"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 25
"Kalau begitu, menginaplah disini Sagara."
"Bu? Gak bisa dong, apa kata orang-orang?" Aku mulai protes, selain aneh dengan sikap ibu yang berubah baik dan lembut, aku juga tak bisa lama-lama berada di rumah, kalau bisa malam ini juga aku dan Sagara berangkat ke Jakarta.
"Gampang, tinggal bilang kalau kalian sebentar lagi menikah!" Ibu beralih menatapku, tatapannya agak lain saat menatap Sagara tadi.
"Bu?"
"Kamu belum pernah sekalipun menuruti kemauan Ibu, Hanin. Bukan begitu, Bu?" Mbak Naura tersenyum lebar.
Setresss!!!
Ada apa dengan orang-orang rumahku, semua seolah sudah terencana sejak Ibu tahu aku kerja dengan Mas Firman kala itu. Kebencian ibu, sikap asli Mas Harsa dan sekarang? Mbak Naura sama sekali tak menunjukkan seperti orang frustasi yang sering dia perlihatkan di depanku.
"Maaf bukan saya menolak, Bu. Tapi sejujurnya kedatangan saya dan Hanin kesini karena mendengar Ibu sakit. Kami buru-buru, dan Hanin sedang masa promosi jadi gak bisa izin. Melihat Ibu sepertinya baik-baik saja,--" Sagara terdiam, lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Aku menunduk, gugup.
"Sakit?" Ibu tersenyum lalu menatapku.
"Mas Harsa yang bilang, Sagara juga dengar kok, makanya aku buru-buru pulang tanpa bawa apa-apa."
"Tanpa bawa apa-apa? Kamu nggak anggap Sagara? Jelas kamu bawakan menantu buat ibu," sahut ibu tersenyum sumringah.
"Nin, ada simpanan uang kah? Ibu butuh buat persiapan empat bulanan kakakmu."
Aku menghela napas, melirik mbak Naura yang terlihat santai tanpa dosa. Untung Haikal sedang tak ada di depan, kemungkinan sedang tidur di kamar, jadi aku tak perlu menjaga sikapku.
"Mas Harsa kan tajir, Bu. Masa urusan Mbak Naura minta juga ke aku?" aku menaikkan alis, "dulu dia sanggup jajanin aku sehari dua ratus ribu lho, Bu! Itu cuma buat makan, belum kalau lagi pengen nonton atau keliling mall," ucapku memanas-manasi Mbak Naura.
"Keuangan Harsa lagi seret," adu Mbak Naura. Wajahnya sudah muram macam tisu lecek dibagi dua.
"Kali ini aja, Nin. Tolongin Mbakmu," seru Ibu memutus ketegangan diantara aku dan Mbak Naura.
"Maaf ya Sagara, kamu harus lihat drama keluarga aku yang mirip sinetron." Aku berkata pelan, meski yakin saat ini Ibu dan Mbak Nau mendengar keluhanku.
"Aku udah transfer ke rekening Ibu," sahutku setelah beberapa menit menjelajahi ponsel.
"Astaga, Nin. Cuma satu juta? Biasa kamu ngasih Ibu juga tiga juta." Baik Ibu maupun Mbak Nau terlihat protes, "satu juta dapat apa?" sambung Mbak Nau.
"Udah ngeluhnya? Uang segitu gajiku beberapa hari. Harusnya Mbak mikir gimana caranya dapat duit buat bantu Mas Harsa kalau memang keuangan kalian lagi seret, bukannya ngemis ke aku lewat Ibu!"
"Hanin?" Ibu melotot sempurna.
Lantas, aku menoleh ke Sagara, "ayo balik sekarang. Kayaknya percuma jauh-jauh dari Jakarta khawatir sama orang yang bahkan cuma menganggap aku atm berjalan."
"Bukan begitu wahai Ibu?" Aku tersenyum sinis. Dia ibuku, tapi entah sekarang rasanya aku seperti anak tiri. Dibuang, dianggap mesin pencetak uang dan tak lagi disayang.
"Jaga bicaramu!"
"Yang Hanin bilang itu benar, Bu. Dia bukan Atm berjalan. Permisi!"
Saat sampai di ambang pintu, Ibu meneriaki kalimat yang membuatku benar-benar menegang di tempat.
"Sebagai anak, harusnya kamu tahu apa itu balas budi..."
Deg...
"Anak?" aku menoleh, tersenyum sarkas.
Sorot mata Ibu berubah-ubah, tapi kali ini aku menatapnya lebih lama, beliau terlihat sangat gugup.
Sagara membawaku ke mobil, tubuhku seolah berat, tak ada daya untuk sekedar melangkah. Tiba berdua di mobil, aku hanya bisa menutup wajah dan menangis sejadi-jadinya.
"Nangis aja gak apa-apa!" Sagara mengangsurkan tisu, membuatku enggan menatapnya.
Aku pikir, ia akan melarangku menangis dan menenangkanku, nyatanya ia malah menyuruhku menangis.
Nyatanya, aku memang tak sekuat itu...
***
Mobil Sagara melaju dengan kecepatan sedang, aku tak bisa berfikir jernih saat ini. Setelah puas meluapkan tangis, aku pikir kami akan benar-benar pulang ke Jakarta malam ini juga. Namun, tebakanku salah karena ia membawaku ke hotel tadi.
"Gara, ngapain kita kesini?"
"Kamu nggak mungkin membiarkan aku nyetir lagi ke Jakarta malam ini juga kan? Kita butuh istirahat, Hanin."
Aku mendekus, meski ucapannya memang benar.
Aku tak bisa seegois itu membiarkan Sagara kembali menyetir malam ini juga.
"Oke!"
Sagara berjalan ke lobi hotel untuk memesan kamar, sementara di jarak satu setengah meter aku menunggu sambil melihat sekeliling, takut juga jika melihat atau bertemu dengan orang yang aku kenal.
"Satu kamar, twin bed, not bad lah, dari pada nyetir dalam keadaan ngantuk!" Sagara mengangkat sebuah akses card ke hadapanku.
"Satu kamar?" rasanya aku ingin menjerit saja, apalagi berada satu kamar dengan Sagara, bisa gila nanti.
"Aku bilang not bad, kamu juga butuh temen kan? Lagi sedih ini..."
"Terserah!"