"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 27
Hari itu menjadi pertama kalinya Dinda menangis di depan Raka. Bukan tangisan kecil yang bisa disembunyikan dengan senyum seperti biasanya. Melainkan tangisan yang benar-benar pecah.
Dan Raka langsung kehilangan arah melihatnya. “Din... hey.”
Pria itu refleks mendekat sambil menurunkan tas kecil Glenka dari bahunya. Sedangkan bayi mungil di pelukan Dinda malah ikut memeluk leher wanita tersebut semakin erat.
Seolah tahu—orang favoritnya sedang sedih.
“Astaga...” salah satu pegawai butik langsung menghentikan aktivitasnya. “Mbak Dinda kenapa?”
“Nggak tahu,” sahut pegawai lain pelan.
Namun Raka memilih tak banyak bicara. Tatapannya penuh khawatir menatap wajah sembab Dinda yang terus menunduk sambil menangis diam-diam.
“Lo habis ketemu Ervin?” Pertanyaan itu membuat tangisan Dinda justru semakin pecah.
Dan tanpa perlu jawaban, Raka langsung mengerti semuanya. Pria itu menghela napas panjang. Lalu dengan suara pelan berkata—
“Gue ajak lo keluar bentar ya.”
*****
Dinda akhirnya duduk di kursi penumpang mobil Raka sekitar lima belas menit kemudian. Sedangkan Glenka duduk manis di baby seat sambil menggigit mainan kecilnya.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Raka sengaja tidak banyak bertanya. Karena ia tahu—kadang orang yang sedang hancur hanya butuh ditemani.
“Aku tadi...” suara Dinda akhirnya terdengar lirih. “Minta pisah sama Ervin.”
Raka langsung menoleh singkat. Namun pria itu tetap diam menunggu Dinda melanjutkan.
“Aku pikir setelah ngomong itu, aku bakal lega.” Wanita tersebut tertawa kecil pahit. “Ternyata sakit banget.”
Raka menggenggam setir lebih erat. Karena ia tahu rasanya. Sangat tahu.
“Aku masih sayang sama dia,” lanjut Dinda dengan mata berkaca-kaca. “Itu yang bikin aku capek.”
Hening, sampai akhirnya Raka berkata pelan—
“Kalau lo udah sampai di titik minta pergi...” tatapannya lurus ke jalan depan. “Berarti lo emang udah terlalu sakit buat bertahan.”
Deg.
Air mata Dinda kembali jatuh pelan. Karena kalimat itu terasa sangat tepat menggambarkan dirinya. “Aku gagal ya?” bisiknya lirih.
“Dalam apa?”
“Pernikahan.”
Raka langsung menggeleng kecil. “Hubungan rusak itu nggak selalu salah satu orang doang.”
“Tapi aku nggak bisa pertahanin rumah tangga aku.” Dinda menggigit bibirnya kuat.
Pria itu terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil hambar. “Kalau gitu, gue lebih gagal lagi.”
Dinda akhirnya menoleh pelan. Dan untuk pertama kalinya—ia melihat tatapan Raka berubah samar.
Penuh luka yang selama ini tidak pernah benar-benar ia ceritakan.
“Gue pernah mati-matian pertahanin rumah tangga gue dulu,” ujar pria itu lirih. “Tapi akhirnya tetep hancur.”
“Aku kira...” Dinda menggigit bibir bawahnya pelan. “Kamu sama mantan istri kamu pisah baik-baik.”
Raka tersenyum tipis. “Awalnya iya.”
“Tapi lama-lama...” pria itu menghela napas. “Dua orang yang sama-sama capek bisa berubah jadi asing.”
Dinda langsung terdiam. Karena tanpa sadar—ia juga merasakan hal yang sama dengan Ervin. Mereka saling mencintai. Namun perlahan berubah asing karena luka yang terus menumpuk.
“Lo tahu bagian paling nyakitin dari perpisahan?” tanya Raka tiba-tiba.
Dinda menggeleng pelan.
“Ketika lo masih sayang...” pria itu tersenyum kecil penuh sesak. “Tapi udah nggak kuat lagi tinggal di hubungan itu.”
Deg.
Kalimat itu terasa seperti menampar isi hati Dinda sendiri. Dan lagi-lagi—air matanya jatuh diam-diam.
*****
Sementara itu, di apartemen Jenita, Ervin duduk sendirian di ruang kerja kecil sambil menatap berkas perceraian yang sejak tadi belum sanggup ia sentuh.
Tangannya gemetar, dadanya sesak, dan... Pikirannya penuh oleh suara Dinda kemarin.
Kita pisah aja ya, Mas.
Kalimat itu terus terngiang tanpa ampun.
Brak!
Pria itu membanting pulpennya frustrasi. Sedangkan Jenita yang baru masuk membawa susu bayi langsung terdiam melihat kondisinya.
“Kamu belum makan," Jenita berusaha menunjukkan perhatian tulusnya kepada Ervin. Namun, Ervin tidak menjawab.
Tatapannya masih kosong ke arah meja. Dan untuk pertama kalinya—Jenita merasa benar-benar kasihan melihat laki-laki itu.
Karena pria yang dulu terlihat begitu yakin memilih dirinya, sekarang justru tampak seperti orang kehilangan separuh hidupnya.
“Dia serius ya?” Suara Jenita terdengar sangat pelan.
Ervin tertawa kecil hambar. “Dinda nggak pernah ngomong sembarangan kalau udah nyangkut perasaan.”
Deg.
Dan anehnya—kalimat itu justru membuat Jenita semakin sadar betapa dalamnya Ervin mengenal istrinya sendiri.
“Kamu masih berharap dia balik?”
Pria itu memejamkan mata cukup lama. Lalu dengan suara serak menjawab—“Setiap detik malahan."
Air mata Jenita langsung jatuh pelan.
Karena pada akhirnya, dirinya tetap kalah oleh perempuan yang lebih dulu dicintai laki-laki itu.
*****
Sore harinya, Raka membawa Dinda dan Glenka ke taman kecil dekat danau kota. Udara sore terasa cukup sejuk.
Sedangkan Glenka terlihat sangat aktif bermain gelembung sabun kecil yang dibelikan Raka.
Tawa bayi itu terdengar renyah sekali. Dan tanpa sadar—Dinda ikut tersenyum melihatnya.
“Nah gitu,” celetuk Raka sambil duduk di sampingnya. “Muka lo mendingan sekarang.”
Dinda terkekeh kecil, “Makasih ya.”
“Hm? Untuk apa?" tanya Raka menatapnya.
“Makasih udah dengerin aku.” Raka tersenyum santai, kemudian menepuk singkat pundak si wanita.
“Gue cuma nemenin," Raka tersenyum tulus.
Namun beberapa detik kemudian, pria itu menoleh pelan ke arah Dinda. “Lo tahu kenapa Glenka cepet banget nyaman sama lo?”
Dinda mengernyit bingung, kemudian menggeleng sebagai responnya.
“Karena dia jarang nempel sama orang.”
“Hah?” Dinda terperangah tak percaya.
“Dia pemilih.” Tatapan Raka berubah lembut memperhatikan putrinya yang sedang tertawa, berusaha mengejar gelembung.
“Bahkan, sama pengasuhnya aja nggak segampang itu.” Sebuah fakta baru yang diketahui oleh Dinda.
Wanita itu terdiam sejenak. Sedangkan Raka kembali bicara pelan—“Tapi tiap sama lo... Dia kayak nemu tempat pulang.”
Deg.
Jantung Dinda langsung berdetak aneh. Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa sangat dalam baginya.
Sampai akhirnya Glenka berjalan tertatih mendekat ke arah Dinda sambil membawa gelembung sabun.
“Maaa!” Refleks, Dinda langsung menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh.
Dan lagi-lagi, hati wanita tersebut terasa hangat luar biasa. Seolah ada ruang kosong dalam dirinya yang perlahan mulai hidup kembali.
Sedangkan dari kejauhan—Raka diam-diam memperhatikan keduanya dengan tatapan yang perlahan berubah semakin sulit dijelaskan.