Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: DEKAPAN HANGAT DI RUANG KERJA
Langkah kaki kets kecil Arkan membawanya sampai di depan teras rumah dinasnya sendiri. Napasnya masih memburu, sisa air mata yang mengalir di sepanjang koridor Mako tadi kini telah mengering, meninggalkan jejak samar di pipi gembulnya. Hari masih siang, matahari ksatrian Bukit Raya sedang terik-teriknya memayungi asrama militer. Namun, di dalam dada kecil Arkan, ada sebuah kekosongan dan rasa rindu yang teramat sangat yang mendadak buncah. Anak itu merindukan ibunya.
Selama dua tahun belakangan ini, sejak ia mulai tumbuh besar, Arkan teramat pintar dan pengertian. Ia tahu persis bahwa ibunya, Kapten Ayu, adalah seorang perwira intelijen yang memiliki tanggung jawab besar di kantor Satdik. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, Arkan merengek atau sekadar mengganggu waktu kerja ibunya di siang hari. Ia selalu setia menunggu di rumah atau bermain di sekitar komplek bersama Alif sampai jam dinas usai. Namun, hantaman kalimat dari anak-anak komplek dan konfrontasinya dengan Kolonel Victor beberapa menit lalu benar-benar meruntuhkan pertahanan dewasanya yang semu. Ia butuh pelukan ibunya sekarang juga.
Tanpa mengganti baju seragam sekolah dasarnya, Arkan hanya melangkah masuk ke dalam rumah untuk menyimpan tas punggungnya di atas kursi ruang tamu. Setelah itu, dengan tekad bulat, bocah enam tahun itu kembali melangkah keluar, berjalan lurus menuju kompleks gedung perkantoran staf tempat ibunya berdinas. Arkan tahu, jam di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa saat ini adalah waktu istirahat siang, waktu di mana atmosfer kantor sedikit melunak.
Begitu memasuki selasar gedung staf, Arkan yang berjalan dengan kepala tertunduk tidak sengaja berpapasan dengan Lettu Yunita yang baru saja keluar dari ruang administrasi dengan membawa beberapa map berkas.
"Eh, Arkan?" sapa Yunita dengan nada terkejut sekaligus gemas melihat keponakan kecilnya itu berada di lingkungan kantor sepagi ini. "Tumben siang-siang ke sini. Mau cari Ibu, ya?"
Arkan hanya mengangguk pelan, tidak memamerkan senyum lebarnya seperti biasa. Yunita yang menangkap gurat muram di wajah anak itu sedikit heran, namun ia tidak berpikir terlalu jauh. Sembari tersenyum hangat, Yunita mengusap pucuk kepala Arkan lalu mengarahkannya ke arah lorong sebelah kanan.
"Itu, Ibu ada di ruangan kerjanya di ujung lorong. Sedang istirahat di dalam. Langsung masuk saja, Sayang."
"Terima kasih, Bunda Nita," ucap Arkan lirih, lalu segera mempercepat langkah kakinya menyusuri koridor beton tersebut.
Di dalam ruang kerjanya yang bernuansa kaku khas militer, Kapten Ayu sedang sibuk-sibuknya menatap layar laptop, memeriksa manifes data personel dan laporan taktis intelijen triwulan yang harus segera diserahkan ke komando atas. Keningnya berkerut dalam, jemarinya lincah mengetik di atas papan ketik, mencoba memanfaatkan sisa waktu istirahat siang demi menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.
KREKK...
Suara pintu ruangan yang mendorong perlahan membuat fokus Ayu teralih. Detik berikutnya, sebuah suara lirih yang teramat akrab di telinganya memecah kesunyian ruangan.
"Ibu..."
Ayu tersentak, sepasang matanya membelalak sempurna melihat siluet tubuh kecil anaknya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang layu.
"Arkan?"
Belum sempat Ayu berdiri dari kursi kerjanya, Arkan sudah berlari kencang menerobos ruangan, menghambur langsung ke dalam pelukan Ayu yang tengah duduk. Kedua lengan kecil bocah itu melingkar erat di leher ibunya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayu. Merasakan kehangatan tubuh mungil putranya dan eratnya pelukan yang tidak biasa itu, seketika hilang sudah seluruh rasa penat, lelah, dan stres akibat beban kerja kedinasan yang sejak pagi menghimpit kepala Ayu. Singgasana ketegasannya sebagai perwira intelijen runtuh, berganti dengan naluri murni seorang ibu.
"Ada apa, Sayang? Tumben sekali siang-siang datang ke kantor Ibu?" tanya Ayu lembut, sembari mendaratkan kecupan-kecupan hangat penuh kasih sayang di pelipis dan wajah gembul Arkan.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak dengan mata yang berkaca-kaca, mengeratkan pegangannya pada seragam dinas Ayu. "Ibu... gendong," ucap Arkan dengan nada manja yang teramat sangat, persis seperti permintaannya saat ia masih berusia tiga tahun dulu.
Ayu sempat tertegun sejenak. "Ada apa, Sayang?" tanya Ayu lagi, merasa ada yang tidak beres dengan kondisi psikologis anaknya hari ini. Namun, melihat binar memohon di mata Arkan, Ayu tidak tega untuk menolak.
Ayu bergegas berdiri dari kursi kerjanya. Dengan sekuat tenaga yang ia miliki, wanita itu mengangkat tubuh padat Arkan, memposisikan bocah itu dalam gendongan depan. Lihatlah, waktu benar-benar telah berlalu; Arkan yang sekarang sudah bertumbuh tinggi hingga sepinggang Ayu, dengan bobot tubuh yang kian berisi. Ayu benar-benar merasa kewalahan dan harus sedikit membungkukkan punggung tegapnya demi menahan tumpuan berat badan Arkan yang digendong dari arah depan. Kedua kaki Arkan melingkar kuat di pinggang ibunya, sementara tangannya tetap mengunci leher Ayu seolah takut kehilangan pelindung utamanya.
"Ada apa sebenarnya, sayang? Coba cerita sama Ibu—"
TOK! TOK! TOK!
Belum sempat Arkan ataupun Ayu berbicara lebih jauh untuk mengurai benang kusut di hati mereka, pintu ruangan kerja Ayu diketuk tiga kali dengan ketukan yang berwibawa, sebelum akhirnya didorong terbuka dari luar.
Siluet tubuh raksasa Kolonel Victor melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadiran sang penguasa ksatrian seketika mengubah tekanan udara di dalam ruangan kerja Ayu menjadi begitu intens dan padat. Ayu yang terkejut langsung menegakkan tubuhnya sebisa mungkin, meskipun posisi tubuhnya masih kewalahan menahan berat badan Arkan.
"Komandan? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Ayu reflek, memberikan penghormatan secara verbal karena kedua tangannya sibuk menopang tubuh sang anak.
Victor tidak langsung menjawab pertanyaan dinas tersebut. Sepasang mata kelamnya bergerak dinamis, memandang tajam ke arah Ayu, lalu dengan cepat mengalihkan seluruh fokus pandangannya ke arah Arkan yang tengah digendong erat dari arah depan oleh ibunya. Dari tatapan matanya, Victor tahu betul bahwa pelarian Arkan dari ruang kerjanya tadi berakhir di sini.
Melihat kehadiran Victor, Arkan mendadak bereaksi defensif. Bocah kecil itu semakin mempererat pelukannya pada leher Ayu, menyembunyikan wajahnya erat-eratan di pundak sang ibu. Di dalam otak kecilnya, Arkan seakan-akan sudah bisa menebak taktik taktis yang akan dilakukan oleh pria raksasa itu, Arkan tahu bahwa Victor pasti akan mengambilnya secara paksa dari gendongan ibunya, lalu mengomelinya dengan nada bariton yang lembut namun tegas bahwa seorang anak laki-laki tidak boleh bersikap manja atau menyusahkan ibunya yang sedang bekerja.
Tebakan Arkan seratus persen akurat. Victor melangkah maju dua kali, mengikis jarak hingga aroma maskulin militer miliknya menguar tajam di antara mereka. Pria raksasa itu mengulurkan kedua tangannya yang kekar ke depan.
"Kemari, Arkan. Turun. Biar Ayah yang gendong kamu. Ibumu sedang lelah bekerja, jangan merepotkan," ucap Victor dengan nada suara yang berwibawa namun terselip ketegasan seorang ayah.
Namun, reaksi yang diberikan Arkan justru di luar dugaan. Bukannya patuh pada perintah sang komandan tertinggi, Arkan justru menggoyang-goyangkan kedua kaki kecilnya di udara, melakukan gerakan menolak yang kentara, dan mempererat kuncian tangannya di leher Ayu.
"Gak mau! Arkan mau sama Ibu saja! Tidak mau sama Ayah Besar!" seru Arkan dengan nada merajuk yang keras.
Melihat interaksi yang teramat janggal dan penuh ketegangan senyap di antara kedua manusia di depannya, Kapten Ayu hanya bisa tertegun kaku dalam posisinya yang kewalahan menopang Arkan. Kedua alis cantiknya bertaut rapat, diselimuti oleh rasa keheranan yang luar biasa besar. Pandangan matanya beralih bergantian dari wajah mengeras milik Kolonel Victor, lalu turun ke arah punggung anaknya yang bergetar menahan emosi.
Ayu membatin dalam hati, ada apa sebenarnya dengan dua manusia ajaib ini? Mengapa atmosfer di antara mereka terasa begitu meledak-ledak laksana medan pertempuran senyap? Apakah mereka berdua baru saja terlibat pertengkaran hebat di luar sana tanpa sepengetahuannya?