Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alan
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian Sephia terkurung di ruang arsip perpustakaan.
Kehidupan di SMA Bina Nusantara perlahan kembali berjalan seperti biasa.
Siswa yang sempat mendapat skorsing sudah tidak lagi terlihat di sekolah.
Kasus itu pun dianggap selesai.
Setidaknya...
Di mata pihak sekolah.
Namun tidak bagi Alan.
Dan juga Sagara.
Meski tak pernah membahasnya secara terang-terangan, keduanya masih sama-sama merasa ada sesuatu yang belum terungkap.
Hanya saja...
Tanpa bukti, mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menyimpan kecurigaan itu sendiri.
Jam istirahat pertama.
Koridor sekolah kembali dipenuhi hiruk pikuk para siswa.
Ada yang berlarian menuju kantin, ada yang duduk bercengkerama di depan kelas, sementara sebagian lainnya memilih menghabiskan waktu di perpustakaan atau taman sekolah.
Di kelas XI IPS 2...
Alan duduk di bangkunya seperti biasa.
Kepalanya bersandar ke belakang kursi.
Headphone menutupi kedua telinganya.
Matanya terpejam.
Entah benar-benar tidur...
Atau hanya sekadar mengistirahatkan diri.
Tiba-tiba...
Bzztt...
Ponsel di dalam saku celananya bergetar.
Alan membuka sebelah matanya.
Saat melihat nama yang muncul di layar, raut wajahnya sedikit berubah.
Mama.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Ma?"
Belum sempat bertanya lebih jauh...
Suara isak tangis terdengar dari seberang telepon.
Alan langsung duduk tegak.
"Ma?"
"Mama kenapa?"
Tangis itu justru semakin terdengar jelas.
Napas Alan mulai memburu.
"Ma, jawab."
"Ada apa?"
Beberapa detik kemudian...
Suara Olive akhirnya terdengar, bergetar menahan tangis.
"Alan..."
"Mama..."
"...Mama kecelakaan."
Deg.
Alan membeku.
"Ma?"
"Di mana Mama sekarang?"
Namun jawaban yang ia dengar justru membuat wajahnya semakin pucat.
Rumah sakit.
Tanpa sempat berpamitan kepada siapa pun, Alan langsung melepas headphone dari kepalanya, meraih tasnya, lalu berlari keluar kelas.
Brak!
Pintu kelas terbuka keras.
Alan terus berlari menyusuri koridor.
Di saat yang bersamaan...
Sephia dan Hana baru saja kembali dari kantin sambil membawa dua gelas es teh.
"Eh, nanti tugas Biologi—"
Belum sempat Hana menyelesaikan ucapannya...
Seseorang melesat cepat dari arah depan.
Hampir saja menabrak Sephia.
Alan berhasil berhenti tepat beberapa senti di hadapan Sephia.
Napasnya memburu.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong.
"Alan?"
Alan seperti baru tersadar.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang keluar.
Lalu ia kembali berlari meninggalkan mereka.
Sephia dan Hana saling berpandangan bingung.
Mereka belum pernah...
Melihat Alan sepanik itu.
Alan terus berlari menuruni tangga sekolah.
Beberapa siswa yang berpapasan dengannya sampai menoleh heran.
"Eh, itu Alan kenapa?"
"Nggak tahu."
"Nggak pernah lihat dia panik begitu."
Alan mengabaikan semua tatapan itu.
Begitu tiba di halaman sekolah, ia langsung menghampiri pos satpam.
"Pak."
Satpam yang sedang duduk langsung berdiri.
"Iya, Lan?"
"Saya izin keluar sekolah."
"Boleh, Pak?"
Melihat wajah Alan yang pucat, satpam langsung mengernyit.
"Ada apa?"
"Mama saya masuk rumah sakit."
Jawaban itu membuat satpam tak bertanya lagi.
"Tunggu sebentar."
Ia segera menghubungi ruang guru melalui telepon.
Beberapa menit kemudian, Pak Damar datang dengan langkah cepat.
"Alan."
"Kamu nggak apa-apa?"
Alan menggeleng.
"Mama saya di rumah sakit, Pak."
"Saya mau ke sana."
Pak Damar menepuk pelan bahu Alan.
"Pergilah."
"Nanti urusan izinnya Bapak yang urus."
"Terima kasih, Pak."
Alan langsung berlari keluar gerbang sekolah.
Untungnya, tak lama kemudian sebuah taksi melintas.
Alan segera menghentikannya.
"Pak, ke Rumah Sakit Harapan Medika."
"Baik, Dek."
Sepanjang perjalanan...
Alan terus menggenggam ponselnya.
Tangannya gemetar.
Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor mamanya.
Namun tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya nada sambung yang terus berulang.
Alan memejamkan mata.
Berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi pikirannya.
"Ma..."
"Tolong jangan kenapa-kenapa."
Sementara itu...
Di sekolah.
Sephia yang masih berdiri di koridor sejak tadi terus memandangi gerbang.
"Han..."
"Lo lihat kan?"
Hana mengangguk pelan.
"Iya."
"Kayaknya serius banget."
Sephia menggigit bibir bawahnya.
"Semoga aja nggak terjadi apa-apa."
Di sisi lain koridor...
Sagara yang baru selesai dari kelas tambahan tanpa sengaja melihat Alan berlari keluar gerbang sekolah.
Ia mengernyit.
"Alan?"
Namun sebelum sempat menghampiri, Alan sudah lebih dulu menghilang di balik keramaian jalan.
Entah mengapa...
Perasaan Sagara ikut menjadi tidak tenang.
Tak lama kemudian...
Mobil taksi berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Harapan Medika.
Belum benar-benar berhenti sempurna, Alan sudah lebih dulu membuka pintu.
"Pak, kembaliannya."
"Nggak usah."
Alan berlari memasuki rumah sakit.
"Permisi..."
"Pasien atas nama Olive Pratama di mana?"
Seorang perawat segera mengecek data di komputer.
"Ruang observasi, lantai dua."
"Terima kasih."
Alan kembali berlari menaiki tangga.
Begitu sampai di depan ruang observasi...
Seorang dokter baru saja keluar.
"Dok..."
"Saya anaknya."
Dokter mengangguk pelan.
"Ibu Anda sudah sadar."
"Untungnya hanya mengalami benturan ringan."
"Tapi beliau mengalami syok cukup berat."
Alan mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
"Kalau boleh tahu..."
"Kecelakaannya gimana, Dok?"
Dokter membuka map di tangannya.
"Menurut keterangan saksi..."
"Ibu Anda hendak menyeberang."
"Tiba-tiba ada seorang remaja laki-laki berlari cukup kencang."
"Tanpa sengaja menabrak beliau."
"Akibatnya beliau kehilangan keseimbangan dan jatuh ke badan jalan."
"Di saat yang bersamaan, sebuah motor melintas."
"Untung pengendaranya sempat mengerem."
Alan membeku.
"Remaja...?"
Dokter mengangguk.
"Anaknya juga sempat datang ke sini."
"Katanya ingin meminta maaf."
"Tapi setelah mengetahui kondisi ibu Anda ditangani dokter..."
"...dia pergi."
Alan mengepalkan tangannya.
"Dia siapa, Dok?"
Dokter menggeleng.
"Maaf."
"Dia tidak meninggalkan identitas."
Alan mengangguk pelan.
Lalu masuk ke ruang observasi.
Di sisi lain kota...
Seorang siswa berseragam sekolah berjalan tergesa melewati gang sempit.
Napasnya memburu.
Tangannya gemetar.
Begitu sampai di sebuah bangku taman yang sepi...
Ia mengeluarkan ponsel dari saku.
Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Panggilan tersambung.
"...Halo."
Suara di seberang terdengar tenang.
"Ada apa?"
Siswa itu menundukkan kepala.
"Saya..."
"Saya nggak sengaja."
Suara di seberang langsung berubah dingin.
"Apa maksudmu?"
"Tadi..."
"Saya nabrak seorang ibu."
"Beliau jatuh..."
"...terus dibawa ke rumah sakit."
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu suara itu kembali terdengar.
"Dengar."
"Mulai sekarang..."
"Jangan pernah hubungi saya lagi."
"Saya nggak kenal kamu."
Panggilan langsung terputus.
Siswa itu hanya bisa menatap layar ponselnya.
Matanya mulai memerah.
Ia benar-benar tidak bermaksud mencelakai siapa pun.
Seperti saat mengunci pintu ruang arsip...
Ia hanya menjalankan apa yang diminta.
Namun kali ini...
Kesalahannya hampir merenggut nyawa seseorang.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Suasana sekolah yang sejak tadi dipenuhi suara guru perlahan berubah menjadi riuh langkah para siswa yang bergegas meninggalkan kelas.
Sephia merapikan buku-bukunya tanpa banyak bicara.
Sejak kejadian di jam istirahat tadi...
Pikirannya sama sekali tidak tenang.
"Pi."
Hana menyenggol pelan lengannya.
"Lo masih kepikiran?"
Sephia hanya mengangguk kecil.
"Iya..."
"Semoga aja nggak kenapa-kenapa."
Hana ikut menghela napas.
"Mudah-mudahan besok dia masuk."
Sephia hanya membalas dengan senyum tipis.
Keduanya berjalan bersama hingga gerbang sekolah.
"Nih, bokap gue udah datang."
Hana menunjuk sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari sana.
"Gue duluan ya."
"Iya. Hati-hati."
"Lo juga."
Sephia melambaikan tangan sebelum melanjutkan perjalanan pulang seorang diri.
Belum jauh dari gerbang sekolah...
Sebuah suara memanggilnya.
"Pia."
Sephia menoleh.
Sagara berjalan menyusul dari belakang.
"Pulang bareng."
Sephia mengangguk.
"Iya, Kak."
Mereka mulai berjalan berdampingan menyusuri trotoar.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Hingga akhirnya Sagara membuka suara.
"Pi."
"Hm?"
"Tadi Alan kenapa?"
"Gue lihat dia lari keluar sekolah."
Sephia mengembuskan napas pelan.
"Nah, itu dia, Kak."
"Gue juga nggak tahu."
"Tadi gue sama Hana baru balik dari kantin."
"Tiba-tiba dia lari."
"Hampir nabrak gue."
Sagara langsung menoleh.
"Hampir nabrak?"
"Iya."
"Gue panggil."
"Dia cuma bilang 'maaf'..."
"...habis itu langsung lari lagi."
Sagara mengernyit.
"Pak Damar bilang apa?"
"Katanya sih Alan izin pulang karena urusan keluarga."
Sephia mengangguk pelan.
"Iya."
"Tapi..."
"Gue belum pernah lihat dia sepanik itu."
Mereka kembali terdiam.
Langkah kaki keduanya terus menyusuri jalan menuju komplek.
Beberapa saat kemudian, Sagara kembali membuka suara.
"Gimana kalau kita ke rumah Alan dulu?"
Sephia menoleh.
"Ke rumah Alan?"
"Iya."
"Kalau dia udah pulang, ya syukur."
"Kalau belum..."
"...siapa tahu orang rumahnya tahu ada apa."
Sephia berpikir sejenak.
Usul itu terdengar masuk akal.
Rumah mereka juga hanya berjarak beberapa rumah.
"...Ya udah."
"Sebentar aja."
Sagara mengangguk.
"Oke."
Keduanya pun mempercepat langkah menuju komplek.
Tak ada yang menyadari...
Bahwa jawaban yang mereka cari...
Akan membawa mereka pada awal dari rahasia besar yang selama ini disembunyikan Alan.