NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Ferdian & Sasti?

"Update perkembangan proyek Surabaya bagaimana, Widitama?" tanya Ferdian saat mereka menikmati makan siang bersama hari itu.

"Sejauh ini progres keseluruhan sudah hampir sembilan puluh persen. Setelah pergantian vendor baja ringan, pekerjaan kembali sesuai jadwal. Tak salah kalau kita akhirnya berani mengelurkan dana lebih banyak untuk proyek ini," jawab Widitama seraya memotong tenderloin di piringnya. Menu makan siang kesukaan ayahnya.

Ferdian mengangguk senang seraya mengunyah. "Tak salah lagi. Kamu memang lebih pantas untuk proyek ini dan proyek lain ke depannya, Widitama. Seharusnya dari dulu Papa memanggilmu pulang."

Gerakan Widitama yang hendak mengangkat gelas sparkling water-nya langsung tertahan. Pegangannya pada benda bening itu sedikit erat. Ia mengamati Ferdian yang terlihat begitu tenang mengucapakannya. Padahal Ferdian baru saja menyinggung sesuatu yang menurut Widitama sangat tak pantas diucapkan oleh pria yang telah sekian tahun meninggalkan putra kandungnya sendiri.

Selama bertahun-tahun Widitama hidup bersama orang-orang yang bukan keluarganya. Jauh dari ayah. Jauh dari pria yang tega meninggalkan sang istri hanya karena dipengaruhi wanita lain. Pria yang membuat ibunya menderita selama ini.

"Sudah lama sekali tak membahas ini," ungkap Ferdian. Ah, ternyata dia memang sengaja ingin membicarakan hal itu. "Papa tau kesalahan Papa sangat banyak, Widitama. Tapi biarlah Papa menebusnya dengan seperti ini, membiarkan kamu satu-satunya yang pantas menggantikan Papa."

Saya tak butuh itu semua. Saya hanya ingin Anda hancur.

Widitama tersenyum tipis. Andai tak bisa menahan diri, mungkin dia sudah menghajar pria tua itu habis-habisan.

"Sudahalah, Pa. Nggak perlu membahas masa lalu. Papa benar, kita hidup saja di masa saat ini," ujar Widitama. Meski api balas dendam dalam dirinya sempat berkobar. "Ngomong-ngomong, tim marketing kantor bagaimana? Tanpa Rakha, saya belum mendengar banyak kabar dari mereka. Biar bagaimanapun proyek kita yang di Surabaya akan segera selesai dan tim marketing juga harus bekerja."

Ferdian mengelap bibirnya dengan selembar kain tipis. Ruang VIP restoran yang dipesan siang itu terasa lebih dingin. Terlebih saat membahas Rakha.

"Orang-orang Papa sudah berhasil menemukannya, termasuk perempuan yang kabur bersama Rakha. Kamu tau, Widitama? Anak itu menghamili perempuan itu dan itu sangat memalukan untuk keluarga kita."

Tak ada tanggapan dari Widitama. Ia hanya sengaja menunggu, apakah ayahnya akan membeberkan lebih banyak lagi? Kalau iya, itu berarti, mungkin Widitama betul-betul telah menjadi orang kepercayaan Ferdian Tedjakusuma.

Sepasang mata Ferdian menatap tegas sang putra. "Papa tak bisa diam saja," katanya dengan nada bicara lebih pelan, tetapi penuh amarah. "Mama kamu akan mengurus semuanya."

"Maksud Papa?" Sebetulnya Widitama sudah tahu bahwa sekarang Sasti yang mengendalikan orang-orang suruhan Ferdian untuk menangkap Rakha dan wanita yang kabur bersamanya.

"Sasti tak menyangka Rakha akan mengkhianati kita semua. Padahal Sasti sudah yakin kita bisa mendapatkan kepercayaan Amaia dan Atika sebentar lagi, tapi Rakha mengacaukan semuanya. Bahkan Sasti sangat terkejut, sekaligus meminta maaf pada Papa atas apa yang dilakukan oleh Rakha," jelas Ferdian. Tangan kanannya memegang pisau steak. "Anak itu hanya membuat kacau saja. Dia akan tau sebentar lagi ... bahwa dia sedang berhadapan dengan siapa."

Widitama memperhatikan ujung pisau yang tajam. Sementara papanya tersenyum tipis sarat akan kekecewaan sekaligus dendam.

"Oh, berarti mama juga merasa dikhianati, ya ...." gumam Widitama.

Dugaannya tepat sekali. Sasti rela membuang dan mengkhianati putranya sendiri. Padahal selama ini Sasti andil dalam menghilangnya Rakha.

Jadi, Sasti mengatakan akan mengurus semuanya dan membuat Amaia dibenci serta tak diinginkan lagi oleh Ferdian, adalah kebohongan belaka? Cara yang digunakan oleh wanita itu justru menipu Ferdian seolah-olah dia tak tahu apapun, lalu mengorbankan Rakha?

Astaga. Pintar sekali, pikir Widitama.

"Kamu tak perlu memusingkan Rakha, Widitama," ujar Ferdian membuat fokus Widitama beralih pada ayahnya. "Biar Papa dan mama yang urus. Bagaimana dengan Amaia? Apa kamu sudah tau bentuk peninggalan Erwin? Sial! Papa memprediksikan semuanya yang dia tinggalkan masih berupa tanah dan bangunan, properti. Tapi setelah dicek lagi, perkiraan Papa salah."

"Semalam saya ingin bicara dengan Bu Atika, tapi Papa tau sendiri ada musibah. Jadi, saya menundanya sebentar sampai agak sedikit tenang. Lalu Amaia, sepertinya dia belum tau banyak tentang peninggalan itu. Hanya Bu Atika yang bisa diajak bicara," jelas Widitama.

Ferdian mengangguk dan menyelesaikan makannya. "Itu selangkah lebih bagus. Jangan menunda lagi, kita tak punya banyak waktu, Widi. Segera dapatkan informasi dari Atika."

"Baik, Pa." Widitama memandang ayahnya dengan jijik saat pria tua itu fokus pada ponsel. "Ngomong-ngomong, tadi Papa bilang sudah mengeceknya. Bagaimana bisa?"

"Ah itu?" Ferdian memasukkan ponsel ke saku. Asisten pribadinya masuk untuk segera mengantar si bos keluar dari situ. Pria paruh baya tersebut berdiri. "Papa akan memberitahunya nanti. Sekarang Papa ingin bertemu mereka."

"Mereka?" Widitama terheran-heran.

Ferdian mengangguk senang. "Orang-orang yang membantu kita selama ini. Sekaligus orang-orang yang tak boleh kita kecewakan, Widitama. Jadi, cepatlah urus Amaia dan Atika, mengerti?"

Meskipun sebenarnya Widitama ingin mengetahui lebih banyak lagi, tapi bukan saatnya untuk terus bertanya. Ia tak mau Ferdian malah curiga. Setidaknya Widitama sudah tahu bahwa orang-orang yang akan ditemui ayahnya pasti ada kaitan dengan Erwin. Karena Ferdian menyebut nama Atika dan Amaia.

Beberapa saat setelah Ferdian meninggalkan restoran, Widitama beranjak. Kakinya yang panjang berdiri di balik jendela ruangan. Kedua tangannya tenggelam di saku celana bahan. Dari atas sana, dia menyaksikan ayahnya masuk mobil bersama sang asisten.

"Minta orang kita mengikuti mereka," titah Widitama kepada Edgar yang sudah ada di ruangan itu. "Saya tau ini gegabah. Padahal cepat atau lambat, Ferdian akan mengatakannya pada saya. Tapi saya tetap ingin tau ke mana mereka pergi."

"Baik, Pak. Saya akan urus, agar mereka tidak sampai ketahuan."

Widitama mengangguk singkat. Sepasang matanya fokus pada mobil Ferdian yang perlahan meninggalkan area restoran. Dari balik kaca jendela restoran, Widitama terus mengamati.

"Tentang Rakha, untuk sementara biarkan dia diurus oleh Ferdian dan Sasti. Pastikan orang kita tidak terlalu dekat dengannya," ungkap Widitama.

"Kenapa, Pak Widi? Saya mendapat kabar dari orang kita, kalau mereka akan kembali ke Jakarta," tutur Edgar agak kaget.

Widitama berbalik memperhatikan bawahannya. "Gar, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi. Ini perkiraan saya. Ferdian sangat peduli pada citra keluarga Tedjakusuma dan orang yang mencoret imej keluarga, tak akan dibiarkan begitu saja. Sasti juga berada di pihaknya sekarang. Dia juga telah mengorbankan anaknya demi kekuasaan, demi berada di sisi Ferdian. Menurutmu, apa saat ini Rakha dan wanita itu akan aman?"

Pertanyaan Widitama membuat Edgar terkesiap. Namun, ia terlihat kehabisan kata untuk merespons.

"Untuk itu, minta orang kita mengawasi dari jarak jauh. Saya nggak mau mereka dicurigai terlibat kalau ada hal yang tak diinginkan. Selain itu, minta mereka mengawasi wanita hamil itu juga," lanjut Widitama.

"Wanita itu, Pak?"

Widitama berjalan meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Ada jeda selama beberapa saat ketika dia sibuk memakai jas. "Anak yang hadir di dunia ini tak punya salah apa pun. Mereka tak pernah meminta dan memilih akan dilahirkan dari orang tua yang seperti apa."

Hanya dari kata-kata itu, seperti Edgar sudah paham. Bahwa yang dipedulikan oleh tuannya adalah bayi suci yang tak tahu apa pun tentang masalah orang dewasa.

...*****...

Ponsel Amaia tak aktif. Sudah seharian sejak kejadian semalam, Amaia tak memberi kabar apa pun. Widitama sesekali mengomel atau mengumpat saat mengingat sikap Amaia. Baginya seperti anak-anak saja.

Malam kian pekat saat Widitama baru tiba di unit apartemen. Namun, yang menyambutnya adalah keheningan kosong. Pendingin ruangan terasa lebih kuat saat pria itu menyadari apartemennya kosong melompong. Tak ada Amaia yang duduk di ruang tengah saat mengerjakan skripsi, sibuk di dapur, atau sekadar tidur sambil memutar musik di kamar.

"Anda sudah mau pergi lagi?" tanya Edgar yang belum beranjak pergi, justru tuannya meminta kunci mobil.

"Gadis kecil itu merepotkan. Benar-benar bertingkah. Tingkah bodohnya membuat saya ingin menyeretnya pulang," jawab Widitama bersungut-sungut.

Ada kekehan samar dari Edgar. Namun, begitu Widitama melirik jengkel, pria itu langsung diam. Memangnya Widitama sedang melucu, ya?

"Ya sudah, saya pulang dulu, Pak Widi." Edgar buru-buru melenggang.

Sementara Widitama menekan private lift yang kemudian membawanya ke lantai basemen. Tadinya dia tak peduli jika Amaia butuh waktu sendiri selama beberapa hari. Gadis itu akan sulit untuk diajak bicara lagi mengingat betapa marahnya kemarin malam.

Akan tetapi, malam ini Widitama merasa terusik. Menurutnya, itu aneh sekali. Selama ini dia terbiasa sendirian, tapi keberadaan Amaia juga mulai membuat Widitama terbiasa.

Widitama mengeratkan pegangan pada kemudi saat mengendari mobil keluar dari gedung apartemen. "Apa yang sedang kamu lakukan, Widitama?" gumamnya. Untuk pertama kali sebentuk keresahan hadir lebih lama dalam dirinya. "Perempuan itu yang seharusnya tunduk padamu. Kalau kamu seperti ini, kamu akan kalah, lalu rencanamu akan hancur. Bertahanlah sebentar lagi dan tahan dirimu."

Helaan napas Widitama terdengar pelan, lalu ia memutar setir untuk kembali ke apartemen. Meskipun sangat ingin menyeret Amaia pulang, tetapi lagi-lagi sesuatu yang lebih besar dalam dirinya mencegah untuk berbuat sembarangan. Ya, sesuatu itu adalah ego yang selama bertahun-tahun ia bangun demi menjaga fokusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!