Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 014 : Ajian Dasa Aksara
Tukkk
Tukkk
Derap langkah kaki yang berjalan perlahan diiringi oleh suara ketukan. Menyita perhatian mereka.
Ardin menoleh ke arah sumber suara. Suara itu dari arah lorong. Sementara dirinya kini berada di dalam kamar yang berisikan lima orang temannya.
Lima orang itu sudah sadar. Dan sesuai arahan dari Sesepuh kampung ini. Ardin harus menyuguhkan kopi hitam pada mereka ketika mereka sadar.
Kini kelima cangkir kopi yang sudah dia suguhkan. Sudah kosong. Ardin sedikit aneh rasanya. Pasalnya, Farah bilang dia bukan pecinta kopi. Tetapi justru ketika kopi itu diberikan.
Farah menghabiskannya. Ada hal aneh lainnya lagi yang membuat Ardin heran. Kopi yang dia suguhkan tadi bahkan masih penuh kepulan asap.
Kopi itu baru saja diseduh dengan air panas. Sehingga tidak mungkin rasanya orang biasa meneguknya begitu saja.
Bisa dipastikan sekali, kalau tenggorokan mereka pasti akan terbakar. Sesekali Ardin memperhatikan kelima temannya. Ini aneh, sungguh!
"Sebetulnya apa yang kalian lihat di depan sana tadi? Sampai kalian pingsan?" tanya Ardin, rasa penasarannya kini tak lagi mampu dia bendung.
Mendengar itu, Farah pun memperhatikannya. Farah jelas paham. Ada kekhawatiran besar tersirat jelas di dalam wajahnya Ardin.
"Kabut putih tebal pasti menyapa kalian!" suara seorang lelaki tua di ambang pintu menyita perhatian Ardin begitupun dengan kelima temannya yang lain.
Farah terkejut mendengar itu. Bahkan dia saja belum menjawab apa yang Ardin tanyakan. Sejenak dia memperhatikan kakek tua itu.
Dari bawah hingga atas tubuhnya. Dia mengulangi itu tiga kali. Hingga tepat ketika ketiga kalinya. Ada hal yang membuat Farah terkejut.
"Akkkkk!"
"Akkkkk!" Suara itu berasal dari atas kepala Kakek tua yang disebut Sesepuh ini. Makhluk berekor panjang.
Makhluk kecil berbulu putih. Itu adalah monyet putih. Dia bertengger dan duduk tepat di atas kepalanya Sesepuh.
Sontak Farah menggerakkan jari telunjuknya ke arah Sesepuh sambil menatapnya tak percaya.
"I-itu... Monyet putih?" tanya Farah tak percaya.
Dia mencoba memastikan apa yang dia lihat sekarang dengan cara bertanya pada Sesepuh. Mendengar itu, Sesepuh sontak saja menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum.
"Mana ada monyet putih, Farah?" tanya Ardin pada Farah. Ya, Ardin tidak melihatnya.
"Itu loh, monyet putih!" kali ini Aldi bersuara. Dia juga melihatnya rupanya.
"Ya, aku juga lihat itu!" Haikal menimpalinya kemudian.
"Begitupun dengan aku!" seru Desta yang juga melihatnya.
Sementara yang lain heboh. Hanya Rifki saja yang tidak. Dia memang sudah sejak dulu bisa melihat hal-hal ghaib.
Rifki hanya memandangi monyet putih itu dengan tatapan biasa. Ada satu hal yang dia ingat sekarang. Perihal apa yang disebutkan oleh Sesepuh.
"Jadi, anda tahu apa yang kami lihat di depan sana sebelum pingsan?" tanya Rifki kali ini menatap ke arah Sesepuh yang masih berdiri di sana.
"Tentu saja! Belantaranya udah nyambut kalian. Aku tahu betul datangnya kalian ke sini buat apa. Tapi..." Sesepuh menjeda perkataannya.
Dia mengubah posisinya yang berdiri menjadi duduk sekarang.
Kemudian, dia memangku tongkat yang biasa dia gunakan untuk berjalan. Setelah dirasa posisinya sudah cukup nyaman.
Sorot mata tuanya itu kembali menatap ke arah mereka berlima. Orang-orang yang baru saja berjalan di alam sebelah. Orang-orang yang baru saja sampai ke desanya.
"Alam yang sering kalian temui itu. Segala jawabannya ada di balik belantara yang ada di bagian belakang desa ini. Belantara itu, sudah lama tidak dimasuki!" jelas Sesepuh suaranya menenangkan. Sehingga mereka yang menyimak pun betah.
Aldi mencoba mencerna apa yang dijelaskan oleh Sesepuh. Sampai dia ingat, bahwa di alam sebelah itu.
Dia menemukan satu fakta. Fakta yang baru hari ini dia temukan setelah mimpi itu menghantuinya bertahun-tahun lamanya. Pada waktu ini, sepertinya tepat jika dia membicarakannya.
"Aku menemukan satu fakta!" ucap Aldi kini. Sesepuh memperhatikannya.
"Ceritakan semua yang kalian lihat di alam itu padaku!" ucap Sesepuh pada mereka. Aldi menatap ke arah Sesepuh. Sorot mata mereka bertemu.
"Sebelum wanita terbakar itu datang dan mengakhiri segalanya. Aku menemukan satu fakta. Bahwa tanah yang selama ini kami pijaki di belantara itu. Itu, adalah abu manusia!" jelas Aldi serius.
Deggggg
Farah terkejut mendengar itu. Sepertinya ada kaitannya semua ini dengan apa yang dia lihat juga. Sebelum nafasnya berhenti di sana. Dia juga diperlihatkan hal serupa. Di mana kedua kakinya berpijak pada tumpukan mayat.
"Aku juga!" seru Farah, dia juga ingin menyampaikan apa yang sudah dia lihat.
Settttt
Perhatian sekitar langsung tertuju padanya.
"Aku memijaki tumpukan mayat. Benar-benar tumpukan mayat manusia. Banyak sekali!" jelas Farah, keringat dingin kembali mengucur di dahinya ketika memorinya kembali berputar pada momen itu.
Dia masih ingat bagaimana kejadian itu terjadi. Cukup cepat, setelah sosok anak kecil itu muncul.
"Lalu?" tanya Sesepuh padanya. Saat itu Farah mengernyitkan keningnya.
Dia mencoba memilah lagi ingatannya sebelum sosok anak kecil itu datang. Dia mencoba dan mencoba mengatakan wujudnya.
Tetapi tiap kali dia hampir menceritakan momen di mana anak kecil itu muncul. Lidahnya seakan keluh dan dia kehilangan gambarannya.
Sesepuh memperhatikan itu. Dia memahami satu hal. Bahwa ada satu sosok yang lebih kuat dari dia. Hingga Farah bahkan tidak bisa mengatakannya. Ada sekat yang sosok itu buat agar identitasnya tidak bocor.
"Baiklah, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk tahu lebih jauh. Kalianlah yang bisa menjangkaunya. Tapi ingat, sebelum kalian ke sana. Aku akan memberitahu kalian satu hal!" jelas Sesepuh, kalimat itu membuat kelima orang di depannya menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Apa itu, Mbah?" tanya Desta padanya.
"Kabut yang datang menyambut kalian. Itu adalah mereka atau dia. Dia yang identitasnya tidak bisa disebutkan oleh adik perempuan ini. Sudah memberi kalian kemampuan. Dia membiarkan kedua mata kalian mampu melihat alamnya. Buktinya, kalian bisa melihat perewangan saya!" ujar Sesepuh pada mereka.
Sontak saja mereka berempat kecuali Rifki, terbelalak.
"Jadi.." ucap Haikal terjeda. Sebab dia melihat Sesepuh menganggukkan kepalanya.
"Sedulur papat limo pancer," ucap Sesepuh sembari tersenyum.
Dia berucap dengan cukup tenang. Tetapi apa yang dikatakan oleh Sesepuh, baik Haikal dan yang lainnya pun tak tahu.
"Bisa katakan lebih ringkasnya, Mbah? Kami gak paham!" Aldi yang sudah cukup muak dengan kode-kode yang sukar diterka. Memilih untuk menanyakannya secara ringkas.
Sesepuh memperhatikan kelimanya. Dia pun kembali berkata,
"Mata batin kalian, sudah terbuka! Tandanya, kalian bisa melewati belantara itu. Sebab yang membukanya adalah salah satu orang di bagian desa itu. Aku harap kalian akan menemukan apa yang kalian inginkan di sana! Jika kalian mau berangkat ke sana. Berangkat besok!" jelas Sesepuh itu pada mereka.
"Karena malam ini adalah malam satu suro!" tambah Sesepuh kepada mereka.
"Memangnya kenapa kalau malam ini malam satu suro, Mbah?" Haikal bertanya pada Sesepuh di sana. Pada saat itu juga tatapan Sesepuh menjadi datar dan serius.
"Bagi masyarakat Jawa, khususnya penganut tradisi Kejawen, malam ini adalah momen yang paling sakral, mistis, dan penuh dengan ritual spiritual. Kusarankan berangkat besok!" ujar Sesepuh pada mereka.
Usai mengatakan itu, sesepuh memberi isyarat kepada salah seorang lelaki yang sejak tadi menunggu mereka di ambang pintu. Sepertinya dia adalah penduduk sini.
Lelaki itu segera berjalan ke arah mereka sambil membawa satu kotak kayu. Rifki, Haikal, Aldi, Desta dan Farah memperhatikan hal itu.
"Ini adalah jimat! Jimat yang akan melindungi kalian selama berada di sana! Jika kalian berjodoh dengan jimat-jimat ini. Maka, penunggunya akan membantu kalian. Pakai!" tutur Sesepuh pada mereka. Sesepuh memberikan kotak itu pada Farah. Farah menerimanya.
Ketika kotak itu dibuka, di sana dia melihat ada lima cincin. Cincin kuno sepertinya dilihat dari gaya dan modelnya. Farah mengambil cincin itu kemudian memakainya. Begitupun dengan yang lainnya, kecuali Ardin.
"Mbah, apa aku boleh menemani mereka?" tanya Ardin kini setelah melihat teman-temannya yang sudah memakai jimat itu.
Sesepuh berdiri, dia menatap Ardin dan berkata,
"Kalau hatimu kuat, ikutlah, nak!" jawab Sesepuh padanya.
Tak ada lagi yang Sesepuh katakan setelah itu. Tubuh tua itu kini berbalik memunggungi mereka lalu berjalan keluar dari dalam kamar itu. Sebelum dia melewati ambang pintu. Sesepuh kembali berkata,
"Kopi pahit yang kalian minum itu sangat pahit. Tapi kalian menghabiskannya sekalipun kopi itu panas. Kalian juga bilang kalau kopinya manis! Darah kalian dengan darah sesuatu di belantara itu sudah ditakdirkan bertemu. Carilah jawabannya, aku rasa ada ajian yang sudah diberikan pada kalian. Entah apa itu?" ujar Sesepuh lagi, kali ini dia berucap dengan suara tenang. Dia tidak berbalik sedikit pun.
Lagi-lagi teka-teki yang rumit. Sejenak Aldi memijat pelipisnya. Kepalanya hampir meledak rasanya. Ketika Sesepuh mulai menghilang dari ambang pintu. Aldi secara tak sengaja menggaruk bagian pahanya sendiri.
"Gatal banget!" gerutu Aldi. Dia terus menggaruk bagian itu. Karena tidak tahan dengan rasa gatalnya.
Dia memilih melepaskan celananya. Dan betapa sangat terkejutnya dia. Di sana kini terukir sebuah aksara.
"Huh?!" pekik Aldi terkejut seraya membulatkan kedua matanya.
"Kenapa kamu?" tanya Rifki kali ini padanya.
"Mas, apa orang tua itu nglakuin sesuatu ke kita pas kita gak sadar?" tanya Aldi pada Ardin. Dia menoleh ke arah Ardin sekarang.
"Tidak, kami mengobrol di luar. Kalian di dalam sini. Memangnya ada apa?" jelas Ardin, pertanyaan dari Aldi mengakibatkan dirinya juga ikut bertanya rasanya.
"Ada aksara Jawa di pahaku! Ini, huruf aksara Jawa mirip Hanacaraka, kan?!" ujar Aldi, dia lalu menunjukkan itu kepada yang lain. Dan ya, ketika yang lain beralih ke arahnya. Mereka terkejut.
Tak hanya itu, keanehan lain jelas terjadi. Setelah mereka semua memperhatikan huruf yang muncul di paha Aldi.
Rifki, Haikal, Desta dan Farah juga merasakan hal yang sama di paha mereka. Pada saat itulah, mereka juga menemukan aksara yang terukir di paha mereka. Aksara itu seperti sebuah keloid.
Keloid adalah jaringan parut atau bekas luka yang tumbuh secara tidak normal, menebal, dan meluas hingga melebihi batas asli luka tersebut.
Aldi memperhatikan huruf-huruf itu kemudian. Huruf-hurufnya berbeda. Dia memilih merangkainya. Ada sepuluh huruf yang dia temukan. Dan jika dirangkai, huruf itu akan berbunyi :
..."Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya!"...
Aldi mencoba menguras habis seluruh pengetahuan dalam kepalanya setelah merangkai huruf-huruf aksara Jawa itu. Hingga, dia menemukan satu fakta.
Fakta yang menghubungkan sepuluh kata ini dengan salah satu ajian kuno jaman dahulu. Ajian Kejawen yang cukup populer di masanya. Hanya saja, yang bisa menggunakannya hanyalah orang-orang yang berhati bersih.
Saat itu, di tengah kebingungan mereka. Jauh di dalam jantung belantara terkutuk. Sesosok wanita tersenyum.
Sosok itu bertubuh manusia. Memakai pakaian bak jaman dahulu. Dia memiliki tanda di kepalanya.
Ada titik emas di keningnya. Bola matanya merah menyala. Pupilnya seperti mata kucing. Sosok wanita dengan gigi bertaring serta air liur yang menetes itu.
Berjalan begitu gemulai menggerakkan kedua tangannya. Ketika dia hampir mendekati cahaya yang ada tepat di bibir hutan. Dia berkata,
"Penantian dua puluh tahun akan segera tiba!" ujarnya di dalam kegelapan sambil tersenyum lebar lalu menghilang bak kepulan asap.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣