Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Kristal Level 6
"Kristal Level 6."
Begitu kata itu keluar dari mulut Hendry, ruang kerja seolah ikut menahan napas.
Fajar berdiri di depan meja dengan kain kecil terbuka di kedua tangan. Kristal itu tidak sebesar kepalan, tetapi tekanan yang keluar darinya jauh lebih pekat daripada ratusan Kristal Level 1 yang baru mereka kumpulkan. Warnanya abu gelap dengan urat dingin di dalam, seperti batu yang menyimpan malam.
Mawar yang baru masuk membawa catatan medis berhenti di dekat pintu.
"Level 6?" suaranya pelan.
Hendry mengangguk. "Belum bisa dipakai sembarang orang."
Di kehidupan sebelumnya, Kristal Level 6 bukan barang yang muncul di meja pemimpin kecil pada hari kedua puluh tiga kiamat. Untuk mendapatkannya, orang harus membunuh zombie atau mutant yang bisa menghancurkan seluruh basis awal sendirian. Bahkan bagi Hendry sekarang, benda itu bukan hadiah. Itu pertanyaan.
Pertanyaan paling penting: siapa yang cukup kuat untuk membunuh pemilik Kristal ini di sekitar Jakarta selatan?
"Bawa Dingin Halim masuk," kata Hendry.
Fajar memberi isyarat ke luar.
Dingin masuk tanpa banyak suara. Pria itu kurus, kulitnya pucat karena kurang matahari, dan matanya dingin seperti namanya. Tidak ada ekspresi memohon. Tidak ada senyum ingin disukai. Tangannya diikat di depan, tetapi ia berjalan seolah tali itu hanya formalitas.
Bagus berdiri di belakangnya dengan linggis di bahu.
"Nama," kata Hendry.
"Dingin Halim."
"Kemampuan."
"Penguatan tubuh. Level 2. Tanpa elemen jelas."
"Kenapa kau ikut kelompok Si Preman?"
Dingin menatap meja, bukan wajah Hendry. "Karena sebelum hari ini, mereka pilihan paling dekat untuk tetap hidup. Bukan karena setia."
Bagus mendengus. "Jujur amat."
"Bohong tidak membuat tali ini lepas."
Hendry memperhatikan nadanya. Dingin tidak menantang. Ia juga tidak merendah. Orang seperti ini berbahaya jika punya ambisi tersembunyi, tetapi berguna jika aturan transaksinya jelas.
"Kristal Level 6 dari mana?"
"Reruntuhan ruko di barat daya. Tiga hari lalu." Dingin menjawab pendek. "Ada mayat zombie besar. Kepalanya sudah pecah. Tubuhnya masih utuh, tinggi hampir tiga meter. Di sekitarnya banyak jejak pertarungan. Beton pecah, tiang listrik bengkok. Saya ambil Kristal karena tidak ada orang di sana."
Mawar menatap Hendry.
Fajar langsung membuka buku. "Lokasi tepat?"
Dingin menyebut arah, patokan jalan, dan satu papan toko yang masih bisa dikenali. Detailnya kering, tetapi konsisten.
"Kau tidak membunuh zombie itu," kata Hendry.
"Kalau saya yang membunuh, saya tidak akan jadi tawanan Si Preman."
Bagus tertawa sekali. "Oke, gue mulai suka."
Hendry tetap tidak tersenyum. "Kenapa menyerahkan Kristal ini?"
Dingin mengangkat mata untuk pertama kalinya. "Saya tahu nilainya. Saya juga tahu kalau menyembunyikannya dan ketahuan, saya mati. Kalau menyerahkan sekarang, saya membeli tempat. Bukan belas kasihan. Tempat."
"Tempat berarti aturan."
"Saya bisa mengikuti aturan yang jelas."
"Dan kalau aturan itu merugikanmu?"
"Selama aturan itu berlaku untuk semua orang, saya tidak keberatan."
Hendry mengetuk meja satu kali.
Jawaban itu lebih baik daripada janji setia yang terlalu cepat.
"Ikatan dilepas. Tapi kau tidak masuk tim inti. Tiga hari observasi. Kau tidur di barak tawanan yang sudah dibersihkan, bekerja di bawah Fajar, dan tidak menyentuh senjata tanpa izin."
Dingin mengangguk. "Cukup."
Hendry mengambil Kristal Level 6 dengan kain, lalu memasukkannya ke kotak logam kecil. Ia tidak menyerapnya. Belum.
Level 4 ke Level 5 butuh fondasi stabil. Kristal setinggi ini bisa menjadi tangga, tetapi tangga yang diinjak terlalu cepat bisa mematahkan kaki.
"Fajar, kirim dua orang memeriksa lokasi yang disebut Dingin. Jangan masuk terlalu dalam. Tandai dari luar."
"Siap, Pak."
Perintah itu belum sempat selesai ketika suara peluit darurat terdengar dari luar.
Pendek.
Dua kali.
Laporan lapangan, bukan serangan besar.
Fajar langsung keluar, lalu kembali kurang dari lima menit kemudian dengan wajah yang berubah.
"Pak Hendry. Patroli barat menemukan tubuh perempuan muda di selokan kering dekat deretan ruko. Bukan zombie."
Mawar langsung mengambil tas medis.
Hendry berdiri. "Bawa aku ke sana."
Lokasi itu berada di pinggir wilayah lima kilometer yang baru dinyatakan Hendry. Jalan menuju sana masih penuh bekas gelombang zombie: kaca pecah, noda darah kering, dan mobil yang setengah masuk parit. Dua anggota patroli menunggu di dekat selokan kering dengan wajah pucat.
Tubuh perempuan itu terbaring miring di antara rumput liar.
Usianya mungkin belum dua puluh lima. Rambutnya penuh debu. Bajunya robek di bagian bahu, tetapi tidak ada tanda gigitan zombie. Yang ada justru luka besar di rusuk dan punggung, seperti dihantam benda tumpul dari samping. Di beberapa luka, serpihan batu kecil tertanam dalam daging.
Mawar berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh leher perempuan itu.
Tidak ada nadi.
Cahaya yang ikut untuk mencatat menutup mulut. "Namanya Indah. Dia dari salah satu rumah dekat Griya Lestari. Kemarin belum sempat ikut rombongan saya. Dia bilang mau mencari adiknya dulu."
Hendry tidak menjawab.
Mawar memeriksa luka dengan hati-hati. Cahaya emas muncul sangat tipis, bukan untuk menyembuhkan, hanya untuk membaca sisa trauma tubuh.
Air mata menggenang di matanya.
"Dia baru meninggal belum lama," kata Mawar. "Mungkin semalam. Bukan karena zombie. Tulangnya hancur dari luar. Dan ini..."
Ia mengambil serpihan batu dengan pinset kecil.
Serpihan itu tidak seperti pecahan jalan biasa. Ada sisa energi kasar di permukaannya, berat, kering, menekan.
Awan yang berdiri di belakang Hendry menatap tanah di sekitar selokan. "Jejak kaki besar. Beberapa orang. Yang satu lebih dalam daripada yang lain."
Fajar menunjuk sisi tembok. "Ada bekas hantaman di sana. Seperti batu didorong dari bawah tanah."
Tanah.
Kemampuan tanah.
Nama lama muncul di ingatan Hendry seperti karat yang digosok sampai tajam.
Tanah Keras.
Di kehidupan sebelumnya, pria itu menguasai sekelompok manusia brutal di sekitar lokasi konstruksi. Ia tidak membangun basis. Ia membangun kandang. Orang yang lemah dijadikan umpan, perempuan dijadikan barang, dan siapa pun yang melawan dikubur setengah hidup sebagai tontonan.
Dan di sampingnya selalu ada satu orang bertubuh hitam besar yang memakai tongkat besi.
Si Hitam.
"Pak?" Fajar memanggil pelan.
Hendry menutup mata sebentar.
Ia sudah menyelamatkan banyak orang lebih cepat daripada kehidupan sebelumnya. Ia membunuh Kevin, Ferry, Bintang, Racun, Si Preman. Ia membangun aturan sebelum base busuk dari dalam.
Tapi tetap ada orang yang mati di tepi wilayahnya.
Indah tidak mengenalnya. Mungkin ia tidak pernah tahu nama Hendry. Tetapi ia mati di tanah yang baru kemarin Hendry nyatakan berada di bawah perlindungannya.
Itu cukup.
Hendry membuka mata.
Suaranya tenang. Terlalu tenang sampai Bagus yang baru datang berhenti melangkah.
"Bawa tubuh Indah ke base. Bersihkan. Kuburkan dengan layak."
Mawar mengusap air mata dan mengangguk.
Hendry menatap serpihan batu di pinset, lalu jejak kaki dalam di tanah.
"Fajar, kumpulkan tim inti. Kita berangkat setelah lokasi mereka dipastikan."
"Targetnya, Pak?"
Hendry menatap jalan kosong di barat.
"Tanah Keras. Si Hitam."
Nama itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, meski sebagian besar orang belum tahu siapa mereka.
Hendry berkata pelan, setiap kata jatuh seperti pisau yang disimpan terlalu lama.
"Gue akan menemukan kalian. Dan kalian akan berharap kalian zombie, karena zombie mati lebih cepat."