NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Takhta di Tepi Dermaga

Angin laut yang berhembus kencang membawa aroma garam, karat karat kapal, dan minyak solar. Deburan ombak yang menghantam beton pemecah air menjadi melodi latar di Pelabuhan Barat yang sibuk malam itu. Ratusan peti kemas tersusun rapi bagaikan labirin raksasa di bawah sorotan lampu jalanan yang terang benderang.

​Aletta melangkah keluar dari mobil SUV lapis bajanya. Sepatu bot kulit hitamnya berderap mantap menginjak aspal dermaga. Ia mengenakan mantel panjang berwarna navy yang berkibar tertiup angin laut, menyembunyikan pistol Browning yang terselip rapi di balik sabuknya. Di sebelahnya, Xavier berjalan dengan aura dominasi yang pekat, namun malam ini, pria itu sengaja memposisikan dirinya setengah langkah di belakang Aletta.

​Malam ini, Pelabuhan Barat bukan milik Xavier Vassiliev. Malam ini adalah panggung bagi sang Ratu.

​Diego dan dua lusin pasukan elit bersenjata laras panjang segera membentuk perimeter keamanan saat Aletta berjalan menuju sebuah gudang raksasa di sektor tujuh—jantung operasional pelabuhan yang dulu dikendalikan oleh Alexei.

​Di dalam gudang yang disulap menjadi ruang pertemuan kasar itu, lima kapten kapal penyelundup terbesar di benua ini telah menunggu. Mereka adalah pria-pria kasar, berwajah keras, dan terbiasa dengan darah. Saat pintu besi gudang dibuka, tawa parau mereka seketika berhenti.

​Mata mereka tertuju pada Aletta, lalu beralih pada Xavier. Beberapa dari mereka bertukar pandang dengan raut wajah meremehkan.

​"Jadi rumor itu benar," ucap Borys, kapten kapal kargo asal Ukraina yang bertubuh gempal dengan bekas luka melintang di bibirnya. Ia membuang cerutunya ke lantai dan menginjaknya. "Bos Xavier menyerahkan kunci Pelabuhan Barat kepada seorang gadis kecil. Apa kau sudah bosan menghitung uang, Bos? Atau ranjangmu terlalu hangat sampai kau membiarkan istrimu bermain-main di tempat orang dewasa?"

​Keheningan yang mematikan langsung mencekik udara di dalam gudang.

​Rahang Xavier menegang. Tangan kanannya secara refleks bergerak menuju gagang pisau di balik jasnya. Membunuh Borys karena penghinaan itu adalah hal yang bisa Xavier lakukan dalam kedipan mata.

​Namun, sebelum Xavier melangkah maju, Aletta mengangkat tangan kirinya—memberi isyarat tanpa menoleh agar suaminya berhenti.

​Xavier terpaku sesaat. Mata kelabunya menatap punggung istrinya, dan perlahan, sebuah seringai bangga terukir di bibir sang mafia. Pria itu menurunkan tangannya dan menyandarkan punggungnya santai ke pilar besi, membiarkan Aletta mengambil alih.

​Aletta terus melangkah maju hingga ia berdiri hanya berjarak satu meter di hadapan Borys. Tatapan Aletta sedingin es, tidak ada setitik pun gentar di matanya. Ia menatap Borys dari ujung kepala hingga ujung kaki, seperti menatap barang rongsokan.

​"Namaku Aletta Vassiliev. Dan kau sedang berdiri di atas aspal milikku, Borys," suara Aletta mengalun tenang, jernih, namun memancarkan otoritas absolut.

​Aletta menjentikkan jarinya. Diego segera maju dan menyerahkan sebuah map tipis padanya. Aletta membuka map itu dan melemparkan selembar foto ke dada Borys. Foto itu jatuh melayang ke lantai.

​Borys menunduk, dan wajah angkuhnya seketika memucat. Itu adalah foto bongkar muat kargo rahasia di sebuah pelabuhan kecil yang terpencil.

​"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakang Alexei selama dua tahun terakhir?" desis Aletta tajam. "Kau memanipulasi manifes kargo. Kau menyelundupkan senjata untuk Kartel Selatan menggunakan jalur kami, memotong tiga puluh persen keuntungan tanpa lapor ke pusat, dan menggunakan kapal dengan kode lambung palsu."

​Para kapten lain mulai berbisik tegang, menatap Borys dengan curiga.

​Aletta tidak berhenti di situ. Ia melangkah mengelilingi meja besi di tengah gudang, menatap satu per satu kapten yang hadir.

​"Aku mungkin baru di dunia kalian, tapi aku tidak buta. Perusahaan ayahku yang merancang seluruh sistem logistik dan arsitektur pelabuhan ini sepuluh tahun lalu," ucap Aletta dengan penekanan di setiap kata. "Aku tahu setiap titik buta kamera pengawas. Aku tahu di mana lambung ganda kapal kalian disembunyikan. Aku memegang cetak birunya, yang artinya... aku bisa menenggelamkan bisnis kalian hanya dengan satu jentikan jari."

​Borys mengertakkan gigi, merasa dipermalukan di depan rekan-rekannya. Ia maju selangkah dengan kepalan tangan mengerat. "Kau mengancam kami, Nyonya? Tanpa kapal-kapal kami, pelabuhanmu ini hanya akan jadi tempat pemancingan kosong!"

​"Tanpa kapalku, kau akan mati membusuk di dasar laut sebelum matahari terbit!" potong Aletta dengan suara lantang yang menggema di seluruh sudut gudang. Tangan kanannya mencabut pistol Browning 1911 dan menodongkannya tepat di antara kedua mata Borys dalam satu gerakan secepat kilat.

​Diego dan seluruh pasukan elit di luar langsung mengokang senjata mereka, bersiap menembak. Namun Xavier mengangkat tangannya lagi, menahan anak buahnya. Ini adalah pertunjukan istrinya.

​Napas Borys tercekat. Laras pistol perak yang dingin menempel di dahinya. Ia bisa melihat kilat pembunuh di mata Aletta—kilat yang sama persis dengan yang dimiliki Xavier Vassiliev.

​"Aku akan menetapkan aturan baru untuk Pelabuhan Barat malam ini," ucap Aletta dingin, masih menodongkan senjatanya. "Dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya."

​Aletta menatap para kapten lainnya, menjabarkan titahnya dengan presisi yang mematikan:

​Pajak Operasional: "Potongan untuk klan Vassiliev naik menjadi empat puluh persen. Tidak ada negosiasi. Kalian menolak, silakan cari pelabuhan lain yang tidak takut pada suamiku."

​Transparansi Manifes: "Setiap kargo, kotak, dan peluru yang masuk harus melewati pemindai di Sektor Tiga. Jika aku menemukan satu barel saja barang selundupan ilegal yang tidak terdaftar..." Aletta menekan laras pistolnya lebih keras ke dahi Borys, "...aku akan membakar kapal itu beserta seluruh awaknya."

​Loyalitas Mutlak: "Alexei dan Volkov sudah mati. Siapa pun yang ketahuan berkomunikasi dengan musuh klan Vassiliev, keluarganya akan membayarnya."

​Aletta menurunkan pistolnya, membiarkan Borys menghembuskan napas yang tertahan.

​"Kau punya waktu satu jam untuk mengemasi barang-barangmu dan keluar dari pelabuhanku, Borys. Kapalmu disita sebagai ganti rugi uang klan yang kau curi," perintah Aletta mutlak. "Diego, seret dia keluar."

​"Tunggu! Kau tidak bisa—"

​Sebelum Borys sempat menyelesaikan protesnya, Diego dan dua pengawal langsung meringkus pria besar itu, memukul bagian belakang lututnya hingga ia jatuh tersungkur, lalu menyeretnya keluar dari gudang tanpa ampun.

​Keempat kapten yang tersisa menelan ludah. Arogansi mereka telah hancur tak bersisa. Mereka serentak menundukkan kepala dalam-dalam.

​"Kami mengerti, Nyonya Vassiliev. Perintah Anda adalah hukum," ucap salah satu kapten tertua dengan nada penuh hormat.

​Aletta menyarungkan kembali pistolnya. "Bagus. Rapat selesai. Kembali bekerja."

​Para kapten itu bergegas keluar secepat yang mereka bisa, seolah dikejar oleh setan. Begitu pintu gudang tertutup rapat, menyisakan Aletta dan Xavier berdua saja, Aletta akhirnya melepaskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bahunya sedikit merosot.

​Suara tepuk tangan pelan bergema di ruangan yang luas itu.

​Aletta menoleh. Xavier berjalan menghampirinya dengan senyuman miring yang begitu memesona dan berbahaya. Mata kelabu pria itu menyala oleh api kebanggaan dan gairah yang menggelora.

​"Itu tadi... luar biasa," bisik Xavier, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Aletta dan menarik tubuh istrinya hingga dada mereka bersentuhan. "Kau benar-benar tidak menyisakan sedikit pun harga diri untuk bajingan itu."

​"Aku hanya meniru caramu," jawab Aletta, mengalungkan lengannya di leher Xavier dan tersenyum nakal. "Apa kau keberatan aku menggunakan namamu untuk menakuti mereka?"

​Xavier mendengus geli, hidungnya bergesekan dengan hidung Aletta. "Namaku adalah milikmu. Semua milikku adalah milikmu. Tapi melihatmu menodongkan senjata ke dahi Borys tanpa berkedip..." Suara Xavier berubah serak dan dalam. "...itu membuatku sangat bergairah, Ratuku."

​Xavier merengkuh bibir Aletta dalam ciuman yang menuntut dan panas, mengklaim istrinya di tengah gudang pelabuhan yang kini sepenuhnya tunduk di bawah kendali sang Ratu. Dunia bawah tanah baru saja mendapatkan penguasa baru, dan dia tidak tertandingi.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!