ia susun sempurna.

​"Aku sudah membuat janji dengan salah satu desainer ternama siang ini," tuturnya tanpa nada negosiasi. "Di sana, kamu bisa memilih gaun yang kamu inginkan untuk pernikahan nanti. Jangan buang waktu, pastikan semuanya sesuai dengan yang kamu inginkan."

​Ia melirik G yang masih berdiri tegak di sampingnya, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang mengintimidasi. "Selain gaun, pihak wedding organizer yang sudah kupilih juga akan menemuimu di sana. Mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan dan apa saja batasan yang tidak boleh dilanggar. Jadi, dengarkan mereka, dan jangan mencoba untuk memutarbalikkan rencana yang sudah kubuat."

​Abhinav memberi isyarat kecil pada G, yang segera ditanggapi wanita itu dengan anggukan singkat. Kebebasan memilih yang ia berikan terasa begitu hambar itu bukanlah tawaran, melainkan sebuah instruksi untuk segera bergerak di bawah pengawasan ketat yang kini telah mengepung hidupku.

Sebelum Abhinav melangkah pergi, tangannya bergerak cepat, mencengkeram rahangku dengan jemari yang kokoh, memaksaku untuk mendongak dan menatap tepat ke dalam matanya yang kelam. Tanpa aba-aba, ia menunduk dan melumat bibirku dengan ciuman yang terasa kasar, menuntut, dan dalam sebuah tindakan yang lebih menyerupai dominasi daripada kasih sayang. Ciuman itu menyisakan rasa sesak dan intimidasi yang mendalam di setiap sarafku.

​Begitu ia melepaskan pagutannya, ia tidak langsung menarik diri. Ia memiringkan kepalanya, mendekat hingga napas hangatnya menerpa daun telingaku. Suaranya merendah menjadi bisikan sedingin es yang mengirimkan getaran ketakutan ke seluruh tubuhku.

​"Jangan pernah berbuat hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri," bisiknya tajam, setiap kata terasa seperti ancaman nyata yang menempel di ingatanku.

​Setelah memberikan peringatan terakhir itu, ia melepaskan cengkeramannya dari wajahku dengan gerakan yang kasar. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar dan percaya diri, diikuti oleh G yang membuntuti tepat di belakangnya dengan langkah yang sama disiplinnya. Meninggalkan aku sendirian di balkon, terdiam dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdegup tidak karuan.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!