Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Kabar Bahagia dan Bayangan Ancaman Baru
Enam bulan berlalu sejak malam ketika Adrian memperkenalkan Naya sebagai istrinya di hadapan para petinggi bisnis dan media nasional.
Sejak saat itu, kehidupan keluarga Amarta berubah drastis.
Rumah besar yang dahulu terasa dingin kini dipenuhi tawa dan kehangatan. Tidak ada lagi fitnah, konflik, atau ancaman yang mengganggu ketenangan mereka. Ketrin telah menerima konsekuensi atas perbuatannya, sementara berbagai persoalan lama perlahan menghilang dari kehidupan mereka.
Kondisi Ibu Rahayu juga semakin membaik. Setelah menjalani perawatan intensif selama berbulan-bulan, kesehatannya berangsur pulih hingga mampu kembali beraktivitas ringan setiap hari.
Di sisi lain, Adrian terus menjalani program fisioterapi dengan disiplin tinggi.
Perjuangannya tidak mudah.
Rasa sakit dan kelelahan sering kali datang silih berganti. Namun setiap kali semangatnya mulai goyah, ia selalu memiliki alasan untuk bangkit kembali.
Alasan itu adalah Naya.
Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui jendela besar kediaman Amarta.
Naya berjalan menyusuri koridor menuju ruang terapi sambil membawa nampan berisi susu hangat dan buah-buahan segar.
Belakangan ini tubuhnya terasa berbeda.
Ia lebih cepat lelah.
Beberapa aroma makanan membuatnya mual.
Bahkan pagi tadi ia sempat muntah sebelum sarapan.
Awalnya Naya mengira dirinya hanya kelelahan.
Namun hasil pemeriksaan dokter keluarga pagi tadi membuat jantungnya terus berdebar hingga sekarang.
Sesampainya di depan ruang terapi, Naya membuka pintu perlahan.
Di dalam ruangan, Adrian sedang berlatih berjalan dengan bantuan alat penyangga.
Keringat membasahi dahinya.
"Satu langkah lagi, Tuan Adrian," ujar dokter fisioterapi.
Dengan penuh konsentrasi, Adrian menggerakkan kaki kanannya ke depan.
Lalu kaki kirinya menyusul.
Meski masih terbatas, itu adalah kemajuan besar dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Mata Naya langsung berkaca-kaca.
"Mas Adrian..."
Mendengar suara istrinya, Adrian segera menoleh.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Cukup sampai di sini, Dokter."
Dokter mengangguk lalu membantu Adrian kembali duduk di kursi rodanya sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah mereka berdua saja, Naya berjalan mendekat.
Ia mengusap peluh di dahi suaminya dengan lembut.
"Mas hebat."
Adrian tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin menyerah."
Tatapannya tertuju pada wajah Naya.
"Karena aku punya alasan untuk terus berjuang."
Naya tersipu.
"Alasannya siapa?"
"Kamu."
Jawaban singkat itu membuat pipi Naya memanas.
Adrian meraih tangannya.
"Suatu hari nanti aku ingin berdiri di sampingmu dengan kakiku sendiri."
Air mata haru kembali memenuhi mata Naya.
Namun kali ini ada perasaan lain yang jauh lebih besar memenuhi hatinya.
Ia menunduk sejenak sebelum mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku gamisnya.
Adrian mengernyit.
"Apa itu?"
Naya menyerahkan benda tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
Saat melihatnya, Adrian langsung membeku.
Dua garis merah tampak jelas.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Naya..."
Suara Adrian terdengar nyaris berbisik.
Naya mengangguk perlahan.
Air mata kebahagiaan mulai mengalir di pipinya.
"Tadi pagi dokter sudah memastikannya."
Napas Adrian tercekat.
"Saya hamil, Mas."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian kehilangan kata-kata.
Pria yang terbiasa mengambil keputusan besar dalam hitungan detik itu kini hanya mampu menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Perlahan tangannya terangkat.
Ia menyentuh perut Naya dengan sangat hati-hati.
Seolah takut menyakiti kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana.
"Kita akan punya anak?"
Naya tersenyum sambil mengangguk.
Air mata jatuh dari sudut mata Adrian.
Tanpa ragu, ia menarik Naya ke dalam pelukannya.
"Terima kasih."
Suara pria itu terdengar serak.
"Terima kasih sudah memberiku keluarga yang utuh."
Naya menangis bahagia di pelukannya.
Di tengah ruangan yang dipenuhi cahaya pagi itu, keduanya merasakan kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka tidak hanya menemukan cinta.
Mereka juga sedang menanti hadirnya kehidupan baru.
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak hanya diketahui oleh keluarga Amarta.
Di tempat lain.
Seorang pria berpakaian hitam duduk di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari kediaman mereka.
Di tangannya terdapat beberapa foto terbaru keluarga Amarta.
Salah satunya memperlihatkan Naya yang baru keluar dari klinik dokter pagi tadi.
Pria itu tersenyum tipis.
Kemudian menekan tombol panggilan di ponselnya.
"Informasi yang kita terima benar."
Suara dari seberang terdengar dingin.
"Bagaimana kondisinya?"
Pria itu menatap foto Naya beberapa saat.
"Lingkaran keluarga Amarta akan segera memiliki pewaris baru."
Keheningan singkat terjadi.
Lalu suara itu kembali terdengar.
"Awasi mereka."
Panggilan terputus.
Pria berpakaian hitam itu menyalakan mesin mobilnya perlahan.
Tatapannya tetap tertuju ke arah kediaman Amarta.
Sementara di dalam rumah, Adrian dan Naya masih tenggelam dalam kebahagiaan mereka.
Tanpa menyadari bahwa seseorang telah mulai mengincar masa depan keluarga kecil yang sedang mereka bangun.
Bersambung...