NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goresan Ragu Di Balik Senyuman

Matahari sore di atas langit Uluwatu perlahan-lahan mulai kehilangan sengatnya, menyisakan pendar warna jingga keemasan yang memantul indah di atas permukaan kolam renang tanpa batas (infinity pool) milik vila. Air kolam yang tenang dan jernih itu tampak menyatu sempurna dengan garis cakrawala Samudra Hindia di kejauhan, menciptakan ilusi optik seolah-olah siapa pun yang berenang di sana akan langsung melompat ke pelukan laut lepas.

Setelah Dokter Saras dan para perawat privat kembali ke paviliun medis di sayap timur kompleks untuk mempersiapkan vitamin serta menu nutrisi esok pagi, Alena melangkah perlahan mendekati tepi tebing yang dibatasi oleh pagar kaca tebal setinggi dada.

Gaun katun longgar berwarna putih yang dikenakannya berkibar lembut ditiup angin laut sore yang mulai terasa kencang. Sepasang matanya yang bening menatap lurus ke arah ombak raksasa yang pecah menghantam dinding karang ratusan meter di bawah sana.

Meskipun situasi fisik, kenyamanan, dan keamanan dirinya di tempat pelarian ini sangat terjamin jauh melebihi apa yang bisa ia bayangkan saat berada di Jakarta, ada sebuah goresan keraguan yang masih membayangi benak sang aktris cantik.

Pikirannya tidak bisa sepenuhnya tenang. Sebagai seorang wanita yang terbiasa hidup di bawah sorotan lampu publik dan tuntutan skenario, kebebasan murni yang ia rasakan saat ini justru terasa begitu rapuh, seolah-olah kedamaian ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang memporak-porandakan segalanya.

Adrian yang baru saja menyelesaikan beberapa instruksi taktis bersama Marcus di pos depan, melangkah masuk ke area halaman dalam paviliun. Langkah kakinya yang tegap tidak mengeluarkan suara di atas lantai batu alam, namun aura kehadirannya yang dominan selalu berhasil menarik perhatian Alena bahkan sebelum pria itu bersuara.

Adrian melihat punggung ramping Alena yang sedikit menegang di diterpa angin sore. Tanpa membuang waktu, ia mengambil sebuah kardigan rajut tebal berwarna abu-abu gelap yang tergeletak di atas kursi malas, lalu berjalan mendekat. Dengan gerakan yang sangat lembut namun pasti, Adrian menyampirkan kardigan tersebut di atas kedua belah bahu Alena, membungkus tubuh istrinya dari tiupan angin laut yang mulai membawa suhu dingin.

Sentuhan tangan Adrian yang hangat di bahunya seketika mengusir rasa dingin fisik yang dirasakan Alena, sekaligus mengalirkan getaran ketenangan yang aneh langsung ke dalam dada wanita itu.

"Angin sore di atas tebing ini bisa sangat menipu, Alena. Udara laut terlihat hangat, tapi suhunya bisa menurunkan daya tahan tubuhmu dalam hitungan menit," ujar Adrian, suaranya yang berat dan bariton terdengar begitu dekat di samping telinga Alena.

Alena menoleh sedikit, menatap garis rahang tegas dan sepasang mata elang milik suaminya dari jarak dekat.

"Aku hanya ingin melihat laut lebih dekat, Adrian. Di Jakarta, pemandangan terbaik yang bisa kulihat dari jendela apartemenku hanyalah kemacetan jalan tol dan deretan gedung beton yang abu-abu. Berdiri di sini... membuatku sadar betapa kecilnya masalah kita jika dibandingkan dengan luasnya samudra ini."

Adrian tidak langsung menyahut. Ia memutar tubuhnya, bersandar pada pagar kaca pembatas dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kain gelapnya. Pandangan matanya mengunci wajah Alena dengan saksama, meneliti setiap lekuk ekspresi wajah istrinya yang tidak bisa menyembunyikan gumpalan kecemasan terselubung.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Alena? Sorot matamu tidak bisa berbohong di hadapanku," tanya Adrian, nadanya penuh perhatian yang tajam, tipikal seorang pria yang terbiasa membaca emosi lawan mainnya di depan kamera. "Dokter Saras bilang kondisi fisikmu sangat bagus, tapi batinmu... sepertinya ada sesuatu yang sedang menahan senyumanmu agar tidak lepas sepenuhnya."

Alena menghela napas panjang, membiarkan jemarinya meremas ujung kardigan tebal yang diberikan Adrian. Ia memalingkan kembali wajahnya menatap hamparan laut yang mulai menggelap seiring dengan matahari yang kian tenggelam.

"Aku memikirkan tentang masa depan kita setelah sembilan bulan ini, Adrian," bisik Alena jujur, menyuarakan ketakutan terbesar yang selama ini ia kunci rapat di dalam sudut hatinya.

"Saat ini kita aman di atas tebing Uluwatu ini karena kamu mengeluarkan seluruh kemampuan finansial, menyewa pasukan keamanan privat internasional, dan memutus komunikasi dengan Jakarta. Tapi... bagaimana jika semua ini berakhir? Bagaimana jika setelah anak ini lahir, ayahmu benar-benar menutup seluruh akses kariermu di Indonesia selamanya? Bagaimana jika seluruh industri perfilman yang kita cintai menolak untuk menerima kita kembali karena boikot dari Dewangga Group?"

Alena memajukan langkahnya setengah senti, menatap Adrian dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Pernikahan ini awalnya adalah sebuah kontrak kerja sama di atas kertas untuk menyelamatkan nama baik kita selama satu tahun.

Tapi sekarang, kamu menghancurkan seluruh hidupmu di Jakarta demi membangun benteng ini untukku. Aku takut... aku takut suatu hari nanti ketika badai ini selesai, kamu akan melihat ke belakang dan menyesali keputusanmu karena telah mengorbankan segalanya hanya demi seorang wanita yang terikat kontrak dengannmu."

Mendengar seluruh keluh kesah dan keraguan yang keluar dari bibir Alena, Adrian tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau marah. Sebaliknya, sepasang mata elangnya justru memancarkan kilat emosi yang sangat dalam dan hangat sebuah pendaran yang belum pernah ia perlihatkan kepada wanita mana pun di dunia ini sebelumnya.

Adrian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan kehangatan napas dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya. Ia mengulurkan kedua belah tangannya, meraih jemari lentik Alena yang terasa sedikit dingin, lalu menggenggamnya dengan remasan yang mantap dan konstan sebuah gestur yang secara instan mengunci seluruh getaran kepanikan di dalam tubuh Alena.

"Karier, popularitas, dan jaringan bisnis di Jakarta adalah hal-hal yang bisa dibangun kembali dari nol dengan kemampuan dan kerja keras, Alena," ujar Adrian, setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang lambat, berat, dan sarat akan ketegasan mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun.

"Tapi keselamatan, ketenangan batin, dan kehormatan keluarga kecil kita... itu adalah sesuatu yang tidak memiliki label harga di atas kertas saham mana pun."

Adrian memajukan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata bening Alena, memaksa wanita itu untuk menyerap seluruh keseriusan yang ada di dalam jiwanya.

"Mulai hari ini, di jam dua belas malam kemarin saat kita memutuskan untuk terbang ke Bali, aku tidak lagi mengidentifikasi diriku sebagai putra mahkota Dewangga Group yang harus tunduk pada skenario bisnis Baskoro Dewangga. Aku adalah seorang pria mandiri, dan yang paling penting... aku adalah seorang kepala keluarga."

Adrian menurunkan salah satu tangannya dari genggaman Alena, membawa telapak tangannya naik untuk mengusap sisa air mata yang sempat menggenang di sudut mata Alena dengan gerakan yang teramat lembut.

"Mengenai dunia luar yang mungkin akan bergunjing atau menolak untuk percaya pada pernikahan kita... biarkan mereka berspekulasi dan menulis skenario fantasi mereka sendiri di portal berita. Kita tidak hidup untuk memberi makan ego para netizen atau jurnalis di Jakarta," lanjut Adrian, suaranya melunak sepenuhnya, berubah menjadi sebuah bisikan yang sangat protektif di tengah deru angin sore.

"Yang paling penting bagi kita adalah realitas nyata yang kita jalani di dalam benteng ini. Detak jantung pertama yang kita dengar bersama di ruang medis tadi pagi adalah bukti yang paling valid dan suci bahwa hubungan kita bukan lagi sekadar sandiwara kontrak di depan kamera jurnalis. Anak itu nyata, Alena. Dan dia berhak mendapatkan seorang ayah yang berdiri tegak sebagai perisainya, bukan seorang pengecut yang berlutut pada harta ayahnya."

Kata-kata Adrian malam itu mengalir bagai sebuah mantra penyembuh yang langsung meruntuhkan seluruh dinding keraguan dan rasa bersalah yang selama ini menyiksa batin Alena. Setiap kalimat yang diucapkan Adrian terasa begitu tulus, maskulin, dan penuh dengan komitmen nyata seorang suami sejati. Goresan ragu yang sempat membuat dadanya sesak kini perlahan-lahan menguap, digantikan oleh sebuah rasa aman yang teramat kokoh dan mendalam.

Alena tidak mampu lagi berkata-kata. Dadanya bergemuruh hebat oleh luapan emosi keharuan yang meluap. Tanpa memedulikan lagi batasan kontrak atau formalitas yang pernah mereka sepakati di Jakarta, Alena melangkah maju, menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Adrian. Ia menyandarkan keningnya di dada bidang suaminya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Adrian, dan mendekap pria itu dengan seluruh kekuatan yang ia miliki seolah-olah Adrian adalah satu-satunya tiang penyelamat di tengah badai dunia yang kotor.

Adrian sedikit tertegun menerima respons emosional yang begitu jujur dari Alena. Namun, dalam hitungan detik, naluri protektifnya langsung mengambil alih. Ia melingkarkan kedua belah tangannya yang kekar di sekeliling tubuh Alena, mendekap punggung istrinya dengan erat, dan membiarkan tubuh wanita itu menyatu sepenuhnya dengan dadanya. Adrian menumpukan dagunya di atas puncak kepala Alena, menghirup aroma harum sampo melati dari rambut panjang istrinya yang beterbangan ditiup angin.

Di atas tebing Uluwatu yang terisolasi dari bisingnya dunia luar, di bawah kepungan awan senja yang perlahan berganti menjadi malam yang bertabur bintang, rasa percaya di antara kedua jiwa itu tidak lagi dibangun di atas lembaran kertas kontrak pranikah yang dingin. Skenario awal yang awalnya mereka susun sebagai sebuah kebohongan publik, kini telah resmi bermutasi menjadi sebuah fondasi nyata dari sebuah kisah cinta sejati yang siap bertahan menghadapi hantaman badai apa pun dari Jakarta.

Adrian tidak akan pernah membiarkan satu pun musuh melintasi gerbang pertahanannya, karena di dalam pelukannya saat ini, terdapat seluruh dunia baru yang wajib ia lindungi dengan nyawanya sendiri.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!