Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Baik Bos " pria itu segera membuka tabletnya lagi.
Andika Prayoga bangkit dari kursinya. Tubuhnya tinggi, rapi dalam balutan jas hitam tanpa satu pun lipatan. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap hamparan gedung pencakar langit.
1 Bulan lamanya. Selama itu, ia duduk di kursi yang seharusnya bukan miliknya.
Semua orang memanggilnya Queen Black Viper yang baru. Mereka memberi hormat, menjalankan perintahnya, bahkan media bawah tanah mulai melupakan nama Kinan.
Namun hanya orang-orang inti yang tahu. Andika hanyalah pengganti. Selama Kinan belum ditemukan, posisi itu tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
"Dimana lokasinya?"
Anak buah itu menjawab, “Belum bisa dipastikan. Jaringannya buruk. Yang terbaca baru area pedesaan. "
Andika melangkah mendekati layar. Titik merah di atas peta berkedip sesaat, lalu menghilang.
"Radiusnya?"
"Sekitar lima kilometer, Bos."
Ia meyakini Kinan telah lenyap bersama masa lalunya. Namun malam ini, keyakinan itu mulai retak. Hanya karena sebuah akses singkat ke mobile banking, jejak perempuan itu kembali muncul.
Andika menyipitkan mata. Jabatan yang kini didudukinya belum benar-benar aman. Selama Kinan masih bernapas, selalu ada kemungkinan orang-orang yang dulu setia kepadanya akan berbalik arah. Ia tidak akan membiarkan benih sekecil apa pun tumbuh menjadi ancaman.
"Apa kita kirim tim ke semua desa dalam radius itu?" tanya anak buahnya.
"Belum." Suara Andika tetap tenang, tetapi nadanya tak menyisakan ruang untuk dibantah.
"Kalau kalian masuk sembarangan, kabar tentang orang asing akan menyebar lebih cepat daripada kita menemukan target."
Anak buahnya mengangguk.
"Lacak setiap aktivitas dari akun itu. Sekali saja dia meninggalkan jejak lagi, laporkan padaku."
"Baik, Bos."
Andika mengalihkan pandangannya dari layar peta. "Temukan Kinan." Suaranya rendah, tetapi cukup membuat ruangan terasa mencekam.
"Sebelum ada yang mengetahui bahwa pewaris Black Viper yang sebenarnya masih hidup."
Anak buahnya segera keluar dari ruangan.
"Berarti dia masih hidup." gumam Andika, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan rasa lega.
Kinan membangun Black Viper dari bawah. Banyak anggota lama masih menyimpan kesetiaan kepadanya. Jika kabar bahwa Kinan masih hidup sampai ke telinga mereka, keseimbangan organisasi bisa runtuh dalam semalam.
Andika membuka laci meja mencari sebuah cincin. Setiap lemari yang ada laci, ia bongkar.
"Sial!"
Cincin berukir kepala ular, lambang Queen Black Viper tidak ia temukan sejak menduduki kursi itu.
"Kinan." Sudut rahang Andika mengeras. "Jadi, bahkan itu pun tidak kamu tinggalkan. "
Andika menggenggamnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku sudah menghabiskan 1 bulan membangun pengaruh ini," gumamnya pelan. "Kalau kau benar-benar kembali, Kinan...aku tidak akan menyerahkan kursi ini begitu saja."
Rendra melangkah masuk sambil membawa sebuah map. Ia berdiri beberapa langkah dari meja kerja.
"Bos... ada kabar dari rumah Pak Surya."
Andika tidak mengangkat kepala. "Apa?"
"Kondisinya menurun. Dokter bilang beliau harus lebih banyak beristirahat." Rendra menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Kalau terjadi sesuatu... Nona Kinan pasti..."
"Cukup." Suara Andika memotong datar. Ia mengangkat pandangan. Tatapannya membuat Rendra langsung terdiam. "Aku tidak suka mendengar nama itu disebut di ruanganku."
Rendra menundukkan kepala. "Maaf, Bos."
Andika berdiri, lalu berjalan mendekati jendela. "Pak Surya sudah memilih pihaknya sejak awal."
"Beliau hanya belum bisa menerima..."
"Menerimaku?" Andika menyela sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu, biarkan dia menikmati akibat dari pilihannya."
Rendra mengepalkan tangan di balik punggung. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya ia telan kembali.
Sejak Andika mengambil alih, tidak semua orang menerima keadaan itu. Sebagian bertahan karena tidak punya pilihan. Sebagian lagi memilih diam sambil menunggu. Dan Rendra tahu, diam bukan berarti menyerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sisi lain kota, Kinan sama sekali tidak menyadari bahwa satu notifikasi kecil di layar ponselnya telah menggerakkan kembali jaringan yang pernah berada di bawah kendalinya.
Ia menutup aplikasi mobile banking, mengembuskan napas panjang, lalu menghapus riwayat penggunaan ponsel.
Baginya, itu hanya cara memastikan semua yang pernah ia miliki belum benar-benar hilang. Namun bagi seseorang di luar sana, itu adalah tanda bahwa sang Queen masih hidup.
Pintu kamar terbuka pelan. Darwin masuk sambil membawa dua gelas teh hangat. "Masih belum tidur?" tanyanya.
Kinan menggeleng. "Masih kepikiran sesuatu."
Darwin meletakkan salah satu gelas di hadapan Kinan. "Minum dulu."
Kinan menerimanya. Jemarinya menghangat saat menggenggam gelas itu. "Terima kasih."
Darwin menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Kamu sudah aman di sini. Nggak perlu memikirkan semuanya sendirian."
Kinan tersenyum tipis. "Sulit."
"Kalau begitu, mulai sekarang biasakan berdua."
Ucapan itu membuat Kinan menoleh. Darwin hanya tersenyum kecil, seolah kalimat tadi bukan sesuatu yang istimewa.
Beberapa saat mereka menikmati teh hangat dalam diam. Tidak ada percakapan panjang, tetapi keheningan itu terasa nyaman.
Darwin berdiri lebih dulu. "Sudah malam. Besok kita masih harus bekerja."
Kinan mengangguk. "Iya."
Darwin mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di sudut kamar. "Selamat tidur... istriku."
Kinan spontan mendelik. "Kan cuma buat penyamaran."
Darwin terkekeh pelan."Iya. Biar latihan, nanti kalau ada tetangga yang dengar."
Kinan menggeleng sambil menahan senyum.
"Dasar."
Keesokan paginya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Darwin berangkat lebih dulu ke puskesmas, sementara Kinan bersiap menuju taman kanak-kanak tempatnya mengajar. Keduanya menjalani peran yang telah mereka bangun selama beberapa minggu terakhir, seolah memang pasangan suami istri yang merantau untuk mencari nafkah di desa itu.
Hari berlalu tanpa sesuatu yang mencurigakan. Tawa anak-anak memenuhi ruang kelas, sedangkan Darwin menghabiskan waktunya membersihkan setiap sudut puskesmas.
Tak terasa, matahari mulai condong ke barat. Sore pun tiba, Darwin mengajak Kinan ke warung yang lebih besar di ujung desa. "Kita beli kebutuhan beberapa hari sekalian," katanya sambil mengambil keranjang.
Kinan mengangguk. Sejak tinggal di rumah kontrakan, ia belum pernah benar-benar ikut berbelanja.
Ia berjalan di antara rak-rak, memperhatikan berbagai barang yang tersusun rapi. Sesekali ia berhenti, membaca kemasan yang terasa asing.
Tangannya terulur mengambil sebatang sabun mandi. Belum sempat dimasukkan ke keranjang, Darwin sudah menggeleng. "Yang itu jangan."
Kinan menoleh. "Kenapa?"
Darwin mengambil sabun yang ada di tangannya, lalu mengembalikannya ke rak. "Itu mahal."
"Mahal?"
"Iya. Yang ini saja." Darwin mengambil merek lain di rak bawah. "Fungsinya sama."
Kinan membandingkan keduanya. Bentuknya hampir sama, hanya mereknya berbeda. "Memangnya selisihnya berapa?"
Darwin membalik kemasan kecil yang menempel di rak. "Yang tadi hampir empat kali lipat."
Kinan terdiam. Empat kali lipat? Di rumah dulu, ia tidak pernah melihat label harga. Apa pun yang habis, akan diganti oleh pelayan. Ia bahkan baru sadar ada begitu banyak pilihan sabun di pasaran.
"Kalau memang lebih bagus..."
Darwin terkekeh pelan. "Sabun itu buat mandi, bukan buat dipamerin." Kinan ikut tersenyum kecil, meski pipinya terasa hangat.
Belanja mereka tidak banyak. Beras, telur, minyak goreng, sabun, pasta gigi, dan beberapa bumbu dapur.
Saat sampai di kasir, Kinan spontan mengeluarkan ponselnya. "Aku saja yang bayar."
Darwin lebih cepat meletakkan beberapa lembar uang di atas meja kasir. "Simpan saja uangmu."
"Tapi..."
"Pakai uangku saja."
"Kupikir lebih praktis pakai ini."
Darwin menggeleng. "Warung sini kadang sinyalnya jelek. Lagi pula uang tunai lebih gampang."
Kinan menatap ponselnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke tas. "Kalau begitu, nanti aku ganti." Darwin hanya mengangguk sambil menerima uang kembalian.
Tak satu pun dari mereka menyadari, keputusan sederhana itu membuat rekening Kinan tetap tak tersentuh hari itu.
Jauh di kota, orang-orang Andika masih menunggu tanda berikutnya. Namun tanda itu tak pernah muncul. "Masih belum ada?" tanyanya.
Anak buahnya menggeleng. "Tidak, Bos. Akunnya tidak melakukan transaksi lagi."
Andika terdiam beberapa saat. Jemarinya mengetuk meja perlahan. "Berarti dia sudah mulai berhati-hati." Ia berdiri, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi. "Kalau jejak digitalnya hilang..." Andika menghentikan ucapannya sejenak. Sorot matanya berubah dingin. "...berarti kita harus mencarinya dengan cara lain."
Rencana Apa yang digunakan Andika ?